<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tradisi Malamang dan Bisnis Menggiurkan di Bulan Ramadan</title><description>Tradisi malamang termasuk bisnis yang cukup menjanjikan ketika memasuki bulan Ramadan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/04/340/2051405/tradisi-malamang-dan-bisnis-menggiurkan-di-bulan-ramadan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/05/04/340/2051405/tradisi-malamang-dan-bisnis-menggiurkan-di-bulan-ramadan"/><item><title>Tradisi Malamang dan Bisnis Menggiurkan di Bulan Ramadan</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/04/340/2051405/tradisi-malamang-dan-bisnis-menggiurkan-di-bulan-ramadan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/05/04/340/2051405/tradisi-malamang-dan-bisnis-menggiurkan-di-bulan-ramadan</guid><pubDate>Sabtu 04 Mei 2019 13:02 WIB</pubDate><dc:creator>Rus Akbar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/04/340/2051405/tradisi-malamang-dan-bisnis-menggiurkan-di-bulan-ramadan-ZAmRVP2Kzv.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Usah Lemang milik Afrijon saat jelang Ramadan (foto: Rus Akbar/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/04/340/2051405/tradisi-malamang-dan-bisnis-menggiurkan-di-bulan-ramadan-ZAmRVP2Kzv.JPG</image><title>Usah Lemang milik Afrijon saat jelang Ramadan (foto: Rus Akbar/Okezone)</title></images><description>PADANG - Afrijon (30) duduk bersandar di kursi plastik warna biru sambil melihat kondisi jilatan api kepada sekira 30 bambu lamang (lemang) yang disandarkan di atas tungku besi, sekali-sekali dia berdiri jika api semakin membesar akan menyapunya dengan sebuah tongkat kayu agar lemang bambu itu tidak terbakar, itulah usaha lemang yang digeluitnya sejak 1982 di Kelurahan Seberang Padang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat.
Jon panggilan akrab Afrijon ini membuka usaha lemang ini bersama 4 orang saudara kandung mereka.
&amp;ldquo;Ini usaha keluarga saja yang sudah dirintis oleh orang tua, kami ada dua perempuan dan dua laki-laki. Warisan dari orang tua kami teruskan,&amp;rdquo; tuturnya kepada Okezone.
Kalau hari-hari biasa untuk memasak lemang ini ada 30 sampai 35 batang dengan ukuran 60 sampai 70 meter. Namun menjelang bulan puasa ini dia memasak lebih banyak.
&amp;ldquo;Menjelang puasa ini kita memasak lemang ada sebanyak 150 batang, dan ini sudah dipesan sebanyak 80 orang, ada yang memasan tiga batang ada juga yang memesan 5 batang. Untuk satu batang ini dijual seharga Rp40 ribu,&amp;rdquo; ucapnya.
Biasanya ini dipakai untuk manjalang mintuo (mengunjungi mertua) untuk mengikat silaturahmi dengan mertua saat menjelang puasa. &amp;ldquo;Sehingga permintaan banyak menjelang bulan puasa,&amp;rdquo; ujarnya.
Untuk membuat lemang ini, Jon sudah menyiapkan bahannya sehari sebelumnya baik itu beras pulut (ketan) merah, pulut putih, pulut hitam.
&amp;ldquo;Kalau bahannya sudah kita siapkan sehari sebelum memasak, sekitar sore, kemudian untuk memasaknya dimulai sejak pukul 04.00 WIB subuh, ada sekitar 3 jam lamannya memasak,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Sekira lima meter dari tempat Afrijon ada satu lagi tempa memasak lemang milik One Ad (59), usaha lemang ini lebih senior dari milik Afrijon. One Ad ini sudah tidak ingat lagi tahun berapa dirintis usahanya.
&amp;ldquo;Sudah tiga turunan kami merintis mulai dari buyut sampai saya sekarang,&amp;rdquo; tuturnya.
Untuk harga tempat One ini lebih mahal dari milik Afrijon, satu batang lemang ini harganya sekira Rp70 ribu, bahkan pemesannya ada dari Malaysia dan Jawa, terutama saat mereka pulang kampung.
Bahan untuk membuat lemang ini kalau bambu dibeli dari Kabupaten Solok, sementara kalau daun pisang dari Padang Pariaman, kalau beras ketan dan santan kelapa sudah ada di Padang.
&amp;ldquo;Kalau bambu ini jauh kita beli dari Solok daun pisang juga dari Padang Pariaman, kecuali beras ketan ini dan kelapa dari Padang termasuk barang lainnya,&amp;rdquo; ucapnya.
