<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Asal Usul Nyorog, Sesajen untuk Dewi Sri &amp; Kini Jadi Ajang Silaturahmi  </title><description>Tradisi yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum masuknya agama Islam di Nusantara itu berasal dari bahasa Betawi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/04/338/2051262/asal-usul-nyorog-sesajen-untuk-dewi-sri-kini-jadi-ajang-silaturahmi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/05/04/338/2051262/asal-usul-nyorog-sesajen-untuk-dewi-sri-kini-jadi-ajang-silaturahmi"/><item><title> Asal Usul Nyorog, Sesajen untuk Dewi Sri &amp; Kini Jadi Ajang Silaturahmi  </title><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/04/338/2051262/asal-usul-nyorog-sesajen-untuk-dewi-sri-kini-jadi-ajang-silaturahmi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/05/04/338/2051262/asal-usul-nyorog-sesajen-untuk-dewi-sri-kini-jadi-ajang-silaturahmi</guid><pubDate>Sabtu 04 Mei 2019 09:32 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/03/338/2051262/asal-usul-nyorog-sesajen-untuk-dewi-sri-kini-jadi-ajang-silaturahmi-LaEeARTMC7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/03/338/2051262/asal-usul-nyorog-sesajen-untuk-dewi-sri-kini-jadi-ajang-silaturahmi-LaEeARTMC7.jpg</image><title>ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)</title></images><description>TRADISI nyorog hingga kini masih terus dipertahankan oleh segelintir orang asli Betawi. Tradisi yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum masuknya agama Islam di Nusantara itu berasal dari bahasa Betawi yang artinya 'menghantar' atau mengantarkan sesuatu.
&quot;Nyorog itu bahasa Betawi, artinya menghantar atau nganter. Itu bahasa arti harfiahnya begitu, jadi dia bahasa Betawi yang artinya mengantarkan sesuatu,&quot; ucap Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra saat berbincang dengan Okezone belum lama ini.
Menurut Yahya, nyorog berawal dari sebuah peristiwa ritus baritan atau upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terkait peristiwa alam. Ya, ritus baritan merupakan refleksi antar interaksi yang melibatkan manusia, lingkungan, dan kepercayaan kepada sang pencipta.
Awalnya, nyorog merupakan ritus baritan sedekah bumi. Di mana, pada zaman dahulu sebelum Islam masuk ke Tanah Jawa, masyarakat sering membawakan makanan atau sesajen untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri yang merupakan simbol kemakmuran.
Persembahan berbagai sesajen atau makanan itu dijadikan sebagai rasa syukur kepada Dewi kemakmuran karena telah memberikan tanah, tanaman, dan berbagai bahan makanan kepada kehidupan manusia.
Festival Budaya Betawi (Foto: Okezone)
&quot;Pada peristiwa ritus, misalnya ritus baritan atau ritus sedekah bumi, itu menjadi sajenan sembahan kepada Dewi Sri atau Dewi kemakmuran karena masyarakat sudah diberikan kesuburan tanahnya, sama keberhasilan tanamannya yang melimpah ruah. Jadi, ada ritus sajenan, sedekah bumi,&quot; kata Yahya menjelaskan.
Kemudian, seiring berkembangnya zaman, dan mulai masuknya peradaban baru ke Nusantara, tradisi nyorog lantas dijadikan sebuah ajang penghormatan kepada mereka yang dituakan. Dalam artian, orang-orang yang berusia lebih muda sowan atau bersilaturahmi ke tempat tokoh tertua seraya membawakan berbagai macam makanan.
&quot;Pada saat sekarang, ide (nyorog) itu &amp;lrm;oleh orang-orang dahulu kala, orang Betawi dulu, dijadikan sebagai memberikan penghormatan dan silaturahmi kepada orang-orang yang kita hormatin,&quot; ujarnya.
Warga Betawi di Setu Babakan (Foto: Okezone)
Memberikan sorogan atau bahan-bahan makanan ke orang yang lebih tua, saat ini kata dia, masih dilakukan oleh orang asli Betawi sebelum datangnya bulan suci Ramadan.&amp;lrm; Hal itu, untuk menjaga tali silaturahmi ataupun memohon permintaan maaf kepada keluarga yang lebih tua.
&quot;Misalnya, kalau saya punya Abang, punya encang, encing, saya nyorog ke rumahnya.&amp;lrm; Kita anterin sesuatu kepadanya, kita silaturahim, minta maaf, karena menyambut saat-saat mulia, menyambut bulan puasa,&quot;&amp;lrm; kata Yahya.
Dikatakannya, tradisi nyorog meski sudah terbilang langka, namun hingga kini masih tetap lestari di beberapa tempat. Apalagi, menurut orang Betawi aslim nyorog merupakan tradisi turun-temurun atau warisan dari orang-orang tua terdahulu yang wajib dijaga.&amp;lrm;

Hanya saja diakuinya, tradisi nyorog dulu dan sekarang sudah berbeda. Meski begitu tetap ada persamaan yakni sebagai perekat silaturahmi. Namun, kebanyakan, tradisi nyorog saat ini dikemas lebih sederhana.
