<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Makin Banyak Suku Anak Dalam Bercita-cita Jadi TNI</title><description>Terpilihnya Prada Budi, yang merupakan warga Suku Anak Dalam (SAD) menimbulkan dampak yang luar biasa bagi masyarakat di sekitarnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/22/340/2081898/makin-banyak-suku-anak-dalam-bercita-cita-jadi-tni</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/07/22/340/2081898/makin-banyak-suku-anak-dalam-bercita-cita-jadi-tni"/><item><title>Makin Banyak Suku Anak Dalam Bercita-cita Jadi TNI</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/22/340/2081898/makin-banyak-suku-anak-dalam-bercita-cita-jadi-tni</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/07/22/340/2081898/makin-banyak-suku-anak-dalam-bercita-cita-jadi-tni</guid><pubDate>Senin 22 Juli 2019 11:02 WIB</pubDate><dc:creator>Azhari Sultan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/22/340/2081898/makin-banyak-suku-anak-dalam-bercita-cita-jadi-tni-CJ7sCX5VsC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kedekatan TNI dan Warga SAD di Jambi (Foto: Azhari/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/22/340/2081898/makin-banyak-suku-anak-dalam-bercita-cita-jadi-tni-CJ7sCX5VsC.jpg</image><title>Kedekatan TNI dan Warga SAD di Jambi (Foto: Azhari/Okezone)</title></images><description>JAMBI - Terpilihnya Prada Budi dan Prada Yogi, yang merupakan warga Suku Anak Dalam (SAD) menimbulkan dampak yang luar biasa bagi masyarakat di sekitarnya.

Saat ini banyak anak rimba (Ssebutan lain SAD, red) yang bercita-cita ingin jadi tentara. Seperti yang diakui salah seorang warga SAD dari Sungai Terap, Bukit 12, perbatasan antara Kabupaten Batanghari dan Muarojambi, Ngelambu yang menginginkan anak-anak dari sukunya bisa terpilih menjadi pembela NKRI.

&amp;ldquo;Maunyo anak kami dibimbing bapak Dandim jadi tentera, supaya kami dapat terbantu. Jika anak kami bisa sekolah atau jadi TNI bisa bantu masyarakat di Sungai Terap karena tanah kami banyak hilang oleh pihak perusahaan,&amp;rdquo; ujarnya.

Di samping itu, kepada pemerintah daerah, dia berharap diberikan kesempatan yang sama di dalam pemerintahan dan orang rimba dapat didorong untuk lebih maju.



&amp;ldquo;Kepada pemerintah daerah, kami mohon minta didorong juga kami orang rimba supaya memahami seperti apa pemerintahan,&quot; harap Ngelambu.

Menanggapi antusias warga SAD yang menginginkan anak-anaknya bergabung di TNI, Dandim 0415/Batanghari Letkol Inf Widi Rahman sangat terharu dan mengapresiasinya.

&quot;Saya jadi terharu mendengarnya. Betapa mereka ingin sekali anak keturunannya bisa menjadi TNI Angkatan Darat. Terimakasih kepercayaannya,&quot; tegas Widi, Senin (22/7/2019).

Baca Juga: Kisah Membanggakan Dua Tentara Pertama dari Suku Anak Dalam

Namun, katanya, masih adanya terkendala dengan pendidikan anak-anak warga SAD. Padahal, pihak TNI memiliki program khusus untuk orang rimba.

&quot;Saat ini, ada program khusus untuk Suku Anak Dalam untuk masuk TNI, cuma terkendala masalah pendidikan,&quot; tandas Widi di lokasi TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) di Desa Ladang Peris, Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi.

Menurutnya, bagi yang mau masuk Tamtama, minimal tamatan SMP dan di AKMIL haruslah tamatan SMK. &quot;Karena itu, keinginan mereka masih belum bisa diakomodir untuk masuk tentara karena belum bisa memenuhi persyaratan,&quot; tandas Widi.

