<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mardani Ali Sera Haramkan #2019GantiPresiden, Tanda Prabowo Mulai Ditinggalkan Anggota Koalisi?</title><description>Membaca sikap Mardani Ali Sera yang mengharamkan gerakan #2019GantiPresiden.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/07/605/2052385/mardani-ali-sera-haramkan-2019gantipresiden-tanda-prabowo-mulai-ditinggalkan-anggota-koalisi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/05/07/605/2052385/mardani-ali-sera-haramkan-2019gantipresiden-tanda-prabowo-mulai-ditinggalkan-anggota-koalisi"/><item><title>Mardani Ali Sera Haramkan #2019GantiPresiden, Tanda Prabowo Mulai Ditinggalkan Anggota Koalisi?</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/07/605/2052385/mardani-ali-sera-haramkan-2019gantipresiden-tanda-prabowo-mulai-ditinggalkan-anggota-koalisi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/05/07/605/2052385/mardani-ali-sera-haramkan-2019gantipresiden-tanda-prabowo-mulai-ditinggalkan-anggota-koalisi</guid><pubDate>Selasa 07 Mei 2019 07:46 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/07/605/2052385/mardani-ali-sera-haramkan-2019gantipresiden-tanda-prabowo-mulai-ditinggalkan-anggota-koalisi-vhzVpC1vz0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Getty Images</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/07/605/2052385/mardani-ali-sera-haramkan-2019gantipresiden-tanda-prabowo-mulai-ditinggalkan-anggota-koalisi-vhzVpC1vz0.jpg</image><title>Foto: Getty Images</title></images><description>
PERNYATAAN Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS), Mardani Ali Sera, yang mengharamkan seruan #2019GantiPresiden menimbulkan kontroversi di internal Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Mardani Ali Sera merupakan pencetus tagar yang sempat ramai di media sosial ini pada Januari lalu, namun belakangan dia meminta tagar dihentikan karena &quot;kompetisi telah usai&quot;.
&quot;Per 13 April saya sudah mengharamkan diri tidak boleh teriak lagi ganti presiden. Sudah selesai. Kenapa? Karena itu sudah hari terakhir kampanye. Kalau sekarang apalagi sudah selesai kompetisinya. Kita kembali normal. Ganti presiden sudah tutup buku,&quot; kata Mardani, pada Jumat 3 Mei 2019.
Ucapan itu mengemuka ketika Mardani yang juga Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandi memberikan tanggapan seputar pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat (Kogasma) Agus Harimurti Yudhoyono di Istana Merdeka.
Mardani mendukung proses rekonsiliasi TKN Jokowi-Ma'ruf dengan BPN Prabowo-Sandi.
Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan apakah PKS &amp;mdash; yang menjadi salah satu partai pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno &amp;mdash; mulai menjauh dari pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 02.
Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, menyatakan mereka tetap berkomitmen. &quot;PKS tetap komitmen dengan koalisi bersama dengan Prabowo-Sandi,&quot; kata Hidayat kepada BBC News Indonesia, Senin (6/5).
Menurutnya, hingga kini PKS masih setia dengan Koalisi Adil dan Makmur yang menyokong Prabowo dan justru menganggap pernyataan Mardani sengaja dipelintir untuk mengadu domba. &quot;(Mengadu domba) antara BPN dan BPN, BPN dan PKS, dan PKS dengan pendukung Prabowo-Sandi,&quot; katanya.
Bentuk rasionalitas
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai langkah Mardani merupakan bentuk rasionalitasnya menghadapi penghitungan suara yang tengah dilakukan KPU.
&quot;Bisa saja Mardani dan kawan-kawan ini mulai rasional bahwa kalkulasi manual, situng KPU, ataupun quick count itu, sebenarnya dalam logika ilmiah politik, memang selalu akurat, sehingga (tagar) ganti presiden atau segala apa pun itu adalah gerakan-gerakan yang justru kontraproduktif,&quot; ungkap Adi.
Bagaimanapun, sejumlah pertanyaan muncul menyusul pernyataan Mardani soal tagar ganti presiden. Warganet juga bereaksi, terutama mereka yang mendukung Prabowo-Sandi.
