<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Insiden di Teluk Oman dan Dinamika Hubungan AS-Iran</title><description>Hubungan AS-Iran kian memanas.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/20/18/2068578/insiden-di-teluk-oman-dan-dinamika-hubungan-as-iran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/06/20/18/2068578/insiden-di-teluk-oman-dan-dinamika-hubungan-as-iran"/><item><title>Insiden di Teluk Oman dan Dinamika Hubungan AS-Iran</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/20/18/2068578/insiden-di-teluk-oman-dan-dinamika-hubungan-as-iran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/06/20/18/2068578/insiden-di-teluk-oman-dan-dinamika-hubungan-as-iran</guid><pubDate>Kamis 20 Juni 2019 07:38 WIB</pubDate><dc:creator>Opini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/20/18/2068578/insisen-di-teluk-oman-dan-dimanika-hubungan-as-iran-YZPqqn7k7h.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: AFP/HO/IRIB)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/20/18/2068578/insisen-di-teluk-oman-dan-dimanika-hubungan-as-iran-YZPqqn7k7h.jpg</image><title>(Foto: AFP/HO/IRIB)</title></images><description>TIMUR Tengah merupakan kawasan dengan suhu geopolitik yang senantiasa fluktuatif dan penuh gejolak. Jalinan relasi antarnegara Timur Tengah juga rumit. Perseteruan Israel-Palestina dan bangsa Arab lain yang tak kunjung reda, perang saudara yang meluluhlantakkan Suriah dan Yaman, hingga rivalitas dua raksasa kawasan teluk, yaitu Arab Saudi dengan Iran. Rivalitas ini bertambah pelik dengan adanya campur tangan kepentingan masing-masing sekutu, termasuk negara-negara besar di belakang keduanya.
Pada Mei lalu, terjadi insiden sabotase terhadap empat kapal tanker di dekat pelabuhan Fujairah milik Uni Emirat Arab (UEA), yang terletak tepat di luar Selat Hormuz, sebuah jalur pengiriman minyak dan gas global terpenting yang memisahkan negara-negara Teluk Arab sekutu Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski serangan itu tidak menimbulkan korban atau tumpahan minyak, namun menyebabkan kerusakan signifikan pada struktur dua kapal.
Penyelidikan gabungan yang dilakukan oleh pihak terkait yaitu UEA, Arab Saudi, dan Norwegia menyimpulkan bahwa sabotase tersebut dilakukan melalui operasi canggih dan terkoordinasi, dan kemungkinan diprakarsai oleh satu negara. Meski hasil penyelidikan tidak menyebut pihak tertentu, AS dan Arab Saudi menyebut Iran sebagai dalang sabotase yang bertujuan menaikkan harga minyak.
Hanya selang sebulan setelah insiden pelabuhan Fujairah, perairan Timur Tengah kembali terguncang. Dua kapal tanker, yaitu Front Altair milik Norwegia dan Kokuka Courageous milik Jepang diserang ketika tengah melintasi Selat Hormuz di Teluk Oman. Kokuka Courageous yang berangkat dari Arab Saudi dan tengah dalam perjalanan menuju Singapura, terbakar pada saat yang sama dengan tanker Front Altair pada Kamis (13/06) pukul 6:00 pagi waktu setempat.
Lagi-lagi secara kompak Arab Saudi, AS, dan kini ditambah Inggris menuding Iran berada di balik serangan terhadap dua kapal tanker yang tengah mengangkut minyak dan bahan kimia tersebut. Bahkan AS lebih dulu melontarkan tuduhan melalui Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan secara khusus menuduh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), kesatuan elit militer berpengaruh Iran sebagai pelaku penyerangan.
