<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Puber Politik, Apa Itu?</title><description>Saat ini muncul fenomena puber politik. Setiap orang mendadak peduli dan merespons semua hal tentang politik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/29/337/2072231/puber-politik-apa-itu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/06/29/337/2072231/puber-politik-apa-itu"/><item><title>Puber Politik, Apa Itu?</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/29/337/2072231/puber-politik-apa-itu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/06/29/337/2072231/puber-politik-apa-itu</guid><pubDate>Sabtu 29 Juni 2019 09:00 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Budi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/28/337/2072231/puber-politik-apa-itu-lzSg1FiLAp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi pemilihan umum. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/28/337/2072231/puber-politik-apa-itu-lzSg1FiLAp.jpg</image><title>Ilustrasi pemilihan umum. (Foto: Okezone)</title></images><description>SEMARANG &amp;ndash; Diskusi seputar politik hingga jagoan calon presiden tidak hanya ramai di kalangan politikus. Warung-warung kopi, angkringan, sampai media sosial tak kalah heboh menjadi tempat yang seru untuk memperdebatkan tudingan pemilu curang.
Bukan barang tabu lagi untuk bicara politik, terlebih stasiun televisi juga kerap menyiarkan debat seru seputar politik secara langsung. Aksi adu argumentasi dan perang kata-kata menjadi tontonan menarik bagi warga, tentu sekaligus belajar menjadi politisi secara gratis, bahkan instan.
(Baca juga: Sah! MK Tolak Seluruh Gugatan Prabowo-Sandi)
 
Berbekal penggalan informasi itu, hampir semua kalangan seolah memasuki masa puber politik menjadi politikus dadakan. Tanpa canggung, diskusi di pos ronda maupun pangkalan ojek tidak luput dari materi politik. Sebagaimana di layar televisi, warga juga juga turut keukeuh mempertahankan argumentasi demi membela jagoannya.

&quot;Sebetulnya kalau dilihat dari penggunaan istilah yang dikenal dalam ilmu politik, itu kan istilah awam. Ada puber politik, kemudian gagap politik, itu sebetulnya istilah-istilah yang memang berkembang di masyarakat dan itu memperkaya istilah-istilah dalam ilmu politik,&quot; ujar pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip), Teguh Yuwono, Kamis 27 Juni 2019.
(Baca juga: Jokowi: Proses Pemilu Jadi Pembelajaran dan Pendewasaan Demokrasi Indonesia)
 
&quot;Sebetulnya dalam konsep dasar ilmu politik, istilah itu tidak dikenal. Kalau kita bicara puber politik di mana orang intens melakukan proses penilaian, proses pengaktifan terhadap kegiatan-kegiatan politik, itu sebetulnya momentum. Kenapa momentum, karena di dalam politik itu eskalasi naik-turun,&quot; terangnya.Menurut Teguh, eskalasi politik cenderung meningkat setiap hajatan pesta demokrasi digelar. Mulai dari proses pemilihan kepala desa, pemilihan kepala daerah, hingga pemilihan presiden akan menarik perhatian warga. Bahkan, mereka juga melibatkan perasaan atau emosial untuk menyatakan dukungan politik.
&quot;Jadi ada siklus. Di dalam ilmu politik ketika terjadi proses kompetisi pasti akan terjadi eskalasi politik yang naik. Misalnya menjelang pemilu apalagi pemilu presiden yang semua orang membicarakan, tapi kalau kita bicara pemilu legislatif tidak separah ini (kondisi sekarang) tidak seintens ini. Kenapa begitu, karena mereka tidak melibatkan secara emosional di dalam proses politik,&quot; jelas dia.
(Baca juga: Hakim MK Satu Suara Tolak Gugatan Prabowo)
 
&quot;Tapi kalau bicara dukungan terhadap calon presiden 01 atau 02 mereka tidak hanya pakai logika tapi juga punya perasaan, pakai segenap jiwa dan raga. Nah ini sebetulnya militan, ini bagus, sepanjang itu didesain dalam kerangka konteks politik yang proporsional,&quot; terangnya lagi.

