<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sejarah Masjid &quot;Si Pitung&quot; Al-Alam Marunda</title><description>Masjid ini terletak di Marunda, Jakarta Utara.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/09/338/2064666/sejarah-masjid-si-pitung-al-alam-marunda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/06/09/338/2064666/sejarah-masjid-si-pitung-al-alam-marunda"/><item><title>Sejarah Masjid &quot;Si Pitung&quot; Al-Alam Marunda</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/09/338/2064666/sejarah-masjid-si-pitung-al-alam-marunda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/06/09/338/2064666/sejarah-masjid-si-pitung-al-alam-marunda</guid><pubDate>Minggu 09 Juni 2019 12:15 WIB</pubDate><dc:creator>Sarah Hutagaol</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/09/338/2064666/sejarah-masjid-si-pitung-al-alam-marunda-leeQ9BrIEB.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Masjid Al-Alam Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. (Foto : Achmad Fardiansyah/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/09/338/2064666/sejarah-masjid-si-pitung-al-alam-marunda-leeQ9BrIEB.jpeg</image><title>Masjid Al-Alam Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. (Foto : Achmad Fardiansyah/Okezone)</title></images><description>MASJID Al-Alam atau lebih dikenal dengan Masjid Si Pitung terletak di tepi Pantai Marunda Pulau, Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara.

Dalam buku Ensiklopedia Jakarta (Eni Setiati, dkk, 2009), disebutkan di masjid ini, Pitung semasa kecil banyak menghabiskan waktu bermain, belajar agama, bela diri, serta sembunyi dari opas dan kompeni. Tapi jangan salah, bukan Si Pitung atau keluarganya yang membangun masjid ini.

Masjid ini diperkirakan dibangun pada 1600-an. Meski telah berusia 400 tahun, uniknya masjid ini cukup terawat dengan baik, walau kondisi ketuaannya tidak bisa disembunyikan. Arsitekturnya mengingatkan pada model Masjid Demak, tetapi berskala lebih kecil dengan ukuran 10x10 m2. Atapnya yang berbentuk joglo ditopang oleh 4 pilar bulat &quot;kuntet&quot;, seperti kaki catur. Mihrab yang pas dengan ukuran badan menjorok ke dalam tembok, berada di sebelah kanan mimbar. Berbeda dengan masjid tua lain, uniknya masjid ini berplafon setinggi 2 meter dari lantai dalam.

Terpeliharanya Masjid Al-Alam tidak lepas dari bentuknya yang relatif kecil menyerupai musala. Selain itu, hingga kini pun masjid ini masih dicintai penduduk sekitarnya. Hampir di setiap waktu salah Magrib dan Isya, Masjid Al-Alam selalu diramaikan jamaahnya. Bahkan masjid ini sering pula didatangi para peziarah dari berbagai daerah. Hal ini terlihat dengan dibangunnya sebuah pendopo persis di belakang masjid, sebelah timur yang terkesan sengaja dihadirkan untuk upacara-upacara khusus.



Tidak diketahui pasti siapa pendiri masjid ini. Minimnya data sama halnya dengan ketidaktahuan masyarakat sekitar masjid. Bahkan tokoh masyarakat di sekitar rumah tinggal Si Pitung sekalipun. Menurut salah seorang pengurus masjid, yakni H Atit, orang-orang sekitar menamai masjid ini dengan sebutan Masjid Gaib, Dari dongeng turu-temurun, disebutkan dalam proses pembuatannya dahulu, masjid ini dibangun hanya dalam tempo sehari semalam.

Sejak 1975, Masjid Al-Alam dinyatakan sebagai cagar budaya. Pemprov DKI Jakarta rajin menyokong setiap upaya untuk melestarikan masjid ini. Di sekeliling masjid sekarang sudah dibuatkan pagar beton berbentuk seperti pagar batas provinsi.

