<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Berapa Lama Anak Seharusnya Bermain Gadget dalam Sehari?</title><description>Produk-produk gadget yang mutakhir terus diciptakan seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih dan modern.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/10/337/2090100/berapa-lama-anak-seharusnya-bermain-gadget-dalam-sehari</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/10/337/2090100/berapa-lama-anak-seharusnya-bermain-gadget-dalam-sehari"/><item><title>Berapa Lama Anak Seharusnya Bermain Gadget dalam Sehari?</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/10/337/2090100/berapa-lama-anak-seharusnya-bermain-gadget-dalam-sehari</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/10/337/2090100/berapa-lama-anak-seharusnya-bermain-gadget-dalam-sehari</guid><pubDate>Sabtu 10 Agustus 2019 12:03 WIB</pubDate><dc:creator>Wijayakusuma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/10/337/2090100/berapa-lama-anak-seharusnya-bermain-gadget-dalam-sehari-S6XkMWlELv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/10/337/2090100/berapa-lama-anak-seharusnya-bermain-gadget-dalam-sehari-S6XkMWlELv.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>BEKASI - Tak bisa dipungkiri, bahwa gadget menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini. Pengguna smartphone atau ponsel pintar pun semakin mengalami peningkatan lantaran hal ini. Produk-produk gadget yang mutakhir terus diciptakan seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih dan modern.

Selain sebagai alat komunikasi, kemudahan mendapatkan informasi dan hiburan, menjadi pilihan masyarakat menggunakan smartphone. Bahkan tak sedikit orang yang memanfaatkan gadget untuk membantu mengerjakan tugas kantor maupun sekolah.

&quot;Sebetulnya gadget itu kan alat bantu yang awalnya dipersiapkan untuk membantu segala kebutuhan masyarakat di bidang IPTEK dengan memanfaatkan teknologi, sehingga kebutuhan masyarakat dari segala lapisan bisa dipenuhi,&quot; kata Psikolog Anak dan dosen pro di Psikologi Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Magdalena Hanoum kepada Okezone, Jum'at (9/8/2019).

Sayangnya, penggunaan gadget kini sudah merambah ke anak-anak, mulai yang di bawah umur hingga usia balita. Padahal anak-anak dengan usia dini dan pola pikir yang labil, lebih rentan mengalami dampak negatif terhadap penggunaan gadget. Jika tak diimbangi dengan pengawasan ketat orangtua, maka tumbuh kembang anak dipastikan akan mengalami gangguan baik secara fisik maupun mental.



&quot;Secara mental bisa menyebabkan adiksi. Secara fisik, karena gadget ini banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam segala aspek, jadi anak karena tidak bisa meregulasi dirinya, bisa menggunakan sesuai keinginan mereka. Jadi mereka mungkin akan bisa lupa dengan kegiatan-kegiatan lainnya, misalnya istirahat, belajar, makan, nah itu akan membahayakan fisik mereka,&quot; paparnya.

Oleh sebab itu, lanjut Hanoem, maka orangtua perlu membatasi penggunaan gadget pada anak setiap hari. Hal ini demi mencegah gangguan pada tumbuh kembang anak, serta ketergantungan anak pada gadget.

&quot;Maksimal dalam satu hari itu 4 jam menggunakan gadget. Kalau lebih dari itu, maka anak memiliki kecenderungan ketergantungan terhadap gadget. Anak yang asik dengan gadget sehingga lupa dengan kegiatan lain, akan mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental,&quot; jelasnya.

Hanoem menjelaskan, penting bagi orangtua untuk memperhatikan faktor  usia dan kebutuhan sebelum membelikan gadget untuk sang anak. Orangtua  juga perlu memberikan aturan terkait penggunaan gadget yang harus  dipatuhi oleh anak.

&quot;Orangtua harus memperhatikan bukan hanya jenis gadgetnya, tapi juga  untuk kebutuhan apa. Jika untuk permainan, orangtua harus tahu permainan  apa yang sering dimainkan anak, juga isi ponsel si anak. Lalu harus ada  aturan mengenai penggunaan gadget atau seberapa sering mereka boleh  menggunakan gadget dalam sehari. Waktunya harus dibatasi,&quot; imbuh Hanoem.

Menurutnya, jika orangtua lalai dalam mengawasi dan melakukan  upaya-upaya preventif tersebut, maka dengan mudah anak akan mengalami  kecanduan gadget. Tingkat ketergantungan anak juga perlu ditelaah untuk  mencari alternatif pemulihan.



&quot;Kalau anak sudah kecanduan gadget, itu harus dibantu profesional,  seperti psikolog atau psikiater. Kita lihat dulu seberapa parah  kecanduan si anak,&quot; ujarnya.

&quot;Karenanya sebelum anak mengalami kecanduan, seharusnya orangtua  sudah melakukan tindakan preventif, tindakan pencegahan sehingga anak  tidak sampai mengalami kecanduan gadget. Orangtua harus sangat mengatur  anak dalam penggunaan gadget. Karena anak tidak mungkin beli gadget  sendiri, pasti orangtua yang membelikan. Maka harus diperhitungkan jenis  gadget, dan disesuaikan dengan kebutuhan serta usia anak,&quot; paparnya.