Iran telah membantah dengan keras tudingan AS dan sekutunya, dan menyatakan tuduhan tersebut tak berdasar. Iran bahkan merespon tuduhan AS tersebut dengan mengancam akan segera meningkatkan batas uranium yang diperkaya, yang otomatis melanggar kesepakatan nuklir 2015. Di hari yang sama, Pejabat Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan mengumumkan akan mengirim 1.000 pasukan tambahan Amerika ke Timur Tengah, yang ia klaim untuk menangkal ancaman Iran. Tak lama Iran kembali merespon AS dengan mengancam akan memblokir Selat Hormuz jika AS melakukan serangan terbuka. Ancaman Iran itu berpotensi mengganggu lalu lintas kapal tanker yang keluar dari kawasan Teluk menuju Samudera Hindia, sehingga dikhawatirkan akan mengancam suplai minyak global.
Bukti tuduhan yang diajukan AS terbilang cukup lemah, hanya berupa rekaman video dan foto yang tidak menunjukkan secara jelas peristiwa penyerangan kapal. Bahkan keterangan dari pemilik salah satu kapal menyanggah kesaksian dari pihak AS tentang asal mula ledakan. Insiden ini tak pelak juga memunculkan tanda tanya besar atas motif penyerangan, jika benar Iran menjadi dalang pelaku, mengingat di hari yang sama PM Jepang Shinzo Abe tengah melakukan pertemuan dengan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Hassan Rouhani yang justru membawa pesan untuk meredakan ketegangan AS-Iran.
Upaya Meredam Eskalasi Konflik AS-Iran
Memburuknya hubungan antara AS-Iran dipicu oleh keputusan sepihak Presiden Donald Trump yang memilih menarik diri dari perjanjian nuklir Iran yang dikenal dengan nama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada Mei 2018 lalu. Perjanjian yang digagas di era Barack Obama sejak 2015 itu menyepakati bahwa Iran akan membatasi program pengembangan nuklirnya dengan timbal balik pencabutan serangkaian sanksi ekonomi terhadap Teheran. Penarikan diri AS dari JCPOA sangat berimbas pada perekonomian Iran dan semakin menutup pintu perdamaian.Boikot terhadap produk Iran kembali diberlakukan AS dan sekutunya,  dan baru-baru ini mencakup delapan negara pengimpor minyak Iran yang  sebelumnya mendapat keringanan pengecualian sanksi. Salah satu dari  delapan negara tersebut adalah China, yang memiliki hubungan baik dengan  Iran. China bahkan dikabarkan telah membuat perjanjian jual beli  senjata dan teknologi komunikasi secara terselubung dengan Iran sebagai  siasat bertahan mereka terhadap sanski AS tersebut.
Masuknya China  ke dalam percaturan geopolitik Timur Tengah melalui celah perdagangan  tentu perlu mendapat perhatian. Jika AS dan para sekutunya dapat lebih  melonggarkan &amp;lsquo;hukuman&amp;rsquo; terhadap Iran serta menerapkan aturan main yang  lebih fair, hal itu tentunya akan mengurangi potensi Iran untuk bermain  mata dengan China maupun dengan negara lainnya. Pun demikian, jika China  terlalu dalam memaksakan diri masuk ke pusaran Timur Tengah,  dikhawatirkan akan semakin mempengaruhi kualitas hubungan AS-China yang  tengah diuji melalui perang dagang yang turut berimbas pada  naik-turunnya perekonomian global. Meski kedua negara adidaya tersebut  sepakat untuk bertemu dan kembali bernegosiasi di ajang G20 di Jepang  pekan depan, tidak ada jaminan bahwa perang dagang AS-China akan usai  dalam waktu dekat.
Dengan mengalkulasi berbagai skenario dan  kemungkinan tersebut, konflik terbuka AS dengan Iran bukanlah sebuah  pilihan tepat. Selain terlalu prematur dan gegabah, tuduhan bertubi-tubi  AS kepada Iran justru semakin memperpanjang catatan buruk relasi  AS-Iran, dan sekaligus memprovokasi stabilitas keamanan kawasan. AS dan  sekutunya sebaiknya menunggu investigasi independen atas insiden  penyerangan kapal tanker di Teluk Oman. Jika memang ditemukan bukti yang  memadai atas siapa saja pihak yang bertanggung jawab, hendaknya diambil  tindakan tegas sesuai dengan hukum yang berlaku. Bisa saja terdapat  pihak ketiga di balik insiden yang mengambil keuntungan atas eskalasi  konflik AS-Iran, atau kawasan Timur Tengah pada umumnya.
