<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Makanan Berpengawet Tekstil Beredar di Yogyakarta</title><description>Produsen nakal kini berusaha mengelabuhi dengan menyamarkan warna makanan yang sebelumnya telah dicampurkan bahan Rhodamin B.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/17/510/2056911/makanan-berpengawet-tekstil-beredar-di-yogyakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/05/17/510/2056911/makanan-berpengawet-tekstil-beredar-di-yogyakarta"/><item><title>Makanan Berpengawet Tekstil Beredar di Yogyakarta</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/17/510/2056911/makanan-berpengawet-tekstil-beredar-di-yogyakarta</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/05/17/510/2056911/makanan-berpengawet-tekstil-beredar-di-yogyakarta</guid><pubDate>Jum'at 17 Mei 2019 13:01 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi KR Jogja</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/17/510/2056911/makanan-berpengawet-tekstil-beredar-di-yogyakarta-udxE7U48Vt.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Kepala BPOM DIY saat menunjukkan temuan pangan berpengawet berbahaya. (krjogja.com/Harminanto)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/17/510/2056911/makanan-berpengawet-tekstil-beredar-di-yogyakarta-udxE7U48Vt.jpeg</image><title>Kepala BPOM DIY saat menunjukkan temuan pangan berpengawet berbahaya. (krjogja.com/Harminanto)</title></images><description>YOGYAKARTA &amp;ndash; Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) DIY menemukan adanya modus baru penyalahgunaan pengawet tekstil untuk makanan. Produsen nakal kini berusaha mengelabuhi dengan menyamarkan warna makanan yang sebelumnya telah dicampurkan bahan Rhodamin B.
Kepala BPOM DIY, Rustyawati, mengungkap adanya makanan berkamuflase Rhodamin B berdasar temuan di Pasar Arjosari Gunungkidul beberapa waktu lalu. Di salah satu produk kerupuk ditemukan hal menarik di mana warna identik Rhodamin B kini tak lagi pink atau merah muda.
&amp;ldquo;Ternyata warnannya sudah jadi oranya kecoklatan dan ada juga yang ungu seperti buah naga. Ketika kita tes ternyata positif Rhodamin B. Entah produsen mencampur pewarna makanan atau bukan yang jelas itu positif Rhodamin B,&amp;rdquo; ucapnya pada wartawan Jumat (17/5/2019).



BPOM bersama Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) termasuk didalamnya Satgas Pangan tengah menelusuri ujung pangkal produsen makanan dengan bahan berbahaya tersebut yang berada di luar wilayah DIY. Sementara BPOM menghimbau masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih makanan yang berwarna lantaran saat ini tak lagi bisa diidentikkan pink atau kuning.
&amp;ldquo;Cukup sulit saat ini mengedukasi, kami akui itu karena produsen yang nakal pasti berusaha mengelabuhi terus dan itu logis sekali. Masyarakat harus lebih berhati-hati dengan makanan yang berwarna-warna, kalau curiga jangan beli,&amp;rdquo; katanya.

Baca Juga :

Sepanjang Ramadan 2019, BPOM telah memeriksa 130 sampel makanan di berbagai pasar di DIY seperti Pasar Bantul, Bendungan, Pasar Wates, Pasar Niten, Pasar Prambanan hingga Beringharjo. Ditemukan 14 persen yang mengandung bahan berbahaya seperti Borax, Formalin dan Rhodamin B dari beberapa jenis misalnya kerupuk, lempeng, rengginang, cumi dan teri nasi.
&amp;ldquo;Namun begitu persentase dari awal Ramadhan sudah mengalami penurunan dari 17 persen jadi 14 persen. Kami akan terus bergerak sampai nanti Lebaran usai agar masyarakat mendapat keamanan dalam mengonsumsi makanan, kami bersama Satgas Pangan Polda DIY,&amp;rdquo; tuturnya.
</description><content:encoded>YOGYAKARTA &amp;ndash; Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) DIY menemukan adanya modus baru penyalahgunaan pengawet tekstil untuk makanan. Produsen nakal kini berusaha mengelabuhi dengan menyamarkan warna makanan yang sebelumnya telah dicampurkan bahan Rhodamin B.
Kepala BPOM DIY, Rustyawati, mengungkap adanya makanan berkamuflase Rhodamin B berdasar temuan di Pasar Arjosari Gunungkidul beberapa waktu lalu. Di salah satu produk kerupuk ditemukan hal menarik di mana warna identik Rhodamin B kini tak lagi pink atau merah muda.
&amp;ldquo;Ternyata warnannya sudah jadi oranya kecoklatan dan ada juga yang ungu seperti buah naga. Ketika kita tes ternyata positif Rhodamin B. Entah produsen mencampur pewarna makanan atau bukan yang jelas itu positif Rhodamin B,&amp;rdquo; ucapnya pada wartawan Jumat (17/5/2019).



BPOM bersama Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) termasuk didalamnya Satgas Pangan tengah menelusuri ujung pangkal produsen makanan dengan bahan berbahaya tersebut yang berada di luar wilayah DIY. Sementara BPOM menghimbau masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih makanan yang berwarna lantaran saat ini tak lagi bisa diidentikkan pink atau kuning.
&amp;ldquo;Cukup sulit saat ini mengedukasi, kami akui itu karena produsen yang nakal pasti berusaha mengelabuhi terus dan itu logis sekali. Masyarakat harus lebih berhati-hati dengan makanan yang berwarna-warna, kalau curiga jangan beli,&amp;rdquo; katanya.

Baca Juga :

Sepanjang Ramadan 2019, BPOM telah memeriksa 130 sampel makanan di berbagai pasar di DIY seperti Pasar Bantul, Bendungan, Pasar Wates, Pasar Niten, Pasar Prambanan hingga Beringharjo. Ditemukan 14 persen yang mengandung bahan berbahaya seperti Borax, Formalin dan Rhodamin B dari beberapa jenis misalnya kerupuk, lempeng, rengginang, cumi dan teri nasi.
&amp;ldquo;Namun begitu persentase dari awal Ramadhan sudah mengalami penurunan dari 17 persen jadi 14 persen. Kami akan terus bergerak sampai nanti Lebaran usai agar masyarakat mendapat keamanan dalam mengonsumsi makanan, kami bersama Satgas Pangan Polda DIY,&amp;rdquo; tuturnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