Teguh menyampaikan bahwa fenomena puber politik juga merambah negara-negara lain ketika menggelar pesta demokrasi. Istilah baru ini dinilai semakin memperkaya khasanah ilmu politik, sekaligus menjadi edukasi bagi masyarakat. Dengan catatan, tetap berada pada koridor yang benar.
(Baca juga: Hakim MK Perlu Waktu 8,5 Jam Bacakan Putuskan Sengketa Pilpres 2019)
 
&quot;Puber politik kalau substansi itu bukan hal yang baru. Di mana-mana begitu, di banyak daerah begitu, di banyak negara juga begitu. Yang baru barangkali istilahnya. Jadi saya kira ini istilah-istilah yang sensi juga. Saya kira dipakai bagus untuk menambah wacana pengetahuan istilah di dalam ilmu politik, sehingga ilmu ini berkembang,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>SEMARANG &amp;ndash; Diskusi seputar politik hingga jagoan calon presiden tidak hanya ramai di kalangan politikus. Warung-warung kopi, angkringan, sampai media sosial tak kalah heboh menjadi tempat yang seru untuk memperdebatkan tudingan pemilu curang.
Bukan barang tabu lagi untuk bicara politik, terlebih stasiun televisi juga kerap menyiarkan debat seru seputar politik secara langsung. Aksi adu argumentasi dan perang kata-kata menjadi tontonan menarik bagi warga, tentu sekaligus belajar menjadi politisi secara gratis, bahkan instan.
(Baca juga: Sah! MK Tolak Seluruh Gugatan Prabowo-Sandi)
 
Berbekal penggalan informasi itu, hampir semua kalangan seolah memasuki masa puber politik menjadi politikus dadakan. Tanpa canggung, diskusi di pos ronda maupun pangkalan ojek tidak luput dari materi politik. Sebagaimana di layar televisi, warga juga juga turut keukeuh mempertahankan argumentasi demi membela jagoannya.

&quot;Sebetulnya kalau dilihat dari penggunaan istilah yang dikenal dalam ilmu politik, itu kan istilah awam. Ada puber politik, kemudian gagap politik, itu sebetulnya istilah-istilah yang memang berkembang di masyarakat dan itu memperkaya istilah-istilah dalam ilmu politik,&quot; ujar pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip), Teguh Yuwono, Kamis 27 Juni 2019.
(Baca juga: Jokowi: Proses Pemilu Jadi Pembelajaran dan Pendewasaan Demokrasi Indonesia)
 
&quot;Sebetulnya dalam konsep dasar ilmu politik, istilah itu tidak dikenal. Kalau kita bicara puber politik di mana orang intens melakukan proses penilaian, proses pengaktifan terhadap kegiatan-kegiatan politik, itu sebetulnya momentum. Kenapa momentum, karena di dalam politik itu eskalasi naik-turun,&quot; terangnya.Menurut Teguh, eskalasi politik cenderung meningkat setiap hajatan pesta demokrasi digelar. Mulai dari proses pemilihan kepala desa, pemilihan kepala daerah, hingga pemilihan presiden akan menarik perhatian warga. Bahkan, mereka juga melibatkan perasaan atau emosial untuk menyatakan dukungan politik.
&quot;Jadi ada siklus. Di dalam ilmu politik ketika terjadi proses kompetisi pasti akan terjadi eskalasi politik yang naik. Misalnya menjelang pemilu apalagi pemilu presiden yang semua orang membicarakan, tapi kalau kita bicara pemilu legislatif tidak separah ini (kondisi sekarang) tidak seintens ini. Kenapa begitu, karena mereka tidak melibatkan secara emosional di dalam proses politik,&quot; jelas dia.
(Baca juga: Hakim MK Satu Suara Tolak Gugatan Prabowo)
 
&quot;Tapi kalau bicara dukungan terhadap calon presiden 01 atau 02 mereka tidak hanya pakai logika tapi juga punya perasaan, pakai segenap jiwa dan raga. Nah ini sebetulnya militan, ini bagus, sepanjang itu didesain dalam kerangka konteks politik yang proporsional,&quot; terangnya lagi.

Teguh menyampaikan bahwa fenomena puber politik juga merambah negara-negara lain ketika menggelar pesta demokrasi. Istilah baru ini dinilai semakin memperkaya khasanah ilmu politik, sekaligus menjadi edukasi bagi masyarakat. Dengan catatan, tetap berada pada koridor yang benar.
(Baca juga: Hakim MK Perlu Waktu 8,5 Jam Bacakan Putuskan Sengketa Pilpres 2019)
 
&quot;Puber politik kalau substansi itu bukan hal yang baru. Di mana-mana begitu, di banyak daerah begitu, di banyak negara juga begitu. Yang baru barangkali istilahnya. Jadi saya kira ini istilah-istilah yang sensi juga. Saya kira dipakai bagus untuk menambah wacana pengetahuan istilah di dalam ilmu politik, sehingga ilmu ini berkembang,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
