<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Asal-Usul Nama Pasar Senen dan Sejarahnya</title><description>Tahukah Anda, mengapa Pasar Senen dinamai seperti itu?</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/06/338/2064070/asal-usul-nama-pasar-senen-dan-sejarahnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/06/06/338/2064070/asal-usul-nama-pasar-senen-dan-sejarahnya"/><item><title>Asal-Usul Nama Pasar Senen dan Sejarahnya</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/06/338/2064070/asal-usul-nama-pasar-senen-dan-sejarahnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/06/06/338/2064070/asal-usul-nama-pasar-senen-dan-sejarahnya</guid><pubDate>Kamis 06 Juni 2019 17:03 WIB</pubDate><dc:creator>Fiddy Anggriawan </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/06/338/2064070/asal-usul-nama-pasar-senen-dan-sejarahnya-YWPWB2lGQk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pasar Senen Sebelum Terbakar pada Januari 2017 (foto: bacaterus/Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/06/338/2064070/asal-usul-nama-pasar-senen-dan-sejarahnya-YWPWB2lGQk.jpg</image><title>Pasar Senen Sebelum Terbakar pada Januari 2017 (foto: bacaterus/Istimewa)</title></images><description>PASAR Senen sudah sangat familiar bagi warga Ibu Kota sebagai tempat berniaga. Tapi tahukah Anda, mengapa pasar itu dinamai Pasar Senen?

Dilansir dari Buku Ensiklopedia Jakarta, nama Senen diambil dari nama pasar, yang awal berdiri pada 30 Agustus 1735 atau kurang lebih 272 tahun lalu. Dinamai Pasar Senen, karena pasar itu dibuka setiap hari Senin.
Baca Juga:&amp;nbsp;Pasar Boplo yang Hanya Menyisakan Kenangan
&amp;nbsp;
Suasana Pasar Senen waktu itu didominasi rumah-rumah China yang atap gentengnya runcing menjulang ke atas, meniru gaya rumah dari negeri leluhurnya.

Karena daerah sekitar Pasar Senen sebagian besar penduduknya keturunan China, maka mereka-lah penghuni pertama Pasar Senen. Karena itu sebelum tahun 1960-an terdapat sejumlah jalan dengan nama-nama China.

Seperti misalnya, gang atau jalan Tjapgokeng (tjapgo=15 dan keng=kamar). Dinamakan demikian karena dahulunya terdapat rumah dengan 15 pintu yang penghuninya adalah kaum China perantauan. Di sini juga terdapat gang Wangseng dari nama seorang Letnan China bernama Tan Wang Seng.

Gedung yang berada di tengah-tengah Pasar Senen kini sudah tidak terdapat lagi dan menjadi Atrium Senen sebagai pusat pertokoan megah di jantung kota Jakarta. Demikian juga gedung dan toko di seberangnya, sudah menjadi mal dan pertokoan modern. Sebagian jalan raya Senen lama juga sudah hilang dengan dibangunnya jembatan layang (fly over).

Pada awal tahun 1950-an dan tahun 1960-an Pasar Senen merupakan tempat berkumpulnya para seniman Senen pada malam hari antara pukul 20.00 WIB sampai menjelang subuh. Sejak itu kehidupan di Pasar Senen terus berdenyut selama 24 jam sehari.

Mulai menjelang malam sampai pagi dini hari, di sini terdapat 'bursa kueh' yang pembelinya bukan hanya dari Jabodetabek, tetapi juga dari Cianjur dan Sukabumi. Kini pasar kue subuh di Pasar Senen masih tetap ada.
&amp;nbsp;
Baca Juga:&amp;nbsp;Asal Usul Nama Tanjung Priok yang Menjadi Pelabuhan Terbesar di Indonesia
Pada tahun 1950-an hingga tahun 1960-an, keamanan di Pasar Senen terjamin karena dikuasai oleh Cobra, suatu organisasi di bawah tokoh Betawi bernama Kapten Sjafi'ie dari Komando Militer Kota Besar Djakarta Raja (KMKBDR). Anggota Cobra adalah bekas militer yang setelah penyerahan kedaulatan RI banyak yang tidak mendapat tempat di TNI.

Mereka kemudian dihimpun dalam Cobra dan menjaga keamanan di Ibu kota. Ketika itu preman-preman di Jakarta tidak ada yang berani bersinggungan dengan Cobra.</description><content:encoded>PASAR Senen sudah sangat familiar bagi warga Ibu Kota sebagai tempat berniaga. Tapi tahukah Anda, mengapa pasar itu dinamai Pasar Senen?

Dilansir dari Buku Ensiklopedia Jakarta, nama Senen diambil dari nama pasar, yang awal berdiri pada 30 Agustus 1735 atau kurang lebih 272 tahun lalu. Dinamai Pasar Senen, karena pasar itu dibuka setiap hari Senin.
Baca Juga:&amp;nbsp;Pasar Boplo yang Hanya Menyisakan Kenangan
&amp;nbsp;
Suasana Pasar Senen waktu itu didominasi rumah-rumah China yang atap gentengnya runcing menjulang ke atas, meniru gaya rumah dari negeri leluhurnya.

Karena daerah sekitar Pasar Senen sebagian besar penduduknya keturunan China, maka mereka-lah penghuni pertama Pasar Senen. Karena itu sebelum tahun 1960-an terdapat sejumlah jalan dengan nama-nama China.

Seperti misalnya, gang atau jalan Tjapgokeng (tjapgo=15 dan keng=kamar). Dinamakan demikian karena dahulunya terdapat rumah dengan 15 pintu yang penghuninya adalah kaum China perantauan. Di sini juga terdapat gang Wangseng dari nama seorang Letnan China bernama Tan Wang Seng.

Gedung yang berada di tengah-tengah Pasar Senen kini sudah tidak terdapat lagi dan menjadi Atrium Senen sebagai pusat pertokoan megah di jantung kota Jakarta. Demikian juga gedung dan toko di seberangnya, sudah menjadi mal dan pertokoan modern. Sebagian jalan raya Senen lama juga sudah hilang dengan dibangunnya jembatan layang (fly over).

Pada awal tahun 1950-an dan tahun 1960-an Pasar Senen merupakan tempat berkumpulnya para seniman Senen pada malam hari antara pukul 20.00 WIB sampai menjelang subuh. Sejak itu kehidupan di Pasar Senen terus berdenyut selama 24 jam sehari.

Mulai menjelang malam sampai pagi dini hari, di sini terdapat 'bursa kueh' yang pembelinya bukan hanya dari Jabodetabek, tetapi juga dari Cianjur dan Sukabumi. Kini pasar kue subuh di Pasar Senen masih tetap ada.
&amp;nbsp;
Baca Juga:&amp;nbsp;Asal Usul Nama Tanjung Priok yang Menjadi Pelabuhan Terbesar di Indonesia
Pada tahun 1950-an hingga tahun 1960-an, keamanan di Pasar Senen terjamin karena dikuasai oleh Cobra, suatu organisasi di bawah tokoh Betawi bernama Kapten Sjafi'ie dari Komando Militer Kota Besar Djakarta Raja (KMKBDR). Anggota Cobra adalah bekas militer yang setelah penyerahan kedaulatan RI banyak yang tidak mendapat tempat di TNI.

Mereka kemudian dihimpun dalam Cobra dan menjaga keamanan di Ibu kota. Ketika itu preman-preman di Jakarta tidak ada yang berani bersinggungan dengan Cobra.</content:encoded></item></channel></rss>