&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot; data-lang=&quot;id&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;in&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Narendra yg Sholeh.&amp;lt;br&amp;gt;2019 Ganti Presiden minta di sudahi (tutup buku) tepatnya Awal januari 2019. Yaitu permintaan ulama dan BPN, diganti menjadi 2019 Prabowo Presiden. saya ikut komando edukasi perubahan itu, sampai hari tenang 13 April saya pribadi stop. utk RGP bukan domain sy &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/cRXsDQNkFZ&quot;&amp;gt;https://t.co/cRXsDQNkFZ&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; Mardani (@MardaniAliSera) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/MardaniAliSera/status/1124671870723186688?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;4 Mei 2019&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;
&amp;lt;script async src=&quot;https://platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;
Salah satunya, Ties Ahayuningtyas, yang dalam cuitannya menanyakan nasib PKS kepada Mardani: &quot;Kalian masih di koalisi?&quot;
&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot; data-conversation=&quot;none&quot; data-lang=&quot;id&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;in&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Mereka mah melintinya kalau 2019GantiPresiden tamat, berarti 2019DuaPeriode. Blunder PKS  yang jadi gorengan media kok bolak balik ya. Kalian masih di koalisi?&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; Ties Ahayuningtyas (@TAhayuningtyas) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/TAhayuningtyas/status/1124468120788189184?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;4 Mei 2019&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;
&amp;lt;script async src=&quot;https://platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;
Sementara Deasy Arfisi mempertanyakan batas waktu tanggal 13 April 2019 yang diucapkan Mardani.
&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot; data-conversation=&quot;none&quot; data-lang=&quot;id&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;in&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Knp dibatasi sampai 13/4?&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; Deasy Arfisi (@Dsy_Arfisi) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/Dsy_Arfisi/status/1124517526547812353?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;4 Mei 2019&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;
&amp;lt;script async src=&quot;https://platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;
Mardani tidak merespons ketika dihubungi untuk dimintai klarifikasi terkait pernyataannya.
Akan tetapi, melalui akun Twitternya, ia mengklarifikasi bahwa yang ia maksud dengan &quot;Ganti presiden sudah tutup buku&quot; adalah perubahan tagar yang sebelumnya #2019GantiPresiden menjadi #2019PrabowoPresiden.
&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot; data-lang=&quot;id&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;in&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Awal Jan 2019 kami diminta migrasi oleh BPN &amp;amp;amp; HRS. Dalam 212 Award beliau sampaikan 2019GantiPresiden di tingkatkan (diubah) menjadi 2019PrabowoPresiden. Saya ikut intruksi &amp;amp;amp; mulai edukasi berbulan2 ubah hestek. Sampai tgl 13/4 tutup buku, krn semua migrasi 2019PrabowoPresiden &amp;#128591; &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/czRaV1oLEt&quot;&amp;gt;https://t.co/czRaV1oLEt&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; Mardani (@MardaniAliSera) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/MardaniAliSera/status/1124454018124660736?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;3 Mei 2019&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;
&amp;lt;script async src=&quot;https://platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, berpendapat bahwa selain sebagai respons rasional terhadap proses perhitungan dan rekapitulasi suara KPU, pernyataan Mardani yang &quot;mengharamkan diri&quot; seruan #2019GantiPresiden juga merupakan upayanya untuk menghormati proses tersebut.
Penghitungan suara lewat situng, atau real count KPU hampir 70% sampai Senin (06/05) dan menunjukkan Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul sekitar 12% dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
&quot;Teriakan gerakan 'ganti presiden' itu kan dikhawatirkan membuat suasana makin enggak kondusif,&quot; tutur Adi.
Terlebih, menurutnya, basis pemilih PKS yang merupakan anak muda rasional dan terpelajar mendorong Mardani untuk mengambil langkah tersebut.
Meski demikian, terlepas dari pernyataan Mardani tersebut, Adi berpendapat bahwa PKS akan tetap berada di seberang kubu Jokowi bersama Prabowo-Sandi.
&quot;Karena memang PKS sudah declare kalau Jokowi jadi presiden, mereka akan tetap jadi oposan yang loyal,&quot; jelas Adi. &quot;Jadi kemungkinan untuk 'lompat pagar' enggak mungkin kalau PKS ya, kalau melihat sekarang.&quot;
Sementara peneliti di Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI, Lucky Sandra Amalia, justru menganggap pernyataan Mardani sebagai sikap pribadi yang disebutnya one-man-show.
&quot;Ini one-man-show saja, tidak ada hubungannya dengan perilaku partai politiknya,&quot; tutur Sandra.
