<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Minoritas di Parlemen, Wakil Rakyat Perempuan Harus Lebih Aktif Ambil Peran </title><description>Pemilih perempuan di Pileg 2019 lebih banyak dari laki-laki. Namun, kemenangan caleg perempuan tidak signifikan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/05/606/2051765/minoritas-di-parlemen-wakil-rakyat-perempuan-harus-lebih-aktif-ambil-peran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/05/05/606/2051765/minoritas-di-parlemen-wakil-rakyat-perempuan-harus-lebih-aktif-ambil-peran"/><item><title>Minoritas di Parlemen, Wakil Rakyat Perempuan Harus Lebih Aktif Ambil Peran </title><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/05/606/2051765/minoritas-di-parlemen-wakil-rakyat-perempuan-harus-lebih-aktif-ambil-peran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/05/05/606/2051765/minoritas-di-parlemen-wakil-rakyat-perempuan-harus-lebih-aktif-ambil-peran</guid><pubDate>Minggu 05 Mei 2019 15:36 WIB</pubDate><dc:creator>Harits Tryan Akhmad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/05/606/2051765/minoritas-di-parlemen-wakil-rakyat-perempuan-harus-lebih-aktif-ambil-peran-ijVDtk1tar.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/05/606/2051765/minoritas-di-parlemen-wakil-rakyat-perempuan-harus-lebih-aktif-ambil-peran-ijVDtk1tar.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Porsi perempuan di parlemen masih di bawah laki-laki. Untuk itu, para anggota legislatif perempuan yang minoritas harus bisa mengambil peran dengan lebih aktif di tingkat daerah.
&amp;ldquo;Jika caleg pria lebih mendominasi di level nasional, maka fokus caleg perempuan sebaiknya konsentrasi di level lokal (daerah),&amp;rdquo; kata Direktur SPIN Indonesia, Igor Dirgantara, Minggu (5/5/2019).
Menurut Igor, pemilih perempuan di Pileg 2019 lebih banyak dari laki-laki. Namun, kemenangan caleg perempuan tidak signifikan. Padahal, jumlah pemilih perempuan 96,6 juta di atas pemilih laki-laki 96,3 juta orang.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Di Pemilu 2019, ada 3.371 orang caleg perempuan dan 5.029 caleg laki-laki. Caleg perempuan hanya 40 persen dari total jumlah caleg sebanyak 8.400 orang, di mana tiap caleg memperebutkan suara untuk memenangkan satu dari 575 kursi DPR,&amp;rdquo; katanya.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Kejar Waktu, KPU Usul Rapat Rekapitulasi Suara Luar Negeri Digelar di Dua Ruangan)
Igor menuturkan, wakil rakyat perempuan tidak pernah mencapai angka 30 persen. Bila menengok ke 2014, anggota DPR perempuan hanya 97 orang atau sekira 17,32 persen dari total 560 anggota DPR.

Secara demografi, sambungnya, jumlah penduduk perempuan mencapai lebih dari  50 persen penduduk Indonesia. Kata Igor, mereka sejatinya memerlukan suara untuk mewakili kepentingan mereka dalam pengambilan kebijakan.
&amp;ldquo;Oleh karena itu, harus terus dilakukan upaya yang masif, terstruktur dan sistematis menambah jumlah perempuan dalam daftar caleg demi peningkatan partisipasi politik perempuan,&amp;rdquo; ujarnya.
Politisi Partai Gerindra, Novita Dewi turut menyayangkan karena masih belum banyak perempuan yang terpilih di Pemilu 2019. Kendati, ia tetap bersyukur karena kuota 30 persen perempuan di parlemen.