Hanoem pun mengimbau agar para orangtua berperan aktif mengawasi  anak-anaknya dalam penggunaan gadget. Karena gadget sejatinya bisa  memberikan manfaat atau justru berdampak buruk bagi sang anak, semua  tergantung dari bagaimana pengawasan orangtua.

&quot;Orangtua harus pintar-pintar melihat apa manfaat dari gadget. Karena  gadget ini hanya alat bantu bagi masyarakat. Jadi kita harus bisa  mengatur kapan bisa menggunakan gadget, bukan malah sebaliknya,&quot;  pungkasnya.

</description><content:encoded>BEKASI - Tak bisa dipungkiri, bahwa gadget menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini. Pengguna smartphone atau ponsel pintar pun semakin mengalami peningkatan lantaran hal ini. Produk-produk gadget yang mutakhir terus diciptakan seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih dan modern.

Selain sebagai alat komunikasi, kemudahan mendapatkan informasi dan hiburan, menjadi pilihan masyarakat menggunakan smartphone. Bahkan tak sedikit orang yang memanfaatkan gadget untuk membantu mengerjakan tugas kantor maupun sekolah.

&quot;Sebetulnya gadget itu kan alat bantu yang awalnya dipersiapkan untuk membantu segala kebutuhan masyarakat di bidang IPTEK dengan memanfaatkan teknologi, sehingga kebutuhan masyarakat dari segala lapisan bisa dipenuhi,&quot; kata Psikolog Anak dan dosen pro di Psikologi Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Magdalena Hanoum kepada Okezone, Jum'at (9/8/2019).

Sayangnya, penggunaan gadget kini sudah merambah ke anak-anak, mulai yang di bawah umur hingga usia balita. Padahal anak-anak dengan usia dini dan pola pikir yang labil, lebih rentan mengalami dampak negatif terhadap penggunaan gadget. Jika tak diimbangi dengan pengawasan ketat orangtua, maka tumbuh kembang anak dipastikan akan mengalami gangguan baik secara fisik maupun mental.



&quot;Secara mental bisa menyebabkan adiksi. Secara fisik, karena gadget ini banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam segala aspek, jadi anak karena tidak bisa meregulasi dirinya, bisa menggunakan sesuai keinginan mereka. Jadi mereka mungkin akan bisa lupa dengan kegiatan-kegiatan lainnya, misalnya istirahat, belajar, makan, nah itu akan membahayakan fisik mereka,&quot; paparnya.

Oleh sebab itu, lanjut Hanoem, maka orangtua perlu membatasi penggunaan gadget pada anak setiap hari. Hal ini demi mencegah gangguan pada tumbuh kembang anak, serta ketergantungan anak pada gadget.

&quot;Maksimal dalam satu hari itu 4 jam menggunakan gadget. Kalau lebih dari itu, maka anak memiliki kecenderungan ketergantungan terhadap gadget. Anak yang asik dengan gadget sehingga lupa dengan kegiatan lain, akan mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental,&quot; jelasnya.

Hanoem menjelaskan, penting bagi orangtua untuk memperhatikan faktor  usia dan kebutuhan sebelum membelikan gadget untuk sang anak. Orangtua  juga perlu memberikan aturan terkait penggunaan gadget yang harus  dipatuhi oleh anak.

&quot;Orangtua harus memperhatikan bukan hanya jenis gadgetnya, tapi juga  untuk kebutuhan apa. Jika untuk permainan, orangtua harus tahu permainan  apa yang sering dimainkan anak, juga isi ponsel si anak. Lalu harus ada  aturan mengenai penggunaan gadget atau seberapa sering mereka boleh  menggunakan gadget dalam sehari. Waktunya harus dibatasi,&quot; imbuh Hanoem.

Menurutnya, jika orangtua lalai dalam mengawasi dan melakukan  upaya-upaya preventif tersebut, maka dengan mudah anak akan mengalami  kecanduan gadget. Tingkat ketergantungan anak juga perlu ditelaah untuk  mencari alternatif pemulihan.



&quot;Kalau anak sudah kecanduan gadget, itu harus dibantu profesional,  seperti psikolog atau psikiater. Kita lihat dulu seberapa parah  kecanduan si anak,&quot; ujarnya.

&quot;Karenanya sebelum anak mengalami kecanduan, seharusnya orangtua  sudah melakukan tindakan preventif, tindakan pencegahan sehingga anak  tidak sampai mengalami kecanduan gadget. Orangtua harus sangat mengatur  anak dalam penggunaan gadget. Karena anak tidak mungkin beli gadget  sendiri, pasti orangtua yang membelikan. Maka harus diperhitungkan jenis  gadget, dan disesuaikan dengan kebutuhan serta usia anak,&quot; paparnya.

Hanoem pun mengimbau agar para orangtua berperan aktif mengawasi  anak-anaknya dalam penggunaan gadget. Karena gadget sejatinya bisa  memberikan manfaat atau justru berdampak buruk bagi sang anak, semua  tergantung dari bagaimana pengawasan orangtua.

&quot;Orangtua harus pintar-pintar melihat apa manfaat dari gadget. Karena  gadget ini hanya alat bantu bagi masyarakat. Jadi kita harus bisa  mengatur kapan bisa menggunakan gadget, bukan malah sebaliknya,&quot;  pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
