<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengenal Sosok Perempuan Pelantun Lagu Indonesia Raya Pertama, Dolly Salim</title><description>Dolly Salim, sosok perempuan pertama yang melantunkan lagu &quot;Indonesia Raya&quot;, ciptaan Wage Rudolf Soepratman.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/08/337/2089082/mengenal-sosok-perempuan-pelantun-lagu-indonesia-raya-pertama-dolly-salim</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/08/337/2089082/mengenal-sosok-perempuan-pelantun-lagu-indonesia-raya-pertama-dolly-salim"/><item><title>Mengenal Sosok Perempuan Pelantun Lagu Indonesia Raya Pertama, Dolly Salim</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/08/337/2089082/mengenal-sosok-perempuan-pelantun-lagu-indonesia-raya-pertama-dolly-salim</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/08/337/2089082/mengenal-sosok-perempuan-pelantun-lagu-indonesia-raya-pertama-dolly-salim</guid><pubDate>Kamis 08 Agustus 2019 07:02 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/07/337/2089082/mengenal-sosok-perempuan-pelantun-lagu-indonesia-raya-pertama-dolly-salim-Pi2bv7QhdM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Naskah asli Indonesia Raya (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/07/337/2089082/mengenal-sosok-perempuan-pelantun-lagu-indonesia-raya-pertama-dolly-salim-Pi2bv7QhdM.jpg</image><title>Naskah asli Indonesia Raya (Foto: Ist)</title></images><description>DOLLY Salim, sosok perempuan pertama yang melantunkan lagu &quot;Indonesia Raya&quot;, ciptaan Wage Rudolf Soepratman. Lagu kebangsaan Indonesia itu pertama kali dinyanyikan ketika acara Kongres Pemuda II, pada 28 Oktober 1928, di jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Tepatnya, di rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.

Siapa perempuan bernama lengkap Theodora Athia ini? Perempuan itu kelahiran 26 Juli 1913. Sosok perempuan ini merupakan anak pertama dari pasangan Haji Agus Salim dan Zaitun Nahar Almatsier.

Sewaktu remaja, dia tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Hal tersebut lantaran, mengikuti prinsip sang ayah-nya. Di mana Haji Agus Salim, tidak setuju dengan sistem pendidikan Kolonial Belanda. Meskipun demikian, dia memang pintar dan kualitas intelektualnya tak perlu dipertanyakan.

Sebab, dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim (1996: 182) disebutkan, di usia 6 tahun, Dolly sudah gemar bacaan untuk anak remaja. Kisah detektif Nick Carter atau Lord Lister, misalnya.

Putri dari tokoh intelektual Muslim terkemuka itu merupakan anak pertama, Haji Agus Salim, sang dedengkot pergerakan nasional ini bersama adik-adik-nya dididik kedua orangtua-nya di rumah mereka.



Sistem pendidikan itu dikenal dengan homeschooling. Sehingga, ayah Dolly, Agus Salim, sang mantan anggota Volksraad (dewan rakyat), petinggi Sarekat Islam (SI) paling kesohor bersama H.O.S. Tjokroaminoto, dikenal sebagai pelopor homeschooling di Indonesia.

Perempuan yang dikaruniai empat orang anak ini tidak menyangka diminta untuk menyanyikan lagu ''Indonesia Raya'', di akhir acara pada Kongres Pemuda II. Di mana kala itu dia masih berusia masih belia, 15 tahun.

''Saya tak mengerti kok pilihan itu tiba-tiba jatuh ke diri saya. Mungkin karena saya kebetulan duduk di barisan terdepan. Karena tidak ada panggung, saya diberdirikan di atas kursi supaya terlihat oleh seluruh hadirin,'' kata Dolly, dalam Majalah Tiara, No.03, Oktober 1982, seperti dikutip dari historia.id.

Sebelumnya, peserta kongres yang menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda,  meminta agar lagu tersebut diperdengarkan lagi. Namun, dengan lirik atau  dinyanyikan. Dari desakan itu disepakati lagu ''Indonesia Raya''  dinyanyikan dengan sedikit perubahan lirik.

Kala itu, W.R. Soepratman menggesek dawai-dawai biola melantunkan  ''Indonesia Raya''. Di mana saat itu Dolly turut unjuk gigi dengan  iringan piano-nya. Kemungkinan, para peserta kongres menunjuk Dolly  membawakan lagu sakral tersebut.

