<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pemimpinnya Ditangkap, Inikah Akhir Jamaah Islamiyah di Indonesia?</title><description>Inikah akhir Jamaah Islamiyah di Indonesia?</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/03/337/2074068/pemimpinnya-ditangkap-inikah-akhir-jamaah-islamiyah-di-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/07/03/337/2074068/pemimpinnya-ditangkap-inikah-akhir-jamaah-islamiyah-di-indonesia"/><item><title>Pemimpinnya Ditangkap, Inikah Akhir Jamaah Islamiyah di Indonesia?</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/03/337/2074068/pemimpinnya-ditangkap-inikah-akhir-jamaah-islamiyah-di-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/07/03/337/2074068/pemimpinnya-ditangkap-inikah-akhir-jamaah-islamiyah-di-indonesia</guid><pubDate>Rabu 03 Juli 2019 12:52 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/03/337/2074068/pemimpinnya-ditangkap-inikah-akhir-jamaah-islamiyah-di-indonesia-Czprq8LbJI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Polisi memperlihatkan foto Para Wijayanto. (Foto: AFP/Getty Images)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/03/337/2074068/pemimpinnya-ditangkap-inikah-akhir-jamaah-islamiyah-di-indonesia-Czprq8LbJI.jpg</image><title>Polisi memperlihatkan foto Para Wijayanto. (Foto: AFP/Getty Images)</title></images><description>KEPOLISIAN menangkap seorang pria bernama Para Wijayanto yang disebut sebagai pemimpin Jamaah Islamiyah (JI).
Para Wijayanto dibekuk bersama istrinya, MY (47), di Hotel Adaya, Jalan Kranggan, Jati Sampurna, Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu (29/6), pukul 06.12 WIB.
Adapun tiga pria yang disebut sebagai orang kepercayaan Para Wijayanto ditangkap di lokasi berbeda.
Polisi menyatakan Para Wijayanto yang menjadi buronan sejak 2008 silam merupakan pemimpin JI setelah kelompok itu dilarang keberadaannya pada 2007. Di bawah kepemimpinan Para, JI disebut telah mengirim sejumlah pemuda berlatih militer ke Suriah.
Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, menilai penangkapan Para Wijayanto dan sejumlah orang kepercayaannya bukan akhir dari organisasi yang berafiliasi dengan jaringan teroris internasional, Al-Qaeda.
&quot;Kalau satu atau dua orang ditangkap walaupun orang yang paling senior, tidak berarti organisasi akan mati,&quot; katanya kepada wartawan Muhammad Irham yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (02/07).
Di bawah kepemimpinan Para Wijayanto, kata Sidney, JI lebih fokus pada dakwah, pendidikan, dan rekrutmen anggota baru.
Menurutnya, JI menghindari aksi kekerasan yang dapat mengakibatkan penangkapan massal anggotanya terutama pascabom Bali. Tujuannya untuk membangkitkan kembali organisasi suatu saat nanti.
&quot;Jadi mereka memutuskan untuk sementara, kekerasan di Indonesia adalah sesuatu yang harus dihindari,&quot; kata Sidney.

Adakah perbedaan antara JI dan ISIS?
Menurut Sidney, jaringan ISIS lebih berbahaya untuk jangka pendek. Para pendukung ISIS bisa sewaktu-waktu melakukan aksi teror.
Namun, tambahnya, JI lebih mengkhawatirkan dalam jangka panjang. Organisasi ini memiliki strategi perencanaan hingga 25 tahun ke depan untuk mendirikan negara Islam.
&quot;Suatu saat nanti JI bisa memutuskan bahwa memang sudah waktunya untuk melakukan kekerasan lagi. Kalau kekerasan bisa menolong mereka mendirikan satu negara Islam di Indonesia,&quot; kata Sidney.
Hal yang paling dikhawatirkan dari JI, lanjut Sidney, ketika pengikutnya tak lagi sejalan dengan para pemimpin dan memilih untuk membuat organisasi sempalan.