&quot;Kita tahu Mardani Ali Sera sudah aman (perolehan suaranya), kemudian partai politiknya juga sudah aman, jadi sah-sah saja kemudian dia melakukan hal yang seperti itu.&quot;
'Koalisi Prabowo kali ini lebih lemah'
Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, menegaskan bahwa PKS tetap solid dengan koalisi Adil dan Makmur ketika ditanya tentang maksud pernyataan Mardani.
&quot;PKS komitmen dengan keberadaannya dalam koalisi dengan BPN, dengan Prabowo-Sandi,&quot; ujar Hidayat.
Ia menolak pernyataan yang dituduhnya dipelintir dan mengesankan seolah-olah PKS 'menyerah' dalam pemilu kali ini.
&quot;Seolah-olah beliau (Mardani) mengibarkan bendera putih, sudah nggak ada lagi (tagar) 'Ganti Presiden', seolah-olah kemudian sudah selesai lah,&quot; bebernya.
Satu suara dengan Hidayat, juru bicara BPN sekaligus politikus Gerindra Andre Rosiade meyakinkan bahwa koalisi Prabowo-Sandi masih kokoh.
&quot;Sampai sekarang alhamdulillah masih sangat solid, komunikasi sangat baik,&quot; tuturnya.
Akan tetapi, pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai koalisi Prabowo kali ini tidak sekuat Koalisi Merah Putih tahun 2014 lalu.
Pada tahun 2014, Koalisi Merah Putih yang terdiri dari tiga partai, Gerindra, PKS, dan PAN, solid hingga pasca-putusan Mahkamah Konstitusi yang memenangkan pasangan Jokowi-JK setelah hasil pemilu digugat Prabowo-Hatta.
Sementara kali ini, sebelum hasil pemilu diumumkan KPU, Partai Demokrat dan PAN sudah lebih dulu menjalin komunikasi dengan kubu petahana.
&quot;Kalau melihat basis koalisinya memang lebih lemah, artinya kalau dulu memang nyaris tidak ada suara-suara sumbang dari dalam,&quot; kata Adi.Hal itu, menurutnya, dikarenakan disparitas suara Jokowi-Ma'ruf  terlampau dominan. Hal tersebut mengakibatkan anggota koalisi  Prabowo-Sandi sulit berspekulasi untuk menyatakan bahwa pasangan yang  mereka usung masih mampu membalap suara Jokowi.
&quot;Kalau kekalahannya cuma dua atau tiga persen, mungkin mereka masih  berpekulasi bahwa 02 ini akan mampu membalap dan melampaui. Tapi ini  selisihnya di atas 10%, jadi dalam kondisi apa pun, saya kira agak susah  untuk mengalahkan,&quot; ujar Adi.

Mardani Ali Sera
Disparitas suara itu yang kemudian membuat PKS, PAN, dan Demokrat  tampak 'melunak' belakangan. &quot;Wajar kalau mereka ini mengharamkan segala  sesuatu yang menjadi alat agitasi dan propaganda mereka ini dari  jauh-jauh hari.&quot;
Langkah pragmatis
Sementara menurut pengamat politik dari Pusat Kajian Politik  Universitas Indonesia, Hurriyah, sikap partai anggota Koalisi Adil dan  Makmur yang &quot;melunak&quot; disebabkan oleh politik pragmatis yang tengah  dilakoni mereka.
&quot;Langkah yang rasional saja yang dilakukan oleh elit-elit politik,  apalagi kemudian dari kubu Jokowi sendiri kan membuka peluang untuk kubu  oposisi untuk juga bergabung. Jadi ini juga soal perilaku elit yang  pragmatis,&quot; tutur Hurriyah.
Perilaku pragmatis tersebut tak lepas dari pembentukan koalisi yang  tidak alami alias dipaksakan. Menurutnya, karena hanya ada dua kandidat  capres-cawapres, maka partai politik mengambil langkah pragmatis dalam  menentukan akan bergabung dengan koalisi yang mana.
Untuk itu, Hurriyah menilai tidak mengherankan bila kemudian ada partai yang kemudian dengan mudahnya berubah haluan.
Adi Prayitno menggambarkan sikap pragmatis tersebut dalam dua jenis  rencana yang dimiliki setiap partai dalam menghadapi hasil pemilu.
&quot;Ada Plan A dan Plan B. Plan A-nya sih tentu partai-partai ini  berharap 02 menang, cuma sepertinya mulai nggak rasional kalkulasinya,&quot;  beber Adi.
