<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kerap Hujan Tiba-Tiba, Ini Penyebabnya Menurut BMKG</title><description>BMKG mengingatkan belakangan ini kerap hujan deras tiba-tiba di musim kering.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/04/30/337/2050034/kerap-hujan-tiba-tiba-ini-penyebabnya-menurut-bmkg</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/04/30/337/2050034/kerap-hujan-tiba-tiba-ini-penyebabnya-menurut-bmkg"/><item><title>Kerap Hujan Tiba-Tiba, Ini Penyebabnya Menurut BMKG</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/04/30/337/2050034/kerap-hujan-tiba-tiba-ini-penyebabnya-menurut-bmkg</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/04/30/337/2050034/kerap-hujan-tiba-tiba-ini-penyebabnya-menurut-bmkg</guid><pubDate>Selasa 30 April 2019 23:30 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/30/337/2050034/kerap-hujan-tiba-tiba-ini-penyebabnya-menurut-bmkg-FFXZCkAaEp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi hujan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/30/337/2050034/kerap-hujan-tiba-tiba-ini-penyebabnya-menurut-bmkg-FFXZCkAaEp.jpg</image><title>Ilustrasi hujan (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan hujan deras tiba-tiba di musim kering saat ini banyak dipengaruhi oleh Madden Julian Oscillation (MJO) karena perubahan iklim.
&quot;Perubahan iklim memicu hujan deras tiba-tiba meski musim kering atau kemarau,&quot; kata Deputi bidang Klimatologi BMKG Herizal di Jakarta seperti dikutip Antaranews, Selasa (30/4/2019).
Dia mengatakan, perubahan iklim salah satunya dipicu pemanasan global. Semakin iklim berubah, maka kemungkinan terjadinya gangguan cuaca semakin sering.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Waspada! Ini Wilayah-Wilayah yang Berpotensi Diterjang Gelombang hingga 4 Meter)

Menurut dia, terdapat pemahaman masyarakat yang sifatnya hitam putih bahwa saat musim kering tidak ada hujan dan saat musim penghujan tidak mengalami kering-kerontang.
Padahal, kata dia, dalam beberapa waktu akan terjadi perubahan cuaca secara mendadak karena perubahan iklim yang dipicu rusaknya laut dan hutan (deforestasi).
(Baca Juga:&amp;nbsp;BMKG: 17 Wilayah di Indonesia Berpotensi Dilanda Cuaca Ekstrem)
Laut dan hutan, lanjut dia, merupakan dua unsur alam yang penting untuk menyerap karbon. Dengan penyerapan karbon yang cukup oleh laut dan vegetasi hutan akan mengurangi pemanasan global.
&quot;Saat ini, banyak yang buang sampah plastik ke laut. Laut penyerap karbon yang efektif. Ketika kotor maka fungsinya sebagai penyerap karbon akan berkurang. Tumbuhan hijau juga penyerap karbon tapi saat ini mulai berkurang jumlahnya,&quot; kata dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan hujan deras tiba-tiba di musim kering saat ini banyak dipengaruhi oleh Madden Julian Oscillation (MJO) karena perubahan iklim.
&quot;Perubahan iklim memicu hujan deras tiba-tiba meski musim kering atau kemarau,&quot; kata Deputi bidang Klimatologi BMKG Herizal di Jakarta seperti dikutip Antaranews, Selasa (30/4/2019).
Dia mengatakan, perubahan iklim salah satunya dipicu pemanasan global. Semakin iklim berubah, maka kemungkinan terjadinya gangguan cuaca semakin sering.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Waspada! Ini Wilayah-Wilayah yang Berpotensi Diterjang Gelombang hingga 4 Meter)

Menurut dia, terdapat pemahaman masyarakat yang sifatnya hitam putih bahwa saat musim kering tidak ada hujan dan saat musim penghujan tidak mengalami kering-kerontang.
Padahal, kata dia, dalam beberapa waktu akan terjadi perubahan cuaca secara mendadak karena perubahan iklim yang dipicu rusaknya laut dan hutan (deforestasi).
(Baca Juga:&amp;nbsp;BMKG: 17 Wilayah di Indonesia Berpotensi Dilanda Cuaca Ekstrem)
Laut dan hutan, lanjut dia, merupakan dua unsur alam yang penting untuk menyerap karbon. Dengan penyerapan karbon yang cukup oleh laut dan vegetasi hutan akan mengurangi pemanasan global.
&quot;Saat ini, banyak yang buang sampah plastik ke laut. Laut penyerap karbon yang efektif. Ketika kotor maka fungsinya sebagai penyerap karbon akan berkurang. Tumbuhan hijau juga penyerap karbon tapi saat ini mulai berkurang jumlahnya,&quot; kata dia.</content:encoded></item></channel></rss>
