<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Seorang Ibu di Uganda Besarkan 38 Anaknya Sendirian Setelah Ditinggal Pergi Suami</title><description>Nabatanzi memiliki kondisi ovarium yang langka yang membuatnya sulit melakukan KB.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/04/29/18/2049435/seorang-ibu-di-uganda-besarkan-38-anaknya-sendirian-setelah-ditinggal-pergi-suami</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/04/29/18/2049435/seorang-ibu-di-uganda-besarkan-38-anaknya-sendirian-setelah-ditinggal-pergi-suami"/><item><title>Seorang Ibu di Uganda Besarkan 38 Anaknya Sendirian Setelah Ditinggal Pergi Suami</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/04/29/18/2049435/seorang-ibu-di-uganda-besarkan-38-anaknya-sendirian-setelah-ditinggal-pergi-suami</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/04/29/18/2049435/seorang-ibu-di-uganda-besarkan-38-anaknya-sendirian-setelah-ditinggal-pergi-suami</guid><pubDate>Senin 29 April 2019 16:37 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/29/18/2049435/seorang-ibu-di-uganda-besarkan-38-anaknya-sendirian-setelah-ditinggal-pergi-suami-oM3j5YXIkS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Miriam Nabatanzi (rambut merah) ibu dari 38 anak berfoto bersama beberapa anaknya di rumah mereka di Desa Kasawo, Uganda, 8 Maret 2019. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/29/18/2049435/seorang-ibu-di-uganda-besarkan-38-anaknya-sendirian-setelah-ditinggal-pergi-suami-oM3j5YXIkS.jpg</image><title>Miriam Nabatanzi (rambut merah) ibu dari 38 anak berfoto bersama beberapa anaknya di rumah mereka di Desa Kasawo, Uganda, 8 Maret 2019. (Foto: Reuters)</title></images><description>KASAWO &amp;ndash; Seorang ibu di Uganda berjuang untuk membesarkan 38 anaknya sendiri setelah ditinggalkan oleh suaminya tiga tahun lalu.
Mariam Nabatanzi melahirkan anak kembar setahun setelah ia dinikahkan pada usia 12 tahun. Kelahiran itu diikuti dengan lahirnya lima pasang anak kembar berikutnya, bersama dengan empat pasang kembar anak kembar tiga dan lima pasang kembar empat.
Namun, tiga tahun lalu, Nabatanzi yang berusia 39 tahun ditinggalkan oleh suaminya, membuatnya harus menghidupi 38 anaknya sendirian.
Kejadian itu adalah kemalangan terbaru yang dialami dalam kehidupan penuh tragedi Nabatanzi yang dijalaninya bersama anak-anaknya. Mereka hidup di empat rumah sempit yang terbuat dari balok semen beratap seng di sebuah desa yang dikelilingi oleh ladang kopi 50 km sebelah utara Kampala.
Setelah pasangan kembar pertamanya lahir, Nabatanzi pergi ke dokter yang memberi tahunya bahwa dia memiliki ovarium besar yang tidak umum. Dokter itu mengatakan bahwa tindakan KB seperti menggunakan pil dapat menyebabkan masalah kesehatan. Karena itu, dia terus melahirkan anak.
Berdasarkan data Bank Dunia, tingkat kelahiran di Afrika adalah yang tertinggi di dunia, Di Uganda, rata-rata kelahiran adalah 5,6 anak per wanita, hampir dua kali lipat dari rata-rata dunia 2,4 anak per wanita.

Tetapi bahkan di Uganda, ukuran keluarga Nabatanzi adalah sebuah kasus yang ekstrem.
Kehamilan terakhirnya, dua setengah tahun yang lalu, mengalami komplikasi. Kelahiran itu adalah anak kembar keenamnya dan salah satunya meninggal saat melahirkan. Nabatanzi telah kehilangan enam anak karena meninggal dunia sampai saat ini.