Dia menambahkan, seperti warga SAD yang di Jeluti, Bukit 12 ini  pendidikannya masih belum mencukupi. &quot;Memang ada keturunan SAD, kayak  yang di Sungai Bahar, mereka sudah sekolah dan bisa diakomodir,&quot;  jelasnya.

Keinginan mereka bisa terwujud, ungkapnya, tapi pada masa akan datang  dengan cara mengajak pemerintahan daerah untuk mendata kependudukan  mereka.

&quot;Setelah bisa sekolah dan memiliki KTP, kita dorong pemerintah daerah untuk mendirikan sekolah di sana,&quot; tutur Widi.

Dari informasi yang didapatnya, sudah banyak dari warga SAD yang  sangat ingin sekali untuk masuk TNI. &quot;Bahwasanya mereka sangat berharap  bisa masuk TNI sehingga mereka bisa seperti Prada Budi yang merupakan  warga SAD yang terlebih dahulu masuk tentara,&quot; tandas Dandim.

Sementara itu, Kepala Dinas Dukcapil Provinsi Jambi Arief Munandar  berujar, yang jadi masalah saat ini, dari 11 ribu jiwa warga SAD, ada  sekitar 4.200 jiwa yang belum terekam e-KTP atau 1.885 kk.

&amp;ldquo;SAD di Jambi ini dua tipe, ada yang membaur dengan masyarakat dan  yang masih nomaden (pindah-pindah). Yang 4.200 jiwa warga SAD ini yang  belum terekam e-KTP,&amp;rdquo; ungkapnya.

Mereka ini, katanya, hidupnya tinggal di kebun-kebun sawit,  hutan-hutan dan lainnya. &amp;ldquo;Padahal, mereka ini sudah dibuat rumah, tapi  kebiasaan melangun atau berpindah-pindah membuat sulit petugas  mendatanya,&amp;rdquo; tukas Arief.

Untuk diketahui, Prada Budi merupakan anggota Batalyon Rider  Infanteri 142/Ksatria Jaya. Putra daerah suku terpencil di Provinsi  Jambi itu masuk Tamtama Angkatan Darat (AD) dan merampungkan pendidikan  militernya di Rindam II/Sriwijaya tahun 2016 lalu.



Prada Budi, adalah anak rimba kelahiran 24 April 1998 di Aek Behan,  Kejasung Besar, Bukit 12, Jambi. Meski terlahir sebagai anak rimba, yang  jauh dari hingar bingar kota, tapi semangat dan kesabarannya untuk  mewujudkan cita-cita sebagai anggota TNI tidak pernah kendur.

Prajurit yang dikenal memiliki kemampuan menembak sangat baik itu  akhirnya berbuah manis. Prada Budi, kemudian resmi menjadi abdi negara  yang bertugas menjaga kedaulatan NKRI.

</description><content:encoded>JAMBI - Terpilihnya Prada Budi dan Prada Yogi, yang merupakan warga Suku Anak Dalam (SAD) menimbulkan dampak yang luar biasa bagi masyarakat di sekitarnya.

Saat ini banyak anak rimba (Ssebutan lain SAD, red) yang bercita-cita ingin jadi tentara. Seperti yang diakui salah seorang warga SAD dari Sungai Terap, Bukit 12, perbatasan antara Kabupaten Batanghari dan Muarojambi, Ngelambu yang menginginkan anak-anak dari sukunya bisa terpilih menjadi pembela NKRI.

&amp;ldquo;Maunyo anak kami dibimbing bapak Dandim jadi tentera, supaya kami dapat terbantu. Jika anak kami bisa sekolah atau jadi TNI bisa bantu masyarakat di Sungai Terap karena tanah kami banyak hilang oleh pihak perusahaan,&amp;rdquo; ujarnya.

Di samping itu, kepada pemerintah daerah, dia berharap diberikan kesempatan yang sama di dalam pemerintahan dan orang rimba dapat didorong untuk lebih maju.



&amp;ldquo;Kepada pemerintah daerah, kami mohon minta didorong juga kami orang rimba supaya memahami seperti apa pemerintahan,&quot; harap Ngelambu.