Alangkah baiknya jika tiap pihak yang terlibat menghindari  provokasi lebih lanjut yang justru hanya akan memperkeruh situasi.  Ketertiban dan keamanan kawasan tentunya harus menjadi agenda utama bagi  semua pihak yang tengah berseteru di Timur Tengah.
Oleh: Dave Akbarshah Fikarno Laksono &amp;ndash; Anggota Komisi I DPR RI</description><content:encoded>TIMUR Tengah merupakan kawasan dengan suhu geopolitik yang senantiasa fluktuatif dan penuh gejolak. Jalinan relasi antarnegara Timur Tengah juga rumit. Perseteruan Israel-Palestina dan bangsa Arab lain yang tak kunjung reda, perang saudara yang meluluhlantakkan Suriah dan Yaman, hingga rivalitas dua raksasa kawasan teluk, yaitu Arab Saudi dengan Iran. Rivalitas ini bertambah pelik dengan adanya campur tangan kepentingan masing-masing sekutu, termasuk negara-negara besar di belakang keduanya.
Pada Mei lalu, terjadi insiden sabotase terhadap empat kapal tanker di dekat pelabuhan Fujairah milik Uni Emirat Arab (UEA), yang terletak tepat di luar Selat Hormuz, sebuah jalur pengiriman minyak dan gas global terpenting yang memisahkan negara-negara Teluk Arab sekutu Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski serangan itu tidak menimbulkan korban atau tumpahan minyak, namun menyebabkan kerusakan signifikan pada struktur dua kapal.
Penyelidikan gabungan yang dilakukan oleh pihak terkait yaitu UEA, Arab Saudi, dan Norwegia menyimpulkan bahwa sabotase tersebut dilakukan melalui operasi canggih dan terkoordinasi, dan kemungkinan diprakarsai oleh satu negara. Meski hasil penyelidikan tidak menyebut pihak tertentu, AS dan Arab Saudi menyebut Iran sebagai dalang sabotase yang bertujuan menaikkan harga minyak.
Hanya selang sebulan setelah insiden pelabuhan Fujairah, perairan Timur Tengah kembali terguncang. Dua kapal tanker, yaitu Front Altair milik Norwegia dan Kokuka Courageous milik Jepang diserang ketika tengah melintasi Selat Hormuz di Teluk Oman. Kokuka Courageous yang berangkat dari Arab Saudi dan tengah dalam perjalanan menuju Singapura, terbakar pada saat yang sama dengan tanker Front Altair pada Kamis (13/06) pukul 6:00 pagi waktu setempat.
Lagi-lagi secara kompak Arab Saudi, AS, dan kini ditambah Inggris menuding Iran berada di balik serangan terhadap dua kapal tanker yang tengah mengangkut minyak dan bahan kimia tersebut. Bahkan AS lebih dulu melontarkan tuduhan melalui Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan secara khusus menuduh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), kesatuan elit militer berpengaruh Iran sebagai pelaku penyerangan.
Iran telah membantah dengan keras tudingan AS dan sekutunya, dan menyatakan tuduhan tersebut tak berdasar. Iran bahkan merespon tuduhan AS tersebut dengan mengancam akan segera meningkatkan batas uranium yang diperkaya, yang otomatis melanggar kesepakatan nuklir 2015. Di hari yang sama, Pejabat Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan mengumumkan akan mengirim 1.000 pasukan tambahan Amerika ke Timur Tengah, yang ia klaim untuk menangkal ancaman Iran. Tak lama Iran kembali merespon AS dengan mengancam akan memblokir Selat Hormuz jika AS melakukan serangan terbuka. Ancaman Iran itu berpotensi mengganggu lalu lintas kapal tanker yang keluar dari kawasan Teluk menuju Samudera Hindia, sehingga dikhawatirkan akan mengancam suplai minyak global.