&quot;Masih ada bahaya dari sel-sel ISIS yang tidak ada hubungan dengan JI. Mungkin juga dari kelompok muda dari JI sendiri yang lebih bahaya dari Para Wijayanto,&quot; katanya.
Analisis Sidney Jones dikuatkan mantan anggota jaringan teroris yang berafiliasi dengan JI, Sofyan Tsauri.
Menurut Sofyan, pergerakan JI akan selalu berada 'di bawah tanah'.
&quot;Para anggotanya banyak, ikut ormas yang lain. Tapi mereka punya induk daripada jamaah mereka, dan itu tak akan pernah mati,&quot; katanya saat dihubungi BBC News Indonesia, Selasa (02/07).
Sofyan memperkirakan pascapenangkapan Para Wijayanto, JI akan segera mencari pemimpin baru. Salah satu syarat menjadi pemimpin JI, kata Sofyan, adalah memiliki kemampuan militer dan intelijen.Hal ini sudah dilakukan selama Para Wijayanto mengirimkan anggotanya  untuk berlatih militer di Suriah hingga enam kali sejak 2013 hingga 2018  lalu.
&quot;Tentu akan ada Amir (pemimpin) lagi yang baru. Begitu memang dibuatnya,&quot; katanya.
Sofyan melanjutkan, eksistensi JI baru akan muncul ketika situasi di suatu wilayah atau negara sedang konflik besar.
Ketika negara tidak berkonflik, JI lebih beraktivitas untuk melakukan  perekrutan dan dakwah. &quot;Sampai pengaderan besar, ketika kekuasaannya  sudah terukur, baru dia memproklamirkan,&quot; katanya.
&quot;JI ini jihad tamkin (jihad mengambil kekuasaan dan pemerintahan),  bukan jihad nikayah (jihad dilakukan kapan saja untuk menunjukkan  eksistensi),&quot; imbuh Sofyan.
Siapa Para Wijayanto dan bagaimana sepak terjangnya?
Dari keterangan polisi, Para Wijayanto alias Abang alias Aji Pangestu  alias Abu Askari alias Ahmad Arief alias Ahmad Fauzi Utomo sudah  menjadi buronan sejak 2008.
Lelaki kelahiran Subang, Jawa Barat, ini merupakan lulusan S-1 teknik  sipil di salah satu universitas ternama di Jawa Tengah. Ia juga  merupakan alumni dari pelatihan militer di Moro, Filipina, Angkatan III  tahun 2000.
&quot;Kemampuan merakit bom dia miliki dengan kelompok Noordin M. Top,&quot;  kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi  Prasetyo.
Para Wijayanto, sebagaimana dipaparkan Dedi, berperan mengendalikan  aktivitas organisasi termasuk logistik dan pembentukan pasukan khusus  yang dipimpin oleh terduga teroris berinisial K yang ditangkap pada Mei  2019 lalu.
Selain itu, Para Wijayanto disebut mengetahui dan menyetujui  pemberangkatan rekrutan JI ke Suriah. Mereka belajar militer dan perang  dengan organisasi Al-Qaeda.
Pemberangkatan anggota JI ini ditengarai telah dilakukan sebanyak  enam gelombang sejak 2013 hingga 2018. Sebagian besar telah kembali ke  Indonesia.
&quot;Mereka yang kembali ke Indonesia dan ditangkap pada bulan Mei 2019  rata-rata mempunyai kemampuan intelijen, militer secara khusus termasuk  pembuatan bom, roket dan sniper,&quot; ujar Dedi.Para Wijayanto disebut-sebut turut menyelenggarakan kegiatan perbantuan aksi terorisme internasional di bawah bendera Al-Qaeda.
&quot;Serta menjalin komunikasi dengan jaringan teroris regional   (Filipina) dan teroris internasional (Al-Qaeda) sejak 2008,&quot; jelas Dedi.
