<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Baratan, Tradisi Sambut Ramadan Sekaligus Mengenang Wafatnya Suami Ratu Kalinyamat   </title><description>Tradisi Baratan di Jepara Jawa Tengah kental dengan nuansa religi sekaligus memiliki muatan sejarah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/04/512/2051401/baratan-tradisi-sambut-ramadan-sekaligus-mengenang-wafatnya-suami-ratu-kalinyamat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/05/04/512/2051401/baratan-tradisi-sambut-ramadan-sekaligus-mengenang-wafatnya-suami-ratu-kalinyamat"/><item><title> Baratan, Tradisi Sambut Ramadan Sekaligus Mengenang Wafatnya Suami Ratu Kalinyamat   </title><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/04/512/2051401/baratan-tradisi-sambut-ramadan-sekaligus-mengenang-wafatnya-suami-ratu-kalinyamat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/05/04/512/2051401/baratan-tradisi-sambut-ramadan-sekaligus-mengenang-wafatnya-suami-ratu-kalinyamat</guid><pubDate>Sabtu 04 Mei 2019 12:02 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Budi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/04/512/2051401/baratan-tradisi-sambut-ramadan-sekaligus-mengenang-wafatnya-suami-ratu-kalinyamat-ao9h7EkKao.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto Ilustrasi Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/04/512/2051401/baratan-tradisi-sambut-ramadan-sekaligus-mengenang-wafatnya-suami-ratu-kalinyamat-ao9h7EkKao.jpg</image><title>Foto Ilustrasi Okezone</title></images><description>
JEPARA - Tradisi Baratan di Jepara Jawa Tengah kental dengan nuansa religi sekaligus memiliki muatan sejarah. Pawai yang digelar warga untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan dilaksanakan jauh-jauh hari. Kenapa? Berikut ulasannya.

&amp;ldquo;Di Jepara ada tradisi Baratan, itu untuk menyambut Bulan Puasa. Sudah dilaksanakan pada malam Nisfu Syakban di Kalinyamatan,&amp;rdquo; ujar Kepala Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kaupaten Jepara, Ida Lestari, Jumat (3/5/2019).

Dia menjelaskan, Baratan merupakan tradisi karnaval masyarakat Jepara yang erat kaitannya dengan Ratu Kalinyamat. Kegiatan itu juga untuk mengenang meninggalnya Sultan Hadirin yang tak lain adalah suami Ratu Kalinyamat.

&amp;ldquo;Jadi sebenarnya itu (karnaval) hanya untuk memperingati datangnya Bulan Puasa tetapi oleh para pemuda di sana dikaitkan dengan pada saat meninggalnya Sultan Hadirin suaminya Ratu Kalinyamat yang dibunuh Arya Penangsang,&amp;rdquo; tukasnya.

&amp;ldquo;Kemudian banyak orang di situ menyalakan teng teng gung, itu seperti lampion. Di sepanjang jalan juga dinyalakan obor untuk menerangi. (Karena) pada saat itu Sultan Hadirin kesakitan, yang dibunuh di sekitar Mayong kemudian dibawa sampai Desa Purwogondo,&amp;rdquo; terang dia.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Makanya di sepanjang jalan itu masyarakat menyalakan obor. Meski sekarang sudah ada listrik, tapi tradisi tetap dilestarikan, tetap menyalakan obor di sepanjang jalan yang dilalui Baratan. Mereka (warga) juga menenteng lampion-lampion. Bentuknya macam-macam,yang jelas di dalamnya ada api untuk penerangan,&amp;rdquo; beber dia.

Menurutnya, pawai Baratan yang pelaksanaannya dilaksanakan pada malam Nisfu Syakban bisa digeser sesuai kondisi. Kini pawai yang mengundang perhatian ribuan warga tersebut juga tak hanya berlangsung di Kalinyamatan tetapi juga tempat-tempat lain di Jepara.

&amp;ldquo;Baratan itu menjelang malam nisfu Syakban untuk menyambut Bulan Puasa. Dan sudah dilaksanakan pada 27 April di Kalinyamatan. Untuk harinya disesuaikan, karena di Kalinyamatan saat itu bertepatan dengan pengajian (Sabtu 20 April). Tidak hanya di Kalinyamatan tetapi juga ada di daerah Troso Ujung Batu,&amp;rdquo; jelasnya.

Dilansir dari laman Wikipedia, kata &amp;ldquo;baratan&amp;rdquo; berasal dari Bahasa Arab, yaitu &amp;ldquo;baraah&amp;rdquo; yang berarti keselamatan atau &amp;ldquo;barakah&amp;rdquo; yang berarti keberkahan. Kegiatan dipusatkan di Masjid Al Makmur Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan.

Ritualnya dilaksanakan setelah Salat Maghrib, warga tidak langsung pulang dan menggelar doa bersama. Surat Yasin dibaca tiga kali secara bersama-sama dilanjutkan Salat Isya berjamaah. Kemudian memanjatkan doa Nisfu Syakban dilanjutkan makan nasi puli dan melepas arak-arakan.

Istilah Baratan juga bisa diartikan dari Bahasa Arab, yaitu Baroatan yang bermakna lembaran. Artinya, pada tanggal 15 Syakban merupakan pergantian lembaran catatan amal perbuatan manusia menjelang Bulan Ramadan.

