<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Meugang, Tradisi Berburu Daging Kerbau Jelang Ramadan di Aceh</title><description>Masyarakat Aceh punya tradisi khusus menyambut bulan suci Ramadan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/04/340/2051492/meugang-tradisi-berburu-daging-kerbau-jelang-ramadan-di-aceh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/05/04/340/2051492/meugang-tradisi-berburu-daging-kerbau-jelang-ramadan-di-aceh"/><item><title>Meugang, Tradisi Berburu Daging Kerbau Jelang Ramadan di Aceh</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/04/340/2051492/meugang-tradisi-berburu-daging-kerbau-jelang-ramadan-di-aceh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/05/04/340/2051492/meugang-tradisi-berburu-daging-kerbau-jelang-ramadan-di-aceh</guid><pubDate>Sabtu 04 Mei 2019 21:30 WIB</pubDate><dc:creator>Windy Phagta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/04/340/2051492/meugang-tradisi-berburu-daging-kerbau-jelang-ramadan-di-aceh-hsqtebzkth.JPG" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/04/340/2051492/meugang-tradisi-berburu-daging-kerbau-jelang-ramadan-di-aceh-hsqtebzkth.JPG</image><title></title></images><description>ACEH - Masyarakat Aceh punya tradisi khusus menyambut bulan suci Ramadan. Dua hari sebelum puasa, warga Tanah Rencong membeli daging lembu atau kerbau untuk dimasak, lalu disantap bersama. Tradisi ini sudah berlangsung sejak 400 tahun lalu.

Dua hari sebelum menyambut bulan suci Ramadan, masyarakat Aceh punya tradisi yang disebut &amp;ldquo;Meugang&amp;rdquo;, dimana hampir diseluruh pasar tradisional di Aceh diramaikan oleh pedangang daging lembu maupun kerbau, tidak kecuali di dataran tinggi Gayo.

Warga berbondong-bondong ke pasar untuk beli daging, kemudian membawa pulang ke rumah. Pedangan berjejer menjajalkan daging jualannya, yang digantung pada kayu di lapak-lapak penjual daging yang khusus hanya berjualan pada hari Meugang saja. seperti halnya dipasar inpres, Pondok Baru, Bener Meriah.



Masyarakat Gayo sedikit berneda dalam pilihan daging untuk Meugang, masyarakat Gayo lebih banyak yang memilih daging sapi, kalau masyarakat pesisi Aceh lebih memilih daging sapi.

&amp;ldquo;Sama saja, cuma beda tekstur dagingnya, orang Gayo lebih populer dengan daging sapi, karena mungkin alamnya disini banyak yang pelihara kerbau dari pada sapi,&amp;rdquo; ujar Aman Syuhada, warga Bener Meriah, Sabtu (4/05).

Daging Kerbau diolah dan dimasak sesuai selera masing - masing, seperti rendang, jantar lumu (masakan khas gayo, bersantan dan menggunakan sayur batang talas), kekolet (kikil kulit kerbau).

&amp;ldquo;Kalau koletnya banyak bisa dibuat, bisa cicah kikil (sejenis sambal), bisa di asam jeng, dagingnya direndang palingan,&amp;rdquo; tambah Aman Syuhada.

Daging Kerbau di jual seharga 150.000 perkilonya, harga ini melonjak drastis dari harga biasanya, antara 120.000 - 130.000 perkilo gramnya.



Bagi masyarakat Aceh, meugang tanpa membeli daging belum lengkap rasanya, meski harga melonjak drastis, lapak penjual daging tetap dikerumuni pembeli. Setiap keluarga biasanya membeli satu hingga tiga kilogram daging untuk disantap bersama.

Menurut riwayat meugang pertama sekali diperingati pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin Sultan Iskandar Muda yang berkuasa tahun 1607-1636 M. Istilah makmeugang diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi atau Undang-Undang Kerajaan.

Kerajaan memerintah perangkat desa mendata warga miskin, kemudian diverifikasi oleh lembaga resmi (Qadhi) kesultanan untuk memilih yang layak menerima daging. Sultan kemudian memotong banyak ternak, dagingnya dibagikan kepada mereka secara gratis.


</description><content:encoded>ACEH - Masyarakat Aceh punya tradisi khusus menyambut bulan suci Ramadan. Dua hari sebelum puasa, warga Tanah Rencong membeli daging lembu atau kerbau untuk dimasak, lalu disantap bersama. Tradisi ini sudah berlangsung sejak 400 tahun lalu.

Dua hari sebelum menyambut bulan suci Ramadan, masyarakat Aceh punya tradisi yang disebut &amp;ldquo;Meugang&amp;rdquo;, dimana hampir diseluruh pasar tradisional di Aceh diramaikan oleh pedangang daging lembu maupun kerbau, tidak kecuali di dataran tinggi Gayo.

Warga berbondong-bondong ke pasar untuk beli daging, kemudian membawa pulang ke rumah. Pedangan berjejer menjajalkan daging jualannya, yang digantung pada kayu di lapak-lapak penjual daging yang khusus hanya berjualan pada hari Meugang saja. seperti halnya dipasar inpres, Pondok Baru, Bener Meriah.



Masyarakat Gayo sedikit berneda dalam pilihan daging untuk Meugang, masyarakat Gayo lebih banyak yang memilih daging sapi, kalau masyarakat pesisi Aceh lebih memilih daging sapi.

&amp;ldquo;Sama saja, cuma beda tekstur dagingnya, orang Gayo lebih populer dengan daging sapi, karena mungkin alamnya disini banyak yang pelihara kerbau dari pada sapi,&amp;rdquo; ujar Aman Syuhada, warga Bener Meriah, Sabtu (4/05).

Daging Kerbau diolah dan dimasak sesuai selera masing - masing, seperti rendang, jantar lumu (masakan khas gayo, bersantan dan menggunakan sayur batang talas), kekolet (kikil kulit kerbau).

&amp;ldquo;Kalau koletnya banyak bisa dibuat, bisa cicah kikil (sejenis sambal), bisa di asam jeng, dagingnya direndang palingan,&amp;rdquo; tambah Aman Syuhada.

Daging Kerbau di jual seharga 150.000 perkilonya, harga ini melonjak drastis dari harga biasanya, antara 120.000 - 130.000 perkilo gramnya.



Bagi masyarakat Aceh, meugang tanpa membeli daging belum lengkap rasanya, meski harga melonjak drastis, lapak penjual daging tetap dikerumuni pembeli. Setiap keluarga biasanya membeli satu hingga tiga kilogram daging untuk disantap bersama.

Menurut riwayat meugang pertama sekali diperingati pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin Sultan Iskandar Muda yang berkuasa tahun 1607-1636 M. Istilah makmeugang diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi atau Undang-Undang Kerajaan.

Kerajaan memerintah perangkat desa mendata warga miskin, kemudian diverifikasi oleh lembaga resmi (Qadhi) kesultanan untuk memilih yang layak menerima daging. Sultan kemudian memotong banyak ternak, dagingnya dibagikan kepada mereka secara gratis.


</content:encoded></item></channel></rss>
