<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mempertanyakan Akurasi dari Prediksi Gempa dan Tsunami di Pulau Jawa</title><description>Pakar geologi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Thomas Triadi Putranto, mengkritisi prediksi gempa di Pulau jawa</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/27/337/2084355/mempertanyakan-akurasi-dari-prediksi-gempa-dan-tsunami-di-pulau-jawa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/07/27/337/2084355/mempertanyakan-akurasi-dari-prediksi-gempa-dan-tsunami-di-pulau-jawa"/><item><title>Mempertanyakan Akurasi dari Prediksi Gempa dan Tsunami di Pulau Jawa</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/07/27/337/2084355/mempertanyakan-akurasi-dari-prediksi-gempa-dan-tsunami-di-pulau-jawa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/07/27/337/2084355/mempertanyakan-akurasi-dari-prediksi-gempa-dan-tsunami-di-pulau-jawa</guid><pubDate>Sabtu 27 Juli 2019 15:04 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Budi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/27/337/2084355/mempertanyakan-akurasi-dari-prediksi-gempa-dan-tsunami-di-pulau-jawa-WmO22MjNfF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/27/337/2084355/mempertanyakan-akurasi-dari-prediksi-gempa-dan-tsunami-di-pulau-jawa-WmO22MjNfF.jpg</image><title>Foto: Shutterstock</title></images><description>SEMARANG &amp;ndash; Publik akhir-akhir ini digegerkan dengan prediksi yang dikeluarkan oleh pakar tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko. Dia memprediksi akan terjadi gempa sekira magnitudo 8,5-8,8 yang akan mengguncang selatan Pulau Jawa.

Gempa besar tersebut juga diprediksi akan diikuti gelombang tsunami hingga setinggi 20 meter. Daerah yang berpotensi tersapu gelombang tsunami mulai dari selatan Cilacap, hingga Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pakar geologi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dr.rer.nat. Thomas Triadi Putranto, ST, M.Eng, mengkritisi prediksi tersebut. Menurutnya, untuk membuat suatu permodelan simulasi tak hanya memasukkan input data tetapi juga proses validasi atau kalibrasi.

&amp;ldquo;Simulasinya bagaimana itu, harus divalidasi. Jadi kalau dalam kita membuat satu model, model itu kan gambaran sederhana dari kejadian yang kompleks yang ada di alam. Kalau ada kejadian yang kompleks di alam ini, maka disederhanakan, kemudian melakukan pemodelan, merunning hasil input data yang dimasukkan kemudian setelah itu akan ada luaran,&amp;rdquo; kata Thomas, Jumat (26/7/2019).



Sekretaris Departemen Teknik Geologi Universitas Diponegoro itu menambahkan, kawasan di sepanjang jalur Pantai Selatan Pulau Jawa memang berada di atas pertemuan lempeng benua dan lempeng samudra. Sehingga bila terjadi tumbukan lempeng, maka berpotensi terjadi bencana geologi berupa gempa bumi.

&amp;ldquo;Kita ketahui dari jalur selatan di wilayah bagian selatan itu memang jalur subduction zone. Di situ memang ada pertemuan antara lempeng benua dengan lempeng samudra. Kalau itu terjadi pergerakan akan mengakibatkan terjadinya beberapa kejadian gempa yang dipicu oleh pergerakan tadi,&amp;rdquo; tuturnya.

Meski demikian, dia mengatakan, sangat sulit mengamati pergerakan lempeng tersebut karena letaknya jauh di bawah permukaan tanah. Terlebih hingga saat ini belum terdapat alat yang bisa mendeteksi pergerakan lempeng bumi.

&amp;ldquo;Nah sebelum kita melakukan menganalisis untuk prediksi, itu (permodelan) harus dikalibrasi. Masalahnya kejadian yang seperti ini (pergerakan lempeng) ada di bawah yang sangat dalam. Ini agak susah bagaimana kita melakukan kalibrasi atau validasi dari model itu,&amp;rdquo; terangnya.

&amp;ldquo;Sampai saat ini memang belum ada penelitian yang bisa melakukan kalibrasi atau validasi terhadap pemodelan yang model seperti itu,&amp;rdquo; tandasnya.

Untuk itu, dia menilai ada tahapan yang belum dilakukan oleh pakar  tsunami dari BPPT, Widjo Kongko. &amp;ldquo;Betul (ada tahapan yang belum  lengkap). Kalau dia misalkan memasukkan data input untuk melakukan  pemodelan itu, tapi pada saat model itu dirunning untuk mengeluarkan  hasil, dan mengeluarkan hasil, kita harus melakukan kalibrasi supaya  antara data lapangan dan data hasil simulasi bagaimana (hasilnya),&amp;rdquo;  tambahnya.