Bukti tuduhan yang diajukan AS terbilang cukup lemah, hanya berupa rekaman video dan foto yang tidak menunjukkan secara jelas peristiwa penyerangan kapal. Bahkan keterangan dari pemilik salah satu kapal menyanggah kesaksian dari pihak AS tentang asal mula ledakan. Insiden ini tak pelak juga memunculkan tanda tanya besar atas motif penyerangan, jika benar Iran menjadi dalang pelaku, mengingat di hari yang sama PM Jepang Shinzo Abe tengah melakukan pertemuan dengan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Hassan Rouhani yang justru membawa pesan untuk meredakan ketegangan AS-Iran.
Upaya Meredam Eskalasi Konflik AS-Iran
Memburuknya hubungan antara AS-Iran dipicu oleh keputusan sepihak Presiden Donald Trump yang memilih menarik diri dari perjanjian nuklir Iran yang dikenal dengan nama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada Mei 2018 lalu. Perjanjian yang digagas di era Barack Obama sejak 2015 itu menyepakati bahwa Iran akan membatasi program pengembangan nuklirnya dengan timbal balik pencabutan serangkaian sanksi ekonomi terhadap Teheran. Penarikan diri AS dari JCPOA sangat berimbas pada perekonomian Iran dan semakin menutup pintu perdamaian.Boikot terhadap produk Iran kembali diberlakukan AS dan sekutunya,  dan baru-baru ini mencakup delapan negara pengimpor minyak Iran yang  sebelumnya mendapat keringanan pengecualian sanksi. Salah satu dari  delapan negara tersebut adalah China, yang memiliki hubungan baik dengan  Iran. China bahkan dikabarkan telah membuat perjanjian jual beli  senjata dan teknologi komunikasi secara terselubung dengan Iran sebagai  siasat bertahan mereka terhadap sanski AS tersebut.
Masuknya China  ke dalam percaturan geopolitik Timur Tengah melalui celah perdagangan  tentu perlu mendapat perhatian. Jika AS dan para sekutunya dapat lebih  melonggarkan &amp;lsquo;hukuman&amp;rsquo; terhadap Iran serta menerapkan aturan main yang  lebih fair, hal itu tentunya akan mengurangi potensi Iran untuk bermain  mata dengan China maupun dengan negara lainnya. Pun demikian, jika China  terlalu dalam memaksakan diri masuk ke pusaran Timur Tengah,  dikhawatirkan akan semakin mempengaruhi kualitas hubungan AS-China yang  tengah diuji melalui perang dagang yang turut berimbas pada  naik-turunnya perekonomian global. Meski kedua negara adidaya tersebut  sepakat untuk bertemu dan kembali bernegosiasi di ajang G20 di Jepang  pekan depan, tidak ada jaminan bahwa perang dagang AS-China akan usai  dalam waktu dekat.
Dengan mengalkulasi berbagai skenario dan  kemungkinan tersebut, konflik terbuka AS dengan Iran bukanlah sebuah  pilihan tepat. Selain terlalu prematur dan gegabah, tuduhan bertubi-tubi  AS kepada Iran justru semakin memperpanjang catatan buruk relasi  AS-Iran, dan sekaligus memprovokasi stabilitas keamanan kawasan. AS dan  sekutunya sebaiknya menunggu investigasi independen atas insiden  penyerangan kapal tanker di Teluk Oman. Jika memang ditemukan bukti yang  memadai atas siapa saja pihak yang bertanggung jawab, hendaknya diambil  tindakan tegas sesuai dengan hukum yang berlaku. Bisa saja terdapat  pihak ketiga di balik insiden yang mengambil keuntungan atas eskalasi  konflik AS-Iran, atau kawasan Timur Tengah pada umumnya.
Alangkah baiknya jika tiap pihak yang terlibat menghindari  provokasi lebih lanjut yang justru hanya akan memperkeruh situasi.  Ketertiban dan keamanan kawasan tentunya harus menjadi agenda utama bagi  semua pihak yang tengah berseteru di Timur Tengah.
Oleh: Dave Akbarshah Fikarno Laksono &amp;ndash; Anggota Komisi I DPR RI</content:encoded></item></channel></rss>
