<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Masalah Sampah Plastik di Indonesia, Apa yang Harus Dilakukan Milenial?</title><description>Jolenee menyinggung problem besar lingkungan hidup di negara kita yakni soal sampah plastik dan kerap disorot dunia internasional.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/12/337/2078221/masalah-sampah-plastik-di-indonesia-apa-yang-harus-dilakukan-milenial</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/07/12/337/2078221/masalah-sampah-plastik-di-indonesia-apa-yang-harus-dilakukan-milenial"/><item><title>Masalah Sampah Plastik di Indonesia, Apa yang Harus Dilakukan Milenial?</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/12/337/2078221/masalah-sampah-plastik-di-indonesia-apa-yang-harus-dilakukan-milenial</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/07/12/337/2078221/masalah-sampah-plastik-di-indonesia-apa-yang-harus-dilakukan-milenial</guid><pubDate>Jum'at 12 Juli 2019 20:47 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/12/337/2078221/masalah-sampah-plastik-di-indonesia-apa-yang-harus-dilakukan-milenial-PVM9STw4wc.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/12/337/2078221/masalah-sampah-plastik-di-indonesia-apa-yang-harus-dilakukan-milenial-PVM9STw4wc.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Kesadaran kelompok kaum muda, khususnya kelompok milenial terhadap isu-isu lingkungan hidup, seperti sampah, plastik, dan lingkungan secara umum sudah sangat tinggi. Bahkan banyak kelompok milenial yang aktif sebagai relawan lingkungan demi kehidupan yang lebih baik.

Demikian benang merah dari diskusi menarik yang digelar di salah satu booth yang ada di arena Pekan Lingkungan dan Kehutanan (PLK) 2019 di JCC Jakarta, Jumat pagi (12/7). Booth yang menggelar diskusi ini adalah &amp;ldquo;Pojok Milenial&amp;rdquo;. Di arena PLH, juga digelar sejumlah diskusi yang dihadiri banyak pengunjung baik dari Jakarta maupun perwakilan LH dari berbagai kota dan provinsi.

Para narsumber pun datang dari kelompok milenial yang sangat peduli pada isu-isu lingkungan yaitu Puteri Indonesia Lingkungan 2019 asal Sulut, Jolenee Marie, Direktur Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia (GIDKP) Tiza Mafira, dan aktivis lingkungan di Aceh, Zulfikar. Hadirin yang sebagaian besar kaum muda sangat antusias mendengar paparan dan testimoni mereka.

Baca Juga: Wapres JK Buka Pekan Lingkungan dan Kehutanan

Puteri Indonesia Lingkungan 2019 Jolenee yang tampil segar dengan atribut mahkota, menceritakan bagaimana dirinya makin memahami dan akan terus menyuarakan pentingnya kaum muda dan milenial untuk peduli pada isu-isu lingkungan yang menjadi masalah kita bersama.

&amp;ldquo;Kecintaan saya pada lingkungan makin tebal setelah terpilih jadi Puteri Indonesia Lingkungan dan kini membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk kampanye dan advokasi lingkungan terutama kepada kaum muda,&amp;rdquo; kata Jolenee yang hobby naik gunung ini.



Jolenee menyinggung problem besar lingkungan hidup di negara kita yakni soal sampah plastik dan kerap disorot dunia internasional. Kita harus bisa membantu pemerintah mengurang isampah plastik dengan memberi advokasi pada masyarakat untuk mengurangi penggunana plastik.

&amp;ldquo;Bersamaan dengan advokasi saya terhadap lingkungan, saya sudah mengurangi penggunaan plastik. Saya tidak pakai sedotan plastik dan selalu membawa stainless straw. Alat-alat masak di rumah pun sekarang sudah pakai kayu bukan plastik,&amp;rdquo; ujar Jolenee sambil menebar senyum.

Narsumber hebat lainnya adalah Tiza Mafira yang bergerak secara  simultan untuk diet plastik. Lewat  Gerakan Diet Kantong Plastik  Indonesia ini Tiza menyabet penghargaan Ocean Heroes 2018 dari Badan PBB  untuk Lingkungan (UNET) dalam rangka Hari Samudera se-Dunia.  Penghargaan yang pertama kalinya diberikan ini merupakan bagian dari  Kampanye Clean Seas.

Tiza jadi salah satu dari lima orang yang mendapatkan penghargaan  Ocean Heroes. Selain Tiza masih ada empat orang penerima penghargaan,  masing-masing berasal dari India, Inggris Raya, Thailand dan Amerika  Serikat.

Ketika diskusi, Tiza menyarankan kepada hadirin untuk bukan saja diet  plastik tapi harus menguranginya karena plastik ada di sekitar kita, di  setiap aktivitas kita, dan menjadi sampah yang amat berbahaya.

&amp;ldquo;Upaya saya melaku gerakan via online dan kemudian dilanjutkan dengan  pertemuan offline dengan mereka yang sangat peduli pada lingkungan dan  pengurangan plastik. Jadi gerakan lewat online harus disenergikan dalam  pertemuan offline, sebab online seperti media sosial hanyalah flatform  saja, yang riil yang kita hadapi,&amp;rdquo; papar Tiza yang pengacara ini.