&quot;Ya mereka bikin Plan B, sebagai jaring dan gejala gitu, bahwa mereka  siapa tahu ada kemungkinan bisa menjadi dari pemerintah, terutama PAN  dan Demokrat,&quot; sambungnya.
Sebelum pernyataan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera tentang &quot;mengharamkan&quot; #2019GantiPresiden Jumat (3/5) lalu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli  Hasan juga sempat berbincang dengan Presiden Jokowi di Istana Negara  pada Rabu (24/4) lalu.
Setelahnya, yaitu pada Kamis (2/5) lalu, Kogasma Partai Demokrat Agus  Harimurti Yudhoyono (AHY) juga memenuhi undangan Presiden Jokowi untuk  bertemu empat mata di Istana Merdeka, Jakarta.</description><content:encoded>
PERNYATAAN Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS), Mardani Ali Sera, yang mengharamkan seruan #2019GantiPresiden menimbulkan kontroversi di internal Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Mardani Ali Sera merupakan pencetus tagar yang sempat ramai di media sosial ini pada Januari lalu, namun belakangan dia meminta tagar dihentikan karena &quot;kompetisi telah usai&quot;.
&quot;Per 13 April saya sudah mengharamkan diri tidak boleh teriak lagi ganti presiden. Sudah selesai. Kenapa? Karena itu sudah hari terakhir kampanye. Kalau sekarang apalagi sudah selesai kompetisinya. Kita kembali normal. Ganti presiden sudah tutup buku,&quot; kata Mardani, pada Jumat 3 Mei 2019.
Ucapan itu mengemuka ketika Mardani yang juga Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandi memberikan tanggapan seputar pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat (Kogasma) Agus Harimurti Yudhoyono di Istana Merdeka.
Mardani mendukung proses rekonsiliasi TKN Jokowi-Ma'ruf dengan BPN Prabowo-Sandi.
Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan apakah PKS &amp;mdash; yang menjadi salah satu partai pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno &amp;mdash; mulai menjauh dari pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 02.
Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, menyatakan mereka tetap berkomitmen. &quot;PKS tetap komitmen dengan koalisi bersama dengan Prabowo-Sandi,&quot; kata Hidayat kepada BBC News Indonesia, Senin (6/5).
Menurutnya, hingga kini PKS masih setia dengan Koalisi Adil dan Makmur yang menyokong Prabowo dan justru menganggap pernyataan Mardani sengaja dipelintir untuk mengadu domba. &quot;(Mengadu domba) antara BPN dan BPN, BPN dan PKS, dan PKS dengan pendukung Prabowo-Sandi,&quot; katanya.
Bentuk rasionalitas
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai langkah Mardani merupakan bentuk rasionalitasnya menghadapi penghitungan suara yang tengah dilakukan KPU.
&quot;Bisa saja Mardani dan kawan-kawan ini mulai rasional bahwa kalkulasi manual, situng KPU, ataupun quick count itu, sebenarnya dalam logika ilmiah politik, memang selalu akurat, sehingga (tagar) ganti presiden atau segala apa pun itu adalah gerakan-gerakan yang justru kontraproduktif,&quot; ungkap Adi.
Bagaimanapun, sejumlah pertanyaan muncul menyusul pernyataan Mardani soal tagar ganti presiden. Warganet juga bereaksi, terutama mereka yang mendukung Prabowo-Sandi.
&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot; data-lang=&quot;id&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;in&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Narendra yg Sholeh.&amp;lt;br&amp;gt;2019 Ganti Presiden minta di sudahi (tutup buku) tepatnya Awal januari 2019. Yaitu permintaan ulama dan BPN, diganti menjadi 2019 Prabowo Presiden. saya ikut komando edukasi perubahan itu, sampai hari tenang 13 April saya pribadi stop. utk RGP bukan domain sy &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/cRXsDQNkFZ&quot;&amp;gt;https://t.co/cRXsDQNkFZ&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; Mardani (@MardaniAliSera) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/MardaniAliSera/status/1124671870723186688?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;4 Mei 2019&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;
&amp;lt;script async src=&quot;https://platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;
Salah satunya, Ties Ahayuningtyas, yang dalam cuitannya menanyakan nasib PKS kepada Mardani: &quot;Kalian masih di koalisi?&quot;
&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot; data-conversation=&quot;none&quot; data-lang=&quot;id&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;in&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Mereka mah melintinya kalau 2019GantiPresiden tamat, berarti 2019DuaPeriode. Blunder PKS  yang jadi gorengan media kok bolak balik ya. Kalian masih di koalisi?&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; Ties Ahayuningtyas (@TAhayuningtyas) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/TAhayuningtyas/status/1124468120788189184?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;4 Mei 2019&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;
&amp;lt;script async src=&quot;https://platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;
Sementara Deasy Arfisi mempertanyakan batas waktu tanggal 13 April 2019 yang diucapkan Mardani.