&amp;nbsp;
Ada empat macam jenis lemang baik yang dimasak Afrijon maupun One Ad. Lemang luo, ini terdiri beras ketan putih yang ditengah-tengahnya diberi gula merah bercampur dengan kelapa yang sudah diparut, lemang pisang bahanya beras ketan putih ditengah-tengah dikasih buah pisang, kemudian lemang hitam ini beras ketan hitam, lemang putih ini ketannya putih dan lemang merah dari ketan merah.
Tradisi malamang ini menurut Afrijon dan One Ad ini secara serentak menjawab dari Padang Pariaman.
&amp;ldquo;Waktu cerita nenek saya tradisi ini dari Padang Pariaman, saat itu lemang ini hanya dimasak oleh satu kaum (suku) untuk menyambut bulan puasa kemudian menyambut lebaran. Karena sekarang banyak yang sibuk jadi tradisi ini sudah jarang dilakukan makanya orang lebih banyak membeli saja,&amp;rdquo; terang One.Tak puas dengan informasi ini Okezone menemuhi seorang tokoh agama Tarekat Syattariyah di Masjid Raya Belimbing, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang bernama Darmawi (62), dia ini tokoh yang menjadi panutan para pengikut Tarekat Syattariyah.
Tarekat Syattariyah ini merupakan Agama Islam yang disebarkan oleh Syekh Burhanuddin di Ulakan, Padang Pariaman dan menyebarkan ke Kota Padang dan daerah kabupaten lainnya.
&amp;ldquo;Tradisi malamang ini kalau di Pariaman masih berjalan termasuk di daerah pinggiran Kota Padang, mereka memasak lemang ini sehari sebelum puasa dan sehari sebelum lebaran. Lemang ini ibaratnya sebagai kue-kue untuk menyambut bulan suci dan merayakan kemenangan,&amp;rdquo; katanya.
Bulan Sya'ban di daerah Padang Pariaman juga dinamakan dengan bulan lamang. Sebab, dibulan inilah hampir seluruh masyarakat daerah itu melakukan tradisi malamang. Lamang, sebuah makanan yang terbuat dari beras ketan, yang dimasak dengan menggunakan bambu. Tradisi demikian telah berlangsung sejak Syekh Burhanuddin mengembangkan ajaran Islam di daerah tersebut.
Hingga kini, tradisi malamang disamping dibudayakan pada bulan Sya'ban ini, juga terjadi saat bulan maulid, dan saat melakukan kebiasaan saat peringatan peristiwa kematian. Konon kabarnya, sebelum Syekh Burhanuddin datang mengembangkan Islam di Pariaman yang berpusat di Ulakan, masyarakat daerah itu masih memeluk agama nenek moyangnya, Hindu dan Budha. Dengan demikian, persoalan makanan yang dilakukan umat dulu itu tidak ada yang menyaring. Asal ketemu dimakan saja. Nah, Syekh Burhanuddin orang yang telah lama tahu dengan Islam sangat tidak ingin makan sembarangan.
Begitu juga, tata cara pengembangan Islam yang dilakukan Syekh Burhanuddin, banyak menggunakan jalur adat istiadat yang telah berkembang dikampung tersebut. Setiap kali Syekh Burhanuddin bertandang kerumah masyarakat, dia tidak mau memakan makanan yang diletakkan oleh yang punya rumah. Terus menerus hal itu terjadi tentu menjadi sebuah pertanyaan bagi masyarakat jamaahnya.
&amp;ldquo;Syekh Burhanuddin pun menjelaskan, kenapa dia tidak mau makan ? Menurutnya, tempat memasak makanan tersebut masih mengandung najis, perlu disucikan. Saya mau makan, apabila makanan itu dimasak dari alat yang belum tersentuh najis. Maka timbullah inisiatif masyarakat untuk membuat makanan yang dimasak dari bambu tersebut, yang pada akhirnya disebut dengan lamang,&amp;rdquo; tutur Darmawi cerita yang didapat dari neneknya.
Itu cerita dari banyak pihak, terutama pendapat para ulama yang ada didaerah Padang Pariaman tentang tradisi malamang yang hingga kini masih melekat di tengah masyarakat itu sendiri. Pada bulan Sya'ban seperti ini, boleh dilihat hampir seluruh rumah masyarakat membuat yang namanya lamang disiang hari, dan malamnya berkumpul bersama urang siak (ulama). Para urang siak itu sengaja diundang oleh yang punya rumah, untuk meminta kaji nan sapatah, doa nan sakulimah.