Gerakan Tiza yang berbuah pada keluarnya  peraturan plastik berbayar  dan dilarangnya penggunaan plastik sekali pakai di sejumlah kota banyak  diikuti kaum milenial. &amp;ldquo;Kepedulian kita harus direfleksikan dalan  kegiatan sehari-hari. Kita harus pounya tujuan besar mengurangi sampah  plastik sebesar mungkin,&amp;rdquo; tambahanya.

Sedangkan Zulfikar yang melakukan kegiatan kampanye pengurangan  smapah plastik di Aceh juga sependapat, mulai saat ini semua kelompok  masyarakat terutama kaum milenial harus peduli terhadap sampah plastik  dan mengurangi dengan contoh dan kampanye yang masif.

&amp;ldquo;Saya setuju banget kalau daerah melarang plastik. Kita bisa hidup  tanpa plastik kok. Lingkungan akan semakin bersih jika plastik  berkurang,&amp;rdquo; kata Zulfikar.

Sasaran PLK 2019

Sementara itu Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan   Hidup (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), RM   Karliansyah,mengatakan, PLK 2019 ini menyasar pada kelompok milenial   sebagai agen perubahan yang semakin sadar akan lingkungan.

&amp;ldquo;Kita melihat sejak pembukaan sampai Jumat kemarin, banyak   sekalipelajar, majasiswa, dan kaum muda yang hadir dan melihat pameran   dan memperhatikan setiap booth dengan serius. Begitu juga dengan   sejumlah seminar mengenai isu lingkungan yang digelar di dalam PLK ini,   banyak yang datang dari kaum milenial.

&amp;ldquo;Saya menyimpulkan, perhatian, kesadaran, dan keinginan kaum milenial   untuk peduli pada lingkungan sangat tinggi. Kita harus apresiasi   mereka, sebab dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi,   kaum milenial menjadi influencer ataumemberi pengaruh besar pada   masyarakt untuk ikut mengubah pola hidup yang lebih care pada   lingkungan,&amp;rdquo; papar Karliansyah.



Pemerintah lanjut Karliansyah sangat mengapresiasi peningkatan   kesadaran masyarakat yang begitu tinggi, sekaligus kemudian juga diikuti   dengan tingginya minat masyarakat untuk memperoleh pengetahuan dan   edukasi lebih jauh mengenai hal tersebut.

Atas dasar hal itulah kata Karlinasyah, ajang Pekan Lingkungan Hidup   dan Kehutanan ini akan dimanfaatkan sebagai upaya pelipatgandaan   sosialisasi kebijakan pemerintah terkait penanganan pencemaran yang   bersifat langsung maupun tidak langsung, seperti peta jalan pengurangan   sampah nasional dan penggunaan plastik sekali pakai, transisi  penggunaan  bahan bakar dan sumber energi yang ramah lingkungan,  perubahan  teknologi dan sistem manajemen menjadi lebih bersih.
</description><content:encoded>JAKARTA - Kesadaran kelompok kaum muda, khususnya kelompok milenial terhadap isu-isu lingkungan hidup, seperti sampah, plastik, dan lingkungan secara umum sudah sangat tinggi. Bahkan banyak kelompok milenial yang aktif sebagai relawan lingkungan demi kehidupan yang lebih baik.

Demikian benang merah dari diskusi menarik yang digelar di salah satu booth yang ada di arena Pekan Lingkungan dan Kehutanan (PLK) 2019 di JCC Jakarta, Jumat pagi (12/7). Booth yang menggelar diskusi ini adalah &amp;ldquo;Pojok Milenial&amp;rdquo;. Di arena PLH, juga digelar sejumlah diskusi yang dihadiri banyak pengunjung baik dari Jakarta maupun perwakilan LH dari berbagai kota dan provinsi.

Para narsumber pun datang dari kelompok milenial yang sangat peduli pada isu-isu lingkungan yaitu Puteri Indonesia Lingkungan 2019 asal Sulut, Jolenee Marie, Direktur Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia (GIDKP) Tiza Mafira, dan aktivis lingkungan di Aceh, Zulfikar. Hadirin yang sebagaian besar kaum muda sangat antusias mendengar paparan dan testimoni mereka.

Baca Juga: Wapres JK Buka Pekan Lingkungan dan Kehutanan

Puteri Indonesia Lingkungan 2019 Jolenee yang tampil segar dengan atribut mahkota, menceritakan bagaimana dirinya makin memahami dan akan terus menyuarakan pentingnya kaum muda dan milenial untuk peduli pada isu-isu lingkungan yang menjadi masalah kita bersama.

&amp;ldquo;Kecintaan saya pada lingkungan makin tebal setelah terpilih jadi Puteri Indonesia Lingkungan dan kini membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk kampanye dan advokasi lingkungan terutama kepada kaum muda,&amp;rdquo; kata Jolenee yang hobby naik gunung ini.



