<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bisakah Sengketa Pilpres Indonesia Dibawa ke Mahkamah Internasional?</title><description>Sejumlah pihak berpikir membawa sengketa Pilpres 2019 ke Mahkamah Internasional usai putusan MK yang menolak gugatan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/28/605/2072388/bisakah-sengketa-pilpres-indonesia-dibawa-ke-mahkamah-internasional</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/06/28/605/2072388/bisakah-sengketa-pilpres-indonesia-dibawa-ke-mahkamah-internasional"/><item><title>Bisakah Sengketa Pilpres Indonesia Dibawa ke Mahkamah Internasional?</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/28/605/2072388/bisakah-sengketa-pilpres-indonesia-dibawa-ke-mahkamah-internasional</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/06/28/605/2072388/bisakah-sengketa-pilpres-indonesia-dibawa-ke-mahkamah-internasional</guid><pubDate>Jum'at 28 Juni 2019 23:15 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/28/605/2072388/bisakah-sengketa-pilpres-indonesia-dibawa-ke-mahkamah-internasional-r1aDMXhS47.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tim Hukum Prabowo-Sandi di sidang MK. (Foto: Heru Haryono/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/28/605/2072388/bisakah-sengketa-pilpres-indonesia-dibawa-ke-mahkamah-internasional-r1aDMXhS47.jpg</image><title>Tim Hukum Prabowo-Sandi di sidang MK. (Foto: Heru Haryono/Okezone)</title></images><description>SESUDAH Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menolak permohonan pasangan calon presiden-wakil presiden 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno terkait gugatan hasil Pilpres 2019, salah satu wacana yang berkembang adalah membawa perkara ini ke Mahkamah Internasional.
Gagasan ini dilontarkan oleh mantan penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang juga koordinator lapangan Gerakan Nasional Kedalatan Rakyat, Abdullah Hehamahua.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun BBC News Indonesia, Jumat (28/6/2019), Hehamahua mengatakan bahwa pihaknya akan melaporkan sistem penghitungan atau Sistem Informasi Penghitungan Suara Komisi Pemilihan Umum (Situng KPU) ke Mahakamah Internasional.
Hehamahua menyatakan pelaporan ini dilakukan karena Mahkamah Internasional bisa melakukan audit forensik terhadap IT KPU untuk melihat bagaimana kecurangan-kecurangan Situng.

Mahkamah Internasional
 
BBC News Indonesia bertanya kepada ahli hukum internasional di Chatham House, London, Agantaranansa Juanda, mengenai kemungkinan sengketa pemilu dibawa ke Mahkamah Internasional.
Menurut Agantaranansa, yang biasa dipanggil Agan, jika yang dimaksud Mahkamah Internasional atau International Court of Justice (ICJ), maka hal itu tidak bisa dilakukan. Ini disebabkan karena ICJ hanya punya dua yuridiksi atau kewenangan hukum.
Pertama, memutus sengketa antarnegara, dengan kata lain pemohon harus bertindak atas pemerintah suatu negara; dan kedua, nasihat hukum terhadap organisasi internasional atau organ-organ PBB.
&quot;Sifat sengketa itu harus lintas negara atau cross border, seperti misalnya sengketa Sipadan-Ligitan karena terkait klaim teritori sah antara Indonesia dengan Malaysia. Sengketa pemilu itu masalah internal satu negara, maka tidak bisa dibawa ke ICJ,&quot; kata Agan.
Mahkamah yang bersidang di Den Haag, Belanda, ini beranggotakan 15 hakim yang menjabat selama sembilan tahun dan dipilih oleh Majelis Umum serta Dewan Keamanan PBB.
ICJ hanya menerima perkara-perkara yang bersifat lintas negara, dan itu pun pengajuan perkara ke mahkamah ini pun harus disepakati oleh kedua negara yang bersengketa.Mahkamah Pidana Internasional
 
Pemilihan umum merupakan proses internal suatu negara, dan tidak bersifat lintas negara.
&quot;Internasionalisasinya mungkin saja, seperti yang pernah terjadi dengan pemilu di Kenya, tapi itu konteksnya kekerasan yang terjadi sesudah pemilu, maka kasusnya adalah kejahatan internasional dan yurisdiksinya ada di ICC atau International Criminal Court,&quot; jelas Agan.
Sengketa pemilu di Indonesia juga tidak bisa dibawa ke ICC atau Mahkamah Pidana Internasional, kata Agan, terutama karena Indonesia bukan merupakan anggota ICC.
&quot;Walaupun sebenarnya akan lebih baik kalau Indonesia untuk menjadi anggota ICC untuk alasan kemanusian,&quot; ujar Agan.