&quot;Memang bentuknya sekarang lain ya. Kalau dulu kan nenteng-nenteng nampan, nenteng rantang, macam-macam, ada ayam kita bawa, ada beras kita bawa. Nah, sekarang kita datang silaturahmi. Lalu, bentuk (bawaannya-red) menyusul,&quot; kata dia.
&quot;Sekarang jadi enggak petong-petong kayak dulu, dulu kan ramainya itu karena kita tenteng-tentengan, yang bawa rantang, nampan, yang bawa kirab, macam-macam dah. Itu yang bikin seru. Tapi, sekarang ya beda,&quot; ujar Yahya menandaskan.</description><content:encoded>TRADISI nyorog hingga kini masih terus dipertahankan oleh segelintir orang asli Betawi. Tradisi yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum masuknya agama Islam di Nusantara itu berasal dari bahasa Betawi yang artinya 'menghantar' atau mengantarkan sesuatu.
&quot;Nyorog itu bahasa Betawi, artinya menghantar atau nganter. Itu bahasa arti harfiahnya begitu, jadi dia bahasa Betawi yang artinya mengantarkan sesuatu,&quot; ucap Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra saat berbincang dengan Okezone belum lama ini.
Menurut Yahya, nyorog berawal dari sebuah peristiwa ritus baritan atau upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terkait peristiwa alam. Ya, ritus baritan merupakan refleksi antar interaksi yang melibatkan manusia, lingkungan, dan kepercayaan kepada sang pencipta.
Awalnya, nyorog merupakan ritus baritan sedekah bumi. Di mana, pada zaman dahulu sebelum Islam masuk ke Tanah Jawa, masyarakat sering membawakan makanan atau sesajen untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri yang merupakan simbol kemakmuran.
Persembahan berbagai sesajen atau makanan itu dijadikan sebagai rasa syukur kepada Dewi kemakmuran karena telah memberikan tanah, tanaman, dan berbagai bahan makanan kepada kehidupan manusia.
Festival Budaya Betawi (Foto: Okezone)
&quot;Pada peristiwa ritus, misalnya ritus baritan atau ritus sedekah bumi, itu menjadi sajenan sembahan kepada Dewi Sri atau Dewi kemakmuran karena masyarakat sudah diberikan kesuburan tanahnya, sama keberhasilan tanamannya yang melimpah ruah. Jadi, ada ritus sajenan, sedekah bumi,&quot; kata Yahya menjelaskan.
Kemudian, seiring berkembangnya zaman, dan mulai masuknya peradaban baru ke Nusantara, tradisi nyorog lantas dijadikan sebuah ajang penghormatan kepada mereka yang dituakan. Dalam artian, orang-orang yang berusia lebih muda sowan atau bersilaturahmi ke tempat tokoh tertua seraya membawakan berbagai macam makanan.
&quot;Pada saat sekarang, ide (nyorog) itu &amp;lrm;oleh orang-orang dahulu kala, orang Betawi dulu, dijadikan sebagai memberikan penghormatan dan silaturahmi kepada orang-orang yang kita hormatin,&quot; ujarnya.
Warga Betawi di Setu Babakan (Foto: Okezone)
Memberikan sorogan atau bahan-bahan makanan ke orang yang lebih tua, saat ini kata dia, masih dilakukan oleh orang asli Betawi sebelum datangnya bulan suci Ramadan.&amp;lrm; Hal itu, untuk menjaga tali silaturahmi ataupun memohon permintaan maaf kepada keluarga yang lebih tua.
&quot;Misalnya, kalau saya punya Abang, punya encang, encing, saya nyorog ke rumahnya.&amp;lrm; Kita anterin sesuatu kepadanya, kita silaturahim, minta maaf, karena menyambut saat-saat mulia, menyambut bulan puasa,&quot;&amp;lrm; kata Yahya.
Dikatakannya, tradisi nyorog meski sudah terbilang langka, namun hingga kini masih tetap lestari di beberapa tempat. Apalagi, menurut orang Betawi aslim nyorog merupakan tradisi turun-temurun atau warisan dari orang-orang tua terdahulu yang wajib dijaga.&amp;lrm;

Hanya saja diakuinya, tradisi nyorog dulu dan sekarang sudah berbeda. Meski begitu tetap ada persamaan yakni sebagai perekat silaturahmi. Namun, kebanyakan, tradisi nyorog saat ini dikemas lebih sederhana.
&quot;Memang bentuknya sekarang lain ya. Kalau dulu kan nenteng-nenteng nampan, nenteng rantang, macam-macam, ada ayam kita bawa, ada beras kita bawa. Nah, sekarang kita datang silaturahmi. Lalu, bentuk (bawaannya-red) menyusul,&quot; kata dia.
&quot;Sekarang jadi enggak petong-petong kayak dulu, dulu kan ramainya itu karena kita tenteng-tentengan, yang bawa rantang, nampan, yang bawa kirab, macam-macam dah. Itu yang bikin seru. Tapi, sekarang ya beda,&quot; ujar Yahya menandaskan.</content:encoded></item></channel></rss>
