<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Masjid Sabilillah, Saksi Sejarah Perjuangan dan Tempat Referensi Ibadah Warga Malang</title><description>Letak masjid ini tepat berada di menuju masuk Kota Malang tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/07/519/2052589/masjid-sabilillah-saksi-sejarah-perjuangan-dan-tempat-referensi-ibadah-warga-malang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/05/07/519/2052589/masjid-sabilillah-saksi-sejarah-perjuangan-dan-tempat-referensi-ibadah-warga-malang"/><item><title>Masjid Sabilillah, Saksi Sejarah Perjuangan dan Tempat Referensi Ibadah Warga Malang</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/07/519/2052589/masjid-sabilillah-saksi-sejarah-perjuangan-dan-tempat-referensi-ibadah-warga-malang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/05/07/519/2052589/masjid-sabilillah-saksi-sejarah-perjuangan-dan-tempat-referensi-ibadah-warga-malang</guid><pubDate>Selasa 07 Mei 2019 14:59 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/07/519/2052589/masjid-sabilillah-saksi-sejarah-perjuangan-dan-tempat-referensi-ibadah-warga-malang-1f6mo9qdT2.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/07/519/2052589/masjid-sabilillah-saksi-sejarah-perjuangan-dan-tempat-referensi-ibadah-warga-malang-1f6mo9qdT2.jpg</image><title></title></images><description>KOTA MALANG - Letak masjid ini tepat berada di menuju masuk Kota Malang tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Masjid Sabilillah yang berdiri megah di pertigaan Blimbing ini seakan menyambut warga yang akan memasuki Kota Malang dari sisi utara.

Bagi sebagian orang mungkin tak tahu bila Masjid Sabilillah ini menjadi saksi bersejarah bagaimana laskar - laskar islam yakni laskar Sabilillah dibawah panglima KH. Zainul Arifin dan Hizbullah KH. Masykur, berjuang untuk mengusir penjajah di pertempuran 10 November di Kota Surabaya.

Berdiri di selatan Masjid Jami' Blimbing, Masjid Sabilillah ini sebenarnya mulai ada keinginan untuk pembangunan sejak tahun 1968. Hal ini lantaran masjid yang lama tak lagi mampu menampung jama'ah yang terus membeludak.



Sekretaris Takmir Masjid Sabilillah, Akhmad Farkhan menyatakan bahwa Masjid Sabilillah lama sudah sejak ada sejak zaman era kemerdekaan di tahun 1945, namun lantaran jamaah yang terus membeludak keinginan untuk membuat masjid baru terus meningkat.

&quot;Setelah tahun 1968 itu, jamaah masjid yang lama tidak lagi muat karena kian hari jama'ah yang kian bertambah. Maka pada 1968 dibentuklah panitia pembangunan Masjid Blimbing yang baru oleh KH. Nakhrawi Thohir,&quot; ungkap Farkhan, ditemui di ruang Takmir Masjid Sabilillah.

Usai panitia terbentuk, peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1974 di sebuah tanah kosong di selatan Masjid Jami' Blimbing yang dulu dijadikan markas pejuang saat mengusir penjajah di pertempuran 10 November Surabaya.

&quot;Karena berbagai hal pembangunan masjid ini sempat macet. Kemudian pada 4 Agustus 1974 atas prakarsa KH. Masykur dibicarakan kembali pembangunan masjid ini di rumah beliau di Singosari. Pada 8 Agustus 1974, pembangunan masjid ini dimulai kembali,&quot; jelas Farkhan.

Farkhan menambahkan usai lanjutan pembangunan ini memerlukan waktu kurang lebih 6 tahun masjid ini rampung, dengan bantuan dari pemerintah daerah Tingkat II Kotamadya Malang kala itu.

Filosofi Konstruksi Masjid Sabilillah

Setelah 6 tahun pembangunan masjid, masjid yang menempati luas 8.100  meter persegi ini terdiri dari tiga bangunan, bangunan induk masjid,  bangunan menara, dan bangunan pelengkap uang terdiri dari ruang kantor,  tempat wudu, dan ruangan sekolah.

