<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tradisi Unik Warga Keturunan Banjar Bagikan Bubur Samin Selama Ramadan</title><description>Bubur ini dulunya dibawa oleh para pedagang batu permata dari Martapura Kalimantan selatan hampir 70 tahun silam.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/06/512/2052265/tradisi-unik-warga-keturunan-banjar-bagikan-bubur-samin-selama-ramadan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/05/06/512/2052265/tradisi-unik-warga-keturunan-banjar-bagikan-bubur-samin-selama-ramadan"/><item><title>Tradisi Unik Warga Keturunan Banjar Bagikan Bubur Samin Selama Ramadan</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/06/512/2052265/tradisi-unik-warga-keturunan-banjar-bagikan-bubur-samin-selama-ramadan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/05/06/512/2052265/tradisi-unik-warga-keturunan-banjar-bagikan-bubur-samin-selama-ramadan</guid><pubDate>Senin 06 Mei 2019 22:00 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/06/512/2052265/tradisi-unik-warga-keturunan-banjar-bagikan-bubur-samin-selama-ramadan-gHPhSrNltJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tradisi warga keturunan Banjar bagikan bubur samin selama Ramadan (Foto: Bramantyo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/06/512/2052265/tradisi-unik-warga-keturunan-banjar-bagikan-bubur-samin-selama-ramadan-gHPhSrNltJ.jpg</image><title>Tradisi warga keturunan Banjar bagikan bubur samin selama Ramadan (Foto: Bramantyo)</title></images><description>SOLO - Masyarakat keturunan Banjar yang sudah tinggal dan menetap lama di Kota Solo, selaku mempunyai tradisi unik setiap bulan suci Ramadan. Di mana, setiap bulan Ramadan, masyarakat keturunan Banjar yang tinggal di Kampung Jayengan Kidul RT 3 RW 8, Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo ini selalu menyajikan takjil berupa bubur Samin.

Menu khas ini karena hanya disajikan selama bulan puasa dan dibagikan secara gratis kepada masyarakat sekitar masjid Darussalam maupun masyarakat yang berbuka di dalam masjid.

Takmir Masjid Darusalam, Haji Muhammad Rosyidi mengatakan tradisi membuat dan membagikan bubur Samin khas Banjar sudah dimulai sejak pertama kali Masjid Darusalam berdiri pada 1911 warga Banjar yang merantau ke Solo.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Bulan Ramadan, Ulama Diminta Berdakwah yang Bisa Meredamkan Situasi Politik)&amp;nbsp;

Bubur ini dulunya dibawa oleh para pedagang batu permata dari Martapura Kalimantan selatan hampir 70 tahun silam. Mereka sering berkumpul di sekitar masjid ini dan akhirnya betempat tinggal di kampung jayengan hingga sekarang.

Dinamakan bubur samin, ungkap Rosyidi, karena bubur tersebut dibuat dengan menggunakan campuran minyak samin sebagai bumbu penyedap.

&quot;Bubur ini memiliki ciri dan rasa yang khas yakni penambahan bumbu rempah-rempah, minyak samin, daging,&quot; ujarnya, Senin (6/5/2019) sore.

&quot;Sekitar 900 porsi dibagikan gratis pada masyarakat, sedangkan 200 porsi untuk buka puasa di masjid,&quot; imbuhnya.
&amp;nbsp;
Pantauan Okezone, ratusan orang memadati halaman Masjid Darussalam yang termasuk salah satu masjid tertua yang ada di Kota Solo ini. Sekilas bubur ini tidak berbeda jauh dengan bubur pada umumnya.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Kakek Hambali Meninggal Dunia saat Salat Tarawih Pertama)&amp;nbsp;
Pembedanya adalah bumbu dan isi dari bubur ini yang terdiri dari potongan daging sapi bermacam rempah, dan sayuran serta susu. Proses memasaknya dilakukan oleh para takmir masjid.

Jelang berbuka puasa atau tepatnya sesudah Salat Asar, ratusan orang berdatangan untuk mengantre bubur samin ini. Mereka membawa rantang dan piring untuk di bawa pulang.
</description><content:encoded>SOLO - Masyarakat keturunan Banjar yang sudah tinggal dan menetap lama di Kota Solo, selaku mempunyai tradisi unik setiap bulan suci Ramadan. Di mana, setiap bulan Ramadan, masyarakat keturunan Banjar yang tinggal di Kampung Jayengan Kidul RT 3 RW 8, Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo ini selalu menyajikan takjil berupa bubur Samin.

Menu khas ini karena hanya disajikan selama bulan puasa dan dibagikan secara gratis kepada masyarakat sekitar masjid Darussalam maupun masyarakat yang berbuka di dalam masjid.

Takmir Masjid Darusalam, Haji Muhammad Rosyidi mengatakan tradisi membuat dan membagikan bubur Samin khas Banjar sudah dimulai sejak pertama kali Masjid Darusalam berdiri pada 1911 warga Banjar yang merantau ke Solo.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Bulan Ramadan, Ulama Diminta Berdakwah yang Bisa Meredamkan Situasi Politik)&amp;nbsp;

Bubur ini dulunya dibawa oleh para pedagang batu permata dari Martapura Kalimantan selatan hampir 70 tahun silam. Mereka sering berkumpul di sekitar masjid ini dan akhirnya betempat tinggal di kampung jayengan hingga sekarang.

Dinamakan bubur samin, ungkap Rosyidi, karena bubur tersebut dibuat dengan menggunakan campuran minyak samin sebagai bumbu penyedap.

&quot;Bubur ini memiliki ciri dan rasa yang khas yakni penambahan bumbu rempah-rempah, minyak samin, daging,&quot; ujarnya, Senin (6/5/2019) sore.

&quot;Sekitar 900 porsi dibagikan gratis pada masyarakat, sedangkan 200 porsi untuk buka puasa di masjid,&quot; imbuhnya.
&amp;nbsp;
Pantauan Okezone, ratusan orang memadati halaman Masjid Darussalam yang termasuk salah satu masjid tertua yang ada di Kota Solo ini. Sekilas bubur ini tidak berbeda jauh dengan bubur pada umumnya.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Kakek Hambali Meninggal Dunia saat Salat Tarawih Pertama)&amp;nbsp;
Pembedanya adalah bumbu dan isi dari bubur ini yang terdiri dari potongan daging sapi bermacam rempah, dan sayuran serta susu. Proses memasaknya dilakukan oleh para takmir masjid.

Jelang berbuka puasa atau tepatnya sesudah Salat Asar, ratusan orang berdatangan untuk mengantre bubur samin ini. Mereka membawa rantang dan piring untuk di bawa pulang.
</content:encoded></item></channel></rss>