Keliru Pikir
 
ICC sendiri merupakan lembaga pengadilan internasional yang mengadili kejahatan kemanusiaan, atau yang disebut di Indonesia sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat.
Menurut pakar hukum internasional Hikmahanto Juwana, ada empat perkara yang bisa diajukan ke ICC, yaitu kejahatan kemanusiaan, genosida, kejahatan perang, dan kejahatan perang agresi.
&quot;Sekalipun yang diadili adalah di ICC adalah individu, tetapi individu ini harus merupakan pelaku kejahatan internasional,&quot; kata Hikmahanto.
Menurut kedua pakar hukum ini, ada masalah &quot;kekeliruan berpikir&quot; bahwa Mahkamah Internasional merupakan upaya hukum lanjutan dari proses hukum di MK ataupun di Mahkamah Agung (MA).
&quot;Pemahaman masyarakat akan hukum internasional masih minim sekali. Lalu ini menjadi bola salju karena orang-orang yang dianggap publik sebagai tokoh atau panutan juga mengajak untuk salah berpikir,&quot; ucapnya.</description><content:encoded>SESUDAH Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menolak permohonan pasangan calon presiden-wakil presiden 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno terkait gugatan hasil Pilpres 2019, salah satu wacana yang berkembang adalah membawa perkara ini ke Mahkamah Internasional.
Gagasan ini dilontarkan oleh mantan penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang juga koordinator lapangan Gerakan Nasional Kedalatan Rakyat, Abdullah Hehamahua.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun BBC News Indonesia, Jumat (28/6/2019), Hehamahua mengatakan bahwa pihaknya akan melaporkan sistem penghitungan atau Sistem Informasi Penghitungan Suara Komisi Pemilihan Umum (Situng KPU) ke Mahakamah Internasional.
Hehamahua menyatakan pelaporan ini dilakukan karena Mahkamah Internasional bisa melakukan audit forensik terhadap IT KPU untuk melihat bagaimana kecurangan-kecurangan Situng.

Mahkamah Internasional
 
BBC News Indonesia bertanya kepada ahli hukum internasional di Chatham House, London, Agantaranansa Juanda, mengenai kemungkinan sengketa pemilu dibawa ke Mahkamah Internasional.
Menurut Agantaranansa, yang biasa dipanggil Agan, jika yang dimaksud Mahkamah Internasional atau International Court of Justice (ICJ), maka hal itu tidak bisa dilakukan. Ini disebabkan karena ICJ hanya punya dua yuridiksi atau kewenangan hukum.
Pertama, memutus sengketa antarnegara, dengan kata lain pemohon harus bertindak atas pemerintah suatu negara; dan kedua, nasihat hukum terhadap organisasi internasional atau organ-organ PBB.
&quot;Sifat sengketa itu harus lintas negara atau cross border, seperti misalnya sengketa Sipadan-Ligitan karena terkait klaim teritori sah antara Indonesia dengan Malaysia. Sengketa pemilu itu masalah internal satu negara, maka tidak bisa dibawa ke ICJ,&quot; kata Agan.
Mahkamah yang bersidang di Den Haag, Belanda, ini beranggotakan 15 hakim yang menjabat selama sembilan tahun dan dipilih oleh Majelis Umum serta Dewan Keamanan PBB.
ICJ hanya menerima perkara-perkara yang bersifat lintas negara, dan itu pun pengajuan perkara ke mahkamah ini pun harus disepakati oleh kedua negara yang bersengketa.Mahkamah Pidana Internasional
 
Pemilihan umum merupakan proses internal suatu negara, dan tidak bersifat lintas negara.
&quot;Internasionalisasinya mungkin saja, seperti yang pernah terjadi dengan pemilu di Kenya, tapi itu konteksnya kekerasan yang terjadi sesudah pemilu, maka kasusnya adalah kejahatan internasional dan yurisdiksinya ada di ICC atau International Criminal Court,&quot; jelas Agan.
Sengketa pemilu di Indonesia juga tidak bisa dibawa ke ICC atau Mahkamah Pidana Internasional, kata Agan, terutama karena Indonesia bukan merupakan anggota ICC.
&quot;Walaupun sebenarnya akan lebih baik kalau Indonesia untuk menjadi anggota ICC untuk alasan kemanusian,&quot; ujar Agan.

Keliru Pikir
 
ICC sendiri merupakan lembaga pengadilan internasional yang mengadili kejahatan kemanusiaan, atau yang disebut di Indonesia sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat.
Menurut pakar hukum internasional Hikmahanto Juwana, ada empat perkara yang bisa diajukan ke ICC, yaitu kejahatan kemanusiaan, genosida, kejahatan perang, dan kejahatan perang agresi.
&quot;Sekalipun yang diadili adalah di ICC adalah individu, tetapi individu ini harus merupakan pelaku kejahatan internasional,&quot; kata Hikmahanto.
Menurut kedua pakar hukum ini, ada masalah &quot;kekeliruan berpikir&quot; bahwa Mahkamah Internasional merupakan upaya hukum lanjutan dari proses hukum di MK ataupun di Mahkamah Agung (MA).
&quot;Pemahaman masyarakat akan hukum internasional masih minim sekali. Lalu ini menjadi bola salju karena orang-orang yang dianggap publik sebagai tokoh atau panutan juga mengajak untuk salah berpikir,&quot; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