&amp;nbsp;
Kini kata Darmawi, kalau hari raya nanti di Masjid Raya Belimbing ini para jamaahnya akan membawa lemang untuk dimakan bersama di dalam masjid setelah shalat Id. &amp;ldquo;Kalau kesini banyak lemang dan kue-kue kita akan makan bersama setelah shalat Idul Fitri,&amp;rdquo; katanya.
Damawi menambahkan kini lemang itu tidak hanya sebagai makanan di rumah-rumah dan masji tapi ini juga sudah menjadi tradisi sebagai oleh-oleh ke rumah mertua yang dinamakan manjalang mintuo
&amp;nbsp;
Lemang Untuk Manjalang Mintuo
&amp;nbsp;
Tradisi manjalang mintuo tujuannya untuk mengeratkan silaturahmi antara menantu dengan keluarga mertuanya. Manjalang mintuo di sini dulunya tidak hanya sekadar pergi bersilaturahmi tapi membawa hantaran berupa makanan khas. Khususnya di Kuranji, Pauh dan Kototangah hantaran yang dibawa berupa lemang, tapai ketan, kue bolu, agar-agar dan pisang.
Manjalang mintuo ini diwajibkan bagi wanita yang baru menikah. Pakaian yang dipakai ke rumah mertua pun tak boleh sembarangan. Minimal baju kurung. Manjalang mintuo biasa jelang Ramadhan, Lebaran dan Hari Raya Idul Adha.
Hantaran dinilai tidak saja dari wujudnya tapi juga dari raso dan pareso. Bagi yang menerima buah tangan ini, pemberian ini juga dinilai sebagai penghargaan terhadap dirinya. &amp;ldquo;Senang dan merasa dihargai bila menantu manjalang di hari baik bulan baik,&amp;rdquo; kata Hartini (60) warga Pauh, Kota Padang.
Wadah tempat membawa lemang ini saat pulang tak dibiarkan kosong, biasanya berisi uang atau beras. &amp;ldquo;Jumlahnya tergantung kemampuan. Kalau orangnya pelit biasanya memberi sekadarnya saja,&amp;rdquo; ucapnya.
Hartini menambahkan biasanya kalau tidak sibuk menjelang puasa atau lebaran dia membuat lemang sendiri, pasalnya kalau ditempatnya tidak ada yang membuat lemang. &amp;ldquo;Kalau dibeli disini tidak ada yang menjual jadi kitas buat saja sendiri selagi masih ada bambu dan pisang kita buatkan. Saya belajar membuat lemang ini dari ibu,&amp;rdquo; jelasnya.
Tapi wanita masa kini kata Hartini, yang masih menjalankan tradisi ini kadang hanya saat Hari Raya Idul Fitri. Itupun yang dibawa tidak lagi penganan khas manjalang zaman dulu. Ada juga yang tak bawa apa-apa. Hanya silaturahmi saja.
Beragam alasannya. Ada yang menganggap sudah tak relevan dengan zaman. Ada juga karena tak sempat karena kesibukan. Kendala ekonomi, jarak dan sebagainya. Meski begitu yang masih menjalani tradisi ini sampai kini tetap ada. (wal)</description><content:encoded>PADANG - Afrijon (30) duduk bersandar di kursi plastik warna biru sambil melihat kondisi jilatan api kepada sekira 30 bambu lamang (lemang) yang disandarkan di atas tungku besi, sekali-sekali dia berdiri jika api semakin membesar akan menyapunya dengan sebuah tongkat kayu agar lemang bambu itu tidak terbakar, itulah usaha lemang yang digeluitnya sejak 1982 di Kelurahan Seberang Padang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat.
Jon panggilan akrab Afrijon ini membuka usaha lemang ini bersama 4 orang saudara kandung mereka.
&amp;ldquo;Ini usaha keluarga saja yang sudah dirintis oleh orang tua, kami ada dua perempuan dan dua laki-laki. Warisan dari orang tua kami teruskan,&amp;rdquo; tuturnya kepada Okezone.
Kalau hari-hari biasa untuk memasak lemang ini ada 30 sampai 35 batang dengan ukuran 60 sampai 70 meter. Namun menjelang bulan puasa ini dia memasak lebih banyak.
&amp;ldquo;Menjelang puasa ini kita memasak lemang ada sebanyak 150 batang, dan ini sudah dipesan sebanyak 80 orang, ada yang memasan tiga batang ada juga yang memesan 5 batang. Untuk satu batang ini dijual seharga Rp40 ribu,&amp;rdquo; ucapnya.
Biasanya ini dipakai untuk manjalang mintuo (mengunjungi mertua) untuk mengikat silaturahmi dengan mertua saat menjelang puasa. &amp;ldquo;Sehingga permintaan banyak menjelang bulan puasa,&amp;rdquo; ujarnya.