&amp;ldquo;Didirikan dalam Semalam&amp;rdquo;

Sementara dalam laporan Okezone,  Berdasarkan penelitian Dinas Purbakala DKI Jakarta pada 1980, masjid  ini diperkirakan dibangun pada 22 Juni 1527. Tanggal ini diyakini  sebagai hari jadi Jakarta.
Banyak cerita unik dari masjid ini. Misalnya pembangunan yang diklaim  selesai dalam semalam, rumah Si pitung dan benteng para pendekar  melawan penjajah.
&amp;ldquo;Kalau kata orang tua dulu, (masjid) ini didirikan hanya dalam waktu semalam,&quot; tutur pengurus Masjid Al Alam, Kusnadi kepada Okezone.

Menurut riwayat, saat itu Fatahilah bersama pasukannya dari  Demak-Cirebon datang untuk mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Dia  membangun masjid sebagai tempat ibadah sekaligus konsentrasi pasukan.

Fatahilah bersama pasukannya kemudian berhasil merebut Sunda Kelapa dan mendirikan Jayakarta.

Arsitektur masjid ini mengandung empat unsur kebudayaan; Jawa, Eropa, China dan Betawi.



&quot;Kalau dilihat dari atas bangunan memiliki gaya joglo itu arsitek  Jawa, lalu uwungan agak melengkung dari atas di genting itu, nah itu asal  arsitek dari China. Selanjutnya gaya arsitek dari Eropa terdapat dari  empat pilarnya atau tiang-tiang dicor yang sangat kokoh. Yang terakhir  itu Betawi dilihat dari unsur jendela dan ukirannya,&quot; kata Kusnadi.

Masjid ini sengaja dibangun megah dengan gaya campuran karena Marunda saat itu merupakan kota sekaligus pusat perekonomian.

Masa Hindia Belanda, masjid ini jadi pusat dakwah yang melahirkan para pejuang dan benteng pertahanan.



Pada 1884, Gunung Krakatau meletus lalu memunculkan tsunami yang  menyapu Sunda Kelapa hingga Marunda. Tapi, Masjid Al-Alam diyakini tak  tersentuh, meski kawasan di sekitarnya hancur diamuk gelombang pembunuh.

Berdasarkan serita orang dulu, kata Kusnadi, ombak tsunami terbelah  saat tiba di Masjid Al Alam sehingga tak merusak bangunannya.

Di kompleks masjid ada makam KH Jamiin bin Abdullah dan sumur dengan  air tiga rasa yang sebagian orang percaya bisa menyembuhkan penyakit.


</description><content:encoded>MASJID Al-Alam atau lebih dikenal dengan Masjid Si Pitung terletak di tepi Pantai Marunda Pulau, Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara.

Dalam buku Ensiklopedia Jakarta (Eni Setiati, dkk, 2009), disebutkan di masjid ini, Pitung semasa kecil banyak menghabiskan waktu bermain, belajar agama, bela diri, serta sembunyi dari opas dan kompeni. Tapi jangan salah, bukan Si Pitung atau keluarganya yang membangun masjid ini.

Masjid ini diperkirakan dibangun pada 1600-an. Meski telah berusia 400 tahun, uniknya masjid ini cukup terawat dengan baik, walau kondisi ketuaannya tidak bisa disembunyikan. Arsitekturnya mengingatkan pada model Masjid Demak, tetapi berskala lebih kecil dengan ukuran 10x10 m2. Atapnya yang berbentuk joglo ditopang oleh 4 pilar bulat &quot;kuntet&quot;, seperti kaki catur. Mihrab yang pas dengan ukuran badan menjorok ke dalam tembok, berada di sebelah kanan mimbar. Berbeda dengan masjid tua lain, uniknya masjid ini berplafon setinggi 2 meter dari lantai dalam.