&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot; data-conversation=&quot;none&quot; data-lang=&quot;id&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;in&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Knp dibatasi sampai 13/4?&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; Deasy Arfisi (@Dsy_Arfisi) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/Dsy_Arfisi/status/1124517526547812353?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;4 Mei 2019&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;
&amp;lt;script async src=&quot;https://platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;
Mardani tidak merespons ketika dihubungi untuk dimintai klarifikasi terkait pernyataannya.
Akan tetapi, melalui akun Twitternya, ia mengklarifikasi bahwa yang ia maksud dengan &quot;Ganti presiden sudah tutup buku&quot; adalah perubahan tagar yang sebelumnya #2019GantiPresiden menjadi #2019PrabowoPresiden.
&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot; data-lang=&quot;id&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;in&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Awal Jan 2019 kami diminta migrasi oleh BPN &amp;amp;amp; HRS. Dalam 212 Award beliau sampaikan 2019GantiPresiden di tingkatkan (diubah) menjadi 2019PrabowoPresiden. Saya ikut intruksi &amp;amp;amp; mulai edukasi berbulan2 ubah hestek. Sampai tgl 13/4 tutup buku, krn semua migrasi 2019PrabowoPresiden &amp;#128591; &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/czRaV1oLEt&quot;&amp;gt;https://t.co/czRaV1oLEt&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; Mardani (@MardaniAliSera) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/MardaniAliSera/status/1124454018124660736?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;3 Mei 2019&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;
&amp;lt;script async src=&quot;https://platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, berpendapat bahwa selain sebagai respons rasional terhadap proses perhitungan dan rekapitulasi suara KPU, pernyataan Mardani yang &quot;mengharamkan diri&quot; seruan #2019GantiPresiden juga merupakan upayanya untuk menghormati proses tersebut.
Penghitungan suara lewat situng, atau real count KPU hampir 70% sampai Senin (06/05) dan menunjukkan Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul sekitar 12% dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
&quot;Teriakan gerakan 'ganti presiden' itu kan dikhawatirkan membuat suasana makin enggak kondusif,&quot; tutur Adi.
Terlebih, menurutnya, basis pemilih PKS yang merupakan anak muda rasional dan terpelajar mendorong Mardani untuk mengambil langkah tersebut.
Meski demikian, terlepas dari pernyataan Mardani tersebut, Adi berpendapat bahwa PKS akan tetap berada di seberang kubu Jokowi bersama Prabowo-Sandi.
&quot;Karena memang PKS sudah declare kalau Jokowi jadi presiden, mereka akan tetap jadi oposan yang loyal,&quot; jelas Adi. &quot;Jadi kemungkinan untuk 'lompat pagar' enggak mungkin kalau PKS ya, kalau melihat sekarang.&quot;
Sementara peneliti di Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI, Lucky Sandra Amalia, justru menganggap pernyataan Mardani sebagai sikap pribadi yang disebutnya one-man-show.
&quot;Ini one-man-show saja, tidak ada hubungannya dengan perilaku partai politiknya,&quot; tutur Sandra.
&quot;Kita tahu Mardani Ali Sera sudah aman (perolehan suaranya), kemudian partai politiknya juga sudah aman, jadi sah-sah saja kemudian dia melakukan hal yang seperti itu.&quot;
'Koalisi Prabowo kali ini lebih lemah'
Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, menegaskan bahwa PKS tetap solid dengan koalisi Adil dan Makmur ketika ditanya tentang maksud pernyataan Mardani.
&quot;PKS komitmen dengan keberadaannya dalam koalisi dengan BPN, dengan Prabowo-Sandi,&quot; ujar Hidayat.
Ia menolak pernyataan yang dituduhnya dipelintir dan mengesankan seolah-olah PKS 'menyerah' dalam pemilu kali ini.
&quot;Seolah-olah beliau (Mardani) mengibarkan bendera putih, sudah nggak ada lagi (tagar) 'Ganti Presiden', seolah-olah kemudian sudah selesai lah,&quot; bebernya.