Untuk membuat lemang ini, Jon sudah menyiapkan bahannya sehari sebelumnya baik itu beras pulut (ketan) merah, pulut putih, pulut hitam.
&amp;ldquo;Kalau bahannya sudah kita siapkan sehari sebelum memasak, sekitar sore, kemudian untuk memasaknya dimulai sejak pukul 04.00 WIB subuh, ada sekitar 3 jam lamannya memasak,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Sekira lima meter dari tempat Afrijon ada satu lagi tempa memasak lemang milik One Ad (59), usaha lemang ini lebih senior dari milik Afrijon. One Ad ini sudah tidak ingat lagi tahun berapa dirintis usahanya.
&amp;ldquo;Sudah tiga turunan kami merintis mulai dari buyut sampai saya sekarang,&amp;rdquo; tuturnya.
Untuk harga tempat One ini lebih mahal dari milik Afrijon, satu batang lemang ini harganya sekira Rp70 ribu, bahkan pemesannya ada dari Malaysia dan Jawa, terutama saat mereka pulang kampung.
Bahan untuk membuat lemang ini kalau bambu dibeli dari Kabupaten Solok, sementara kalau daun pisang dari Padang Pariaman, kalau beras ketan dan santan kelapa sudah ada di Padang.
&amp;ldquo;Kalau bambu ini jauh kita beli dari Solok daun pisang juga dari Padang Pariaman, kecuali beras ketan ini dan kelapa dari Padang termasuk barang lainnya,&amp;rdquo; ucapnya.
&amp;nbsp;
Ada empat macam jenis lemang baik yang dimasak Afrijon maupun One Ad. Lemang luo, ini terdiri beras ketan putih yang ditengah-tengahnya diberi gula merah bercampur dengan kelapa yang sudah diparut, lemang pisang bahanya beras ketan putih ditengah-tengah dikasih buah pisang, kemudian lemang hitam ini beras ketan hitam, lemang putih ini ketannya putih dan lemang merah dari ketan merah.
Tradisi malamang ini menurut Afrijon dan One Ad ini secara serentak menjawab dari Padang Pariaman.
&amp;ldquo;Waktu cerita nenek saya tradisi ini dari Padang Pariaman, saat itu lemang ini hanya dimasak oleh satu kaum (suku) untuk menyambut bulan puasa kemudian menyambut lebaran. Karena sekarang banyak yang sibuk jadi tradisi ini sudah jarang dilakukan makanya orang lebih banyak membeli saja,&amp;rdquo; terang One.Tak puas dengan informasi ini Okezone menemuhi seorang tokoh agama Tarekat Syattariyah di Masjid Raya Belimbing, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang bernama Darmawi (62), dia ini tokoh yang menjadi panutan para pengikut Tarekat Syattariyah.
Tarekat Syattariyah ini merupakan Agama Islam yang disebarkan oleh Syekh Burhanuddin di Ulakan, Padang Pariaman dan menyebarkan ke Kota Padang dan daerah kabupaten lainnya.
&amp;ldquo;Tradisi malamang ini kalau di Pariaman masih berjalan termasuk di daerah pinggiran Kota Padang, mereka memasak lemang ini sehari sebelum puasa dan sehari sebelum lebaran. Lemang ini ibaratnya sebagai kue-kue untuk menyambut bulan suci dan merayakan kemenangan,&amp;rdquo; katanya.
Bulan Sya'ban di daerah Padang Pariaman juga dinamakan dengan bulan lamang. Sebab, dibulan inilah hampir seluruh masyarakat daerah itu melakukan tradisi malamang. Lamang, sebuah makanan yang terbuat dari beras ketan, yang dimasak dengan menggunakan bambu. Tradisi demikian telah berlangsung sejak Syekh Burhanuddin mengembangkan ajaran Islam di daerah tersebut.
Hingga kini, tradisi malamang disamping dibudayakan pada bulan Sya'ban ini, juga terjadi saat bulan maulid, dan saat melakukan kebiasaan saat peringatan peristiwa kematian. Konon kabarnya, sebelum Syekh Burhanuddin datang mengembangkan Islam di Pariaman yang berpusat di Ulakan, masyarakat daerah itu masih memeluk agama nenek moyangnya, Hindu dan Budha. Dengan demikian, persoalan makanan yang dilakukan umat dulu itu tidak ada yang menyaring. Asal ketemu dimakan saja. Nah, Syekh Burhanuddin orang yang telah lama tahu dengan Islam sangat tidak ingin makan sembarangan.