Jolenee menyinggung problem besar lingkungan hidup di negara kita yakni soal sampah plastik dan kerap disorot dunia internasional. Kita harus bisa membantu pemerintah mengurang isampah plastik dengan memberi advokasi pada masyarakat untuk mengurangi penggunana plastik.

&amp;ldquo;Bersamaan dengan advokasi saya terhadap lingkungan, saya sudah mengurangi penggunaan plastik. Saya tidak pakai sedotan plastik dan selalu membawa stainless straw. Alat-alat masak di rumah pun sekarang sudah pakai kayu bukan plastik,&amp;rdquo; ujar Jolenee sambil menebar senyum.

Narsumber hebat lainnya adalah Tiza Mafira yang bergerak secara  simultan untuk diet plastik. Lewat  Gerakan Diet Kantong Plastik  Indonesia ini Tiza menyabet penghargaan Ocean Heroes 2018 dari Badan PBB  untuk Lingkungan (UNET) dalam rangka Hari Samudera se-Dunia.  Penghargaan yang pertama kalinya diberikan ini merupakan bagian dari  Kampanye Clean Seas.

Tiza jadi salah satu dari lima orang yang mendapatkan penghargaan  Ocean Heroes. Selain Tiza masih ada empat orang penerima penghargaan,  masing-masing berasal dari India, Inggris Raya, Thailand dan Amerika  Serikat.

Ketika diskusi, Tiza menyarankan kepada hadirin untuk bukan saja diet  plastik tapi harus menguranginya karena plastik ada di sekitar kita, di  setiap aktivitas kita, dan menjadi sampah yang amat berbahaya.

&amp;ldquo;Upaya saya melaku gerakan via online dan kemudian dilanjutkan dengan  pertemuan offline dengan mereka yang sangat peduli pada lingkungan dan  pengurangan plastik. Jadi gerakan lewat online harus disenergikan dalam  pertemuan offline, sebab online seperti media sosial hanyalah flatform  saja, yang riil yang kita hadapi,&amp;rdquo; papar Tiza yang pengacara ini.



Gerakan Tiza yang berbuah pada keluarnya  peraturan plastik berbayar  dan dilarangnya penggunaan plastik sekali pakai di sejumlah kota banyak  diikuti kaum milenial. &amp;ldquo;Kepedulian kita harus direfleksikan dalan  kegiatan sehari-hari. Kita harus pounya tujuan besar mengurangi sampah  plastik sebesar mungkin,&amp;rdquo; tambahanya.

Sedangkan Zulfikar yang melakukan kegiatan kampanye pengurangan  smapah plastik di Aceh juga sependapat, mulai saat ini semua kelompok  masyarakat terutama kaum milenial harus peduli terhadap sampah plastik  dan mengurangi dengan contoh dan kampanye yang masif.

&amp;ldquo;Saya setuju banget kalau daerah melarang plastik. Kita bisa hidup  tanpa plastik kok. Lingkungan akan semakin bersih jika plastik  berkurang,&amp;rdquo; kata Zulfikar.

Sasaran PLK 2019

Sementara itu Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan   Hidup (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), RM   Karliansyah,mengatakan, PLK 2019 ini menyasar pada kelompok milenial   sebagai agen perubahan yang semakin sadar akan lingkungan.

&amp;ldquo;Kita melihat sejak pembukaan sampai Jumat kemarin, banyak   sekalipelajar, majasiswa, dan kaum muda yang hadir dan melihat pameran   dan memperhatikan setiap booth dengan serius. Begitu juga dengan   sejumlah seminar mengenai isu lingkungan yang digelar di dalam PLK ini,   banyak yang datang dari kaum milenial.

&amp;ldquo;Saya menyimpulkan, perhatian, kesadaran, dan keinginan kaum milenial   untuk peduli pada lingkungan sangat tinggi. Kita harus apresiasi   mereka, sebab dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi,   kaum milenial menjadi influencer ataumemberi pengaruh besar pada   masyarakt untuk ikut mengubah pola hidup yang lebih care pada   lingkungan,&amp;rdquo; papar Karliansyah.



Pemerintah lanjut Karliansyah sangat mengapresiasi peningkatan   kesadaran masyarakat yang begitu tinggi, sekaligus kemudian juga diikuti   dengan tingginya minat masyarakat untuk memperoleh pengetahuan dan   edukasi lebih jauh mengenai hal tersebut.

Atas dasar hal itulah kata Karlinasyah, ajang Pekan Lingkungan Hidup   dan Kehutanan ini akan dimanfaatkan sebagai upaya pelipatgandaan   sosialisasi kebijakan pemerintah terkait penanganan pencemaran yang   bersifat langsung maupun tidak langsung, seperti peta jalan pengurangan   sampah nasional dan penggunaan plastik sekali pakai, transisi  penggunaan  bahan bakar dan sumber energi yang ramah lingkungan,  perubahan  teknologi dan sistem manajemen menjadi lebih bersih.
</content:encoded></item></channel></rss>
