<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengenang Kota Lama Batavia   </title><description>TAHUN 1610, kota Jayakarta ditaklukkan dan jatuh ke tangan Belanda. Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/08/338/2064409/mengenang-kota-lama-batavia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/06/08/338/2064409/mengenang-kota-lama-batavia"/><item><title>Mengenang Kota Lama Batavia   </title><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/08/338/2064409/mengenang-kota-lama-batavia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/06/08/338/2064409/mengenang-kota-lama-batavia</guid><pubDate>Sabtu 08 Juni 2019 08:28 WIB</pubDate><dc:creator>Fahreza Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/07/338/2064409/mengenang-kota-lama-batavia-DsT6BdYT9l.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto Ilustrasi Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/07/338/2064409/mengenang-kota-lama-batavia-DsT6BdYT9l.jpg</image><title>Foto Ilustrasi Okezone</title></images><description>TAHUN 1610, kota Jayakarta ditaklukkan dan jatuh ke tangan Belanda. Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia.
Mengutip Ensiklopedia Jakarta (Eni Setiati,dkk, 2009). Belanda membangun Batavia dengan struktur kota mirip dengan Amsterdam. Kota ini dikelilingi dengan tembok pengaman untuk melindungi serangan dari musuh (tentara Mataram Islam).&amp;nbsp;
Rumah dibangun dalam bentuk blok-blok yang dipisahkan dengan kanal dan jalan-jalan. Kota ini dibagi menjadi dua sisi, dipisahkan oleh sungai Ciliwung, yang kini dikenal dengan sebutan Kali Besar. Pada sisi sebelah timur, terdapat kastil Batavia dan gudang-gudang besar.
Kali Besar merupakan kawasan pusat perputaran roda ekonomi saat itu. Citra Batavia sebagai pusat kantor perdagangan hingga kini tak pudar. Masih banyak dijumpai bangunan-bangunan yang berasal dari abad ke-18 di kawasan tersebut.


Kawasan kota lama ini berawal dari pelabuhan bernama Sunda Kelapa. Sunda Kelapa telah ada sejak awal abad ke-14, sebagai kota pelabuhan kerajaan Sunda Pajajaran. Nama Sunda Kelapa kemudian diubah menjadi Jayakarta oleh Fatahillah dan setelah dikuasai VOC, berganti nama menjadi Batavia. Sejauh itu, kota ini berangsung-angsur berkembang dalam segala aspek, luas wilayah, pemerintahan, sosial politik, penduduk dan seni budayanya.
Sayangnya, bangunan-bangunan tua yang menyimpan banyak cerita bersejarah, kini sebagian kondisinya tidak terawat. Pemda DKI Jakarta memang tengah mengupayakan revitalisasi kota tua Jakarta. Program revitalisasi ini dilakukan sebagai salah satu upaya menarik minat wisatawan mancanegara maupun dalam negeri untuk menikmati salah satu warisan masa lalu.
Kawasan Kota (kota tua) Jakarta, terbentang seluas 139 hektar. Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Kampung Luar Batang di utara, Petak Baru, Jembatan Baru di selatan hingga Olimo. Terdapat ratusan bangunan bersejarah di kawasan itu. Bangunan yang menjadi cagar budaya sebanyak 117 bangunan, berlokasi di Jakarta Utara dan selebihnya di Jakarta Barat. Bangunan-bangunan ini dikelola oleh berbagai pihak: pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, kelompok dan perorangan.

Pada zaman Belanda, kawasan Kota merupakan kawasan yang menarik untuk dikunjungi. Kawasan tidak hanya menjadi pusat bisnis yang menggerakkan perekonomian, tetapi juga menjadi pusat pertemuan budaya antaretnis seperti Cina, Arab, Belanda, Inggris, Melayu dan sebagainya.

Kota tua akan diarahkan menjadi kawasan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain dengan menggalakkan sektor pariwisata. Bangunan-bangunan tua yang memiliki nilai sejarah akan dipugar dengan tetap mempertahankan arsitekturnya yang bernilai tinggi. Fungsi bangunan tua ini nantinya akan diserahkan kepada masing-masing pemiliknya.

Untuk memberikan kenyamanan wisatawan menikmati kawasan ini, beberapa ruas jalan kendaraan bermotor akan ditutup, diganti menjadi koridor khusus untuk para pejalan kaki. Semangat membenahi kembali kota tua, yang sempat terkubur selama ini, sungguh membesarkan hati.
&amp;nbsp;
Kawasan ini memang layak dijadikan objek wisata sejarah. Sebab tidak hanya kaya oleh bangunan- bangunan tua yang kini dijadikan museum, tetapi juga perkampungan tua yang kental dengan nuansa Tionghoa, seperti Kampoeng Kramat Loear Batang, Kampoeng Pekojan, dan Kampoeng Pecinan yang berada di kawasan Tambora, Glodok, Jakarta Barat.

Di kampung-kampung tersebut para wisatawan dapat menikmati suasana Jakarta tempo doeloe yang dikenal sebagai kota jasa dan niaga karena dekat dengan pelabuhan laut.

Selain melihat-lihat pemukiman penduduk dengan arsitektur Cina, di akhir perjalanan para wisatawan juga dapat menikmati wisata kuliner khas Tionghoa, berupa makanan siap saji maupun bahan-bahan kebutuhan rumah tangga hingga makanan kering impor dari negara tetangga Malaysia, Singapura, Cina, dan Thailand yang sejak beberapa tahun belakangan menyerbu kawasan tersebut.