Terpeliharanya Masjid Al-Alam tidak lepas dari bentuknya yang relatif kecil menyerupai musala. Selain itu, hingga kini pun masjid ini masih dicintai penduduk sekitarnya. Hampir di setiap waktu salah Magrib dan Isya, Masjid Al-Alam selalu diramaikan jamaahnya. Bahkan masjid ini sering pula didatangi para peziarah dari berbagai daerah. Hal ini terlihat dengan dibangunnya sebuah pendopo persis di belakang masjid, sebelah timur yang terkesan sengaja dihadirkan untuk upacara-upacara khusus.



Tidak diketahui pasti siapa pendiri masjid ini. Minimnya data sama halnya dengan ketidaktahuan masyarakat sekitar masjid. Bahkan tokoh masyarakat di sekitar rumah tinggal Si Pitung sekalipun. Menurut salah seorang pengurus masjid, yakni H Atit, orang-orang sekitar menamai masjid ini dengan sebutan Masjid Gaib, Dari dongeng turu-temurun, disebutkan dalam proses pembuatannya dahulu, masjid ini dibangun hanya dalam tempo sehari semalam.

Sejak 1975, Masjid Al-Alam dinyatakan sebagai cagar budaya. Pemprov DKI Jakarta rajin menyokong setiap upaya untuk melestarikan masjid ini. Di sekeliling masjid sekarang sudah dibuatkan pagar beton berbentuk seperti pagar batas provinsi.

&amp;ldquo;Didirikan dalam Semalam&amp;rdquo;

Sementara dalam laporan Okezone,  Berdasarkan penelitian Dinas Purbakala DKI Jakarta pada 1980, masjid  ini diperkirakan dibangun pada 22 Juni 1527. Tanggal ini diyakini  sebagai hari jadi Jakarta.
Banyak cerita unik dari masjid ini. Misalnya pembangunan yang diklaim  selesai dalam semalam, rumah Si pitung dan benteng para pendekar  melawan penjajah.
&amp;ldquo;Kalau kata orang tua dulu, (masjid) ini didirikan hanya dalam waktu semalam,&quot; tutur pengurus Masjid Al Alam, Kusnadi kepada Okezone.

Menurut riwayat, saat itu Fatahilah bersama pasukannya dari  Demak-Cirebon datang untuk mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Dia  membangun masjid sebagai tempat ibadah sekaligus konsentrasi pasukan.

Fatahilah bersama pasukannya kemudian berhasil merebut Sunda Kelapa dan mendirikan Jayakarta.

Arsitektur masjid ini mengandung empat unsur kebudayaan; Jawa, Eropa, China dan Betawi.



&quot;Kalau dilihat dari atas bangunan memiliki gaya joglo itu arsitek  Jawa, lalu uwungan agak melengkung dari atas di genting itu, nah itu asal  arsitek dari China. Selanjutnya gaya arsitek dari Eropa terdapat dari  empat pilarnya atau tiang-tiang dicor yang sangat kokoh. Yang terakhir  itu Betawi dilihat dari unsur jendela dan ukirannya,&quot; kata Kusnadi.

Masjid ini sengaja dibangun megah dengan gaya campuran karena Marunda saat itu merupakan kota sekaligus pusat perekonomian.

Masa Hindia Belanda, masjid ini jadi pusat dakwah yang melahirkan para pejuang dan benteng pertahanan.



Pada 1884, Gunung Krakatau meletus lalu memunculkan tsunami yang  menyapu Sunda Kelapa hingga Marunda. Tapi, Masjid Al-Alam diyakini tak  tersentuh, meski kawasan di sekitarnya hancur diamuk gelombang pembunuh.

Berdasarkan serita orang dulu, kata Kusnadi, ombak tsunami terbelah  saat tiba di Masjid Al Alam sehingga tak merusak bangunannya.

Di kompleks masjid ada makam KH Jamiin bin Abdullah dan sumur dengan  air tiga rasa yang sebagian orang percaya bisa menyembuhkan penyakit.


</content:encoded></item></channel></rss>
