<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Potret Kemiskinan di Balik Kemajuan Kota Pontianak</title><description>Di tengah kemajuan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, ternyata masih ada rumah yang tak layak huni.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/01/340/2086473/potret-kemiskinan-di-balik-kemajuan-kota-pontianak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/01/340/2086473/potret-kemiskinan-di-balik-kemajuan-kota-pontianak"/><item><title>Potret Kemiskinan di Balik Kemajuan Kota Pontianak</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/01/340/2086473/potret-kemiskinan-di-balik-kemajuan-kota-pontianak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/01/340/2086473/potret-kemiskinan-di-balik-kemajuan-kota-pontianak</guid><pubDate>Kamis 01 Agustus 2019 16:42 WIB</pubDate><dc:creator>Ade Putra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/01/340/2086473/potret-kemiskinan-di-balik-kemajuan-kota-pontianak-vtwJVejRI0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Warga Pontianak Kalimantan Barat (Foto: Ade/okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/01/340/2086473/potret-kemiskinan-di-balik-kemajuan-kota-pontianak-vtwJVejRI0.jpg</image><title>Warga Pontianak Kalimantan Barat (Foto: Ade/okezone)</title></images><description>PONTIANAK - Di tengah kemajuan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, ternyata masih ada rumah yang tak layak huni. Boleh dibilang semacam gubuk. Rumah itu, terletak di permukiman padat di Gang Pelangi, Jalan Johar, Kelurahan Tengah, Kecamatan Pontianak Kota.
Dari luar gang, permukiman di sana tampak sudah lebih maju dan rapi. Terdapat rumah-rumah berdiri kokoh. Baik pembangunan mandiri maupun bantuan dari pemerintah. Namun tak disangka, di tengah-tengahnya masih terdapat rumah tak berdinding.
Okezone sempat mendatangi rumah berbahan papan yang sudah reyot itu, Rabu 31 Juli 2019. Di rumah itu, terdapat Ria Rizki Utami yang sedang diasuh ibunya, Supardini. Perempuan berusia 23 tahun itu merupakan gadis penyandang difabel atau disabilitas yang melewati hari-harinya bersama sang ibu di rumah tersebut.
Dari percakapan bersama Supardini, diketahui sejak tahun 2002, dia sudah menempati rumah peninggalan mertuanya. Kala itu, hanya dia dan suaminya, Ismail yang tinggal disana. Sementara, Ria diasuh adiknya Supardini karena sering sakit-sakitan sejak bayi. Demam panas tinggi yang berujung step dan kejang-kejang serta asma.
&quot;Kami sebelumnya tinggal di Paris 2 (Parit Haji Husein 2, Pontianak Tenggara) tempat adik,&quot; cerita Supardini, kemarin.

Baca Juga: Reydonnyzar Moenek Berharap IKPS Bantu Tekan Kemiskinan di Pesisir Selatan
Selama menjalani hidup, ia hanya mengandalkan pendapatan sang suami dari hasil keringat sebagai buruh harian lepas. Pada 2010, karena Ria sudah beranjak remaja, dia kembali diasuh oleh Supardini dan Ismail.
Supardini kemudian ditinggal Ismail untuk selama-lamanya pada 2014 lalu. Sejak itulah beban hidup Supardini semakin bertambah. Untuk bertahan hidup, dia dan anak semata wayangnya mengandalkan belas kasihan keluarga dan tetangga.
Karena, tak ada lagi yang memenuhi kebutuhan mereka. Supardini tak bisa bekerja. Selain karena faktor usia, anak kesayangannya juga tidak bisa ditinggalkan.
&quot;Jadinya kami hanya mengandalkan belas kasihan tetangga dan keluarga untuk hidup sehari-hari,&quot; ucap perempuan yang berusia 70 tahun itu.Rumah warisan berukuran empat kali lima meter ini semakin rapuh.  Karena termakan usia. Apalagi sang suami yang biasanya merawat rumah  sudah tiada. Kesedihan yang amat terasa bagi Supardini dini dan anaknya,  ketika musim penghujan.
&quot;Kalau hujan, kami pasti kebasahan. Karena rumah ini tidak ada  dinding. Hanya mengandalkan bekas-bekas baliho dan spanduk,&quot; ujarnya.
Saat ini, Supardini hanya berharap bantuan dari pemerintah dan para  dermawan untuk bisa memperbaiki rumahnya. Karena, selain tidak memiliki  biaya untuk memperbaiki rumah, dia juga harus mengasuh anaknya yang  sejak bayi mengalami keterbatasan. Sehingga tak ada lagi yang bisa  dikerjakannya untuk menghasilkan uang.