&amp;ldquo;Lah ini kan yang kita enggak tahu, apakah beliau ini sudah melakukan  tahapan kalibrasi sehingga data lapangan dengan data hasil simulasi itu  tidak berbeda jauh. Sehingga itu yang harus kita kemukakan dulu sebelum  melakukan aplikasi terhadap hasil model yang kita punya,&amp;rdquo; tutur dia.



&amp;ldquo;Kalau itu bisa valid di dalam proses kalibrasi, itu baru kita bisa  percayai data masukan kita dan simulasi kita bisa mendekati kenyataan di  lapangan, tidak harus sama persis di lapangan tapi paling tidak  mendekati, yang namanya model itu kan tidak bisa sempurna dengan  kejadian di lapangan, tapi paling tidak mendekati (hasilnya),&amp;rdquo; beber  Thomas.

&amp;ldquo;Orang bisa memprediksi potensi segala macam itu ya silakan, tapi  harus bisa bagaimana proses kalibrasi dari hasil running model itu  dijalankan, supaya data lapangan yang kita masukkan dengan data hasil  modelnya tidak berbeda jauh,&amp;rdquo; terangnya lagi.

Dosen Dasar-Dasar Permodelan itu kembali menyatakan akan kesulitan  untuk mengamati pergerakan lempeng bumi. Berbeda dengan studi pengamatan  pada bencana longsor atau penurunan muka air tanah akibat aktivitas  pengambilan air tanah yang berlebihan.

&amp;ldquo;Ya itu sangat susah karena pergerakan lempeng itu tidak bisa kita  lihat pergerakannya setiap saat, karena tidak ada yang bisa alat yang  bisa memantau. Bagaimana lempeng samudra benua itu bergerak?,&amp;rdquo; tanya  dia.

&amp;ldquo;Kalau yang lain, misalnya kita buat model yang lain itu bisa kita  pantau misalnya pergerakan tanah, longsor itu ada data model, data  lapangan, dan pengamatan. Dari situ inputting data kita lakukan model,  itu bisa. Kemudian juga ada misalkan pemodelan penurunan muka air tanah  akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, itu kalau kita modelkan  itu bisa itu kalibrasikan melalui monitoring,&amp;rdquo; bebernya.

&amp;ldquo;Tapi kalau untuk melakukan data monitoring terkait dengan pergerakan  lempeng itu kan kita enggak punya, alatnya belum ada. Jadi bagaimana  kita bisa sampai memprediksi sejauh itu di dalam bumi berpuluh-puluh  kilometer untuk tahu pergerakan lempeng itu,&amp;rdquo; tandasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sistem permodelan menggunakan suatu   software yang akan mengolah data-data masukan. Meski demikian, Thomas   mengaku tak mengetahui pasti jenis data masukan dalam permodelan yang   dilakukan oleh Widjo Kongko.

&amp;ldquo;Simulasi itu kita memasukkan data input yang ada di lapangan. Kita   masukkan ke dalam software, setelah itu baru kita running. Saya enggak   tahu apakah Pak Widjo Kongko itu input datanya apa saja, kita juga tidak   mengikuti, dia tidak menyampaikan itu. Kemudian dia merunning keluar   hasil,&amp;rdquo; jelasnya.

Thomas juga menyampaikan, selama ini belum ada studi lain yang   menyebut akan terjadi gempa besar yang diikuti tsunami dahsyat di Pantai   Selatan Jawa. Sebab, berdasarkan fenomena tsunami yang perah terjadi,   gelombang laut tidak sampai mencapai ketinggian puluhan meter.

&amp;ldquo;Ini harusnya sebelum publish harus dikalibrasi dulu, betul enggak   itu seperti itu. Karena kalau kita melihat fenomena tsunami dan segala   macem di Pantai Selatan Jawa ini tidak sampai pada 50 meter, pengalaman   kemarin, atau sejarahnya pun juga enggak ada yang seperti itu,&amp;rdquo; ucap   dia.

Menurut dia, selama ini juga belum pernah ada kejadian tsunami sesuai   prediksi permodelan atau simulasi. Selain kesulitan mendapatkan data   pengamatan pergerakan lempeng bumi, kebanyakan studi justru mengolah   data berdasarkan suatu peristiwa bencana seperti tsunami.

&amp;ldquo;Biasanya simulasi itu kan setelah kejadian tsunami. Selama ini kita   belum pernah ada studi yang bisa melakukan model, lalu model itu   di-running kemudian terjadi (tsunami sesuai prediksi). Itu belum pernah   ada,&amp;rdquo; tukasnya.

