<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Populasi Jalak Bali hingga Harimau Sumatera Terus Meningkat</title><description>Sejumlah spesies terancam punah justru terpantau mengalami peningkatan populasi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/03/337/2074323/populasi-jalak-bali-hingga-harimau-sumatera-terus-meningkat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/07/03/337/2074323/populasi-jalak-bali-hingga-harimau-sumatera-terus-meningkat"/><item><title>Populasi Jalak Bali hingga Harimau Sumatera Terus Meningkat</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/03/337/2074323/populasi-jalak-bali-hingga-harimau-sumatera-terus-meningkat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/07/03/337/2074323/populasi-jalak-bali-hingga-harimau-sumatera-terus-meningkat</guid><pubDate>Rabu 03 Juli 2019 22:08 WIB</pubDate><dc:creator>Fahreza Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/03/337/2074323/populasi-jalak-bali-hingga-harimau-sumatera-terus-meningkat-DJHi3mcj3F.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/03/337/2074323/populasi-jalak-bali-hingga-harimau-sumatera-terus-meningkat-DJHi3mcj3F.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia, menyediakan berbagai kebutuhan bagi kehidupan manusia sekaligus menyokong pertumbuhan ekonomi.

Hal itu dikatakan Siti Nurbaya saat menyampaikan pidato kunci pembukaan konferensi, Selasa (2/7/2019) waktu setempat atau Rabu (3/7/2019), waktu Indonesia.

Sayangnya kata Siti Nurbaya, ancaman terhadap keanekaragaman hayati global terus menguat hingga ke tingkat kepunahan. Di Indonesia, sejumlah spesies justru terpantau mengalami peningkatan populasi.

&quot;Hal itu menjadi bahasan utama di Trondheim Conference on Biodiversity yang berlangsung di Kota Trondheim, Norwegia. Sejumlah langkah yang dilakukan Indonesia untuk mempertahankan keanekaragaman hayati,&quot; kata Siti.



Dijelaskan Menteri Siti, Indonesia memiliki lebih dari 51 juta ha kawasan perlindungan yang setara dengan lebih dari 28% luas daratan. Ini melebihi target yang sebesar 17% yang ditetapkan dalan konvensi keanekaragaman hayati (CBD) yang populer disebut Aichi target.

Demikian juga untuk kawasan konservasi perairan di mana Indonesia telah memiliki sekitar 20 juta ha per 2018. Melebihi target yang dipancang untuk dicapai pada tahun 2020.

&quot;Kami telah merancang rencana aksi strategis keanekaragaman hayati Indonesia 2015-2022 dengan tiga tujuan utama, memperkuat pengamanan keanekaragaman hayati, memanfatkan secara lestari keanekaragaman hayati untuk kesejahteraan rakyat, dan mengelola keanekaragaman hayati secara bertanggung jawab dan berkelanjutan,&quot; ucap Siti.

Selain itu menurut Siti, Indonesia telah merancang sejumlah rencana aksi strategis nasional untuk sejumlah spesies, seperti harimau sumatera, badak sumatera, orangutan, gajah dan burung rangkong.

Dampak dari berbagai kebijakan itu, terjadi kenaikan populasi sejumlah spesies yang terancam punah di Indonesia berdasarkan pantauan di 273 titik. Di antaranya adalah populasi jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Bali Barat yang naik dari 31 individu pada tahun 2015 menjadi 191 individu di tahun 2019.

&quot;Kenaikan populasi juga terjadi untuk harimau sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser, Kerincil Sebelat, Berbak Sembilang dan Bukit Barisan Selatan. Kerja-kerja konervasi yang dilakukan Indonesia berhasil menaikan populasi harimau sumatera dari 0,07 individu per ha di tahun 2013 menjadi 1,24 individu per ha di tahun 2018,&quot; ungkap Siti.

Dijelaskan Siti, keanekaragaman hayati juga memiliki nilai ekonomi  yang diperhitungkan dalam neraca keuangan. Keanekaragaman juga  menyediakan dukungan pembangunan seperti pangan, air, energi, ketahanan,  dan kesehatan.

Kembangkan bioprospeksi untuk mengoptimalkan potensi keanekaragaman  hayati secara berkelanjutan dalam menyokong ketahanan pangan dan  kesehatan, Indonesia mengembangkan bioprospeksi. Sebagai contoh, karang  spons Candidaspongia sp. yang merupakan endemik di Teluk Kupang telah  diidentifikasi sebagai anti kanker.

