<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Berkenalan dengan Dayak Kenyah, Suku Tradisional yang Tinggal Dekat Pusat Kota Samarinda</title><description>Suku Dayak biasanya hanya dijumpai di pedalam hutan Kalimantan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/05/340/2088056/berkenalan-dengan-dayak-kenyah-suku-tradisional-yang-tinggal-dekat-pusat-kota-samarinda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/05/340/2088056/berkenalan-dengan-dayak-kenyah-suku-tradisional-yang-tinggal-dekat-pusat-kota-samarinda"/><item><title>Berkenalan dengan Dayak Kenyah, Suku Tradisional yang Tinggal Dekat Pusat Kota Samarinda</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/05/340/2088056/berkenalan-dengan-dayak-kenyah-suku-tradisional-yang-tinggal-dekat-pusat-kota-samarinda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/05/340/2088056/berkenalan-dengan-dayak-kenyah-suku-tradisional-yang-tinggal-dekat-pusat-kota-samarinda</guid><pubDate>Senin 05 Agustus 2019 19:20 WIB</pubDate><dc:creator>Bambang Ir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/05/340/2088056/berkenalan-dengan-dayak-kenyah-suku-tradisional-yang-tinggal-dekat-pusat-kota-samarinda-fT3bXxB9LU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Wego.co.id</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/05/340/2088056/berkenalan-dengan-dayak-kenyah-suku-tradisional-yang-tinggal-dekat-pusat-kota-samarinda-fT3bXxB9LU.jpg</image><title>Foto: Wego.co.id</title></images><description>SAMARINDA - Suku Dayak biasanya hanya dijumpai di pedalam hutan Kalimantan. Namun berbeda dengan suku Dayak Kenyah di Desa Pampang. Suku ini hanya ada di sekira 25 kilometer dari pusat Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Desa Pampang bisa dibilang bukan desa sembarangan, karena di daerah ini hidup satu suku bernama Dayak Kenyah yang sudah hidup selama puluhan tahun di desa ini.

Banyak cerita yang berkembang terkait asal-usul Suku Dayak Kenyah hingga tinggal di daerah yang masuk Kecamatan Samarinda tersebut. Desa Pampang konon berdiri dari hasil bermigrasinya suku Dayak Kenyah dari Apokayan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara pada tahun 1967.



Perpindahan suku ini melalui beberapa daerah, yakni Muara Wahau, Long Segar, Tabang, dan Long Iram di Kabupaten Kutai, hingga akhirnya mereka pun menetap di Desa Pampang dan mendirikan Rumah Lamin yang saat ini dikenal dengan Lamin Adat Pemung Tawai.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pun menetapkan Desa Pampang sebagai desa adat Dayak Kenyah pada tahun 1991.

Hasilnya, Desa Pampang kini jadi destinasi wisata budaya baru untuk banyak kalangan. Banyak wisatawan yang datang dari jauh hanya untuk bisa melihat keseharian suku Dayak kenyah. Di sini juga sering diselenggarakan tarian tradisional, menggunakan pakaian adat Dayak Kenyah, atau berfoto bersama penari dan tetua adat mereka.

Selain Desa Pampang sebagai destinasi wisata, Suku Dayak Kenyah juga sering memberikan penghargaan untuk tokoh berpengaruh sebagai keluarga mereka. Salah satunya yang terkenal adalah Mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.



Selain Ahok, Mantan Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Samarinda, Totok Mukarto juga mendapatkan gelar kehormatan dari masyarakat Dayak Kalimantan Timur. Totok Mukarto yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kantor di KSOP Kelas II Gresik, Jawa Timur mendapat Gelar Kehormatan dengan nama Kirip Paren Lung yang berarti penguasa muara yang dihormati.

Prosesi pemberian gelar kehormatan tersebut berlangsung hikmah yang  ditandai dengan pemasangan tanda adat sebagai warga kehormatan adat  Dayak Kenyah Pampang oleh Ketua Adat serta pemberian gelar nama. Selain  Totok sang istri Ratna Sari Dewi dan putrinya, RR. Catherine Putri  Zafira juga mendapat gelar kehormatan, sang istri dengan nama Idang  Mening yang berarti cahaya bersih dan sang putri dengan nama Ulau Tau  atau Sinar Matahari.

Ketua Adat Dayak Kenyah Pampang, Esron Palan dalam sambutanya sangat  bahagia atas kehadiran Totok Mukarto bersama keluarga dan rombongan dari  Gresik dan kesempatan tersebut menuturkan bahwa keluarga besar Dayak  Pampang bertambah lagi atas pemberian gelar kepada bapak Totok Mukarto  dan Keluarga sudah menjadi bagian dari warga Suku Dayak Kenyah.