&quot;Anak saya ini saat usia 3 bulan, dia demam panas tinggi dan  kejang-kejang. Karena tak ada biaya, makanya anak saya tidak kontrol  kesehatan ke dokter praktik maupun ke rumah sakit,&quot; ujarnya.
Dia berharap, pemerintah memberikan perhatian lebih. Baik kepada  anaknya, maupun dalam hal perbaikan rumah yang tidak layak huni ini.  Seingat dia, sudah sejak tiga tahun terakhir tidak mendapat bantuan.  Salah satunya bantuan beras untuk masyarakat miskin (Raskin). Termasuk  bantuan untuk anaknya. &quot;Saya juga tidak mengerti untuk mengurusnya,&quot;  katanya.

Apalagi untuk hal pengurusan air PDAM. Dia mengaku juga tidak tahu.  &quot;Jadi kami mandi dan buang air pakai air hujan. Kalau tak ada hujan,  kami minta air tetangga,&quot; bebernya.
Sebenarnya, Supardini masih memiliki saudara kandung yang  berkecukupan dan sukses. Tapi dia tak mau membebani adik-adiknya. Ia  juga mengaku bahwa saudaranya dan tetangga masih peduli dalam memberikan  bantuan berupa makanan maupun lainnya.
&quot;Yang saya butuhkan saat ini hanya kepedulian pemerintah dalam  membantu penyediaan rumah layak huni. Seperti untuk membangun dinding  rumah dan WC yang tak berdinding ini,&quot; tuturnya.
Memang, diakuinya sempat mendapatkan bantuan berupa atap seng. Tapi  dia tidak tahu siapa yang membantu. Karena si pengantar bantuan itu tak  bertemu dengannya.
Di rumah itu, juga ada Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas  Indonesia (PPDI) Kalbar, Jamhari Abdul Hakim. Kepada wartawan, Abdul  menyatakan bahwa Ria merupakan anak yang mengalami disabilitas yang  terdata di perkumpulannya.Menurut undang-undang, kata Abdul, penyandang disabilitas merupakan   tanggung jawab negara dalam hal pemberian kehidupan yang layak.
&quot;Apalagi orangtua anak yang disabilitas ini termasuk tidak mampu.   Sehingga negara harus hadir dalam memberikan penghidupan yang layak   baginya,&quot; ujar dia.
Yang paling memprihatinkan baginya, ketika melihat Ria tinggal di   rumah yang sangat tidak layak. &quot;Menurut saya, Ria dan ibunya sangat   membutuhkan bantuan dan perhatian dari pemerintah,&quot; tuturnya.
Dia berharap, Pemkot Pontianak memberikan perhatian. Bisa dalam   bentuk memberikan bantuan berupa program bedah rumah atau juga diberikan   bantuan bagi rumah tangga miskin. Berupa Kartu Indonesia Pintar (KIP),   Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Simpanan Keluarga Sejahtera   (KSKP). Seperti yang diterima tetangga-tetangga Supardini.
Abdul menambahkan, menurut pengakuan dari Supardini, mereka tidak   sama sekali mendapat bantuan atau memiliki ketiga kartu tersebut.
&quot;Kami sangat berharap Pemkot Pontianak memperhatikan keluarga Bu Supardini dan Ria yang mengalami disabilitas ini,&quot; ucapnya.
Terpisah, Lurah Tengah Kecamatan Pontianak Kota, Ade Marhaeni Dewi   menegaskan bahwa pemerintah sudah hadir memberikan bantuan kepada   warganya.
&quot;Ibu Supardini ini pernah menerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemkot Pontianak tahun 2012,&quot; tuturnya.
Kemudian, sambung Dewi, dengan bantuan RTLH tersebut, rumah yang   merupakan warisan dari mertuanya itu dibangun dengan bantuan gotong   royong warga. Akan tetapi, luas rumah ditambah. Sehingga tidak   terselesaikan.

Selain itu, Supardini juga memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS)   sedangkan Ria, sebagai pemegang Kartu Askes PNS dari orangtua angkatnya.
&quot;Ibu Supardini juga pernah menerima bantuan pangan pada 2018, menerima bantuan dari PKK Kota Pontianak 2018,&quot; bebernya.
Tak hanya itu, rumah yang dihuni Supardini juga pernah diusulkan   sebagai penerima sambungan PDAM MBR tahun 2019 ini melalui kelurahan.   Tetapi yang bersangkutan tidak bersedia dipasangkan sambungan air PDAM   dengan alasan tidak mampu membayar iuran bulanannya.
&quot;Jadi, tidak benar kalau dikatakan yang bersangkutan tidak pernah mendapatkan bantuan dari Pemkot Pontianak,&quot; tukasnya.
