<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Optimisme Kementan Genjot Luas Tambah Tanam di Tengah Kemarau</title><description>Musim kemarau sejak sebulan terakhir menyebabkan kekeringan 102.654 hektare persawahan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/08/1/2076189/optimisme-kementan-genjot-luas-tambah-tanam-di-tengah-kemarau</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/07/08/1/2076189/optimisme-kementan-genjot-luas-tambah-tanam-di-tengah-kemarau"/><item><title>Optimisme Kementan Genjot Luas Tambah Tanam di Tengah Kemarau</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/08/1/2076189/optimisme-kementan-genjot-luas-tambah-tanam-di-tengah-kemarau</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/07/08/1/2076189/optimisme-kementan-genjot-luas-tambah-tanam-di-tengah-kemarau</guid><pubDate>Senin 08 Juli 2019 18:07 WIB</pubDate><dc:creator>Risna  Nur Rahayu</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/08/1/2076189/optimisme-kementan-genjot-luas-tambah-tanam-di-tengah-kemarau-OhYpKyPrN3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dirjen Ketahanan Pangan Kementan, Sumardjo Gatot Irianto </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/08/1/2076189/optimisme-kementan-genjot-luas-tambah-tanam-di-tengah-kemarau-OhYpKyPrN3.jpg</image><title>Dirjen Ketahanan Pangan Kementan, Sumardjo Gatot Irianto </title></images><description>JAKARTA - Musim kemarau sejak sebulan terakhir menyebabkan 102.654 hektare persawahan di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tengara Timur dan Barat, mengalami kekeringan. Bahkan 9.940 hektare di antaranya berstatus puso alias tidak menghasilkan.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan langkah mitigasi dan adaptasi  sebagai solusi persoalan kekeringan tahun ini. Penangan ini diklaim berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dan diyakini petani tetap bisa berproduksi.

&quot;Kalau selama ini yang jadi perhatian hanya daerah kekeringan, maka tahun ini berbeda. Lahan terdampak kekeringan dan daerah yang curah hujannya masih tinggi sama-sama menjadi perhatian. Jadi tidak ada istilah lahan kosong, semua tetap tanam,&quot; ujar Dirjen Ketahanan Pangan Kementan, Sumardjo Gatot Irianto.

Sumardjo menerangkan, untuk memastikan strategi mitigasi dan adaptasi berjalan, semua kerahkan, mulai pengerahan alsintan, embung, pompa air, irigasi, bibit unggul, bekerjasama dengan Perum Jasa Tirta 1 dan 2, dan melibatkan aparat keamanan untuk mencegah adanya mafia air di tengah musim kemarau. Hari ini Kementan menggelar rapat koordinasi dengan kepala dinas pertanian, kepala dinas pengairan, dan kodim yang bertugas di wilayah terdampak kemarau dan wilayah yang berpotensi menambah luas tanam.

&quot;Kami ingin membalikkan paradigma bahwa luas tambah tanam (LTT) menurun di musim kemarau. Kekeringan justru menjadi momentum menggenjot LTT,&quot; tegas Sumardjo.

Sumardjo memastikan musim kemarau tetap bisa bertanam padi. Dia sudah membuktikannya di persawahan Tanah Laut, yang berujung sukses dua kali panen. Sehingga dia optimis, cara itu bisa dipakai di daerah lain.

Sementara itu, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Sarwo Edhy mengatakan, pemanfaatan alsintan semaksimal mungkin sebagai langkah mitigasi maupun adaptasi. Baik itu pompa air, embung, pompa irigasi, mesin pertanian, bahkan tak menutup kemungkinan dibangun saluran baru dengan sistem pipanisasi bila ditemukan sumber air alternatif.

Terdapat 11.654 unit embung pertanian dan 4.042 unit irigasi perpompaan yang tersebar di berbagai wilayah. Kemudian ada 93.860 unit pompa air yang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin selama kemarau.