Menanggapi antusias warga SAD yang menginginkan anak-anaknya bergabung di TNI, Dandim 0415/Batanghari Letkol Inf Widi Rahman sangat terharu dan mengapresiasinya.

&quot;Saya jadi terharu mendengarnya. Betapa mereka ingin sekali anak keturunannya bisa menjadi TNI Angkatan Darat. Terimakasih kepercayaannya,&quot; tegas Widi, Senin (22/7/2019).

Baca Juga: Kisah Membanggakan Dua Tentara Pertama dari Suku Anak Dalam

Namun, katanya, masih adanya terkendala dengan pendidikan anak-anak warga SAD. Padahal, pihak TNI memiliki program khusus untuk orang rimba.

&quot;Saat ini, ada program khusus untuk Suku Anak Dalam untuk masuk TNI, cuma terkendala masalah pendidikan,&quot; tandas Widi di lokasi TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) di Desa Ladang Peris, Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi.

Menurutnya, bagi yang mau masuk Tamtama, minimal tamatan SMP dan di AKMIL haruslah tamatan SMK. &quot;Karena itu, keinginan mereka masih belum bisa diakomodir untuk masuk tentara karena belum bisa memenuhi persyaratan,&quot; tandas Widi.

Dia menambahkan, seperti warga SAD yang di Jeluti, Bukit 12 ini  pendidikannya masih belum mencukupi. &quot;Memang ada keturunan SAD, kayak  yang di Sungai Bahar, mereka sudah sekolah dan bisa diakomodir,&quot;  jelasnya.

Keinginan mereka bisa terwujud, ungkapnya, tapi pada masa akan datang  dengan cara mengajak pemerintahan daerah untuk mendata kependudukan  mereka.

&quot;Setelah bisa sekolah dan memiliki KTP, kita dorong pemerintah daerah untuk mendirikan sekolah di sana,&quot; tutur Widi.

Dari informasi yang didapatnya, sudah banyak dari warga SAD yang  sangat ingin sekali untuk masuk TNI. &quot;Bahwasanya mereka sangat berharap  bisa masuk TNI sehingga mereka bisa seperti Prada Budi yang merupakan  warga SAD yang terlebih dahulu masuk tentara,&quot; tandas Dandim.

Sementara itu, Kepala Dinas Dukcapil Provinsi Jambi Arief Munandar  berujar, yang jadi masalah saat ini, dari 11 ribu jiwa warga SAD, ada  sekitar 4.200 jiwa yang belum terekam e-KTP atau 1.885 kk.

&amp;ldquo;SAD di Jambi ini dua tipe, ada yang membaur dengan masyarakat dan  yang masih nomaden (pindah-pindah). Yang 4.200 jiwa warga SAD ini yang  belum terekam e-KTP,&amp;rdquo; ungkapnya.

Mereka ini, katanya, hidupnya tinggal di kebun-kebun sawit,  hutan-hutan dan lainnya. &amp;ldquo;Padahal, mereka ini sudah dibuat rumah, tapi  kebiasaan melangun atau berpindah-pindah membuat sulit petugas  mendatanya,&amp;rdquo; tukas Arief.

Untuk diketahui, Prada Budi merupakan anggota Batalyon Rider  Infanteri 142/Ksatria Jaya. Putra daerah suku terpencil di Provinsi  Jambi itu masuk Tamtama Angkatan Darat (AD) dan merampungkan pendidikan  militernya di Rindam II/Sriwijaya tahun 2016 lalu.



Prada Budi, adalah anak rimba kelahiran 24 April 1998 di Aek Behan,  Kejasung Besar, Bukit 12, Jambi. Meski terlahir sebagai anak rimba, yang  jauh dari hingar bingar kota, tapi semangat dan kesabarannya untuk  mewujudkan cita-cita sebagai anggota TNI tidak pernah kendur.

Prajurit yang dikenal memiliki kemampuan menembak sangat baik itu  akhirnya berbuah manis. Prada Budi, kemudian resmi menjadi abdi negara  yang bertugas menjaga kedaulatan NKRI.

</content:encoded></item></channel></rss>
