<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kemiskinan Turun, Indeks Kesenjangan Kian Menipis di Era Jokowi</title><description>Angka kesenjangan sosial dan ekonomi semakian menipis seturut penurunan angka kemiskinan yang mencapai 9,66 persen, di era Jokowi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/04/13/605/2043244/kemiskinan-turun-indeks-kesenjangan-kian-menipis-di-era-jokowi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/04/13/605/2043244/kemiskinan-turun-indeks-kesenjangan-kian-menipis-di-era-jokowi"/><item><title>Kemiskinan Turun, Indeks Kesenjangan Kian Menipis di Era Jokowi</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/04/13/605/2043244/kemiskinan-turun-indeks-kesenjangan-kian-menipis-di-era-jokowi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/04/13/605/2043244/kemiskinan-turun-indeks-kesenjangan-kian-menipis-di-era-jokowi</guid><pubDate>Sabtu 13 April 2019 22:48 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/13/605/2043244/kemiskinan-turun-indeks-kesenjangan-kian-menipis-di-era-jokowi-pQexR3eEhU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Calon Presiden Nomor Urut 01, Joko Widodo (Jokowi) dalam Kampanye Terbuka 'Konser Putih Bersatu' di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta (foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/13/605/2043244/kemiskinan-turun-indeks-kesenjangan-kian-menipis-di-era-jokowi-pQexR3eEhU.jpg</image><title>Calon Presiden Nomor Urut 01, Joko Widodo (Jokowi) dalam Kampanye Terbuka 'Konser Putih Bersatu' di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta (foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Angka kesenjangan sosial dan ekonomi semakian menipis seturut penurunan angka kemiskinan yang mencapai 9,66 persen, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) September 2018.

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi Ma&amp;rsquo;ruf, Eva Kusuma Sundari, menjelaskan angka kemiskinan dan gini rasio selalu berjalan seiring dan saling menunjang.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/04/13/56800/288847_medium.jpg&quot; alt=&quot;Konser Putih Bersatu, Jokowi: Pancasila Harga Mati&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Baca Juga:&amp;nbsp;TKN Nilai Visi Pemberdayaan Perempuan Jokowi-Ma'ruf Amin Sangat Membumi&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kalau Kemiskinan turun tentu terjadi penurunan gap antara yang kaya dan miskin,&amp;rdquo; kata influencer TKN ini di Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Meskipun, Eva mengakui, data BPS kerap kali dipolitisasi bahkan didelegitimasi oleh kubu penantang. Di mana seolah-olah data BPS tidak bisa dipercaya lantara data itu diproduksi hanya untuk menyenangkan pemerintah.

&amp;ldquo;Ini bagian dari strategi 02 untuk mendelegitimasi semua sumber informasi, lembaga yang kredibel pun dijatuhkan, karena mereka ingin pesimisme muncul di pemilih dan mereka juga dengan sengaja menyebarkan hoaks,&amp;rdquo; ujar Eva.

&amp;ldquo;Dan tentu penyebaran hoaks itu tidak disertai data. Sementara data sebaliknya soal kemajuan-kemajuan dilakukan delegetimasi. Soal kemiskinan, indeks gini rasio, yang kredibel adalah data BPS. Sehingga kalau pemerintah menyatakan penurunan, itu menggunakan data bPS. Bukan sebaliknya, BPS memproduksi data untuk pemerintah,&amp;rdquo; jelasnya lagi.

BPS, kata Eva, telah diakui oleh dunia sebagai lembaga statistic terpercaya. &amp;ldquo;Dua atau tiga tahun lalu BPS mendapat penghargaan sebagai badan terbaik di dunia. Karena luas cakupannya, sampling hampir mendekati populasi. Sehingga BPS pernah diminta jadi koordinator dari BPS sedunia,&amp;rdquo; ujar Eva.

Sebelumnya, juru bicara TKN Mukhamad Misbakhun menyebutkan bahwa program ekonomi Jokowi erat kaitannya dengan pemerataan dan belanja social untuk mengurangi kesenjangan ekonomi, disamping agar angka kemiskinan bisa diatasi.