Sementara, sambung Dewi, untuk kesehariannya, Supardini mendapat   bantuan dari saudara kandungnya yang beralamat di Komplek Acisa Permai   dan juga tetangga sekitar rumahnya.
Sedangkan anaknya, Ria dikatakannya memiliki riwayat step dan asma.   Apabila kambuh penyakit asmanya, yang bersangkutan diberi minum obat   dari apotek. Untuk penyakit step, menurut penuturan Supardini, sudah   tidak pernah kambuh lagi.
&quot;Bahkan anaknya sudah pernah berobat bersama ibu angkatnya sampai ke Jakarta dan lain-lain,&quot; tutup Dewi.</description><content:encoded>PONTIANAK - Di tengah kemajuan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, ternyata masih ada rumah yang tak layak huni. Boleh dibilang semacam gubuk. Rumah itu, terletak di permukiman padat di Gang Pelangi, Jalan Johar, Kelurahan Tengah, Kecamatan Pontianak Kota.
Dari luar gang, permukiman di sana tampak sudah lebih maju dan rapi. Terdapat rumah-rumah berdiri kokoh. Baik pembangunan mandiri maupun bantuan dari pemerintah. Namun tak disangka, di tengah-tengahnya masih terdapat rumah tak berdinding.
Okezone sempat mendatangi rumah berbahan papan yang sudah reyot itu, Rabu 31 Juli 2019. Di rumah itu, terdapat Ria Rizki Utami yang sedang diasuh ibunya, Supardini. Perempuan berusia 23 tahun itu merupakan gadis penyandang difabel atau disabilitas yang melewati hari-harinya bersama sang ibu di rumah tersebut.
Dari percakapan bersama Supardini, diketahui sejak tahun 2002, dia sudah menempati rumah peninggalan mertuanya. Kala itu, hanya dia dan suaminya, Ismail yang tinggal disana. Sementara, Ria diasuh adiknya Supardini karena sering sakit-sakitan sejak bayi. Demam panas tinggi yang berujung step dan kejang-kejang serta asma.
&quot;Kami sebelumnya tinggal di Paris 2 (Parit Haji Husein 2, Pontianak Tenggara) tempat adik,&quot; cerita Supardini, kemarin.

Baca Juga: Reydonnyzar Moenek Berharap IKPS Bantu Tekan Kemiskinan di Pesisir Selatan
Selama menjalani hidup, ia hanya mengandalkan pendapatan sang suami dari hasil keringat sebagai buruh harian lepas. Pada 2010, karena Ria sudah beranjak remaja, dia kembali diasuh oleh Supardini dan Ismail.
Supardini kemudian ditinggal Ismail untuk selama-lamanya pada 2014 lalu. Sejak itulah beban hidup Supardini semakin bertambah. Untuk bertahan hidup, dia dan anak semata wayangnya mengandalkan belas kasihan keluarga dan tetangga.
Karena, tak ada lagi yang memenuhi kebutuhan mereka. Supardini tak bisa bekerja. Selain karena faktor usia, anak kesayangannya juga tidak bisa ditinggalkan.
&quot;Jadinya kami hanya mengandalkan belas kasihan tetangga dan keluarga untuk hidup sehari-hari,&quot; ucap perempuan yang berusia 70 tahun itu.Rumah warisan berukuran empat kali lima meter ini semakin rapuh.  Karena termakan usia. Apalagi sang suami yang biasanya merawat rumah  sudah tiada. Kesedihan yang amat terasa bagi Supardini dini dan anaknya,  ketika musim penghujan.
&quot;Kalau hujan, kami pasti kebasahan. Karena rumah ini tidak ada  dinding. Hanya mengandalkan bekas-bekas baliho dan spanduk,&quot; ujarnya.
Saat ini, Supardini hanya berharap bantuan dari pemerintah dan para  dermawan untuk bisa memperbaiki rumahnya. Karena, selain tidak memiliki  biaya untuk memperbaiki rumah, dia juga harus mengasuh anaknya yang  sejak bayi mengalami keterbatasan. Sehingga tak ada lagi yang bisa  dikerjakannya untuk menghasilkan uang.
&quot;Anak saya ini saat usia 3 bulan, dia demam panas tinggi dan  kejang-kejang. Karena tak ada biaya, makanya anak saya tidak kontrol  kesehatan ke dokter praktik maupun ke rumah sakit,&quot; ujarnya.
Dia berharap, pemerintah memberikan perhatian lebih. Baik kepada  anaknya, maupun dalam hal perbaikan rumah yang tidak layak huni ini.  Seingat dia, sudah sejak tiga tahun terakhir tidak mendapat bantuan.  Salah satunya bantuan beras untuk masyarakat miskin (Raskin). Termasuk  bantuan untuk anaknya. &quot;Saya juga tidak mengerti untuk mengurusnya,&quot;  katanya.

