<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kuningan, Kampung Asli Jakarta yang Mulai Hilang Esensinya</title><description>Jakarta tempo dulu merupakan daerah rawa (pulo), atau paya-paya yang banyak dikelilingi sungai.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/15/338/2066802/kuningan-kampung-asli-jakarta-yang-mulai-hilang-esensinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/06/15/338/2066802/kuningan-kampung-asli-jakarta-yang-mulai-hilang-esensinya"/><item><title>Kuningan, Kampung Asli Jakarta yang Mulai Hilang Esensinya</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/15/338/2066802/kuningan-kampung-asli-jakarta-yang-mulai-hilang-esensinya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/06/15/338/2066802/kuningan-kampung-asli-jakarta-yang-mulai-hilang-esensinya</guid><pubDate>Sabtu 15 Juni 2019 15:50 WIB</pubDate><dc:creator>Khafid Mardiyansyah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/15/338/2066802/kuningan-kampung-asli-jakarta-yang-mulai-hilang-esensinya-YMTg9ZGcAj.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/15/338/2066802/kuningan-kampung-asli-jakarta-yang-mulai-hilang-esensinya-YMTg9ZGcAj.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Jakarta tempo dulu merupakan daerah rawa (pulo), atau paya-paya yang banyak dikelilingi sungai. Wilayah yang memungkinkan adanya kegiatan bercocok tanam tersebut akhirnya menjadi berkah buat warga Jakarta saat itu.

Tak heran jika banyak daerah di Ibu Kota dinamakan dengan istilah Pulo atau Rawa, seperti Pulo Gadung, Pulo Mas, atau bahkan Kampung Pulo di Jatinegara serta Kramat Pulo di Jakarta Pusat. Sedangkan daerah seperti Rawa Buaya dan Rawasari juga banyak ditemui.

Salah satu daerah dengan nama Pulo yang legendaris adalah Kampung Pulo. Daerah ini dilewati oleh aliran Kali Krukut yang sempat membuat warganya sejahtera dengan kegiatan bercocok tanam. Kampung ini bahkan sudah ada sejak zaman hartawan Cornelis Senen dari Banda Maluku.



Pada 1656, Master Cornelis memiliki rumah mewah yang terbentang luas sekira lima kilometer persegi dari Cipinang hingga Tepian Ciliwung. Penguasaan lahan yang begitu besar oleh Master Cornelis membuat warga akhirnya hanya mendapat sisa lahan di bantaran Kali Krukut.

Kampung Pulo, yang pada akhirnya berganti nama menjadi Kampung Pulo Kuningan dan kini berubah kembali menjadi Kampung Kuningan, punya sejarah panjang perjuangan.

(Baca Juga: Sejarah Angke, Kampung 'Darah dan Bangkai')

Diceritakan dalam Buku Ensiklopedia Jakarta Volume 3 Terbitan PT Lentera Abadi, pada awalnya datang pangeran dari Kuningan, Jawa Barat yang mengikuti ekspedisi Pangeran Fatahillah untuk menggempur Sunda Kelapa.

Pangeran tersebut diketahui bernama Pangeran Awangga, yang bersama anak buahnya menempati daerah di Kampung Pulo. Karena sosok Pangeran Awangga yang begitu ikonik, daerah tersebut mulai mendapat julukan sebagai Kampung Pulo Kuningan hingga akhirnya warga menamai daerah tersebut sebagai Kampung Kuningan.

Pangeran Awangga atau lebih dikenal pangeran Kuningan pun wafat di  daerah ini. Ia dimakamkan dan makamnya masih ada hingga saat ini di  Gedung Caraka Kantor Divre II Telkom Jalan Jenderal Gatot Subroto di  wilayah Kelurahan Kuningan Barat.