&quot;Affirmative action keberpihakan itu ditegaskan dalam bentuk belanja sosial yang sangat signifikan. Bagaimana mengangkat derajat masyarakat bawah itu tetap bisa melakukan aktivitas kehidupan mereka sehari-hari dengan kehadiran negara,&quot; ujar Misbakhun.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOS8wNC8xMy8xLzExOTI2Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Baca Juga:&amp;nbsp;Pemerintahan Jokowi Fokus pada Pertumbuhan Ekonomi yang Berkeadilan&amp;nbsp;
Menurut Misbakhun, pemerintah terus bergerak membangun infrasturktur sekaligus membangun pemerataan untuk mempersempit jurang kesenjangan.

&quot;Walaupun pemerintah melakukan pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan pembangunan akses, koneksifikasi, dan meningkatkan kualitas infrastruktur tetapi belanja sosial tetap dilakukan,&quot; kata Misbakhun.</description><content:encoded>JAKARTA - Angka kesenjangan sosial dan ekonomi semakian menipis seturut penurunan angka kemiskinan yang mencapai 9,66 persen, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) September 2018.

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi Ma&amp;rsquo;ruf, Eva Kusuma Sundari, menjelaskan angka kemiskinan dan gini rasio selalu berjalan seiring dan saling menunjang.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/04/13/56800/288847_medium.jpg&quot; alt=&quot;Konser Putih Bersatu, Jokowi: Pancasila Harga Mati&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Baca Juga:&amp;nbsp;TKN Nilai Visi Pemberdayaan Perempuan Jokowi-Ma'ruf Amin Sangat Membumi&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kalau Kemiskinan turun tentu terjadi penurunan gap antara yang kaya dan miskin,&amp;rdquo; kata influencer TKN ini di Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Meskipun, Eva mengakui, data BPS kerap kali dipolitisasi bahkan didelegitimasi oleh kubu penantang. Di mana seolah-olah data BPS tidak bisa dipercaya lantara data itu diproduksi hanya untuk menyenangkan pemerintah.

&amp;ldquo;Ini bagian dari strategi 02 untuk mendelegitimasi semua sumber informasi, lembaga yang kredibel pun dijatuhkan, karena mereka ingin pesimisme muncul di pemilih dan mereka juga dengan sengaja menyebarkan hoaks,&amp;rdquo; ujar Eva.

&amp;ldquo;Dan tentu penyebaran hoaks itu tidak disertai data. Sementara data sebaliknya soal kemajuan-kemajuan dilakukan delegetimasi. Soal kemiskinan, indeks gini rasio, yang kredibel adalah data BPS. Sehingga kalau pemerintah menyatakan penurunan, itu menggunakan data bPS. Bukan sebaliknya, BPS memproduksi data untuk pemerintah,&amp;rdquo; jelasnya lagi.

BPS, kata Eva, telah diakui oleh dunia sebagai lembaga statistic terpercaya. &amp;ldquo;Dua atau tiga tahun lalu BPS mendapat penghargaan sebagai badan terbaik di dunia. Karena luas cakupannya, sampling hampir mendekati populasi. Sehingga BPS pernah diminta jadi koordinator dari BPS sedunia,&amp;rdquo; ujar Eva.

Sebelumnya, juru bicara TKN Mukhamad Misbakhun menyebutkan bahwa program ekonomi Jokowi erat kaitannya dengan pemerataan dan belanja social untuk mengurangi kesenjangan ekonomi, disamping agar angka kemiskinan bisa diatasi.

&quot;Affirmative action keberpihakan itu ditegaskan dalam bentuk belanja sosial yang sangat signifikan. Bagaimana mengangkat derajat masyarakat bawah itu tetap bisa melakukan aktivitas kehidupan mereka sehari-hari dengan kehadiran negara,&quot; ujar Misbakhun.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOS8wNC8xMy8xLzExOTI2Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Baca Juga:&amp;nbsp;Pemerintahan Jokowi Fokus pada Pertumbuhan Ekonomi yang Berkeadilan&amp;nbsp;
Menurut Misbakhun, pemerintah terus bergerak membangun infrasturktur sekaligus membangun pemerataan untuk mempersempit jurang kesenjangan.

&quot;Walaupun pemerintah melakukan pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan pembangunan akses, koneksifikasi, dan meningkatkan kualitas infrastruktur tetapi belanja sosial tetap dilakukan,&quot; kata Misbakhun.</content:encoded></item></channel></rss>