Bahkan, dia ditujuk lantaran kebetulan duduk di barisan terdepan. Sri  Sutjiatiningsih dalam Soegondo Djojopoespito: Hasil Karya dan  Pengabdiannya (1999), mengungkapkan pada awalnya memang tidak ada  rencana untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam kongres tersebut  (halaman.30).

Momen itu tentu sangat berkesan bagi perempuan yang aktif di  persatuan sarjana hukum Indonesia (Persahi) dan Women&amp;rsquo;s International  Club ini. Meskipun, Dolly bukanlah peserta dalam kongres kala itu karena  belum cukup umur.

''Semula saya menolak ajakan mereka. Maklumlah, kami belum memenuhi  persyaratan dalam usia sebagai pemuda. Tetapi beberapa teman memaksa  saya. Akhirnya saya pun ikut bersama-sama ke Kramat,'' sampai Dolly,  dalam majalah Pertiwi, 19 Oktober-1 November 1987, seperti dikutip  historia.id.

Dalam Garis Rasial, Garis Usang: Liku-liku Pembauran (1983), Yunus  Yahya mengisahkan, kehadiran Dolly memang memukau hadirin yang berada di  ruangan kongres. Di mana dia melafalkan lirik lagu itu di luar kepala  dengan sedikit perubahan. Yaitu, lirik ''Merdeka&amp;hellip;Merdeka'' di ubah  menjadi ''Mulia...Mulia''.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, lagu ''Indonesia Raya''  dikumandangkan pada 28 Oktober 1928. Sejak itu pula, pembukaan atau  penutupan setiap kongres selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Sesudah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu  Kebangsaan Negara Indonesia. Sejak menyanyikan lagu itu pula, Dolly  Salim disebut sebagai tokoh wanita yang memiliki peran penting pada  Kongres Sumpah Pemuda.

Bahkan, Dolly disebut sebagai penyanyi pertama lagu Indonesia Raya.  ''Itu mungkin karena Pak Sunario (tokoh Sumpah Pemuda). Setiap  memperkenalkan saya, beliau selalu menyebutkan: inilah penyanyi lagu  kebangsaan Indonesia Raya pada tahun 1928,'' kata Dolly, seperti dikutip  historia.id.

Pada 1932, Agus Salim memutuskan hijrah ke Yogyakarta. Di Yogyakarta,  Dolly bertemu Soedjono Hardjosoediro, salah satu pendiri Universitas  Nasional (UNAS) sekaligus rektor Universitas Islam Indonesia (UII),  Jakarta. Bahkan, termasuk tokoh Pergerakan Penyadar pada masa Pergerakan  Nasional Indonesia.

Pada 24 Juli 1990 atau 29 tahun lalu, sang pelantun lagu ''Indonesia  Raya'' pertama meninggal dunia, di Jakarta pada usia 76. Semasa  hidupnya, Dolly juga aktif di Pergerakan Penyadar, organisasi yang  dibentuk ayah-nya selepas hengkang dari Sarekat Islam.

</description><content:encoded>DOLLY Salim, sosok perempuan pertama yang melantunkan lagu &quot;Indonesia Raya&quot;, ciptaan Wage Rudolf Soepratman. Lagu kebangsaan Indonesia itu pertama kali dinyanyikan ketika acara Kongres Pemuda II, pada 28 Oktober 1928, di jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Tepatnya, di rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.

Siapa perempuan bernama lengkap Theodora Athia ini? Perempuan itu kelahiran 26 Juli 1913. Sosok perempuan ini merupakan anak pertama dari pasangan Haji Agus Salim dan Zaitun Nahar Almatsier.

Sewaktu remaja, dia tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Hal tersebut lantaran, mengikuti prinsip sang ayah-nya. Di mana Haji Agus Salim, tidak setuju dengan sistem pendidikan Kolonial Belanda. Meskipun demikian, dia memang pintar dan kualitas intelektualnya tak perlu dipertanyakan.

Sebab, dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim (1996: 182) disebutkan, di usia 6 tahun, Dolly sudah gemar bacaan untuk anak remaja. Kisah detektif Nick Carter atau Lord Lister, misalnya.

Putri dari tokoh intelektual Muslim terkemuka itu merupakan anak pertama, Haji Agus Salim, sang dedengkot pergerakan nasional ini bersama adik-adik-nya dididik kedua orangtua-nya di rumah mereka.



