<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Butuh Bantuan, Ini Cerita Absir Menahan Sakit Buang Air Besar Lewat Pinggang</title><description>Absir Saleleubaja pria berusia 25 tahun ini hanya terbujur lemas di atas tempat tidur, tubuhnya sudah kurus hanya berbalut kulit saja</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/29/340/2061816/butuh-bantuan-ini-cerita-absir-menahan-sakit-buang-air-besar-lewat-pinggang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/05/29/340/2061816/butuh-bantuan-ini-cerita-absir-menahan-sakit-buang-air-besar-lewat-pinggang"/><item><title>Butuh Bantuan, Ini Cerita Absir Menahan Sakit Buang Air Besar Lewat Pinggang</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/05/29/340/2061816/butuh-bantuan-ini-cerita-absir-menahan-sakit-buang-air-besar-lewat-pinggang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/05/29/340/2061816/butuh-bantuan-ini-cerita-absir-menahan-sakit-buang-air-besar-lewat-pinggang</guid><pubDate>Rabu 29 Mei 2019 15:12 WIB</pubDate><dc:creator>Rus Akbar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/29/340/2061816/butuh-bantuan-ini-cerita-absir-menahan-sakit-buang-air-besar-lewat-pinggang-M5iqyGT6Ct.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Absir, hanya lemah di tempat tidur menunggu bantuan (Foto: Rus Akbar/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/29/340/2061816/butuh-bantuan-ini-cerita-absir-menahan-sakit-buang-air-besar-lewat-pinggang-M5iqyGT6Ct.JPG</image><title>Absir, hanya lemah di tempat tidur menunggu bantuan (Foto: Rus Akbar/Okezone)</title></images><description>PADANG - Absir Saleleubaja pria berusia 25 tahun ini hanya terbujur lemas di atas tempat tidur, tubuhnya sudah kurus hanya berbalut kulit saja, sebagian kulitnya juga baik di dada dan tangan sudah terkelupas.

Absir yang berasal dari Dusun Makoddiai, Desa Pasakiat Taileleu, Kecamatan Siberut Barat Daya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat harus dirawat jalan setelah bekas operasi usus buntunya di RSUD Mentawai mengalami infeksi. Kini Absir bersama istrinya Luciana Siriabbangan (20) dan ayahnya Johannes Soga Saleleubaja harus rawat jalan di RSUP M. Djamil Padang.

Pada Okezone, ayah Absir, Johannes Soga menuturkan awalnya anaknya itu dioperasi di rumah sakit daerah Mentawai di Tuapeijat, namun pasca operasi ketika dibuka ternyata ususnya bekas operasi tersebut mengalami infeksi.



&amp;ldquo;Karena enggak lengkap obatnya akhirnya pihak rumah sakit merujuk ke RSUP M. Djamil Padang dengan kapal. Di Padang anak saya ini sempat dirawat selama dua minggu di sana dia langsung dioperasi, namun karena sesuai dengan aturan dalam Kartu Indonesia Sehat, Absir rawat jalan,&amp;rdquo; ujarnya.

Agar biaya tidak besar sekarang Absir bersama istri dan ayahnya menumpang menginap di rumah pamannya Man Pagai di Jalan Air Camar II, No 4, RT 03/RW 17, Kelurahan Parak Gadang Timur, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang.

&amp;ldquo;Pada Minggu 26 Mei Absir sempat tidak bisa mau makan, kami semuanya panik karena pada saat itu dia hanya menahan rasa sakit yang luar biasa. Akhirnya kami bawa dia ke rumah sakit, setelah berobat dan agak tenang dokter menyarankan kami untuk kembali ke rumah, rencananya Senin nanti 3 Juni akan kembali berobat ke Poli Umum,&amp;rdquo; tuturnya.

Lanjut Johannes, kalau kondisinya sudah mulai membaik akan dioperasi kembali, namun saat ini Absir hanya terbaring lemas diatas tempat tidur.