Begitu juga, tata cara pengembangan Islam yang dilakukan Syekh Burhanuddin, banyak menggunakan jalur adat istiadat yang telah berkembang dikampung tersebut. Setiap kali Syekh Burhanuddin bertandang kerumah masyarakat, dia tidak mau memakan makanan yang diletakkan oleh yang punya rumah. Terus menerus hal itu terjadi tentu menjadi sebuah pertanyaan bagi masyarakat jamaahnya.
&amp;ldquo;Syekh Burhanuddin pun menjelaskan, kenapa dia tidak mau makan ? Menurutnya, tempat memasak makanan tersebut masih mengandung najis, perlu disucikan. Saya mau makan, apabila makanan itu dimasak dari alat yang belum tersentuh najis. Maka timbullah inisiatif masyarakat untuk membuat makanan yang dimasak dari bambu tersebut, yang pada akhirnya disebut dengan lamang,&amp;rdquo; tutur Darmawi cerita yang didapat dari neneknya.
Itu cerita dari banyak pihak, terutama pendapat para ulama yang ada didaerah Padang Pariaman tentang tradisi malamang yang hingga kini masih melekat di tengah masyarakat itu sendiri. Pada bulan Sya'ban seperti ini, boleh dilihat hampir seluruh rumah masyarakat membuat yang namanya lamang disiang hari, dan malamnya berkumpul bersama urang siak (ulama). Para urang siak itu sengaja diundang oleh yang punya rumah, untuk meminta kaji nan sapatah, doa nan sakulimah.
&amp;nbsp;
Kini kata Darmawi, kalau hari raya nanti di Masjid Raya Belimbing ini para jamaahnya akan membawa lemang untuk dimakan bersama di dalam masjid setelah shalat Id. &amp;ldquo;Kalau kesini banyak lemang dan kue-kue kita akan makan bersama setelah shalat Idul Fitri,&amp;rdquo; katanya.
Damawi menambahkan kini lemang itu tidak hanya sebagai makanan di rumah-rumah dan masji tapi ini juga sudah menjadi tradisi sebagai oleh-oleh ke rumah mertua yang dinamakan manjalang mintuo
&amp;nbsp;
Lemang Untuk Manjalang Mintuo
&amp;nbsp;
Tradisi manjalang mintuo tujuannya untuk mengeratkan silaturahmi antara menantu dengan keluarga mertuanya. Manjalang mintuo di sini dulunya tidak hanya sekadar pergi bersilaturahmi tapi membawa hantaran berupa makanan khas. Khususnya di Kuranji, Pauh dan Kototangah hantaran yang dibawa berupa lemang, tapai ketan, kue bolu, agar-agar dan pisang.
Manjalang mintuo ini diwajibkan bagi wanita yang baru menikah. Pakaian yang dipakai ke rumah mertua pun tak boleh sembarangan. Minimal baju kurung. Manjalang mintuo biasa jelang Ramadhan, Lebaran dan Hari Raya Idul Adha.
Hantaran dinilai tidak saja dari wujudnya tapi juga dari raso dan pareso. Bagi yang menerima buah tangan ini, pemberian ini juga dinilai sebagai penghargaan terhadap dirinya. &amp;ldquo;Senang dan merasa dihargai bila menantu manjalang di hari baik bulan baik,&amp;rdquo; kata Hartini (60) warga Pauh, Kota Padang.
Wadah tempat membawa lemang ini saat pulang tak dibiarkan kosong, biasanya berisi uang atau beras. &amp;ldquo;Jumlahnya tergantung kemampuan. Kalau orangnya pelit biasanya memberi sekadarnya saja,&amp;rdquo; ucapnya.
Hartini menambahkan biasanya kalau tidak sibuk menjelang puasa atau lebaran dia membuat lemang sendiri, pasalnya kalau ditempatnya tidak ada yang membuat lemang. &amp;ldquo;Kalau dibeli disini tidak ada yang menjual jadi kitas buat saja sendiri selagi masih ada bambu dan pisang kita buatkan. Saya belajar membuat lemang ini dari ibu,&amp;rdquo; jelasnya.
Tapi wanita masa kini kata Hartini, yang masih menjalankan tradisi ini kadang hanya saat Hari Raya Idul Fitri. Itupun yang dibawa tidak lagi penganan khas manjalang zaman dulu. Ada juga yang tak bawa apa-apa. Hanya silaturahmi saja.
Beragam alasannya. Ada yang menganggap sudah tak relevan dengan zaman. Ada juga karena tak sempat karena kesibukan. Kendala ekonomi, jarak dan sebagainya. Meski begitu yang masih menjalani tradisi ini sampai kini tetap ada. (wal)</content:encoded></item></channel></rss>