&quot;Pemanfaatan berkelanjutan untuk bioprospeksi di tingkat industri  dirancang dan diimplementasikan yang melibatkan perusahaan swasta dan  milik negara dengan prinsip-prinsip akses dan pembagian manfaat di bawah  Protokol Nagoya,&quot; tutur Siti.

Sementara Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia Ola Elvestuen memuji  sejumlah capaian Indonesia. Dia menyatakan, Indonesia telah berhasil  menurunkan laju deforestasi dan degradasi hutan dan juga kebakaran hutan  berkat kebijakan yang baik dan kepemimpinan yang kuat dari pemerintah.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia, menyediakan berbagai kebutuhan bagi kehidupan manusia sekaligus menyokong pertumbuhan ekonomi.

Hal itu dikatakan Siti Nurbaya saat menyampaikan pidato kunci pembukaan konferensi, Selasa (2/7/2019) waktu setempat atau Rabu (3/7/2019), waktu Indonesia.

Sayangnya kata Siti Nurbaya, ancaman terhadap keanekaragaman hayati global terus menguat hingga ke tingkat kepunahan. Di Indonesia, sejumlah spesies justru terpantau mengalami peningkatan populasi.

&quot;Hal itu menjadi bahasan utama di Trondheim Conference on Biodiversity yang berlangsung di Kota Trondheim, Norwegia. Sejumlah langkah yang dilakukan Indonesia untuk mempertahankan keanekaragaman hayati,&quot; kata Siti.



Dijelaskan Menteri Siti, Indonesia memiliki lebih dari 51 juta ha kawasan perlindungan yang setara dengan lebih dari 28% luas daratan. Ini melebihi target yang sebesar 17% yang ditetapkan dalan konvensi keanekaragaman hayati (CBD) yang populer disebut Aichi target.

Demikian juga untuk kawasan konservasi perairan di mana Indonesia telah memiliki sekitar 20 juta ha per 2018. Melebihi target yang dipancang untuk dicapai pada tahun 2020.

&quot;Kami telah merancang rencana aksi strategis keanekaragaman hayati Indonesia 2015-2022 dengan tiga tujuan utama, memperkuat pengamanan keanekaragaman hayati, memanfatkan secara lestari keanekaragaman hayati untuk kesejahteraan rakyat, dan mengelola keanekaragaman hayati secara bertanggung jawab dan berkelanjutan,&quot; ucap Siti.

Selain itu menurut Siti, Indonesia telah merancang sejumlah rencana aksi strategis nasional untuk sejumlah spesies, seperti harimau sumatera, badak sumatera, orangutan, gajah dan burung rangkong.

Dampak dari berbagai kebijakan itu, terjadi kenaikan populasi sejumlah spesies yang terancam punah di Indonesia berdasarkan pantauan di 273 titik. Di antaranya adalah populasi jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Bali Barat yang naik dari 31 individu pada tahun 2015 menjadi 191 individu di tahun 2019.

&quot;Kenaikan populasi juga terjadi untuk harimau sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser, Kerincil Sebelat, Berbak Sembilang dan Bukit Barisan Selatan. Kerja-kerja konervasi yang dilakukan Indonesia berhasil menaikan populasi harimau sumatera dari 0,07 individu per ha di tahun 2013 menjadi 1,24 individu per ha di tahun 2018,&quot; ungkap Siti.

Dijelaskan Siti, keanekaragaman hayati juga memiliki nilai ekonomi  yang diperhitungkan dalam neraca keuangan. Keanekaragaman juga  menyediakan dukungan pembangunan seperti pangan, air, energi, ketahanan,  dan kesehatan.

Kembangkan bioprospeksi untuk mengoptimalkan potensi keanekaragaman  hayati secara berkelanjutan dalam menyokong ketahanan pangan dan  kesehatan, Indonesia mengembangkan bioprospeksi. Sebagai contoh, karang  spons Candidaspongia sp. yang merupakan endemik di Teluk Kupang telah  diidentifikasi sebagai anti kanker.

&quot;Pemanfaatan berkelanjutan untuk bioprospeksi di tingkat industri  dirancang dan diimplementasikan yang melibatkan perusahaan swasta dan  milik negara dengan prinsip-prinsip akses dan pembagian manfaat di bawah  Protokol Nagoya,&quot; tutur Siti.

Sementara Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia Ola Elvestuen memuji  sejumlah capaian Indonesia. Dia menyatakan, Indonesia telah berhasil  menurunkan laju deforestasi dan degradasi hutan dan juga kebakaran hutan  berkat kebijakan yang baik dan kepemimpinan yang kuat dari pemerintah.</content:encoded></item></channel></rss>
