<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kebutuhan Petani saat Kemarau: Pertama Air, Kedua Air, Ketiga Air, Keempat Banyu</title><description>Kelangkaan air di Desa Slangit ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para petani.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/22/525/2069454/kebutuhan-petani-saat-kemarau-pertama-air-kedua-air-ketiga-air-keempat-banyu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/06/22/525/2069454/kebutuhan-petani-saat-kemarau-pertama-air-kedua-air-ketiga-air-keempat-banyu"/><item><title>Kebutuhan Petani saat Kemarau: Pertama Air, Kedua Air, Ketiga Air, Keempat Banyu</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/22/525/2069454/kebutuhan-petani-saat-kemarau-pertama-air-kedua-air-ketiga-air-keempat-banyu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/06/22/525/2069454/kebutuhan-petani-saat-kemarau-pertama-air-kedua-air-ketiga-air-keempat-banyu</guid><pubDate>Sabtu 22 Juni 2019 10:08 WIB</pubDate><dc:creator>Fathnur Rohman</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/21/525/2069454/kebutuhan-petani-saat-kemarau-pertama-air-kedua-air-ketiga-air-keempat-banyu-mWUHtD47Ag.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Petani Cirebon keluhkan ketersediaan air saat kemarau (Foto: Fathnur/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/21/525/2069454/kebutuhan-petani-saat-kemarau-pertama-air-kedua-air-ketiga-air-keempat-banyu-mWUHtD47Ag.jpg</image><title>Petani Cirebon keluhkan ketersediaan air saat kemarau (Foto: Fathnur/Okezone)</title></images><description>CIREBON - Di jalan yang tidak beraspal itu, sang 'Mayor' menepikan sepeda motornya. Sekujur tubuhnya basah bermandikan keringat. Debu kotor bercampur lumpur terlihat menempel pada pakaian lusuh yang ia kenakan.

Saat itu, matahari memang sedang terik-teriknya. Para petani di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, juga sudah mulai beranjak meninggalkan area persawahannya dengan raut wajah yang muram.

Setelah menepikan sepeda motornya, sang 'Mayor' kemudian berjalan menghampiri para petani tersebut. Dari percakapannya, terdengar mereka sedang membicarakan sesuatu yang begitu penting.



Merasa penasaran dengan pembicaraan mereka, Okezone pun mencoba mendatangi sang 'Mayor' dan beberapa petani tersebut. Ketika didekati, sang 'Mayor' yang bernama Sunadi ini bercerita, memasuki musim kemarau seperti sekarang ini, kondisi air pada saluran irigasi di sekitar area persawahannya mulai menyusut, dan terancam mengalami kekeringan.

&quot;Sudah satu bulan setengah, kami kesulitan air. Mas kan tahu, hujan terakhir itu waktu awal-awal bulan puasa. Saya stres kalo kondisi seperti ini. Saya ini ditugaskan Kepala Desa untuk jadi Mayor. Sudah jadi kewajiban saya kalau petani disini pada kebagian air,&quot; ujar Sunadi, saat berbincang dengan Okezone, Kamis (20/6/2019).



Dijelaskan Sunadi, jika para petani di wilayahnya hanya megandalkan sumber air yang dialirkan melalui Waduk Jati Gede. Sunadi mengaku, meskipun sudah beberapa kali mencoba menggali air tanah, namun tetap saja usaha tersebut sia-sia karena tidak ada air yang keluar.

&quot;Sudah coba ngebor, tapi gak ada air yang keluar, &quot; sambungnya.

Akibat kelangkaan air yang dialami oleh wilayahnya, tidak jarang Sunadi menjumpai  para petani yang berselisih, karena berebut sumber mata air.



&quot;Sampai berantem mas gara-gara rebutan air ini. Kalau kondisi seperti ini, untuk mengairi beberapa petak sawah juga tidak cukup, &quot; ujarnya.

Kelangkaan air di Desa Slangit ini menjadi kekhawatiran tersendiri  bagi para petani. Rokim misalnya, ia merasa takut apabila kondisi  tersebut terus berlangsung, maka padi yang ia tanam akan gagal panen.  Disampaikan Rokim, untuk satu petak sawah yang baru ditanami padi,  dirinya harus merogoh kocek hingga mencapai Rp5 juta.

&quot;Kalau dihitung-hitung sih ada sekitar Rp5 juta. Itu untuk satu bau (satu petak sawah),&quot; katanya.