&amp;ldquo;Jadi kalau biasanya model yang mereka jalankan itu pada saat setelah   kejadian. Setelah tsunami terjadi itu melakukan simulasi tsunami.   Karena apa? Karena tidak punya alat yang bisa memprediksi pergerakan   lempeng itu jauh di bawah permukaan bumi, tidak ada alatnya,&amp;rdquo; imbuhnya.

&amp;ldquo;Dengan demikian akan susah, karena kita juga bener-bener enggak   tahu, enggak bisa kita amati pergerakan lempeng itu setiap saat. Kecuali   kalau kita bisa amati pergerakan lempeng, baru kita teliti akan  terjadi  pergerakan lempeng sehingga menghasilkan gempa sekian, tapi kan  enggak  pernah,&amp;rdquo; tegas dia.
</description><content:encoded>SEMARANG &amp;ndash; Publik akhir-akhir ini digegerkan dengan prediksi yang dikeluarkan oleh pakar tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko. Dia memprediksi akan terjadi gempa sekira magnitudo 8,5-8,8 yang akan mengguncang selatan Pulau Jawa.

Gempa besar tersebut juga diprediksi akan diikuti gelombang tsunami hingga setinggi 20 meter. Daerah yang berpotensi tersapu gelombang tsunami mulai dari selatan Cilacap, hingga Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pakar geologi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dr.rer.nat. Thomas Triadi Putranto, ST, M.Eng, mengkritisi prediksi tersebut. Menurutnya, untuk membuat suatu permodelan simulasi tak hanya memasukkan input data tetapi juga proses validasi atau kalibrasi.

&amp;ldquo;Simulasinya bagaimana itu, harus divalidasi. Jadi kalau dalam kita membuat satu model, model itu kan gambaran sederhana dari kejadian yang kompleks yang ada di alam. Kalau ada kejadian yang kompleks di alam ini, maka disederhanakan, kemudian melakukan pemodelan, merunning hasil input data yang dimasukkan kemudian setelah itu akan ada luaran,&amp;rdquo; kata Thomas, Jumat (26/7/2019).



Sekretaris Departemen Teknik Geologi Universitas Diponegoro itu menambahkan, kawasan di sepanjang jalur Pantai Selatan Pulau Jawa memang berada di atas pertemuan lempeng benua dan lempeng samudra. Sehingga bila terjadi tumbukan lempeng, maka berpotensi terjadi bencana geologi berupa gempa bumi.

&amp;ldquo;Kita ketahui dari jalur selatan di wilayah bagian selatan itu memang jalur subduction zone. Di situ memang ada pertemuan antara lempeng benua dengan lempeng samudra. Kalau itu terjadi pergerakan akan mengakibatkan terjadinya beberapa kejadian gempa yang dipicu oleh pergerakan tadi,&amp;rdquo; tuturnya.

Meski demikian, dia mengatakan, sangat sulit mengamati pergerakan lempeng tersebut karena letaknya jauh di bawah permukaan tanah. Terlebih hingga saat ini belum terdapat alat yang bisa mendeteksi pergerakan lempeng bumi.

&amp;ldquo;Nah sebelum kita melakukan menganalisis untuk prediksi, itu (permodelan) harus dikalibrasi. Masalahnya kejadian yang seperti ini (pergerakan lempeng) ada di bawah yang sangat dalam. Ini agak susah bagaimana kita melakukan kalibrasi atau validasi dari model itu,&amp;rdquo; terangnya.

&amp;ldquo;Sampai saat ini memang belum ada penelitian yang bisa melakukan kalibrasi atau validasi terhadap pemodelan yang model seperti itu,&amp;rdquo; tandasnya.

Untuk itu, dia menilai ada tahapan yang belum dilakukan oleh pakar  tsunami dari BPPT, Widjo Kongko. &amp;ldquo;Betul (ada tahapan yang belum  lengkap). Kalau dia misalkan memasukkan data input untuk melakukan  pemodelan itu, tapi pada saat model itu dirunning untuk mengeluarkan  hasil, dan mengeluarkan hasil, kita harus melakukan kalibrasi supaya  antara data lapangan dan data hasil simulasi bagaimana (hasilnya),&amp;rdquo;  tambahnya.

&amp;ldquo;Lah ini kan yang kita enggak tahu, apakah beliau ini sudah melakukan  tahapan kalibrasi sehingga data lapangan dengan data hasil simulasi itu  tidak berbeda jauh. Sehingga itu yang harus kita kemukakan dulu sebelum  melakukan aplikasi terhadap hasil model yang kita punya,&amp;rdquo; tutur dia.



&amp;ldquo;Kalau itu bisa valid di dalam proses kalibrasi, itu baru kita bisa  percayai data masukan kita dan simulasi kita bisa mendekati kenyataan di  lapangan, tidak harus sama persis di lapangan tapi paling tidak  mendekati, yang namanya model itu kan tidak bisa sempurna dengan  kejadian di lapangan, tapi paling tidak mendekati (hasilnya),&amp;rdquo; beber  Thomas.