Kemudian suaminya  setelah lama tidak hadir, meninggalkannya. Namanya sekarang menjadi kutukan keluarga. Nabatanzi memanggil mantan suaminya itu dengan menggunakan sumpah serapah.
&quot;Saya tumbuh dengan air mata, suami saya telah memberikan saya banyak penderitaan,&quot; katanya saat wawancara di rumahnya oleh Reuters. &quot;Semua waktu saya dihabiskan untuk merawat anak-anak saya dan bekerja untuk mendapatkan uang.&quot;
Karena sangat membutuhkan uang, Nabatanzi melakukan semuanya: tata rambut, mendekorasi acara, mengumpulkan dan menjual besi tua, membuat gin lokal dan menjual obat-obatan herbal. Uang yang dia hasilkan terpakai untuk biaya makanan, perawatan medis, pakaian dan biaya sekolah.
Di dinding di salah satu kamar rumahnya yang lusuh tergantung potret bangga beberapa anaknya lulus dari sekolah, perada emas di leher mereka.

Keinginan Nabatanzi untuk memiliki keluarga besar berasal dari tragedi yang dialaminya saat kecil.
Tiga hari setelah ia dilahirkan, ibu Nabatanzi meninggalkan keluarga:  ayahnya, gadis yang baru lahir dan lima saudara kandungnya.
&quot;Dia begitu saja meninggalkan kita,&quot; kata Nabatanzi dengan sedih.
Setelah ayahnya menikah lagi, ibu tirinya meracuni kelima anak yang  lebih tua dengan pecahan kaca yang dicampur dalam makanan mereka. Mereka  semua mati. Nabatanzi selamat karena dia sedang mengunjungi seorang  kerabat.
&amp;ldquo;Saya berumur tujuh tahun saat itu, terlalu muda untuk mengerti apa  arti kematian sebenarnya. Saya diberitahu oleh kerabat apa yang terjadi,  &amp;rdquo;katanya.
Dia tumbuh dengan keinginan memiliki enam anak untuk membangun kembali keluarganya yang hancur.
Tetapi menghidupi dan menyediakan rumah bagi 38 anak adalah pekerjaan yang sangat sulit dan penuh tantangan.
Anak-anak yang lebih besar membantu merawat yang muda dan semua orang  membantu mengerjakan tugas-tugas seperti memasak. Keluarga Nabatanzi  dalam satu hari dapat menghabiskan 25 kilogram tepung jagung. Ikan atau  daging adalah makanan langka.
Setelah mengalami masa kecil yang sulit itu sendiri, harapan terbesar Nabatanzi sekarang adalah agar anak-anaknya bahagia.
&quot;Saya mulai mengambil tanggung jawab orang dewasa pada sejak dini,&quot;  katanya. &quot;Kurasa, saya belum mengalami kebahagiaan sejak saya  dilahirkan.&quot;</description><content:encoded>KASAWO &amp;ndash; Seorang ibu di Uganda berjuang untuk membesarkan 38 anaknya sendiri setelah ditinggalkan oleh suaminya tiga tahun lalu.
Mariam Nabatanzi melahirkan anak kembar setahun setelah ia dinikahkan pada usia 12 tahun. Kelahiran itu diikuti dengan lahirnya lima pasang anak kembar berikutnya, bersama dengan empat pasang kembar anak kembar tiga dan lima pasang kembar empat.
Namun, tiga tahun lalu, Nabatanzi yang berusia 39 tahun ditinggalkan oleh suaminya, membuatnya harus menghidupi 38 anaknya sendirian.
Kejadian itu adalah kemalangan terbaru yang dialami dalam kehidupan penuh tragedi Nabatanzi yang dijalaninya bersama anak-anaknya. Mereka hidup di empat rumah sempit yang terbuat dari balok semen beratap seng di sebuah desa yang dikelilingi oleh ladang kopi 50 km sebelah utara Kampala.