Satu suara dengan Hidayat, juru bicara BPN sekaligus politikus Gerindra Andre Rosiade meyakinkan bahwa koalisi Prabowo-Sandi masih kokoh.
&quot;Sampai sekarang alhamdulillah masih sangat solid, komunikasi sangat baik,&quot; tuturnya.
Akan tetapi, pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai koalisi Prabowo kali ini tidak sekuat Koalisi Merah Putih tahun 2014 lalu.
Pada tahun 2014, Koalisi Merah Putih yang terdiri dari tiga partai, Gerindra, PKS, dan PAN, solid hingga pasca-putusan Mahkamah Konstitusi yang memenangkan pasangan Jokowi-JK setelah hasil pemilu digugat Prabowo-Hatta.
Sementara kali ini, sebelum hasil pemilu diumumkan KPU, Partai Demokrat dan PAN sudah lebih dulu menjalin komunikasi dengan kubu petahana.
&quot;Kalau melihat basis koalisinya memang lebih lemah, artinya kalau dulu memang nyaris tidak ada suara-suara sumbang dari dalam,&quot; kata Adi.Hal itu, menurutnya, dikarenakan disparitas suara Jokowi-Ma'ruf  terlampau dominan. Hal tersebut mengakibatkan anggota koalisi  Prabowo-Sandi sulit berspekulasi untuk menyatakan bahwa pasangan yang  mereka usung masih mampu membalap suara Jokowi.
&quot;Kalau kekalahannya cuma dua atau tiga persen, mungkin mereka masih  berpekulasi bahwa 02 ini akan mampu membalap dan melampaui. Tapi ini  selisihnya di atas 10%, jadi dalam kondisi apa pun, saya kira agak susah  untuk mengalahkan,&quot; ujar Adi.

Mardani Ali Sera
Disparitas suara itu yang kemudian membuat PKS, PAN, dan Demokrat  tampak 'melunak' belakangan. &quot;Wajar kalau mereka ini mengharamkan segala  sesuatu yang menjadi alat agitasi dan propaganda mereka ini dari  jauh-jauh hari.&quot;
Langkah pragmatis
Sementara menurut pengamat politik dari Pusat Kajian Politik  Universitas Indonesia, Hurriyah, sikap partai anggota Koalisi Adil dan  Makmur yang &quot;melunak&quot; disebabkan oleh politik pragmatis yang tengah  dilakoni mereka.
&quot;Langkah yang rasional saja yang dilakukan oleh elit-elit politik,  apalagi kemudian dari kubu Jokowi sendiri kan membuka peluang untuk kubu  oposisi untuk juga bergabung. Jadi ini juga soal perilaku elit yang  pragmatis,&quot; tutur Hurriyah.
Perilaku pragmatis tersebut tak lepas dari pembentukan koalisi yang  tidak alami alias dipaksakan. Menurutnya, karena hanya ada dua kandidat  capres-cawapres, maka partai politik mengambil langkah pragmatis dalam  menentukan akan bergabung dengan koalisi yang mana.
Untuk itu, Hurriyah menilai tidak mengherankan bila kemudian ada partai yang kemudian dengan mudahnya berubah haluan.
Adi Prayitno menggambarkan sikap pragmatis tersebut dalam dua jenis  rencana yang dimiliki setiap partai dalam menghadapi hasil pemilu.
&quot;Ada Plan A dan Plan B. Plan A-nya sih tentu partai-partai ini  berharap 02 menang, cuma sepertinya mulai nggak rasional kalkulasinya,&quot;  beber Adi.
&quot;Ya mereka bikin Plan B, sebagai jaring dan gejala gitu, bahwa mereka  siapa tahu ada kemungkinan bisa menjadi dari pemerintah, terutama PAN  dan Demokrat,&quot; sambungnya.
Sebelum pernyataan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera tentang &quot;mengharamkan&quot; #2019GantiPresiden Jumat (3/5) lalu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli  Hasan juga sempat berbincang dengan Presiden Jokowi di Istana Negara  pada Rabu (24/4) lalu.
Setelahnya, yaitu pada Kamis (2/5) lalu, Kogasma Partai Demokrat Agus  Harimurti Yudhoyono (AHY) juga memenuhi undangan Presiden Jokowi untuk  bertemu empat mata di Istana Merdeka, Jakarta.</content:encoded></item></channel></rss>