&amp;ldquo;Orang bisa memprediksi potensi segala macam itu ya silakan, tapi  harus bisa bagaimana proses kalibrasi dari hasil running model itu  dijalankan, supaya data lapangan yang kita masukkan dengan data hasil  modelnya tidak berbeda jauh,&amp;rdquo; terangnya lagi.

Dosen Dasar-Dasar Permodelan itu kembali menyatakan akan kesulitan  untuk mengamati pergerakan lempeng bumi. Berbeda dengan studi pengamatan  pada bencana longsor atau penurunan muka air tanah akibat aktivitas  pengambilan air tanah yang berlebihan.

&amp;ldquo;Ya itu sangat susah karena pergerakan lempeng itu tidak bisa kita  lihat pergerakannya setiap saat, karena tidak ada yang bisa alat yang  bisa memantau. Bagaimana lempeng samudra benua itu bergerak?,&amp;rdquo; tanya  dia.

&amp;ldquo;Kalau yang lain, misalnya kita buat model yang lain itu bisa kita  pantau misalnya pergerakan tanah, longsor itu ada data model, data  lapangan, dan pengamatan. Dari situ inputting data kita lakukan model,  itu bisa. Kemudian juga ada misalkan pemodelan penurunan muka air tanah  akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, itu kalau kita modelkan  itu bisa itu kalibrasikan melalui monitoring,&amp;rdquo; bebernya.

&amp;ldquo;Tapi kalau untuk melakukan data monitoring terkait dengan pergerakan  lempeng itu kan kita enggak punya, alatnya belum ada. Jadi bagaimana  kita bisa sampai memprediksi sejauh itu di dalam bumi berpuluh-puluh  kilometer untuk tahu pergerakan lempeng itu,&amp;rdquo; tandasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sistem permodelan menggunakan suatu   software yang akan mengolah data-data masukan. Meski demikian, Thomas   mengaku tak mengetahui pasti jenis data masukan dalam permodelan yang   dilakukan oleh Widjo Kongko.

&amp;ldquo;Simulasi itu kita memasukkan data input yang ada di lapangan. Kita   masukkan ke dalam software, setelah itu baru kita running. Saya enggak   tahu apakah Pak Widjo Kongko itu input datanya apa saja, kita juga tidak   mengikuti, dia tidak menyampaikan itu. Kemudian dia merunning keluar   hasil,&amp;rdquo; jelasnya.

Thomas juga menyampaikan, selama ini belum ada studi lain yang   menyebut akan terjadi gempa besar yang diikuti tsunami dahsyat di Pantai   Selatan Jawa. Sebab, berdasarkan fenomena tsunami yang perah terjadi,   gelombang laut tidak sampai mencapai ketinggian puluhan meter.

&amp;ldquo;Ini harusnya sebelum publish harus dikalibrasi dulu, betul enggak   itu seperti itu. Karena kalau kita melihat fenomena tsunami dan segala   macem di Pantai Selatan Jawa ini tidak sampai pada 50 meter, pengalaman   kemarin, atau sejarahnya pun juga enggak ada yang seperti itu,&amp;rdquo; ucap   dia.

Menurut dia, selama ini juga belum pernah ada kejadian tsunami sesuai   prediksi permodelan atau simulasi. Selain kesulitan mendapatkan data   pengamatan pergerakan lempeng bumi, kebanyakan studi justru mengolah   data berdasarkan suatu peristiwa bencana seperti tsunami.

&amp;ldquo;Biasanya simulasi itu kan setelah kejadian tsunami. Selama ini kita   belum pernah ada studi yang bisa melakukan model, lalu model itu   di-running kemudian terjadi (tsunami sesuai prediksi). Itu belum pernah   ada,&amp;rdquo; tukasnya.

&amp;ldquo;Jadi kalau biasanya model yang mereka jalankan itu pada saat setelah   kejadian. Setelah tsunami terjadi itu melakukan simulasi tsunami.   Karena apa? Karena tidak punya alat yang bisa memprediksi pergerakan   lempeng itu jauh di bawah permukaan bumi, tidak ada alatnya,&amp;rdquo; imbuhnya.

&amp;ldquo;Dengan demikian akan susah, karena kita juga bener-bener enggak   tahu, enggak bisa kita amati pergerakan lempeng itu setiap saat. Kecuali   kalau kita bisa amati pergerakan lempeng, baru kita teliti akan  terjadi  pergerakan lempeng sehingga menghasilkan gempa sekian, tapi kan  enggak  pernah,&amp;rdquo; tegas dia.
</content:encoded></item></channel></rss>