Setelah pasangan kembar pertamanya lahir, Nabatanzi pergi ke dokter yang memberi tahunya bahwa dia memiliki ovarium besar yang tidak umum. Dokter itu mengatakan bahwa tindakan KB seperti menggunakan pil dapat menyebabkan masalah kesehatan. Karena itu, dia terus melahirkan anak.
Berdasarkan data Bank Dunia, tingkat kelahiran di Afrika adalah yang tertinggi di dunia, Di Uganda, rata-rata kelahiran adalah 5,6 anak per wanita, hampir dua kali lipat dari rata-rata dunia 2,4 anak per wanita.

Tetapi bahkan di Uganda, ukuran keluarga Nabatanzi adalah sebuah kasus yang ekstrem.
Kehamilan terakhirnya, dua setengah tahun yang lalu, mengalami komplikasi. Kelahiran itu adalah anak kembar keenamnya dan salah satunya meninggal saat melahirkan. Nabatanzi telah kehilangan enam anak karena meninggal dunia sampai saat ini.
Kemudian suaminya  setelah lama tidak hadir, meninggalkannya. Namanya sekarang menjadi kutukan keluarga. Nabatanzi memanggil mantan suaminya itu dengan menggunakan sumpah serapah.
&quot;Saya tumbuh dengan air mata, suami saya telah memberikan saya banyak penderitaan,&quot; katanya saat wawancara di rumahnya oleh Reuters. &quot;Semua waktu saya dihabiskan untuk merawat anak-anak saya dan bekerja untuk mendapatkan uang.&quot;
Karena sangat membutuhkan uang, Nabatanzi melakukan semuanya: tata rambut, mendekorasi acara, mengumpulkan dan menjual besi tua, membuat gin lokal dan menjual obat-obatan herbal. Uang yang dia hasilkan terpakai untuk biaya makanan, perawatan medis, pakaian dan biaya sekolah.
Di dinding di salah satu kamar rumahnya yang lusuh tergantung potret bangga beberapa anaknya lulus dari sekolah, perada emas di leher mereka.

Keinginan Nabatanzi untuk memiliki keluarga besar berasal dari tragedi yang dialaminya saat kecil.
Tiga hari setelah ia dilahirkan, ibu Nabatanzi meninggalkan keluarga:  ayahnya, gadis yang baru lahir dan lima saudara kandungnya.
&quot;Dia begitu saja meninggalkan kita,&quot; kata Nabatanzi dengan sedih.
Setelah ayahnya menikah lagi, ibu tirinya meracuni kelima anak yang  lebih tua dengan pecahan kaca yang dicampur dalam makanan mereka. Mereka  semua mati. Nabatanzi selamat karena dia sedang mengunjungi seorang  kerabat.
&amp;ldquo;Saya berumur tujuh tahun saat itu, terlalu muda untuk mengerti apa  arti kematian sebenarnya. Saya diberitahu oleh kerabat apa yang terjadi,  &amp;rdquo;katanya.
Dia tumbuh dengan keinginan memiliki enam anak untuk membangun kembali keluarganya yang hancur.
Tetapi menghidupi dan menyediakan rumah bagi 38 anak adalah pekerjaan yang sangat sulit dan penuh tantangan.
Anak-anak yang lebih besar membantu merawat yang muda dan semua orang  membantu mengerjakan tugas-tugas seperti memasak. Keluarga Nabatanzi  dalam satu hari dapat menghabiskan 25 kilogram tepung jagung. Ikan atau  daging adalah makanan langka.
Setelah mengalami masa kecil yang sulit itu sendiri, harapan terbesar Nabatanzi sekarang adalah agar anak-anaknya bahagia.
&quot;Saya mulai mengambil tanggung jawab orang dewasa pada sejak dini,&quot;  katanya. &quot;Kurasa, saya belum mengalami kebahagiaan sejak saya  dilahirkan.&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