Warga setempat pun mengakui bahwa Pangeran Kuningan sebagai leluhur  mereka. Bahkan sejak tahun 1962, dibentuk suatu perkumpulan yang  menghimpun keturunan dari Pangeran Kuningan. KH Guru Mughni yang  merupakan salah satu ulama besar Betawi, merupakan keturunan dari  Pangeran Kuningan.

Kini, daerah Kuningan terkenal dengan gedung-gedungnya yang tinggi  dan aktivitas ekonominya yang padat. Keberadaan warga asli Jakarta di  daerah ini pun sudah tak sepadat saat Pangeran Kuningan mulai  menyebarkan agama Islam melalui budaya dan dakwah.


</description><content:encoded>JAKARTA - Jakarta tempo dulu merupakan daerah rawa (pulo), atau paya-paya yang banyak dikelilingi sungai. Wilayah yang memungkinkan adanya kegiatan bercocok tanam tersebut akhirnya menjadi berkah buat warga Jakarta saat itu.

Tak heran jika banyak daerah di Ibu Kota dinamakan dengan istilah Pulo atau Rawa, seperti Pulo Gadung, Pulo Mas, atau bahkan Kampung Pulo di Jatinegara serta Kramat Pulo di Jakarta Pusat. Sedangkan daerah seperti Rawa Buaya dan Rawasari juga banyak ditemui.

Salah satu daerah dengan nama Pulo yang legendaris adalah Kampung Pulo. Daerah ini dilewati oleh aliran Kali Krukut yang sempat membuat warganya sejahtera dengan kegiatan bercocok tanam. Kampung ini bahkan sudah ada sejak zaman hartawan Cornelis Senen dari Banda Maluku.



Pada 1656, Master Cornelis memiliki rumah mewah yang terbentang luas sekira lima kilometer persegi dari Cipinang hingga Tepian Ciliwung. Penguasaan lahan yang begitu besar oleh Master Cornelis membuat warga akhirnya hanya mendapat sisa lahan di bantaran Kali Krukut.

Kampung Pulo, yang pada akhirnya berganti nama menjadi Kampung Pulo Kuningan dan kini berubah kembali menjadi Kampung Kuningan, punya sejarah panjang perjuangan.

(Baca Juga: Sejarah Angke, Kampung 'Darah dan Bangkai')

Diceritakan dalam Buku Ensiklopedia Jakarta Volume 3 Terbitan PT Lentera Abadi, pada awalnya datang pangeran dari Kuningan, Jawa Barat yang mengikuti ekspedisi Pangeran Fatahillah untuk menggempur Sunda Kelapa.

Pangeran tersebut diketahui bernama Pangeran Awangga, yang bersama anak buahnya menempati daerah di Kampung Pulo. Karena sosok Pangeran Awangga yang begitu ikonik, daerah tersebut mulai mendapat julukan sebagai Kampung Pulo Kuningan hingga akhirnya warga menamai daerah tersebut sebagai Kampung Kuningan.

Pangeran Awangga atau lebih dikenal pangeran Kuningan pun wafat di  daerah ini. Ia dimakamkan dan makamnya masih ada hingga saat ini di  Gedung Caraka Kantor Divre II Telkom Jalan Jenderal Gatot Subroto di  wilayah Kelurahan Kuningan Barat.

Warga setempat pun mengakui bahwa Pangeran Kuningan sebagai leluhur  mereka. Bahkan sejak tahun 1962, dibentuk suatu perkumpulan yang  menghimpun keturunan dari Pangeran Kuningan. KH Guru Mughni yang  merupakan salah satu ulama besar Betawi, merupakan keturunan dari  Pangeran Kuningan.

Kini, daerah Kuningan terkenal dengan gedung-gedungnya yang tinggi  dan aktivitas ekonominya yang padat. Keberadaan warga asli Jakarta di  daerah ini pun sudah tak sepadat saat Pangeran Kuningan mulai  menyebarkan agama Islam melalui budaya dan dakwah.


</content:encoded></item></channel></rss>
