<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gelora Robert Wolter Mongisidi: Biarkan Peluru Belanda Menembus Dadaku, Merdeka!</title><description>Sejak kecil Bote tumbuh menjadi anak yang cerdas, pemberani, percaya diri, jujur dan pantang menyerah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/10/337/2090117/gelora-robert-wolter-mongisidi-biarkan-peluru-belanda-menembus-dadaku-merdeka</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/10/337/2090117/gelora-robert-wolter-mongisidi-biarkan-peluru-belanda-menembus-dadaku-merdeka"/><item><title>Gelora Robert Wolter Mongisidi: Biarkan Peluru Belanda Menembus Dadaku, Merdeka!</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/10/337/2090117/gelora-robert-wolter-mongisidi-biarkan-peluru-belanda-menembus-dadaku-merdeka</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/10/337/2090117/gelora-robert-wolter-mongisidi-biarkan-peluru-belanda-menembus-dadaku-merdeka</guid><pubDate>Sabtu 10 Agustus 2019 07:02 WIB</pubDate><dc:creator>Subhan Sabu</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/10/337/2090117/gelora-robert-wolter-mongisidi-biarkan-peluru-belanda-menembus-dadaku-merdeka-XYMHpWHPhl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Patung Robert Wolter Mongisidi (Foto: Subhan Sabu/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/10/337/2090117/gelora-robert-wolter-mongisidi-biarkan-peluru-belanda-menembus-dadaku-merdeka-XYMHpWHPhl.jpg</image><title>Patung Robert Wolter Mongisidi (Foto: Subhan Sabu/Okezone)</title></images><description>MANADO - 14 Februari tidak hanya diperingati sebagai hari kasih sayang. Di tanggal tersebut tepatnya 14 Februari1925 lahir seorang anak yang kelak menjadi pahlawan.
Bayi mungil yang lahir di pesisir pantai Desa Malalayang yang sekarang sudah menjadi bagian dari Kota Manado, Sulawesi Utara itu diberi nama Robert Wolter Mongisidi. Bote, panggilan kesayangannya merupakan anak ke tiga dari 11 bersaudara dari pasangan Petrus Mongisidi dan Lina Suawa.
Sejak kecil Bote tumbuh menjadi anak yang cerdas, pemberani, percaya diri, jujur dan pantang menyerah. Bote menempuh pendidikan HIS tahun 1931, kemudian ke Sekolah MULO Frater Don Bosco Manado dan berlanjut ke Sekolah Pertanian yang didirikan Jepang di Tomohon serta Sekolah Guru Bahasa Jepang, yang akhirnya membawa dia sebagai guru Bahasa Jepang di Malalayang Liwutung dan Luwuk Banggai dalam usia muda 16 tahun.
&quot;Kata opa saya, dari kecil bote termasuk berotak encer, pintar, disiplin dan suka belajar bela diri silat. Sepulang sekolah dari Don Bosco, dia singgah di lorong pencak (Jalan Sam Ratulangi) belajar silat di situ,&quot; ujar Yohan Mongisidi, keponakan dari Robert Wolter Mongisidi kepada Okezone, Jumat (9/8/2019).

Dari Luwuk, Sulawesi Tengah, Wolter menapaki kakinya di Makassar mengikuti kakaknya yang seorang anggota Polisi. Di tempat ini dia bersekolah di SNIP Nasional kelas III di tahun 1945. Namun di Makassar, dia merasa heran dan semakin tak kuasa menyaksikan kekejaman kaum penjajah padahal Indonesia sudah merdeka.
Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II. Mereka kembali melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda).
&quot;Kita sudah merdeka, 17 Agustus 1945, kenapa Belanda membonceng NICA,&quot; tanya Bote kepada Gubernur Sulawesi DR.G.S.S.J. Ratulangi yang waktu itu merupakan Gubernur provinsi Sulawesi pertama yang berkedudukan di Makassar.
Jiwa patriotismenya makin membara. Untuk kepentingan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka pada tanggal 17 Juli 1946, diadakan konferensi di desa Rannaya. Dalam konferensi itu, dibentuk suatu induk organisasi kelaskaran yang disebut LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi), terpilih sebagai Ketua Ranggong daeng rongo, Sekjen Wolter Monginsidi.Keberanian kecerdasan dan pembawaan diri Wolter Mongisidi telah  membuatnya makin disegani dan dipercaya sampai memimpin aksi pertempuran  melawan tentara Belanda baik di dalam kota maupun di luar kota.
Dengan berbagai taktik dan strategi Wolter memimpin gerakan  perlawanan yang mencengangkan serta menegangkan pihak Belanda.  Keberhasilan dalam perjuangannya melawan penjajah, serta tekadnya untuk  membebaskan bangsa ini dari cengkeraman penjajah sungguh tak dapat  diraihnya dengan tuntas karena pada tanggal 28 Februari 1947 Wolter  ditangkap tentara Belanda di Sekolah SMP Nasional Makassar.
Walau rantai-rantai mengikatnya di belakang terali besi, namun niat  untuk meneruskan perjuangan bersama putra-putra bangsa terbaik tetap  bergelora agar terbebas dari kunkungan penjajah.
Pada tanggal 17 Oktober 1948 malam, bersama Abdullah Hadade, HM  Yoseph dan Lewang Daeng Matari melarikan diri dari penjara melalui  cerobong asap dapur, sebelum pelarian dilaksanakan, kawan-kawan Wolter  dari luar telah menyelundupkan 2 buah granat tangan yang dimasukan di  dalam roti.