Lembaran tersebut telah habis untuk mencatat amal yang lama sehingga diganti baru. Untuk itu, Ramadan harus diisi dengan berbagai amalan. Maka dengan dinyalakan obor di depan rumah dan membawa obor keliling kampung harapanya catatan amal warga sekampung diharapkan terang atau baik.

Pemerintah Kabupaten Jepara telah memasukkan Baratan dalam agenda pariwisata, sehingga kemasannya diubah agar bisa dinikmati masyarakat. Tradisi Baratan dikemas dengan mengusung tema iring-iringan Ratu Kalinyamat beserta pasukannya.
</description><content:encoded>
JEPARA - Tradisi Baratan di Jepara Jawa Tengah kental dengan nuansa religi sekaligus memiliki muatan sejarah. Pawai yang digelar warga untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan dilaksanakan jauh-jauh hari. Kenapa? Berikut ulasannya.

&amp;ldquo;Di Jepara ada tradisi Baratan, itu untuk menyambut Bulan Puasa. Sudah dilaksanakan pada malam Nisfu Syakban di Kalinyamatan,&amp;rdquo; ujar Kepala Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kaupaten Jepara, Ida Lestari, Jumat (3/5/2019).

Dia menjelaskan, Baratan merupakan tradisi karnaval masyarakat Jepara yang erat kaitannya dengan Ratu Kalinyamat. Kegiatan itu juga untuk mengenang meninggalnya Sultan Hadirin yang tak lain adalah suami Ratu Kalinyamat.

&amp;ldquo;Jadi sebenarnya itu (karnaval) hanya untuk memperingati datangnya Bulan Puasa tetapi oleh para pemuda di sana dikaitkan dengan pada saat meninggalnya Sultan Hadirin suaminya Ratu Kalinyamat yang dibunuh Arya Penangsang,&amp;rdquo; tukasnya.

&amp;ldquo;Kemudian banyak orang di situ menyalakan teng teng gung, itu seperti lampion. Di sepanjang jalan juga dinyalakan obor untuk menerangi. (Karena) pada saat itu Sultan Hadirin kesakitan, yang dibunuh di sekitar Mayong kemudian dibawa sampai Desa Purwogondo,&amp;rdquo; terang dia.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Makanya di sepanjang jalan itu masyarakat menyalakan obor. Meski sekarang sudah ada listrik, tapi tradisi tetap dilestarikan, tetap menyalakan obor di sepanjang jalan yang dilalui Baratan. Mereka (warga) juga menenteng lampion-lampion. Bentuknya macam-macam,yang jelas di dalamnya ada api untuk penerangan,&amp;rdquo; beber dia.

Menurutnya, pawai Baratan yang pelaksanaannya dilaksanakan pada malam Nisfu Syakban bisa digeser sesuai kondisi. Kini pawai yang mengundang perhatian ribuan warga tersebut juga tak hanya berlangsung di Kalinyamatan tetapi juga tempat-tempat lain di Jepara.

&amp;ldquo;Baratan itu menjelang malam nisfu Syakban untuk menyambut Bulan Puasa. Dan sudah dilaksanakan pada 27 April di Kalinyamatan. Untuk harinya disesuaikan, karena di Kalinyamatan saat itu bertepatan dengan pengajian (Sabtu 20 April). Tidak hanya di Kalinyamatan tetapi juga ada di daerah Troso Ujung Batu,&amp;rdquo; jelasnya.

Dilansir dari laman Wikipedia, kata &amp;ldquo;baratan&amp;rdquo; berasal dari Bahasa Arab, yaitu &amp;ldquo;baraah&amp;rdquo; yang berarti keselamatan atau &amp;ldquo;barakah&amp;rdquo; yang berarti keberkahan. Kegiatan dipusatkan di Masjid Al Makmur Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan.

Ritualnya dilaksanakan setelah Salat Maghrib, warga tidak langsung pulang dan menggelar doa bersama. Surat Yasin dibaca tiga kali secara bersama-sama dilanjutkan Salat Isya berjamaah. Kemudian memanjatkan doa Nisfu Syakban dilanjutkan makan nasi puli dan melepas arak-arakan.

Istilah Baratan juga bisa diartikan dari Bahasa Arab, yaitu Baroatan yang bermakna lembaran. Artinya, pada tanggal 15 Syakban merupakan pergantian lembaran catatan amal perbuatan manusia menjelang Bulan Ramadan.

Lembaran tersebut telah habis untuk mencatat amal yang lama sehingga diganti baru. Untuk itu, Ramadan harus diisi dengan berbagai amalan. Maka dengan dinyalakan obor di depan rumah dan membawa obor keliling kampung harapanya catatan amal warga sekampung diharapkan terang atau baik.

Pemerintah Kabupaten Jepara telah memasukkan Baratan dalam agenda pariwisata, sehingga kemasannya diubah agar bisa dinikmati masyarakat. Tradisi Baratan dikemas dengan mengusung tema iring-iringan Ratu Kalinyamat beserta pasukannya.
</content:encoded></item></channel></rss>