Uniknya Masjid Sabilillah ini memiliki konstruksi bangunan dengan  melambangkan pergerakan perjuangan Indonesia, jumlah pilar di luar  masjid sebanyak 17 buah melambangkan tanggal proklamasi kemerdekaan  Indonesia.

Sementara ketinggian masjid dari lantai bawah hingga atap yakni 8  meter melambangkan bulan dimana Indonesia merdeka dari penjajah.

Sementara tahun kemerdekaan Indonesia 1945 dilambangkan pada lebar masjid dan tinggi menara yakni 45 meter dari permukaan tanah.



Jarak antar pilar satu dan lainnya juga memiliki filosofis, dimana  dengan jarak 5 meter antar pilar melambangkan Pancasila dan rukun islam  yang jumlahnya juga lima. Di bagian menara masjid berbentuk segi 6  melambangkan rukun iman pada agama islam.

Di dalam masjid, juga terdapat 9 pilar menyokong masjid yang  melambangkan jumlah Wali Songo yang menjadi penyebar agama islam di  Pulau Jawa.

Jadi Simbol Persatuan Dua Agama

Jauh sebelum Masjid Sabilillah berdiri di seberang masjid terdapat   Gereja Katolik Santo Albertus de Trapani Blimbing. Tentu lokasi   berdirinya cukup unik, dimana setiap kegiatan keagamaan kedua agama   selalu intensif berkomunikasi.

&quot;Duluan gereja berdirinya. Kita baru sekitar 1980-an, jadi kita yang   komunikasi dulu ke mereka. Dan Alhamdulillah semua lancar dari dulu,&quot;   beber Farkhan.

Bahkan karena letaknya yang berseberangan ini tak jarang jama'ah   gereja yang beribadah memarkir kendaraan bermotornya di halaman Masjid   Sabilillah.

Tokoh Gereja Santo Albertus de Trapani, Romo Paroki Agus Purnomo   Yulius menyebut bila jamaah gerejanya beberapa kali menitipkan kendaraan   bermotornya di halaman masjid.



&quot;Kita komunikasi intensi dengan pihak Takmir Masjid Sabilillah.   Beberapa kali ibadah gereja juga kendaraan jamaah diparkir di masjid   karena letak gereja berada di pinggir jalan,&quot; tuturnya.

Hal ini dibenarkan Farkhan, dimana disebutkan bahwa setidaknya 2 kali   kegiatan besar gereja yakni Hari Raya Paskah dan Natal, jama'ah gereja   menggunakan lahan masjid sebagai parkir.

&quot;Dalam setahun setidaknya 2 event besar, Paskah dan Natal mereka   hadir ke kita. Biasanya jamaah parkir kendaraannya di Masjid   Sabilillah,&quot; jelasnya.

Tempat Referensi Beribadah Kaum Muslim di Malang
Selain bersejarah, Masjid Sabilillah ini berlokasi cukup strategis   sehingga menjadi referensi tempat beribadah kaum muslim, terlebih selama   Ramadan kali ini.

Kegiatan - kegiatan keagamaan tak pernah sepi dari masjid ini, bahkan   dari penuturan Akhmad Farkhan sejak setelah subuh hingga malam hari di   Bulan Ramadan banyak sekali kegiatan keagamaan.

&quot;Selain takjil gratis ada 700 paket, kita juga siapkan nasi kotak 400   unit. Untuk kegiatan keagamaan sejak subuh sampai setelah salat   tarawih. Kalau salat tarawihnya, 1 hari 1 juz. Jadi menyambung hingga   akhir Ramadan khatam Alquran,&quot; tuturnya.

Selain kegiatan tersebut, salat qiyamul lail yang dilangsungkan mulai   malam 15 Ramadan hingga selesai Ramadan, juga terdapat pengajian   Nuzulul Quran yang direncanakan pada 24 Mei 2019 ini.

Seorang jama'ah Masjid Sabilillah, Darmadi Sasongko menyebut bila   salat berjama'ah di Masjid Sabilillah terbilang cukup nyaman. Selain   karena tempat parkirnya yang luas, beberapa fasilitas dan bangunan   masjid cukup mendukung.

&quot;Rasanya adem berada di masjid ini, bangunannya juga luas, bersih,   tempat wudunya nyaman, dan tempat parkirnya luas,&quot; ungkap Darmadi, warga   Karanglo, Malang.