Rokim mengaku, kondisi tanah pada satu petak sawahnya sudah mengalami  retak-retak. Pupuk yang ia tabur pun, menjadi tidak maksimal hasilnya.



&quot;Tuh liat mas, tanah ini saja sudah kaya begini. Mana mungkin pupuk  bisa mempan. Kalau ada air, saya pasti balik modal. Tapi kalau begini  terus, saya cuman bisa elus dada aja deh mas, &quot; terangnya.

Rokim sendiri rela pergi ke sawah pada tengah malam, hanya untuk bisa  mengalirkan air ke sawahnya. Akan tetapi, karena ia terus mengalah,  hingga hari berganti siang pun, air yang didapat Rokim, tidak cukup  untuk mengairi sawahnya.

Potensi Kekeringan di Kabupaten Cirebon



Setelah berbincang dengan Subandi dan Rokim, Okezone mulai menelusuri  apakah kawasan Desa Slangit, termasuk kedalam zona merah kawasan  kekeringan di Kabupaten Cirebon atau tidak.

Menurut Forecaster BMKG Stasiun Jatiwangi, Ahmad Faa Izyn  menjelaskan.  Beberapa kawasan di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten  Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabpuaten Cirebon akan terancam  kekeringan. Daerah-daerah tersebut tidak akan menerima air hujan hingga  bulan Oktober-November mendatang.

&quot;Kabupaten Cirebon, Indramayu dan Majalengka potensi kekeringannya tersebar di sejumlah daerah,&quot; ujarnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan, beberapa wilayah di Kabupaten Cirebon  saat ini sudah mulai mengalami kekeringan. Wilayah tersebut diantaranya  ialah Gegesik, Bunder, Luwung Kencana, Tukmudal, Setu Patok Selatan,  Sindang Laut, Sedong, Wanasaba Kidul, Sindang Jawa, Cangkol, Walahar,  Klangenan,Pen-Pen, Mundu Mesigit, Pamengkang, Cibuluh, Karang Asem,  Kepuh.

&quot;Suhu yang dikatakan masyarakat saat ini sangat panas, merupakan suhu  rata-rata yang ada di wilayah Cirebon dan sekitarnya,&quot; imbuhnya.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BMKG tersebut, wilayah Desa  Slangit yang berada di Kecamatan Klangenan, menjadi salah satu daerah  yang  mengalami kekeringan, sehingga membuat keberadaan air menjadi  langka. Kelangkaan air pun sebenarnya tidak dirasakan oleh para petani  saja. Melainkan masyarakat sekitarnya pun ikut terkena dampaknya.

Sementara itu, dalam menanggulangi kelangkaan air, terutama air  bersih, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon  sendiri, biasanya akan memberikan bantuan berupa air bersih kepada warga  yang terkena dampak kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Dadang Suhendra menyebut,  berdasarkan kajian para ahli, wilayah Kabupaten Cirebon memiliki potensi  bencana yang cukup tinggi termasuk bencana kekeringan. Dampak bencana  kekeringan ini, juga sering mengakibatkan terjadinya kebakaran lahan di  sejumlah titik di Kabupaten Cirebon.

&quot;Tahun kemarin, kita menghabiskan hampir lebih 1,5 juta liter air,&quot; kata Dadang.

Upaya Pemda Kabupaten Cirebon Atasi Kekeringan

Di waktu yang berbeda, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Ali   Efendi mengatakan, saat ini kekeringan sudah melanda sekitar 303  hektare  lahan pertanian. Sedangkan, 1.837 hektare lahan kekeringan  dalam  kategori waspada.

&quot;Kekeringan saat ini sudah melanda 303 hektare lahan pertanian. Itu dalam kategori sedang dan ringan,&quot; jelas Ali.

Ali mengaku, untuk mengantisipasi kelangkaan air, pihaknya akan   melakukan kerja sama dengan dinas terkait, untuk melakukan hilir giling,   atau buka tutup saluran pengairan di Waduk Darma dan Waduk Jati Gede.



&quot;Kita secara nonformal sudah melakukan komunikasi dengan pihak terkait, agar bisa melakukan hilir giling,&quot; ucap dia.

Selain itu, pihaknya juga sudah mengimbau agar para petani di   Kabupaten Cirebon, melakukan penanaman padi lebih awal dari waktu   biasanya. Hal itu dilakukan agar menghindari kelangkaan air seperti   sekarang ini.