&quot;Berkaitan dengan pompa, tolong segera digunakan. Juga pompa-pompa yang ada di dinas, segera keluarkan stok di gudang. Kalau kurang segera hubungi kami agar kami bantu,&quot; tegas Sarwo Edhy.

Sedangkan di wilayah-wilayah yang berpotensi menambah luas tanam seperti Kalimatan, Sumatera dan Sulawesi, bisa memanfaatkan mesin-mesin pertanian yang sudah tersedia untuk mengolah sawah. Dengan begitu, proses tanam dapat segera dilakukan.

Litbang Kementan siap mendistribusikan varietas bibit unggul ke daerah yang sudah dipetakan untuk mempercepat luas tambah tanam. Bibit unggul yang dimaksud meliputi padi inpago (inbrida pagi gogo/lahan kering) dan inpara (inbrida padi lahan rawa). Kemudian kedelai dan jagung yang tahan di lahan kering.

&quot;Jadi selama ini asumsi petani kan kalau air melimpah tanam padi. Sekarang itu yang penting cukup kebutuhan air. Kita bisa tanami kedelai atau jagung. Jadi peluang untuk bertanam tetap tinggi, selama masih ada air,&quot; urai Kepala Badan Litbang Kementan Fadjry Djufry.Nasib pentani terdampak kekeringan

Kementerian Pertanian menyebut ada 100 kabupaten kota di Indonesia yang mengalami kekeringan di musim kemarau 2019. Sebarannya di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat.

&quot;Di Banten ada 3.000 hektaran, Jawa Barat agak besar 25 ribu hektaran dengan fuso 624 hektare. Jawa Tengah sekitar 32 ribu, Yogyakarta 6 ribu, dan Jawa Timur 32 ribu hektare. Untuk NTT lebih kurang 50 haktere,&quot; ujar Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy meminta petani yang terdaftar dalam Program Asuransi Usaha Tani padi (AUTP) segera mengajukan klaim ke PT Jasindo, bila mengalami gagal panen akibat kekeringan. Petani akan mendapat Rp6 juta per hekater dengan masa pertanggungan selama masa tanam.

&quot;Kami harapkan petani yang sudah membayar premi asuransi, tolong diklaim kalau memang sawahnya kering. Langsung diganti oleh Jasindo Rp6 juta per hektare per tanam,&quot; kata Sarwo Edhy.

Data di pihaknya, ada sekitar 232.255 hektare lahan di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara yang terdaftar dalam program AUTP. Untuk program ini, petani membayar Rp36.000 per bulan, sedangkan sisanya Rp144.000 ditanggung oleh pemerintah.

Sedangkan petani yang tidak terdaftar dalam program AUTP akan mendapat bantuan benih dari pemerintah.</description><content:encoded>JAKARTA - Musim kemarau sejak sebulan terakhir menyebabkan 102.654 hektare persawahan di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tengara Timur dan Barat, mengalami kekeringan. Bahkan 9.940 hektare di antaranya berstatus puso alias tidak menghasilkan.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan langkah mitigasi dan adaptasi  sebagai solusi persoalan kekeringan tahun ini. Penangan ini diklaim berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dan diyakini petani tetap bisa berproduksi.

&quot;Kalau selama ini yang jadi perhatian hanya daerah kekeringan, maka tahun ini berbeda. Lahan terdampak kekeringan dan daerah yang curah hujannya masih tinggi sama-sama menjadi perhatian. Jadi tidak ada istilah lahan kosong, semua tetap tanam,&quot; ujar Dirjen Ketahanan Pangan Kementan, Sumardjo Gatot Irianto.

Sumardjo menerangkan, untuk memastikan strategi mitigasi dan adaptasi berjalan, semua kerahkan, mulai pengerahan alsintan, embung, pompa air, irigasi, bibit unggul, bekerjasama dengan Perum Jasa Tirta 1 dan 2, dan melibatkan aparat keamanan untuk mencegah adanya mafia air di tengah musim kemarau. Hari ini Kementan menggelar rapat koordinasi dengan kepala dinas pertanian, kepala dinas pengairan, dan kodim yang bertugas di wilayah terdampak kemarau dan wilayah yang berpotensi menambah luas tanam.