Di kawasan Glodok Pancoran, di sepanjang lorong-lorong pecinan, mudah dijumpai kios-kios penjual buah segar maupun manisan berbaur dengan kios-kios penjual masakan Cina dan Betawi seperti sup dan telur penyu, bakso, bakpau, siomay, kwetiau, ketupat sayur dan soto betawi atau bubur kembang tahu yang disiram air gula berbumbu jahe serta minuman teh dingin Oolong tea yang dijajakan di atas gerobak dorong.
</description><content:encoded>TAHUN 1610, kota Jayakarta ditaklukkan dan jatuh ke tangan Belanda. Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia.
Mengutip Ensiklopedia Jakarta (Eni Setiati,dkk, 2009). Belanda membangun Batavia dengan struktur kota mirip dengan Amsterdam. Kota ini dikelilingi dengan tembok pengaman untuk melindungi serangan dari musuh (tentara Mataram Islam).&amp;nbsp;
Rumah dibangun dalam bentuk blok-blok yang dipisahkan dengan kanal dan jalan-jalan. Kota ini dibagi menjadi dua sisi, dipisahkan oleh sungai Ciliwung, yang kini dikenal dengan sebutan Kali Besar. Pada sisi sebelah timur, terdapat kastil Batavia dan gudang-gudang besar.
Kali Besar merupakan kawasan pusat perputaran roda ekonomi saat itu. Citra Batavia sebagai pusat kantor perdagangan hingga kini tak pudar. Masih banyak dijumpai bangunan-bangunan yang berasal dari abad ke-18 di kawasan tersebut.


Kawasan kota lama ini berawal dari pelabuhan bernama Sunda Kelapa. Sunda Kelapa telah ada sejak awal abad ke-14, sebagai kota pelabuhan kerajaan Sunda Pajajaran. Nama Sunda Kelapa kemudian diubah menjadi Jayakarta oleh Fatahillah dan setelah dikuasai VOC, berganti nama menjadi Batavia. Sejauh itu, kota ini berangsung-angsur berkembang dalam segala aspek, luas wilayah, pemerintahan, sosial politik, penduduk dan seni budayanya.
Sayangnya, bangunan-bangunan tua yang menyimpan banyak cerita bersejarah, kini sebagian kondisinya tidak terawat. Pemda DKI Jakarta memang tengah mengupayakan revitalisasi kota tua Jakarta. Program revitalisasi ini dilakukan sebagai salah satu upaya menarik minat wisatawan mancanegara maupun dalam negeri untuk menikmati salah satu warisan masa lalu.
Kawasan Kota (kota tua) Jakarta, terbentang seluas 139 hektar. Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Kampung Luar Batang di utara, Petak Baru, Jembatan Baru di selatan hingga Olimo. Terdapat ratusan bangunan bersejarah di kawasan itu. Bangunan yang menjadi cagar budaya sebanyak 117 bangunan, berlokasi di Jakarta Utara dan selebihnya di Jakarta Barat. Bangunan-bangunan ini dikelola oleh berbagai pihak: pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, kelompok dan perorangan.

Pada zaman Belanda, kawasan Kota merupakan kawasan yang menarik untuk dikunjungi. Kawasan tidak hanya menjadi pusat bisnis yang menggerakkan perekonomian, tetapi juga menjadi pusat pertemuan budaya antaretnis seperti Cina, Arab, Belanda, Inggris, Melayu dan sebagainya.

Kota tua akan diarahkan menjadi kawasan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain dengan menggalakkan sektor pariwisata. Bangunan-bangunan tua yang memiliki nilai sejarah akan dipugar dengan tetap mempertahankan arsitekturnya yang bernilai tinggi. Fungsi bangunan tua ini nantinya akan diserahkan kepada masing-masing pemiliknya.

Untuk memberikan kenyamanan wisatawan menikmati kawasan ini, beberapa ruas jalan kendaraan bermotor akan ditutup, diganti menjadi koridor khusus untuk para pejalan kaki. Semangat membenahi kembali kota tua, yang sempat terkubur selama ini, sungguh membesarkan hati.
&amp;nbsp;
Kawasan ini memang layak dijadikan objek wisata sejarah. Sebab tidak hanya kaya oleh bangunan- bangunan tua yang kini dijadikan museum, tetapi juga perkampungan tua yang kental dengan nuansa Tionghoa, seperti Kampoeng Kramat Loear Batang, Kampoeng Pekojan, dan Kampoeng Pecinan yang berada di kawasan Tambora, Glodok, Jakarta Barat.

Di kampung-kampung tersebut para wisatawan dapat menikmati suasana Jakarta tempo doeloe yang dikenal sebagai kota jasa dan niaga karena dekat dengan pelabuhan laut.

Selain melihat-lihat pemukiman penduduk dengan arsitektur Cina, di akhir perjalanan para wisatawan juga dapat menikmati wisata kuliner khas Tionghoa, berupa makanan siap saji maupun bahan-bahan kebutuhan rumah tangga hingga makanan kering impor dari negara tetangga Malaysia, Singapura, Cina, dan Thailand yang sejak beberapa tahun belakangan menyerbu kawasan tersebut.

Di kawasan Glodok Pancoran, di sepanjang lorong-lorong pecinan, mudah dijumpai kios-kios penjual buah segar maupun manisan berbaur dengan kios-kios penjual masakan Cina dan Betawi seperti sup dan telur penyu, bakso, bakpau, siomay, kwetiau, ketupat sayur dan soto betawi atau bubur kembang tahu yang disiram air gula berbumbu jahe serta minuman teh dingin Oolong tea yang dijajakan di atas gerobak dorong.
</content:encoded></item></channel></rss>