&quot;Kami juga mengimbau agar petani menanam padi lebih awal. Kami juga beri bantuan mesin pompa kepada petani,&quot; katanya.

Sementara itu, salah seorang petani di Desa Slangit bernama sama   seperti Sunadi mengatakan, dirinya sama sekali belum pernah mendapat   bantuan apapun dari pemerintah. Ia hanya berharap agar pemerintah bisa   mencarikan solusi pasti untuk menangani kelangkaan air yang terjadi   sekarang ini.

&quot;Bantuan apa aja sih mau. Tapi yang paling utama itu air, kedua air,   ketiga air, dan keempat banyu (air dalam bahasa Cirebon, red). Udah itu   saja, &quot; tandasnya.
</description><content:encoded>CIREBON - Di jalan yang tidak beraspal itu, sang 'Mayor' menepikan sepeda motornya. Sekujur tubuhnya basah bermandikan keringat. Debu kotor bercampur lumpur terlihat menempel pada pakaian lusuh yang ia kenakan.

Saat itu, matahari memang sedang terik-teriknya. Para petani di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, juga sudah mulai beranjak meninggalkan area persawahannya dengan raut wajah yang muram.

Setelah menepikan sepeda motornya, sang 'Mayor' kemudian berjalan menghampiri para petani tersebut. Dari percakapannya, terdengar mereka sedang membicarakan sesuatu yang begitu penting.



Merasa penasaran dengan pembicaraan mereka, Okezone pun mencoba mendatangi sang 'Mayor' dan beberapa petani tersebut. Ketika didekati, sang 'Mayor' yang bernama Sunadi ini bercerita, memasuki musim kemarau seperti sekarang ini, kondisi air pada saluran irigasi di sekitar area persawahannya mulai menyusut, dan terancam mengalami kekeringan.

&quot;Sudah satu bulan setengah, kami kesulitan air. Mas kan tahu, hujan terakhir itu waktu awal-awal bulan puasa. Saya stres kalo kondisi seperti ini. Saya ini ditugaskan Kepala Desa untuk jadi Mayor. Sudah jadi kewajiban saya kalau petani disini pada kebagian air,&quot; ujar Sunadi, saat berbincang dengan Okezone, Kamis (20/6/2019).



Dijelaskan Sunadi, jika para petani di wilayahnya hanya megandalkan sumber air yang dialirkan melalui Waduk Jati Gede. Sunadi mengaku, meskipun sudah beberapa kali mencoba menggali air tanah, namun tetap saja usaha tersebut sia-sia karena tidak ada air yang keluar.

&quot;Sudah coba ngebor, tapi gak ada air yang keluar, &quot; sambungnya.

Akibat kelangkaan air yang dialami oleh wilayahnya, tidak jarang Sunadi menjumpai  para petani yang berselisih, karena berebut sumber mata air.



&quot;Sampai berantem mas gara-gara rebutan air ini. Kalau kondisi seperti ini, untuk mengairi beberapa petak sawah juga tidak cukup, &quot; ujarnya.

Kelangkaan air di Desa Slangit ini menjadi kekhawatiran tersendiri  bagi para petani. Rokim misalnya, ia merasa takut apabila kondisi  tersebut terus berlangsung, maka padi yang ia tanam akan gagal panen.  Disampaikan Rokim, untuk satu petak sawah yang baru ditanami padi,  dirinya harus merogoh kocek hingga mencapai Rp5 juta.

&quot;Kalau dihitung-hitung sih ada sekitar Rp5 juta. Itu untuk satu bau (satu petak sawah),&quot; katanya.

Rokim mengaku, kondisi tanah pada satu petak sawahnya sudah mengalami  retak-retak. Pupuk yang ia tabur pun, menjadi tidak maksimal hasilnya.



&quot;Tuh liat mas, tanah ini saja sudah kaya begini. Mana mungkin pupuk  bisa mempan. Kalau ada air, saya pasti balik modal. Tapi kalau begini  terus, saya cuman bisa elus dada aja deh mas, &quot; terangnya.

Rokim sendiri rela pergi ke sawah pada tengah malam, hanya untuk bisa  mengalirkan air ke sawahnya. Akan tetapi, karena ia terus mengalah,  hingga hari berganti siang pun, air yang didapat Rokim, tidak cukup  untuk mengairi sawahnya.