Dari penelusuran polisi, Para Wijayanto diduga memiliki usaha perkebunan sawit di Kalimantan dan Sumatera.
Brigjen Dedi Prasetyo, mengatakan perkebunan sawit itu untuk   membiayai organisasi JI. Dari usaha itu, menurut Dedi, anak buah Para   digaji dengan upah Rp10 juta hingga Rp15 juta.
Mantan anggota jaringan teroris yang berafiliasi dengan JI, Sofyan Tsauri, meyakini usaha sawit tersebut bukan milik pribadi.
Kata Sofyan, usaha yang dibangun untuk operasional JI ini merupakan hasil infaq atau sumbangan sukarela para anggotanya.
&quot;Bisa jadi usaha yang memang jamaah menitipkan dana-dana tersebut.   Atau uang jamaah dikelola secara baik, sehingga dia tidak lagi membebani   jamaah, tapi bagaimana dia bisa survive,&quot; tambah Sofyan.
Selain menangkap Para Wijayanto, kepolisian juga menangkap empat   orang lainnya yang bergabung dengan JI dalam waktu dua hari   berturut-turut, 29 - 30 Juni lalu.
Mereka adalah MY (istri Para Wijayanto) yang diduga terlibat menyembunyikan Para Wijayanto selama menjadi buronan.
Polisi juga menangkap BS alias Sadam alias Edi yang diduga berperan   sebagai kurir sekaligus pengawal dan sopir Para Wijayanto. BS ditangkap   juga karena dituduh menyembunyikan informasi tentang Para Wijayanto   selama menjadi buronan.
Tuduhan yang sama juga dilayangkan kepada A yang ditangkap di kawasan Bekasi, Jawa Barat, Minggu (30/06).
Polisi juga menangkap BT alias Haidar alias Denis alias Gani, tangan   kanan Para Wijayanto. BT diduga berperan sebagai penasehat sekaligus   asisten Para Wijayanto. Ia diduga pernah ikut aktif dalam sebuah   pertemuan di Bandung dan Sragen, Jawa Tengah, yang membahas laporan   kendala-kendala JI dan strateginya.
Pada 2007 Jamaah Islamiyah dibubarkan Pengadilan Negeri Jakarta   Selatan. Organisasi yang didirikan oleh Abu Bakar Baasyir dan Abdullah   Sungkar dinyatakan sebagai bagian jaringan teroris.
JI juga diyakini sebagai organisasi induk yang berada di balik kasus Bom Bali I dan II, dan Bom Kedutaan Besar Australia.</description><content:encoded>KEPOLISIAN menangkap seorang pria bernama Para Wijayanto yang disebut sebagai pemimpin Jamaah Islamiyah (JI).
Para Wijayanto dibekuk bersama istrinya, MY (47), di Hotel Adaya, Jalan Kranggan, Jati Sampurna, Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu (29/6), pukul 06.12 WIB.
Adapun tiga pria yang disebut sebagai orang kepercayaan Para Wijayanto ditangkap di lokasi berbeda.
Polisi menyatakan Para Wijayanto yang menjadi buronan sejak 2008 silam merupakan pemimpin JI setelah kelompok itu dilarang keberadaannya pada 2007. Di bawah kepemimpinan Para, JI disebut telah mengirim sejumlah pemuda berlatih militer ke Suriah.
Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, menilai penangkapan Para Wijayanto dan sejumlah orang kepercayaannya bukan akhir dari organisasi yang berafiliasi dengan jaringan teroris internasional, Al-Qaeda.
&quot;Kalau satu atau dua orang ditangkap walaupun orang yang paling senior, tidak berarti organisasi akan mati,&quot; katanya kepada wartawan Muhammad Irham yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (02/07).
Di bawah kepemimpinan Para Wijayanto, kata Sidney, JI lebih fokus pada dakwah, pendidikan, dan rekrutmen anggota baru.
