<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Puber Politik Jangan Selalu Dimaknai Negatif</title><description>Pengamat mengajak semua pihak tidak selalu menganggap puber politik sebagai sesuatu yang selalu negatif, karena ada juga positifnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/29/337/2072313/puber-politik-jangan-selalu-dimaknai-negatif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/06/29/337/2072313/puber-politik-jangan-selalu-dimaknai-negatif"/><item><title>Puber Politik Jangan Selalu Dimaknai Negatif</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/06/29/337/2072313/puber-politik-jangan-selalu-dimaknai-negatif</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/06/29/337/2072313/puber-politik-jangan-selalu-dimaknai-negatif</guid><pubDate>Sabtu 29 Juni 2019 13:00 WIB</pubDate><dc:creator>Fahreza Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/28/337/2072313/puber-politik-jangan-selalu-dimaknai-negatif-x4iJ9hcbgn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi bendera partai politik. (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/28/337/2072313/puber-politik-jangan-selalu-dimaknai-negatif-x4iJ9hcbgn.jpg</image><title>Ilustrasi bendera partai politik. (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Isu-isu politik kini dinikmati semua lapisan masyarakat, dimulai kalangan bawah hingga atas. Tak ayal, pembicaraan mengenai politik kini mudah dijumpai di berbagai grup percakapan WhatsaApp sampai warung kopi.
Ketertarikan masyarakat terhadap isu politik seolah meningkat seiring tingginya partisipasi di pemilihan umum. Namun, tingginya partisipasi dan ketertarikan itu tidak dibarengi penggunaan akal sehat sehingga menimbulkan fanatisme buta.
Berbagai fenomena yang menyesakkan dada turut mewarnai kondisi sosial-politik di Tanah Air. Misalnya saja gara-gara beda pilihan politik tega menyuruh saudaranya memindahkan makam. Ada pula yang tidak tegur sapa lantaran beda pilihan.

Nuansa emosional dan tidak mampu menerima perbedaan pilihan acap kali mewarnai kondisi masyarakat kini. Fase tersebut menunjukkan betapa hasrat mampu mengalahkan akal sehat. Pertikaian pun kian meruncing di antara sesama masyarakat. Meminjam istilah komedian Pandji Pragiwaksono, fenomena ini disebut &quot;puber politik&quot;.
Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, mengatakan puber politik tidak dikenal dalam literatur ilmu politik. Namun jika merujuk pada ilmu anatomi tubuh, maka puber itu berubahnya fungsi fisik, psikis, dan organ lainnya.
&quot;Dalam kacamata politik, puber politik bisa dimaknai terjadinya perubahan pola pikir elite politik dan masyarakat secara tidak sengaja,&quot; kata Ujang ketika berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.
Ia menuturkan, ketika era Orde Baru (Orba), elite politik dan masyarakat lebih banyak diam karena dominannya Soeharto kala itu. Saat ini elite dan masyarakat bisa berbicara seenaknya hingga banyak menimbulkan kegaduhan. Kendati demikian, kebebasan tersebut tidak diiringi dengan perubahan pikir serta menimbulkan masalah baru.

&quot;Elite dan masyarakat belum siap dan matang dalam berdemokrasi, sehingga yang muncul yaitu polarisasi dan pembelahan di elite dan masyarakat,&quot; terang Ujang.
Puber politik juga paling tidak dimaknai sebagai perubahan cara pandang para politikus dan masyarakat dalam menyikapi situasi politik. Orang yang puber itu pada umumnya sudah akil balig atau sudah dewasa. Jadi, harus dewasa pula dalam menghadapi kontestasi politik.
&quot;Puber politik jangan dimaknai negatif, tapi harus dimaknai positif. Puber politik itu untuk melihat seberapa besar elite dan masyarakat dewasa dalam melihat perbedaan politik, sehingga politik dilihat dan dirasakan sebagai pengabdian, bukan saling menjatuhkan, apalagi saling menafikan,&quot; jelas Ujang.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Isu-isu politik kini dinikmati semua lapisan masyarakat, dimulai kalangan bawah hingga atas. Tak ayal, pembicaraan mengenai politik kini mudah dijumpai di berbagai grup percakapan WhatsaApp sampai warung kopi.
Ketertarikan masyarakat terhadap isu politik seolah meningkat seiring tingginya partisipasi di pemilihan umum. Namun, tingginya partisipasi dan ketertarikan itu tidak dibarengi penggunaan akal sehat sehingga menimbulkan fanatisme buta.
Berbagai fenomena yang menyesakkan dada turut mewarnai kondisi sosial-politik di Tanah Air. Misalnya saja gara-gara beda pilihan politik tega menyuruh saudaranya memindahkan makam. Ada pula yang tidak tegur sapa lantaran beda pilihan.

Nuansa emosional dan tidak mampu menerima perbedaan pilihan acap kali mewarnai kondisi masyarakat kini. Fase tersebut menunjukkan betapa hasrat mampu mengalahkan akal sehat. Pertikaian pun kian meruncing di antara sesama masyarakat. Meminjam istilah komedian Pandji Pragiwaksono, fenomena ini disebut &quot;puber politik&quot;.
Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, mengatakan puber politik tidak dikenal dalam literatur ilmu politik. Namun jika merujuk pada ilmu anatomi tubuh, maka puber itu berubahnya fungsi fisik, psikis, dan organ lainnya.
&quot;Dalam kacamata politik, puber politik bisa dimaknai terjadinya perubahan pola pikir elite politik dan masyarakat secara tidak sengaja,&quot; kata Ujang ketika berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.
Ia menuturkan, ketika era Orde Baru (Orba), elite politik dan masyarakat lebih banyak diam karena dominannya Soeharto kala itu. Saat ini elite dan masyarakat bisa berbicara seenaknya hingga banyak menimbulkan kegaduhan. Kendati demikian, kebebasan tersebut tidak diiringi dengan perubahan pikir serta menimbulkan masalah baru.

&quot;Elite dan masyarakat belum siap dan matang dalam berdemokrasi, sehingga yang muncul yaitu polarisasi dan pembelahan di elite dan masyarakat,&quot; terang Ujang.
Puber politik juga paling tidak dimaknai sebagai perubahan cara pandang para politikus dan masyarakat dalam menyikapi situasi politik. Orang yang puber itu pada umumnya sudah akil balig atau sudah dewasa. Jadi, harus dewasa pula dalam menghadapi kontestasi politik.
&quot;Puber politik jangan dimaknai negatif, tapi harus dimaknai positif. Puber politik itu untuk melihat seberapa besar elite dan masyarakat dewasa dalam melihat perbedaan politik, sehingga politik dilihat dan dirasakan sebagai pengabdian, bukan saling menjatuhkan, apalagi saling menafikan,&quot; jelas Ujang.</content:encoded></item></channel></rss>