Sebelum didera penyakit usus buntu pria yang memiliki anak satu orang berusia 1 tahun 6 bulan ini bekerja sebagai pengola kelapa di daerahnya.

&amp;ldquo;Saat ini kondisi saya seperti ini, susah duduk, saluran pembuangan air besar ini lewat pinggang kanan, saya susah duduk apalagi berdiri, kalau makan masih bisa,&amp;rdquo; ucap Absir sambil tersengal-sengal menahan rasa sakit.

Pasca operasi memang Absir tidak bisa buang air besar lewat saluran  biasanya, dia hanya bisa mengeluarkan pencernaannya lewat pinggang yang  dibuat saluran sementara oleh dokter dan selama perawatan jalan itulah  biaya yang paling besar untuk membeli pamper, kain alas tidurnya serta  tisu dan penampung pembuangannya.

Aman Pagai, Paman Absir menuturkan kalau biaya makan mereka masih  bisa ditanggulangi meski sedikit-sedikit, namun kebutuhan perawatan  jalan keponakannya ini yang mengalami kendala.

&amp;ldquo;Saya sudah berusaha mencari kesana-kemari kadang ada kadang tidak  ada, memang ada beberapa yang menyumbangkan dananya seperti dari  kawan-kawan ala kadanya, kemarin juga Wakil Bupati Kortanius Sabeleakek  memberikan bantuan lewat rekening istri saya,&amp;rdquo; tuturnya.

&amp;ldquo;Kalau biaya pengobatan adalah asuransi kesehatanya yang dibayar oleh  pemerintah lewat Kartu Indonesia Sehat (KIS), tapi biaya beli kebutuhan  Absir yang tidak ditanggung. Misalnya satu kali pembersihan kotoran  Absir membutuhkan dana sekira Rp5,5 ribu itu sekali pakai, jadi dalam  satu hari itu ada dua sampai tiga kali dibersihkan maka itu membutuhkan  biaya Rp150 ribu lebih, belum lagi biaya transportasi untuk berobat, itu  yang menjadi kendala. Kalau soal biaya makan masih bisa kita tanggung,&amp;rdquo;  tambah Aman Pagai.

Johannes Soga dan Aman Pagai berharap ada masyarakat yang memberikan  bantuan ala kadarnya untuk kesembuhan Absir, jika ada yang mau membantu  bisa menghubungi ke nomor 085278976194 atas nama Aman Pagai, atau  memberikan bantuan langsung lewat Bank Nagari  dengan rekening  1006.0210.08572-0 atas nama Syamsinar istri dari Aman Pagai.

&amp;ldquo;Pasien dan orang tuanya tidak ada rekening mereka, semoga ada  masyarakat yang mau memberikan bantuan kepada keponakan kita,&amp;rdquo; tutupnya.
</description><content:encoded>PADANG - Absir Saleleubaja pria berusia 25 tahun ini hanya terbujur lemas di atas tempat tidur, tubuhnya sudah kurus hanya berbalut kulit saja, sebagian kulitnya juga baik di dada dan tangan sudah terkelupas.

Absir yang berasal dari Dusun Makoddiai, Desa Pasakiat Taileleu, Kecamatan Siberut Barat Daya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat harus dirawat jalan setelah bekas operasi usus buntunya di RSUD Mentawai mengalami infeksi. Kini Absir bersama istrinya Luciana Siriabbangan (20) dan ayahnya Johannes Soga Saleleubaja harus rawat jalan di RSUP M. Djamil Padang.

Pada Okezone, ayah Absir, Johannes Soga menuturkan awalnya anaknya itu dioperasi di rumah sakit daerah Mentawai di Tuapeijat, namun pasca operasi ketika dibuka ternyata ususnya bekas operasi tersebut mengalami infeksi.