Sistem pendidikan itu dikenal dengan homeschooling. Sehingga, ayah Dolly, Agus Salim, sang mantan anggota Volksraad (dewan rakyat), petinggi Sarekat Islam (SI) paling kesohor bersama H.O.S. Tjokroaminoto, dikenal sebagai pelopor homeschooling di Indonesia.

Perempuan yang dikaruniai empat orang anak ini tidak menyangka diminta untuk menyanyikan lagu ''Indonesia Raya'', di akhir acara pada Kongres Pemuda II. Di mana kala itu dia masih berusia masih belia, 15 tahun.

''Saya tak mengerti kok pilihan itu tiba-tiba jatuh ke diri saya. Mungkin karena saya kebetulan duduk di barisan terdepan. Karena tidak ada panggung, saya diberdirikan di atas kursi supaya terlihat oleh seluruh hadirin,'' kata Dolly, dalam Majalah Tiara, No.03, Oktober 1982, seperti dikutip dari historia.id.

Sebelumnya, peserta kongres yang menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda,  meminta agar lagu tersebut diperdengarkan lagi. Namun, dengan lirik atau  dinyanyikan. Dari desakan itu disepakati lagu ''Indonesia Raya''  dinyanyikan dengan sedikit perubahan lirik.

Kala itu, W.R. Soepratman menggesek dawai-dawai biola melantunkan  ''Indonesia Raya''. Di mana saat itu Dolly turut unjuk gigi dengan  iringan piano-nya. Kemungkinan, para peserta kongres menunjuk Dolly  membawakan lagu sakral tersebut.

Bahkan, dia ditujuk lantaran kebetulan duduk di barisan terdepan. Sri  Sutjiatiningsih dalam Soegondo Djojopoespito: Hasil Karya dan  Pengabdiannya (1999), mengungkapkan pada awalnya memang tidak ada  rencana untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam kongres tersebut  (halaman.30).

Momen itu tentu sangat berkesan bagi perempuan yang aktif di  persatuan sarjana hukum Indonesia (Persahi) dan Women&amp;rsquo;s International  Club ini. Meskipun, Dolly bukanlah peserta dalam kongres kala itu karena  belum cukup umur.

''Semula saya menolak ajakan mereka. Maklumlah, kami belum memenuhi  persyaratan dalam usia sebagai pemuda. Tetapi beberapa teman memaksa  saya. Akhirnya saya pun ikut bersama-sama ke Kramat,'' sampai Dolly,  dalam majalah Pertiwi, 19 Oktober-1 November 1987, seperti dikutip  historia.id.

Dalam Garis Rasial, Garis Usang: Liku-liku Pembauran (1983), Yunus  Yahya mengisahkan, kehadiran Dolly memang memukau hadirin yang berada di  ruangan kongres. Di mana dia melafalkan lirik lagu itu di luar kepala  dengan sedikit perubahan. Yaitu, lirik ''Merdeka&amp;hellip;Merdeka'' di ubah  menjadi ''Mulia...Mulia''.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, lagu ''Indonesia Raya''  dikumandangkan pada 28 Oktober 1928. Sejak itu pula, pembukaan atau  penutupan setiap kongres selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Sesudah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu  Kebangsaan Negara Indonesia. Sejak menyanyikan lagu itu pula, Dolly  Salim disebut sebagai tokoh wanita yang memiliki peran penting pada  Kongres Sumpah Pemuda.

Bahkan, Dolly disebut sebagai penyanyi pertama lagu Indonesia Raya.  ''Itu mungkin karena Pak Sunario (tokoh Sumpah Pemuda). Setiap  memperkenalkan saya, beliau selalu menyebutkan: inilah penyanyi lagu  kebangsaan Indonesia Raya pada tahun 1928,'' kata Dolly, seperti dikutip  historia.id.

Pada 1932, Agus Salim memutuskan hijrah ke Yogyakarta. Di Yogyakarta,  Dolly bertemu Soedjono Hardjosoediro, salah satu pendiri Universitas  Nasional (UNAS) sekaligus rektor Universitas Islam Indonesia (UII),  Jakarta. Bahkan, termasuk tokoh Pergerakan Penyadar pada masa Pergerakan  Nasional Indonesia.

Pada 24 Juli 1990 atau 29 tahun lalu, sang pelantun lagu ''Indonesia  Raya'' pertama meninggal dunia, di Jakarta pada usia 76. Semasa  hidupnya, Dolly juga aktif di Pergerakan Penyadar, organisasi yang  dibentuk ayah-nya selepas hengkang dari Sarekat Islam.

</content:encoded></item></channel></rss>