&amp;ldquo;Kuota 30 persen hanya untuk menjadi calon legislatif oleh partai, bukan keterpilihan. Hal ini karena start dalam politik perempuan tertinggal dari laki-laki. Oleh karena itu, perempuan yang tampil diajang politik harus memiliki effort yang lebih besar agar dapat mengejar ketertinggalan,&amp;rdquo; ujarnya.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Rekapitulasi Suara di Bogor: Golkar &amp;amp; Gerindra Raih Kursi DPR Terbanyak)
Ia pun mengaku akan memperkuat ekonomi bila dirinya menjadi anggota DPRD DKI Jakarta periode 2019-2024. Sebab, ia merasakan kalau perempuanlah yang paling terdampak bila ada masalah ekonomi.
&amp;ldquo;Selanjutnya, memastikan kesejahteraan itu dilakukan dengan membuka dan menciptakan lapangan kerja bagi perempuan melalui kewirausahaan serta memastikan harga-harga bahan pokok terjangkau,&amp;rdquo; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Porsi perempuan di parlemen masih di bawah laki-laki. Untuk itu, para anggota legislatif perempuan yang minoritas harus bisa mengambil peran dengan lebih aktif di tingkat daerah.
&amp;ldquo;Jika caleg pria lebih mendominasi di level nasional, maka fokus caleg perempuan sebaiknya konsentrasi di level lokal (daerah),&amp;rdquo; kata Direktur SPIN Indonesia, Igor Dirgantara, Minggu (5/5/2019).
Menurut Igor, pemilih perempuan di Pileg 2019 lebih banyak dari laki-laki. Namun, kemenangan caleg perempuan tidak signifikan. Padahal, jumlah pemilih perempuan 96,6 juta di atas pemilih laki-laki 96,3 juta orang.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Di Pemilu 2019, ada 3.371 orang caleg perempuan dan 5.029 caleg laki-laki. Caleg perempuan hanya 40 persen dari total jumlah caleg sebanyak 8.400 orang, di mana tiap caleg memperebutkan suara untuk memenangkan satu dari 575 kursi DPR,&amp;rdquo; katanya.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Kejar Waktu, KPU Usul Rapat Rekapitulasi Suara Luar Negeri Digelar di Dua Ruangan)
Igor menuturkan, wakil rakyat perempuan tidak pernah mencapai angka 30 persen. Bila menengok ke 2014, anggota DPR perempuan hanya 97 orang atau sekira 17,32 persen dari total 560 anggota DPR.

Secara demografi, sambungnya, jumlah penduduk perempuan mencapai lebih dari  50 persen penduduk Indonesia. Kata Igor, mereka sejatinya memerlukan suara untuk mewakili kepentingan mereka dalam pengambilan kebijakan.
&amp;ldquo;Oleh karena itu, harus terus dilakukan upaya yang masif, terstruktur dan sistematis menambah jumlah perempuan dalam daftar caleg demi peningkatan partisipasi politik perempuan,&amp;rdquo; ujarnya.
Politisi Partai Gerindra, Novita Dewi turut menyayangkan karena masih belum banyak perempuan yang terpilih di Pemilu 2019. Kendati, ia tetap bersyukur karena kuota 30 persen perempuan di parlemen.
&amp;ldquo;Kuota 30 persen hanya untuk menjadi calon legislatif oleh partai, bukan keterpilihan. Hal ini karena start dalam politik perempuan tertinggal dari laki-laki. Oleh karena itu, perempuan yang tampil diajang politik harus memiliki effort yang lebih besar agar dapat mengejar ketertinggalan,&amp;rdquo; ujarnya.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Rekapitulasi Suara di Bogor: Golkar &amp;amp; Gerindra Raih Kursi DPR Terbanyak)
Ia pun mengaku akan memperkuat ekonomi bila dirinya menjadi anggota DPRD DKI Jakarta periode 2019-2024. Sebab, ia merasakan kalau perempuanlah yang paling terdampak bila ada masalah ekonomi.
&amp;ldquo;Selanjutnya, memastikan kesejahteraan itu dilakukan dengan membuka dan menciptakan lapangan kerja bagi perempuan melalui kewirausahaan serta memastikan harga-harga bahan pokok terjangkau,&amp;rdquo; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