Hal serupa juga disampaikan Alfi Syahri Ramadana dimana kesan   bangunan yang unik, strategis, dan luas membuat dirinya menyempatkan   diri untuk mampir untuk salat berjama'ah.

&quot;Lokasinya strategis, tempatnya nyaman, dan arsitektur bangunannya cukup menarik,&quot; tukasnya.

Maka jangan heran, bila Masjid Sabilillah selama Ramadan tak pernah   sepi dari aktivitas ibadah. Bahkan meskipun siang hari, masjid ini kerap   menjadi tempat persinggahan untuk sekedar tidur dan melepas lelah saat   beraktivitas.

</description><content:encoded>KOTA MALANG - Letak masjid ini tepat berada di menuju masuk Kota Malang tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Masjid Sabilillah yang berdiri megah di pertigaan Blimbing ini seakan menyambut warga yang akan memasuki Kota Malang dari sisi utara.

Bagi sebagian orang mungkin tak tahu bila Masjid Sabilillah ini menjadi saksi bersejarah bagaimana laskar - laskar islam yakni laskar Sabilillah dibawah panglima KH. Zainul Arifin dan Hizbullah KH. Masykur, berjuang untuk mengusir penjajah di pertempuran 10 November di Kota Surabaya.

Berdiri di selatan Masjid Jami' Blimbing, Masjid Sabilillah ini sebenarnya mulai ada keinginan untuk pembangunan sejak tahun 1968. Hal ini lantaran masjid yang lama tak lagi mampu menampung jama'ah yang terus membeludak.



Sekretaris Takmir Masjid Sabilillah, Akhmad Farkhan menyatakan bahwa Masjid Sabilillah lama sudah sejak ada sejak zaman era kemerdekaan di tahun 1945, namun lantaran jamaah yang terus membeludak keinginan untuk membuat masjid baru terus meningkat.

&quot;Setelah tahun 1968 itu, jamaah masjid yang lama tidak lagi muat karena kian hari jama'ah yang kian bertambah. Maka pada 1968 dibentuklah panitia pembangunan Masjid Blimbing yang baru oleh KH. Nakhrawi Thohir,&quot; ungkap Farkhan, ditemui di ruang Takmir Masjid Sabilillah.

Usai panitia terbentuk, peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1974 di sebuah tanah kosong di selatan Masjid Jami' Blimbing yang dulu dijadikan markas pejuang saat mengusir penjajah di pertempuran 10 November Surabaya.

&quot;Karena berbagai hal pembangunan masjid ini sempat macet. Kemudian pada 4 Agustus 1974 atas prakarsa KH. Masykur dibicarakan kembali pembangunan masjid ini di rumah beliau di Singosari. Pada 8 Agustus 1974, pembangunan masjid ini dimulai kembali,&quot; jelas Farkhan.

Farkhan menambahkan usai lanjutan pembangunan ini memerlukan waktu kurang lebih 6 tahun masjid ini rampung, dengan bantuan dari pemerintah daerah Tingkat II Kotamadya Malang kala itu.

Filosofi Konstruksi Masjid Sabilillah

Setelah 6 tahun pembangunan masjid, masjid yang menempati luas 8.100  meter persegi ini terdiri dari tiga bangunan, bangunan induk masjid,  bangunan menara, dan bangunan pelengkap uang terdiri dari ruang kantor,  tempat wudu, dan ruangan sekolah.

Uniknya Masjid Sabilillah ini memiliki konstruksi bangunan dengan  melambangkan pergerakan perjuangan Indonesia, jumlah pilar di luar  masjid sebanyak 17 buah melambangkan tanggal proklamasi kemerdekaan  Indonesia.

Sementara ketinggian masjid dari lantai bawah hingga atap yakni 8  meter melambangkan bulan dimana Indonesia merdeka dari penjajah.

Sementara tahun kemerdekaan Indonesia 1945 dilambangkan pada lebar masjid dan tinggi menara yakni 45 meter dari permukaan tanah.



Jarak antar pilar satu dan lainnya juga memiliki filosofis, dimana  dengan jarak 5 meter antar pilar melambangkan Pancasila dan rukun islam  yang jumlahnya juga lima. Di bagian menara masjid berbentuk segi 6  melambangkan rukun iman pada agama islam.