&quot;Kami merasa kehilangan sosok pemimpin yang selama ini bisa mengayomi  warganya khususnya yang bermukim di sepanjang sungai Mahakam hingga di  Muara yang umumnya sebagai nelayan dan tidak terganggu lagi dengan  aktifitas yang ilegal,&quot; jelas Erson.

Totok Mukarto dalam sambutannya mengucapkan terima kasih tak  terhingga atas sambutan serta pemberian gelar kehormatan tersebut dan  kalaupun selama dirinya menjabat sebagai kepala kantor KSOP Samarinda  saat itu adalah semata karena upaya menciptakan tujuan transportasi  nasional yang efektif, efisien dan transparan dengan mengutamakan  keselamatan, kenyamanan dalam pelayaran serta terciptanya kepatuhan  dalam penegakan hukum.

</description><content:encoded>SAMARINDA - Suku Dayak biasanya hanya dijumpai di pedalam hutan Kalimantan. Namun berbeda dengan suku Dayak Kenyah di Desa Pampang. Suku ini hanya ada di sekira 25 kilometer dari pusat Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Desa Pampang bisa dibilang bukan desa sembarangan, karena di daerah ini hidup satu suku bernama Dayak Kenyah yang sudah hidup selama puluhan tahun di desa ini.

Banyak cerita yang berkembang terkait asal-usul Suku Dayak Kenyah hingga tinggal di daerah yang masuk Kecamatan Samarinda tersebut. Desa Pampang konon berdiri dari hasil bermigrasinya suku Dayak Kenyah dari Apokayan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara pada tahun 1967.



Perpindahan suku ini melalui beberapa daerah, yakni Muara Wahau, Long Segar, Tabang, dan Long Iram di Kabupaten Kutai, hingga akhirnya mereka pun menetap di Desa Pampang dan mendirikan Rumah Lamin yang saat ini dikenal dengan Lamin Adat Pemung Tawai.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pun menetapkan Desa Pampang sebagai desa adat Dayak Kenyah pada tahun 1991.

Hasilnya, Desa Pampang kini jadi destinasi wisata budaya baru untuk banyak kalangan. Banyak wisatawan yang datang dari jauh hanya untuk bisa melihat keseharian suku Dayak kenyah. Di sini juga sering diselenggarakan tarian tradisional, menggunakan pakaian adat Dayak Kenyah, atau berfoto bersama penari dan tetua adat mereka.

Selain Desa Pampang sebagai destinasi wisata, Suku Dayak Kenyah juga sering memberikan penghargaan untuk tokoh berpengaruh sebagai keluarga mereka. Salah satunya yang terkenal adalah Mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.



Selain Ahok, Mantan Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Samarinda, Totok Mukarto juga mendapatkan gelar kehormatan dari masyarakat Dayak Kalimantan Timur. Totok Mukarto yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kantor di KSOP Kelas II Gresik, Jawa Timur mendapat Gelar Kehormatan dengan nama Kirip Paren Lung yang berarti penguasa muara yang dihormati.

Prosesi pemberian gelar kehormatan tersebut berlangsung hikmah yang  ditandai dengan pemasangan tanda adat sebagai warga kehormatan adat  Dayak Kenyah Pampang oleh Ketua Adat serta pemberian gelar nama. Selain  Totok sang istri Ratna Sari Dewi dan putrinya, RR. Catherine Putri  Zafira juga mendapat gelar kehormatan, sang istri dengan nama Idang  Mening yang berarti cahaya bersih dan sang putri dengan nama Ulau Tau  atau Sinar Matahari.

Ketua Adat Dayak Kenyah Pampang, Esron Palan dalam sambutanya sangat  bahagia atas kehadiran Totok Mukarto bersama keluarga dan rombongan dari  Gresik dan kesempatan tersebut menuturkan bahwa keluarga besar Dayak  Pampang bertambah lagi atas pemberian gelar kepada bapak Totok Mukarto  dan Keluarga sudah menjadi bagian dari warga Suku Dayak Kenyah.

&quot;Kami merasa kehilangan sosok pemimpin yang selama ini bisa mengayomi  warganya khususnya yang bermukim di sepanjang sungai Mahakam hingga di  Muara yang umumnya sebagai nelayan dan tidak terganggu lagi dengan  aktifitas yang ilegal,&quot; jelas Erson.

Totok Mukarto dalam sambutannya mengucapkan terima kasih tak  terhingga atas sambutan serta pemberian gelar kehormatan tersebut dan  kalaupun selama dirinya menjabat sebagai kepala kantor KSOP Samarinda  saat itu adalah semata karena upaya menciptakan tujuan transportasi  nasional yang efektif, efisien dan transparan dengan mengutamakan  keselamatan, kenyamanan dalam pelayaran serta terciptanya kepatuhan  dalam penegakan hukum.

</content:encoded></item></channel></rss>
