<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pemerintah Kembangkan Buah Naga di Lahan Gambut Palangkaraya   </title><description>Pemerintah terus melakukan pengembangan buah naga di kawasan Kalampangan, Palangkaraya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/09/1/2064767/pemerintah-kembangkan-buah-naga-di-lahan-gambut-palangkaraya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/06/09/1/2064767/pemerintah-kembangkan-buah-naga-di-lahan-gambut-palangkaraya"/><item><title>Pemerintah Kembangkan Buah Naga di Lahan Gambut Palangkaraya   </title><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/09/1/2064767/pemerintah-kembangkan-buah-naga-di-lahan-gambut-palangkaraya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/06/09/1/2064767/pemerintah-kembangkan-buah-naga-di-lahan-gambut-palangkaraya</guid><pubDate>Minggu 09 Juni 2019 19:41 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/09/1/2064767/pemerintah-kembangkan-buah-naga-di-lahan-gambut-palangkaraya-IzNjHFC0Ul.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: dok.Humas Kementan</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/09/1/2064767/pemerintah-kembangkan-buah-naga-di-lahan-gambut-palangkaraya-IzNjHFC0Ul.jpg</image><title>Foto: dok.Humas Kementan</title></images><description>PALANGKARAYA - Pemerintah terus melakukan pengembangan buah naga di kawasan Kalampangan, Palangkaraya. Hal tersebut dilakukan karena meningkatnya permintaan di pasar.

Di lokasi ini terdapat kurang lebih 5.000 hektare kebun buah naga dan merupakan daerah pedesaan yang dinilai berhasil. Keberhasilan Kalampangan ditunjang oleh sektor hortikultura. Budidaya buah naga menjadi tren menjanjikan bagi orang yang mau dan ulet untuk menanamnya. Meskipun lahannya masih sedikit yang mengembangkan namun pasarnya cukup bagus.

Sumardi, anggota Kelompok Tani Berkah Tani Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya mengembangkan buah naga. Tanaman buah naga miliknya sudah berumur 3 tahun lebih di lahan seluas 7 hektare.  Tanamannya ini sudah menghasilkan buah naga sebanyak 30 &amp;ndash; 40 ton dengan harga Rp 15 - 20 ribu per Kg.

&quot;Jika pembeli memetik langsung di kebun, harga bisa mencapai Rp 25 &amp;ndash; Rp 30 ribu per kg. Sedangkan untuk tanaman jeruk berumur 3 tahun seluas 3 hektare, sampai saat ini sudah menghasilkan kurang lebih 15 ton, harga Rp 6 &amp;ndash; 8 ribu per kg dan kalaiu petik sendiri harga per kilonya Rp 10 - 12 ribu per kg,&quot; ujar Sumardi.

Sementara itu Dinas Pertanian dan Peternakan  Provinsi Kalimantan Tengah melalui keterangan Kepala Bidang Pengembangan Hortikultura, Vinolia Tantri, melakukan  pendampingan kepada Kelompok Tani Berkah untuk  menanam buan naga di lahan gambut  seluas 10 hektare.

&quot;Kebetulan ada program dari APBD provinsi untuk pengembangan bibit sayuran dan buah - buahan, saya mencoba menyentuh pengembangan buah naga melalui tangan dinginnya Pak Sumardi. Penyiapan sebanyak 12 ribu bibit buah naga dari Banyuwangi dengan biaya dari Pak Sumardi sendiri,&quot; ujar Vinolia.

Di samping buah naga, Sumardi juga menanam jeruk. Berkat ketekunannya, buah naga begitu luar biasa menghasilkan bahkan mendatangkan rezeki. Produksi buah naga dan jeruk  dalam satu hamparan luas di lahan gambut menghasilkan buah dengan cita rasa yang unik dan manis. Bahkan kebun buah naga dan jeruk ini dijadikan sebagai tempat lokasi agrowisata buah naga dan buah jeruk di Kota Palangkaraya.

Kunjungan dilakukan ke lokasi lahan Sumardi yang rencananya akan dijadikan model penanganan Dampak Perubahan Iklim (DPI) pada lahan gambut. Lahan gambut sangat riskan terhadap pengaruh ikilim, terutama saat musim kering. Berdasarkan informasi, El Nino pada 2019 mengarah ke kekeringan yang cukup lama sehingga bantuan yang diberikan berupa pompa air.

Endik Mulyadi, Kepala Seksi Bencana Alam Direktorat Perlindungan Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), menyampaikan agar dalam pengendalian OPT secara ramah lingkungan terus dipertahankan.

&quot;Terus pertahankan pengendalian OPT ramah lingkungan. Dengan tetap mempertahankan pengendalian OPT tanpa Pestisida Kimia maka akan menghasilkan produk yang aman konsumsi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,&quot; ujar Endik.