Di dalam masjid, juga terdapat 9 pilar menyokong masjid yang  melambangkan jumlah Wali Songo yang menjadi penyebar agama islam di  Pulau Jawa.

Jadi Simbol Persatuan Dua Agama

Jauh sebelum Masjid Sabilillah berdiri di seberang masjid terdapat   Gereja Katolik Santo Albertus de Trapani Blimbing. Tentu lokasi   berdirinya cukup unik, dimana setiap kegiatan keagamaan kedua agama   selalu intensif berkomunikasi.

&quot;Duluan gereja berdirinya. Kita baru sekitar 1980-an, jadi kita yang   komunikasi dulu ke mereka. Dan Alhamdulillah semua lancar dari dulu,&quot;   beber Farkhan.

Bahkan karena letaknya yang berseberangan ini tak jarang jama'ah   gereja yang beribadah memarkir kendaraan bermotornya di halaman Masjid   Sabilillah.

Tokoh Gereja Santo Albertus de Trapani, Romo Paroki Agus Purnomo   Yulius menyebut bila jamaah gerejanya beberapa kali menitipkan kendaraan   bermotornya di halaman masjid.



&quot;Kita komunikasi intensi dengan pihak Takmir Masjid Sabilillah.   Beberapa kali ibadah gereja juga kendaraan jamaah diparkir di masjid   karena letak gereja berada di pinggir jalan,&quot; tuturnya.

Hal ini dibenarkan Farkhan, dimana disebutkan bahwa setidaknya 2 kali   kegiatan besar gereja yakni Hari Raya Paskah dan Natal, jama'ah gereja   menggunakan lahan masjid sebagai parkir.

&quot;Dalam setahun setidaknya 2 event besar, Paskah dan Natal mereka   hadir ke kita. Biasanya jamaah parkir kendaraannya di Masjid   Sabilillah,&quot; jelasnya.

Tempat Referensi Beribadah Kaum Muslim di Malang
Selain bersejarah, Masjid Sabilillah ini berlokasi cukup strategis   sehingga menjadi referensi tempat beribadah kaum muslim, terlebih selama   Ramadan kali ini.

Kegiatan - kegiatan keagamaan tak pernah sepi dari masjid ini, bahkan   dari penuturan Akhmad Farkhan sejak setelah subuh hingga malam hari di   Bulan Ramadan banyak sekali kegiatan keagamaan.

&quot;Selain takjil gratis ada 700 paket, kita juga siapkan nasi kotak 400   unit. Untuk kegiatan keagamaan sejak subuh sampai setelah salat   tarawih. Kalau salat tarawihnya, 1 hari 1 juz. Jadi menyambung hingga   akhir Ramadan khatam Alquran,&quot; tuturnya.

Selain kegiatan tersebut, salat qiyamul lail yang dilangsungkan mulai   malam 15 Ramadan hingga selesai Ramadan, juga terdapat pengajian   Nuzulul Quran yang direncanakan pada 24 Mei 2019 ini.

Seorang jama'ah Masjid Sabilillah, Darmadi Sasongko menyebut bila   salat berjama'ah di Masjid Sabilillah terbilang cukup nyaman. Selain   karena tempat parkirnya yang luas, beberapa fasilitas dan bangunan   masjid cukup mendukung.

&quot;Rasanya adem berada di masjid ini, bangunannya juga luas, bersih,   tempat wudunya nyaman, dan tempat parkirnya luas,&quot; ungkap Darmadi, warga   Karanglo, Malang.

Hal serupa juga disampaikan Alfi Syahri Ramadana dimana kesan   bangunan yang unik, strategis, dan luas membuat dirinya menyempatkan   diri untuk mampir untuk salat berjama'ah.

&quot;Lokasinya strategis, tempatnya nyaman, dan arsitektur bangunannya cukup menarik,&quot; tukasnya.

Maka jangan heran, bila Masjid Sabilillah selama Ramadan tak pernah   sepi dari aktivitas ibadah. Bahkan meskipun siang hari, masjid ini kerap   menjadi tempat persinggahan untuk sekedar tidur dan melepas lelah saat   beraktivitas.

</content:encoded></item></channel></rss>