Menurutnya, JI menghindari aksi kekerasan yang dapat mengakibatkan penangkapan massal anggotanya terutama pascabom Bali. Tujuannya untuk membangkitkan kembali organisasi suatu saat nanti.
&quot;Jadi mereka memutuskan untuk sementara, kekerasan di Indonesia adalah sesuatu yang harus dihindari,&quot; kata Sidney.

Adakah perbedaan antara JI dan ISIS?
Menurut Sidney, jaringan ISIS lebih berbahaya untuk jangka pendek. Para pendukung ISIS bisa sewaktu-waktu melakukan aksi teror.
Namun, tambahnya, JI lebih mengkhawatirkan dalam jangka panjang. Organisasi ini memiliki strategi perencanaan hingga 25 tahun ke depan untuk mendirikan negara Islam.
&quot;Suatu saat nanti JI bisa memutuskan bahwa memang sudah waktunya untuk melakukan kekerasan lagi. Kalau kekerasan bisa menolong mereka mendirikan satu negara Islam di Indonesia,&quot; kata Sidney.
Hal yang paling dikhawatirkan dari JI, lanjut Sidney, ketika pengikutnya tak lagi sejalan dengan para pemimpin dan memilih untuk membuat organisasi sempalan.
&quot;Masih ada bahaya dari sel-sel ISIS yang tidak ada hubungan dengan JI. Mungkin juga dari kelompok muda dari JI sendiri yang lebih bahaya dari Para Wijayanto,&quot; katanya.
Analisis Sidney Jones dikuatkan mantan anggota jaringan teroris yang berafiliasi dengan JI, Sofyan Tsauri.
Menurut Sofyan, pergerakan JI akan selalu berada 'di bawah tanah'.
&quot;Para anggotanya banyak, ikut ormas yang lain. Tapi mereka punya induk daripada jamaah mereka, dan itu tak akan pernah mati,&quot; katanya saat dihubungi BBC News Indonesia, Selasa (02/07).
Sofyan memperkirakan pascapenangkapan Para Wijayanto, JI akan segera mencari pemimpin baru. Salah satu syarat menjadi pemimpin JI, kata Sofyan, adalah memiliki kemampuan militer dan intelijen.Hal ini sudah dilakukan selama Para Wijayanto mengirimkan anggotanya  untuk berlatih militer di Suriah hingga enam kali sejak 2013 hingga 2018  lalu.
&quot;Tentu akan ada Amir (pemimpin) lagi yang baru. Begitu memang dibuatnya,&quot; katanya.
Sofyan melanjutkan, eksistensi JI baru akan muncul ketika situasi di suatu wilayah atau negara sedang konflik besar.
Ketika negara tidak berkonflik, JI lebih beraktivitas untuk melakukan  perekrutan dan dakwah. &quot;Sampai pengaderan besar, ketika kekuasaannya  sudah terukur, baru dia memproklamirkan,&quot; katanya.
&quot;JI ini jihad tamkin (jihad mengambil kekuasaan dan pemerintahan),  bukan jihad nikayah (jihad dilakukan kapan saja untuk menunjukkan  eksistensi),&quot; imbuh Sofyan.
Siapa Para Wijayanto dan bagaimana sepak terjangnya?
Dari keterangan polisi, Para Wijayanto alias Abang alias Aji Pangestu  alias Abu Askari alias Ahmad Arief alias Ahmad Fauzi Utomo sudah  menjadi buronan sejak 2008.
Lelaki kelahiran Subang, Jawa Barat, ini merupakan lulusan S-1 teknik  sipil di salah satu universitas ternama di Jawa Tengah. Ia juga  merupakan alumni dari pelatihan militer di Moro, Filipina, Angkatan III  tahun 2000.
&quot;Kemampuan merakit bom dia miliki dengan kelompok Noordin M. Top,&quot;  kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi  Prasetyo.