Potensi Kekeringan di Kabupaten Cirebon



Setelah berbincang dengan Subandi dan Rokim, Okezone mulai menelusuri  apakah kawasan Desa Slangit, termasuk kedalam zona merah kawasan  kekeringan di Kabupaten Cirebon atau tidak.

Menurut Forecaster BMKG Stasiun Jatiwangi, Ahmad Faa Izyn  menjelaskan.  Beberapa kawasan di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten  Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabpuaten Cirebon akan terancam  kekeringan. Daerah-daerah tersebut tidak akan menerima air hujan hingga  bulan Oktober-November mendatang.

&quot;Kabupaten Cirebon, Indramayu dan Majalengka potensi kekeringannya tersebar di sejumlah daerah,&quot; ujarnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan, beberapa wilayah di Kabupaten Cirebon  saat ini sudah mulai mengalami kekeringan. Wilayah tersebut diantaranya  ialah Gegesik, Bunder, Luwung Kencana, Tukmudal, Setu Patok Selatan,  Sindang Laut, Sedong, Wanasaba Kidul, Sindang Jawa, Cangkol, Walahar,  Klangenan,Pen-Pen, Mundu Mesigit, Pamengkang, Cibuluh, Karang Asem,  Kepuh.

&quot;Suhu yang dikatakan masyarakat saat ini sangat panas, merupakan suhu  rata-rata yang ada di wilayah Cirebon dan sekitarnya,&quot; imbuhnya.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BMKG tersebut, wilayah Desa  Slangit yang berada di Kecamatan Klangenan, menjadi salah satu daerah  yang  mengalami kekeringan, sehingga membuat keberadaan air menjadi  langka. Kelangkaan air pun sebenarnya tidak dirasakan oleh para petani  saja. Melainkan masyarakat sekitarnya pun ikut terkena dampaknya.

Sementara itu, dalam menanggulangi kelangkaan air, terutama air  bersih, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon  sendiri, biasanya akan memberikan bantuan berupa air bersih kepada warga  yang terkena dampak kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Dadang Suhendra menyebut,  berdasarkan kajian para ahli, wilayah Kabupaten Cirebon memiliki potensi  bencana yang cukup tinggi termasuk bencana kekeringan. Dampak bencana  kekeringan ini, juga sering mengakibatkan terjadinya kebakaran lahan di  sejumlah titik di Kabupaten Cirebon.

&quot;Tahun kemarin, kita menghabiskan hampir lebih 1,5 juta liter air,&quot; kata Dadang.

Upaya Pemda Kabupaten Cirebon Atasi Kekeringan

Di waktu yang berbeda, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Ali   Efendi mengatakan, saat ini kekeringan sudah melanda sekitar 303  hektare  lahan pertanian. Sedangkan, 1.837 hektare lahan kekeringan  dalam  kategori waspada.

&quot;Kekeringan saat ini sudah melanda 303 hektare lahan pertanian. Itu dalam kategori sedang dan ringan,&quot; jelas Ali.

Ali mengaku, untuk mengantisipasi kelangkaan air, pihaknya akan   melakukan kerja sama dengan dinas terkait, untuk melakukan hilir giling,   atau buka tutup saluran pengairan di Waduk Darma dan Waduk Jati Gede.



&quot;Kita secara nonformal sudah melakukan komunikasi dengan pihak terkait, agar bisa melakukan hilir giling,&quot; ucap dia.

Selain itu, pihaknya juga sudah mengimbau agar para petani di   Kabupaten Cirebon, melakukan penanaman padi lebih awal dari waktu   biasanya. Hal itu dilakukan agar menghindari kelangkaan air seperti   sekarang ini.

&quot;Kami juga mengimbau agar petani menanam padi lebih awal. Kami juga beri bantuan mesin pompa kepada petani,&quot; katanya.

Sementara itu, salah seorang petani di Desa Slangit bernama sama   seperti Sunadi mengatakan, dirinya sama sekali belum pernah mendapat   bantuan apapun dari pemerintah. Ia hanya berharap agar pemerintah bisa   mencarikan solusi pasti untuk menangani kelangkaan air yang terjadi   sekarang ini.

&quot;Bantuan apa aja sih mau. Tapi yang paling utama itu air, kedua air,   ketiga air, dan keempat banyu (air dalam bahasa Cirebon, red). Udah itu   saja, &quot; tandasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
