<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kenapa Hasil Survei Berbeda-Beda? Begini Penjelasan dari Pengamat dan Peneliti</title><description>Apakah yang menyebabkan setiap lembaga survei memiliki hasil yang berbeda-beda?</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/03/26/606/2035254/kenapa-hasil-survei-berbeda-beda-begini-penjelasan-dari-pengamat-dan-peneliti</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/03/26/606/2035254/kenapa-hasil-survei-berbeda-beda-begini-penjelasan-dari-pengamat-dan-peneliti"/><item><title>Kenapa Hasil Survei Berbeda-Beda? Begini Penjelasan dari Pengamat dan Peneliti</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/03/26/606/2035254/kenapa-hasil-survei-berbeda-beda-begini-penjelasan-dari-pengamat-dan-peneliti</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/03/26/606/2035254/kenapa-hasil-survei-berbeda-beda-begini-penjelasan-dari-pengamat-dan-peneliti</guid><pubDate>Selasa 26 Maret 2019 17:54 WIB</pubDate><dc:creator>Sarah Hutagaol</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/03/26/606/2035254/kenapa-hasil-survei-berbeda-beda-begini-penjelasan-dari-pengamat-dan-peneliti-5MjjsJNkL2.jpeg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/03/26/606/2035254/kenapa-hasil-survei-berbeda-beda-begini-penjelasan-dari-pengamat-dan-peneliti-5MjjsJNkL2.jpeg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Jelang diselenggarakannya Pemilu 2019 pada 17 April mendatang, beberapa lembaga survei merilis temuan atau hasil-hasil dari survei yang dilakukan untuk mengetahui elektabilitas dari masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Kendati demikian, setiap lembaga survei memiliki hasil yang berbeda. Lantas apakah yang menyebabkan setiap lembaga survei memiliki hasil yang berbeda-beda?
Menurut pengamat politik, Adi Prayitno, kondisi tersebut terjadi dikarenakan beberapa hal. Salah satunya adalah perbedaan konteks dalam penentuan sampel yang dilakukan oleh setiap lembaga survei. Apalagi jika survei hanya dilakukan sekali terhadap responden yang telah ditentukan itu.
&amp;ldquo;Mungkin saja dalam penentuan sampelnya itu agak beda, makanya teman-teman metodologinya itu disebut dengan strata bertingkat itu,&amp;rdquo; ujar Adi Prayitno dalam diskusi publik &amp;lsquo;Kenapa Hasil Survei Beda?&amp;rsquo; di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (26/3/2019).
Selain itu, Adi menjelaskan kalau setiap lembaga melakukan survei pada waktu yang bermacam-macam, yakni dalam rentan Januari hingga Maret. Dalam rentan waktu itu, tak menutup kemungkinan untuk terjadi peristiwa yang menguntungkan atau merugikan paslon.
&amp;ldquo;Ada munajat 212 jadi politik identitas memang cukup membuat pak Jokowi tidak populer, sentimen kemana-mana, sehingga elektabilitasnya agak sedikit merosot 1 dan 2 persen. Tapi setelah Januari hingga Maret melalui 2 debat kandidat yang memang cukup positif yang di debat satu Jokowi naik lagi,&amp;rdquo; paparnya.
Sedangkan menurut Ikrama Masloman selaku peneliti dari LSI Denny JA menyebutkan perbedaan hasil survei oleh lembaga survei dikarenakan dua faktor, yakni sectional survey dan adanya longitudinal.
&amp;ldquo;Saya ingin menyampaikan kenapa data beda, ya pertama misalnya kita tahu itu terkenal dengan 2 ayat pertama saja, sectional survey artinya hanya dilakukan sekali. Ada kemudian longitudinal, artinya dia dilakukan untuk melihat tren,&amp;rdquo; tutup Ikrama. (kha)</description><content:encoded>JAKARTA - Jelang diselenggarakannya Pemilu 2019 pada 17 April mendatang, beberapa lembaga survei merilis temuan atau hasil-hasil dari survei yang dilakukan untuk mengetahui elektabilitas dari masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Kendati demikian, setiap lembaga survei memiliki hasil yang berbeda. Lantas apakah yang menyebabkan setiap lembaga survei memiliki hasil yang berbeda-beda?
Menurut pengamat politik, Adi Prayitno, kondisi tersebut terjadi dikarenakan beberapa hal. Salah satunya adalah perbedaan konteks dalam penentuan sampel yang dilakukan oleh setiap lembaga survei. Apalagi jika survei hanya dilakukan sekali terhadap responden yang telah ditentukan itu.
&amp;ldquo;Mungkin saja dalam penentuan sampelnya itu agak beda, makanya teman-teman metodologinya itu disebut dengan strata bertingkat itu,&amp;rdquo; ujar Adi Prayitno dalam diskusi publik &amp;lsquo;Kenapa Hasil Survei Beda?&amp;rsquo; di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (26/3/2019).
Selain itu, Adi menjelaskan kalau setiap lembaga melakukan survei pada waktu yang bermacam-macam, yakni dalam rentan Januari hingga Maret. Dalam rentan waktu itu, tak menutup kemungkinan untuk terjadi peristiwa yang menguntungkan atau merugikan paslon.
&amp;ldquo;Ada munajat 212 jadi politik identitas memang cukup membuat pak Jokowi tidak populer, sentimen kemana-mana, sehingga elektabilitasnya agak sedikit merosot 1 dan 2 persen. Tapi setelah Januari hingga Maret melalui 2 debat kandidat yang memang cukup positif yang di debat satu Jokowi naik lagi,&amp;rdquo; paparnya.
Sedangkan menurut Ikrama Masloman selaku peneliti dari LSI Denny JA menyebutkan perbedaan hasil survei oleh lembaga survei dikarenakan dua faktor, yakni sectional survey dan adanya longitudinal.
&amp;ldquo;Saya ingin menyampaikan kenapa data beda, ya pertama misalnya kita tahu itu terkenal dengan 2 ayat pertama saja, sectional survey artinya hanya dilakukan sekali. Ada kemudian longitudinal, artinya dia dilakukan untuk melihat tren,&amp;rdquo; tutup Ikrama. (kha)</content:encoded></item></channel></rss>