Para Wijayanto, sebagaimana dipaparkan Dedi, berperan mengendalikan  aktivitas organisasi termasuk logistik dan pembentukan pasukan khusus  yang dipimpin oleh terduga teroris berinisial K yang ditangkap pada Mei  2019 lalu.
Selain itu, Para Wijayanto disebut mengetahui dan menyetujui  pemberangkatan rekrutan JI ke Suriah. Mereka belajar militer dan perang  dengan organisasi Al-Qaeda.
Pemberangkatan anggota JI ini ditengarai telah dilakukan sebanyak  enam gelombang sejak 2013 hingga 2018. Sebagian besar telah kembali ke  Indonesia.
&quot;Mereka yang kembali ke Indonesia dan ditangkap pada bulan Mei 2019  rata-rata mempunyai kemampuan intelijen, militer secara khusus termasuk  pembuatan bom, roket dan sniper,&quot; ujar Dedi.Para Wijayanto disebut-sebut turut menyelenggarakan kegiatan perbantuan aksi terorisme internasional di bawah bendera Al-Qaeda.
&quot;Serta menjalin komunikasi dengan jaringan teroris regional   (Filipina) dan teroris internasional (Al-Qaeda) sejak 2008,&quot; jelas Dedi.
Dari penelusuran polisi, Para Wijayanto diduga memiliki usaha perkebunan sawit di Kalimantan dan Sumatera.
Brigjen Dedi Prasetyo, mengatakan perkebunan sawit itu untuk   membiayai organisasi JI. Dari usaha itu, menurut Dedi, anak buah Para   digaji dengan upah Rp10 juta hingga Rp15 juta.
Mantan anggota jaringan teroris yang berafiliasi dengan JI, Sofyan Tsauri, meyakini usaha sawit tersebut bukan milik pribadi.
Kata Sofyan, usaha yang dibangun untuk operasional JI ini merupakan hasil infaq atau sumbangan sukarela para anggotanya.
&quot;Bisa jadi usaha yang memang jamaah menitipkan dana-dana tersebut.   Atau uang jamaah dikelola secara baik, sehingga dia tidak lagi membebani   jamaah, tapi bagaimana dia bisa survive,&quot; tambah Sofyan.
Selain menangkap Para Wijayanto, kepolisian juga menangkap empat   orang lainnya yang bergabung dengan JI dalam waktu dua hari   berturut-turut, 29 - 30 Juni lalu.
Mereka adalah MY (istri Para Wijayanto) yang diduga terlibat menyembunyikan Para Wijayanto selama menjadi buronan.
Polisi juga menangkap BS alias Sadam alias Edi yang diduga berperan   sebagai kurir sekaligus pengawal dan sopir Para Wijayanto. BS ditangkap   juga karena dituduh menyembunyikan informasi tentang Para Wijayanto   selama menjadi buronan.
Tuduhan yang sama juga dilayangkan kepada A yang ditangkap di kawasan Bekasi, Jawa Barat, Minggu (30/06).
Polisi juga menangkap BT alias Haidar alias Denis alias Gani, tangan   kanan Para Wijayanto. BT diduga berperan sebagai penasehat sekaligus   asisten Para Wijayanto. Ia diduga pernah ikut aktif dalam sebuah   pertemuan di Bandung dan Sragen, Jawa Tengah, yang membahas laporan   kendala-kendala JI dan strateginya.
Pada 2007 Jamaah Islamiyah dibubarkan Pengadilan Negeri Jakarta   Selatan. Organisasi yang didirikan oleh Abu Bakar Baasyir dan Abdullah   Sungkar dinyatakan sebagai bagian jaringan teroris.
JI juga diyakini sebagai organisasi induk yang berada di balik kasus Bom Bali I dan II, dan Bom Kedutaan Besar Australia.</content:encoded></item></channel></rss>