&quot;Kami ingin membalikkan paradigma bahwa luas tambah tanam (LTT) menurun di musim kemarau. Kekeringan justru menjadi momentum menggenjot LTT,&quot; tegas Sumardjo.

Sumardjo memastikan musim kemarau tetap bisa bertanam padi. Dia sudah membuktikannya di persawahan Tanah Laut, yang berujung sukses dua kali panen. Sehingga dia optimis, cara itu bisa dipakai di daerah lain.

Sementara itu, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Sarwo Edhy mengatakan, pemanfaatan alsintan semaksimal mungkin sebagai langkah mitigasi maupun adaptasi. Baik itu pompa air, embung, pompa irigasi, mesin pertanian, bahkan tak menutup kemungkinan dibangun saluran baru dengan sistem pipanisasi bila ditemukan sumber air alternatif.

Terdapat 11.654 unit embung pertanian dan 4.042 unit irigasi perpompaan yang tersebar di berbagai wilayah. Kemudian ada 93.860 unit pompa air yang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin selama kemarau.

&quot;Berkaitan dengan pompa, tolong segera digunakan. Juga pompa-pompa yang ada di dinas, segera keluarkan stok di gudang. Kalau kurang segera hubungi kami agar kami bantu,&quot; tegas Sarwo Edhy.

Sedangkan di wilayah-wilayah yang berpotensi menambah luas tanam seperti Kalimatan, Sumatera dan Sulawesi, bisa memanfaatkan mesin-mesin pertanian yang sudah tersedia untuk mengolah sawah. Dengan begitu, proses tanam dapat segera dilakukan.

Litbang Kementan siap mendistribusikan varietas bibit unggul ke daerah yang sudah dipetakan untuk mempercepat luas tambah tanam. Bibit unggul yang dimaksud meliputi padi inpago (inbrida pagi gogo/lahan kering) dan inpara (inbrida padi lahan rawa). Kemudian kedelai dan jagung yang tahan di lahan kering.

&quot;Jadi selama ini asumsi petani kan kalau air melimpah tanam padi. Sekarang itu yang penting cukup kebutuhan air. Kita bisa tanami kedelai atau jagung. Jadi peluang untuk bertanam tetap tinggi, selama masih ada air,&quot; urai Kepala Badan Litbang Kementan Fadjry Djufry.Nasib pentani terdampak kekeringan

Kementerian Pertanian menyebut ada 100 kabupaten kota di Indonesia yang mengalami kekeringan di musim kemarau 2019. Sebarannya di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat.

&quot;Di Banten ada 3.000 hektaran, Jawa Barat agak besar 25 ribu hektaran dengan fuso 624 hektare. Jawa Tengah sekitar 32 ribu, Yogyakarta 6 ribu, dan Jawa Timur 32 ribu hektare. Untuk NTT lebih kurang 50 haktere,&quot; ujar Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy meminta petani yang terdaftar dalam Program Asuransi Usaha Tani padi (AUTP) segera mengajukan klaim ke PT Jasindo, bila mengalami gagal panen akibat kekeringan. Petani akan mendapat Rp6 juta per hekater dengan masa pertanggungan selama masa tanam.

&quot;Kami harapkan petani yang sudah membayar premi asuransi, tolong diklaim kalau memang sawahnya kering. Langsung diganti oleh Jasindo Rp6 juta per hektare per tanam,&quot; kata Sarwo Edhy.

Data di pihaknya, ada sekitar 232.255 hektare lahan di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara yang terdaftar dalam program AUTP. Untuk program ini, petani membayar Rp36.000 per bulan, sedangkan sisanya Rp144.000 ditanggung oleh pemerintah.

Sedangkan petani yang tidak terdaftar dalam program AUTP akan mendapat bantuan benih dari pemerintah.</content:encoded></item></channel></rss>