&amp;ldquo;Karena enggak lengkap obatnya akhirnya pihak rumah sakit merujuk ke RSUP M. Djamil Padang dengan kapal. Di Padang anak saya ini sempat dirawat selama dua minggu di sana dia langsung dioperasi, namun karena sesuai dengan aturan dalam Kartu Indonesia Sehat, Absir rawat jalan,&amp;rdquo; ujarnya.

Agar biaya tidak besar sekarang Absir bersama istri dan ayahnya menumpang menginap di rumah pamannya Man Pagai di Jalan Air Camar II, No 4, RT 03/RW 17, Kelurahan Parak Gadang Timur, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang.

&amp;ldquo;Pada Minggu 26 Mei Absir sempat tidak bisa mau makan, kami semuanya panik karena pada saat itu dia hanya menahan rasa sakit yang luar biasa. Akhirnya kami bawa dia ke rumah sakit, setelah berobat dan agak tenang dokter menyarankan kami untuk kembali ke rumah, rencananya Senin nanti 3 Juni akan kembali berobat ke Poli Umum,&amp;rdquo; tuturnya.

Lanjut Johannes, kalau kondisinya sudah mulai membaik akan dioperasi kembali, namun saat ini Absir hanya terbaring lemas diatas tempat tidur.



Sebelum didera penyakit usus buntu pria yang memiliki anak satu orang berusia 1 tahun 6 bulan ini bekerja sebagai pengola kelapa di daerahnya.

&amp;ldquo;Saat ini kondisi saya seperti ini, susah duduk, saluran pembuangan air besar ini lewat pinggang kanan, saya susah duduk apalagi berdiri, kalau makan masih bisa,&amp;rdquo; ucap Absir sambil tersengal-sengal menahan rasa sakit.

Pasca operasi memang Absir tidak bisa buang air besar lewat saluran  biasanya, dia hanya bisa mengeluarkan pencernaannya lewat pinggang yang  dibuat saluran sementara oleh dokter dan selama perawatan jalan itulah  biaya yang paling besar untuk membeli pamper, kain alas tidurnya serta  tisu dan penampung pembuangannya.

Aman Pagai, Paman Absir menuturkan kalau biaya makan mereka masih  bisa ditanggulangi meski sedikit-sedikit, namun kebutuhan perawatan  jalan keponakannya ini yang mengalami kendala.

&amp;ldquo;Saya sudah berusaha mencari kesana-kemari kadang ada kadang tidak  ada, memang ada beberapa yang menyumbangkan dananya seperti dari  kawan-kawan ala kadanya, kemarin juga Wakil Bupati Kortanius Sabeleakek  memberikan bantuan lewat rekening istri saya,&amp;rdquo; tuturnya.

&amp;ldquo;Kalau biaya pengobatan adalah asuransi kesehatanya yang dibayar oleh  pemerintah lewat Kartu Indonesia Sehat (KIS), tapi biaya beli kebutuhan  Absir yang tidak ditanggung. Misalnya satu kali pembersihan kotoran  Absir membutuhkan dana sekira Rp5,5 ribu itu sekali pakai, jadi dalam  satu hari itu ada dua sampai tiga kali dibersihkan maka itu membutuhkan  biaya Rp150 ribu lebih, belum lagi biaya transportasi untuk berobat, itu  yang menjadi kendala. Kalau soal biaya makan masih bisa kita tanggung,&amp;rdquo;  tambah Aman Pagai.

Johannes Soga dan Aman Pagai berharap ada masyarakat yang memberikan  bantuan ala kadarnya untuk kesembuhan Absir, jika ada yang mau membantu  bisa menghubungi ke nomor 085278976194 atas nama Aman Pagai, atau  memberikan bantuan langsung lewat Bank Nagari  dengan rekening  1006.0210.08572-0 atas nama Syamsinar istri dari Aman Pagai.

&amp;ldquo;Pasien dan orang tuanya tidak ada rekening mereka, semoga ada  masyarakat yang mau memberikan bantuan kepada keponakan kita,&amp;rdquo; tutupnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