Apalagi untuk hal pengurusan air PDAM. Dia mengaku juga tidak tahu.  &quot;Jadi kami mandi dan buang air pakai air hujan. Kalau tak ada hujan,  kami minta air tetangga,&quot; bebernya.
Sebenarnya, Supardini masih memiliki saudara kandung yang  berkecukupan dan sukses. Tapi dia tak mau membebani adik-adiknya. Ia  juga mengaku bahwa saudaranya dan tetangga masih peduli dalam memberikan  bantuan berupa makanan maupun lainnya.
&quot;Yang saya butuhkan saat ini hanya kepedulian pemerintah dalam  membantu penyediaan rumah layak huni. Seperti untuk membangun dinding  rumah dan WC yang tak berdinding ini,&quot; tuturnya.
Memang, diakuinya sempat mendapatkan bantuan berupa atap seng. Tapi  dia tidak tahu siapa yang membantu. Karena si pengantar bantuan itu tak  bertemu dengannya.
Di rumah itu, juga ada Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas  Indonesia (PPDI) Kalbar, Jamhari Abdul Hakim. Kepada wartawan, Abdul  menyatakan bahwa Ria merupakan anak yang mengalami disabilitas yang  terdata di perkumpulannya.Menurut undang-undang, kata Abdul, penyandang disabilitas merupakan   tanggung jawab negara dalam hal pemberian kehidupan yang layak.
&quot;Apalagi orangtua anak yang disabilitas ini termasuk tidak mampu.   Sehingga negara harus hadir dalam memberikan penghidupan yang layak   baginya,&quot; ujar dia.
Yang paling memprihatinkan baginya, ketika melihat Ria tinggal di   rumah yang sangat tidak layak. &quot;Menurut saya, Ria dan ibunya sangat   membutuhkan bantuan dan perhatian dari pemerintah,&quot; tuturnya.
Dia berharap, Pemkot Pontianak memberikan perhatian. Bisa dalam   bentuk memberikan bantuan berupa program bedah rumah atau juga diberikan   bantuan bagi rumah tangga miskin. Berupa Kartu Indonesia Pintar (KIP),   Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Simpanan Keluarga Sejahtera   (KSKP). Seperti yang diterima tetangga-tetangga Supardini.
Abdul menambahkan, menurut pengakuan dari Supardini, mereka tidak   sama sekali mendapat bantuan atau memiliki ketiga kartu tersebut.
&quot;Kami sangat berharap Pemkot Pontianak memperhatikan keluarga Bu Supardini dan Ria yang mengalami disabilitas ini,&quot; ucapnya.
Terpisah, Lurah Tengah Kecamatan Pontianak Kota, Ade Marhaeni Dewi   menegaskan bahwa pemerintah sudah hadir memberikan bantuan kepada   warganya.
&quot;Ibu Supardini ini pernah menerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemkot Pontianak tahun 2012,&quot; tuturnya.
Kemudian, sambung Dewi, dengan bantuan RTLH tersebut, rumah yang   merupakan warisan dari mertuanya itu dibangun dengan bantuan gotong   royong warga. Akan tetapi, luas rumah ditambah. Sehingga tidak   terselesaikan.

Selain itu, Supardini juga memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS)   sedangkan Ria, sebagai pemegang Kartu Askes PNS dari orangtua angkatnya.
&quot;Ibu Supardini juga pernah menerima bantuan pangan pada 2018, menerima bantuan dari PKK Kota Pontianak 2018,&quot; bebernya.
Tak hanya itu, rumah yang dihuni Supardini juga pernah diusulkan   sebagai penerima sambungan PDAM MBR tahun 2019 ini melalui kelurahan.   Tetapi yang bersangkutan tidak bersedia dipasangkan sambungan air PDAM   dengan alasan tidak mampu membayar iuran bulanannya.
&quot;Jadi, tidak benar kalau dikatakan yang bersangkutan tidak pernah mendapatkan bantuan dari Pemkot Pontianak,&quot; tukasnya.
Sementara, sambung Dewi, untuk kesehariannya, Supardini mendapat   bantuan dari saudara kandungnya yang beralamat di Komplek Acisa Permai   dan juga tetangga sekitar rumahnya.
Sedangkan anaknya, Ria dikatakannya memiliki riwayat step dan asma.   Apabila kambuh penyakit asmanya, yang bersangkutan diberi minum obat   dari apotek. Untuk penyakit step, menurut penuturan Supardini, sudah   tidak pernah kambuh lagi.
&quot;Bahkan anaknya sudah pernah berobat bersama ibu angkatnya sampai ke Jakarta dan lain-lain,&quot; tutup Dewi.</content:encoded></item></channel></rss>