Secara terpisah, Direktur Perlindungan Hortikultura Kementan Sri Wijayanti Yusuf mengemukakan bahwa pihaknya bersama jajaran UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) serta Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit/Laboratorium Agens Hayati terus mengembangkan dan menyebarluaskan teknologi pengendalian OPT secara ramah lingkungan.

&quot;Diharapkan penerapan budidaya tanaman hortikultura ramah lingkungan khususnya pada tanaman buah naga semakin luas. Keuntungan buah naga yang dibudidayakan secara ramah lingkungan, antara lain aman dikonsumsi, lebih tahan lama disimpan, warna kulit buah lebih cerah dan rasa buahnya lebih manis,&quot; jelas Direktur yang biasa dipanggil Yanti ini.</description><content:encoded>PALANGKARAYA - Pemerintah terus melakukan pengembangan buah naga di kawasan Kalampangan, Palangkaraya. Hal tersebut dilakukan karena meningkatnya permintaan di pasar.

Di lokasi ini terdapat kurang lebih 5.000 hektare kebun buah naga dan merupakan daerah pedesaan yang dinilai berhasil. Keberhasilan Kalampangan ditunjang oleh sektor hortikultura. Budidaya buah naga menjadi tren menjanjikan bagi orang yang mau dan ulet untuk menanamnya. Meskipun lahannya masih sedikit yang mengembangkan namun pasarnya cukup bagus.

Sumardi, anggota Kelompok Tani Berkah Tani Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya mengembangkan buah naga. Tanaman buah naga miliknya sudah berumur 3 tahun lebih di lahan seluas 7 hektare.  Tanamannya ini sudah menghasilkan buah naga sebanyak 30 &amp;ndash; 40 ton dengan harga Rp 15 - 20 ribu per Kg.

&quot;Jika pembeli memetik langsung di kebun, harga bisa mencapai Rp 25 &amp;ndash; Rp 30 ribu per kg. Sedangkan untuk tanaman jeruk berumur 3 tahun seluas 3 hektare, sampai saat ini sudah menghasilkan kurang lebih 15 ton, harga Rp 6 &amp;ndash; 8 ribu per kg dan kalaiu petik sendiri harga per kilonya Rp 10 - 12 ribu per kg,&quot; ujar Sumardi.

Sementara itu Dinas Pertanian dan Peternakan  Provinsi Kalimantan Tengah melalui keterangan Kepala Bidang Pengembangan Hortikultura, Vinolia Tantri, melakukan  pendampingan kepada Kelompok Tani Berkah untuk  menanam buan naga di lahan gambut  seluas 10 hektare.

&quot;Kebetulan ada program dari APBD provinsi untuk pengembangan bibit sayuran dan buah - buahan, saya mencoba menyentuh pengembangan buah naga melalui tangan dinginnya Pak Sumardi. Penyiapan sebanyak 12 ribu bibit buah naga dari Banyuwangi dengan biaya dari Pak Sumardi sendiri,&quot; ujar Vinolia.

Di samping buah naga, Sumardi juga menanam jeruk. Berkat ketekunannya, buah naga begitu luar biasa menghasilkan bahkan mendatangkan rezeki. Produksi buah naga dan jeruk  dalam satu hamparan luas di lahan gambut menghasilkan buah dengan cita rasa yang unik dan manis. Bahkan kebun buah naga dan jeruk ini dijadikan sebagai tempat lokasi agrowisata buah naga dan buah jeruk di Kota Palangkaraya.

Kunjungan dilakukan ke lokasi lahan Sumardi yang rencananya akan dijadikan model penanganan Dampak Perubahan Iklim (DPI) pada lahan gambut. Lahan gambut sangat riskan terhadap pengaruh ikilim, terutama saat musim kering. Berdasarkan informasi, El Nino pada 2019 mengarah ke kekeringan yang cukup lama sehingga bantuan yang diberikan berupa pompa air.

Endik Mulyadi, Kepala Seksi Bencana Alam Direktorat Perlindungan Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), menyampaikan agar dalam pengendalian OPT secara ramah lingkungan terus dipertahankan.

&quot;Terus pertahankan pengendalian OPT ramah lingkungan. Dengan tetap mempertahankan pengendalian OPT tanpa Pestisida Kimia maka akan menghasilkan produk yang aman konsumsi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,&quot; ujar Endik.

Secara terpisah, Direktur Perlindungan Hortikultura Kementan Sri Wijayanti Yusuf mengemukakan bahwa pihaknya bersama jajaran UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) serta Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit/Laboratorium Agens Hayati terus mengembangkan dan menyebarluaskan teknologi pengendalian OPT secara ramah lingkungan.

&quot;Diharapkan penerapan budidaya tanaman hortikultura ramah lingkungan khususnya pada tanaman buah naga semakin luas. Keuntungan buah naga yang dibudidayakan secara ramah lingkungan, antara lain aman dikonsumsi, lebih tahan lama disimpan, warna kulit buah lebih cerah dan rasa buahnya lebih manis,&quot; jelas Direktur yang biasa dipanggil Yanti ini.</content:encoded></item></channel></rss>