Namun, walaupun tekadnya dapat terwujud tapi udara kebebasan hanya  dihirupnya selama 10 hari sehingga impiannya melanjutkan perjuangan  pupus. Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan  hukuman mati kepadanya. Wolter dieksekusi oleh tim penembak pada 5  September 1949.
Wolter bukannya tidak punya kesempatan untuk menghindar dari Belanda.  Waktu itu Wolter bersama dengan almarhum Letkol Frits Sumampouw sudah  berada di atas perahu untuk melarikan diri menuju Jawa Timur bergabung  dengan Kolonel Jacob Frederick Warouw atau Joop Warouw di Surabaya,  namun di tengah laut Wolter mendengar suara rentetan peluru yang  ditembakkan tentara Belanda yang mencarinya. Dia pun memilih untuk  melompat dan kembali kedaratan.
&quot;Wolter sudah di tengah laut, Wolter meloncat karena mendengar suara  tembakan, dia berpikir banyak rakyat yang mati karena mencari dia,&quot; kata  Sumampouw menyampaikan kepada ayah Mongisidi waktu itu
Bagi Wolter, melarikan diri masalah sepele baginya, tapi dia tidak  mau banyak rakyat yang mati hanya karena dia. &quot;Dengan hati dan mata  terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku, merdeka,  merdeka, merdeka!&quot;.
Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Robert Wolter Mongisidi sesaat  sebelum delapan butir peluru penjajah bersarang di tubuhnya. Wolter  gugur dalam usia 24 tahun. &amp;lsquo;Setia Hingga Terakhir Dalam Keyakinan&amp;rdquo;  itulah sebuah tulisan Wolter yang ditemukan pada Alkitab yang dibawanya  ketika eksekusi dilakukan.Di tanah kelahiranya, namanya diabadikan sebagai nama Rumah sakit TNI   AD Robert Wolter Mongisidi, ada juga patung dirinya berdiri tegak di   jalan Pierre Tendean menghadap ke Malalayang, tempatnya dilahirkan.   Selain itu juga terdapat patung dirinya di samping Museum Kodam   XIII/Merdeka dan satu lagi patung yang sedikit lebih kecil terdapat di   Malalayang, di samping rumah keponakannya Yohan Mongisidi, menghadap ke   lapangan bantik lokasi dimana Wolter dilahirkan.
Kedua patung yang disebutkan terakhir punya keterkaitan dan beraroma   mistis. Awalnya patung yang sedikit lebih kecil itu dibangun di samping   museum Kodam XIII/Merdeka, namun pembangunan yang diprakarsai oleh   Pangdam XIII/Merdeka Brigadir Jenderal TNI Willy Widjojo Soejono (23   Maret 1970) waktu itu tidak kunjung selesai karena campuran bahan untuk   membuat patung tidak bisa menyatu. Campuran semen tidak bisa menyatu   dengan rangka besi patung tersebut.
Setelah dikonsultasikan dengan pihak keluarga, akhirnya patung   tersebut dipindahkan ketempatnya yang sekarang ini sedangkan di samping   museum dibangun patung baru yang lebih tinggi. Pembangunan kedua patung   tersebut pun berjalan lancar.  Untuk berfoto dipatung Wolter yang  berada  di lingkungan VII, Kelurahan Malalayang Satu, Kota Manado, tidak  boleh  sembarangan dan harus meminta ijin terlebih dahulu dari juru  kunci.
Patung tersebut berada di lahan keramat suku bantik yang merupakan   asal  pahlawan nasional Robert Wolter Monginsidi. Patung itu berdekatan   dengan situs budaya suku bantik yakni Batu Niopo. Tak sembarangan orang   bisa berkunjung ke Batu Niopo ini. Harus menemui terlebih dahulu Yohan   Monginsidi, salah satu tua-tua adat suku Bantik. Untuk bisa datang dan   melihat, apalagi mengambil gambar Mongisidi dan batu Niopo,  harus   meminta izin dulu kepada para leluhur.
&quot;Kalau diizinkan, kita bisa pergi dan mengambil gambar,&quot; ujar Yohan.
Suku Bantik, tempat Wolter berasal merupakan salah satu suku yang   mendiami wilayah Sulawesi Utara, tersebar disedikitnya enam   kabupaten/kota. Ada 11 desa atau kelurahan yang didiami Suku Bantik.   Sekarang mereka sudah menganut berbagai agama. Namun, kepercayaan   leluhur ini masih tetap dijaga melalui berbagai ritual budaya.(kha)</description><content:encoded>MANADO - 14 Februari tidak hanya diperingati sebagai hari kasih sayang. Di tanggal tersebut tepatnya 14 Februari1925 lahir seorang anak yang kelak menjadi pahlawan.
Bayi mungil yang lahir di pesisir pantai Desa Malalayang yang sekarang sudah menjadi bagian dari Kota Manado, Sulawesi Utara itu diberi nama Robert Wolter Mongisidi. Bote, panggilan kesayangannya merupakan anak ke tiga dari 11 bersaudara dari pasangan Petrus Mongisidi dan Lina Suawa.
Sejak kecil Bote tumbuh menjadi anak yang cerdas, pemberani, percaya diri, jujur dan pantang menyerah. Bote menempuh pendidikan HIS tahun 1931, kemudian ke Sekolah MULO Frater Don Bosco Manado dan berlanjut ke Sekolah Pertanian yang didirikan Jepang di Tomohon serta Sekolah Guru Bahasa Jepang, yang akhirnya membawa dia sebagai guru Bahasa Jepang di Malalayang Liwutung dan Luwuk Banggai dalam usia muda 16 tahun.
&quot;Kata opa saya, dari kecil bote termasuk berotak encer, pintar, disiplin dan suka belajar bela diri silat. Sepulang sekolah dari Don Bosco, dia singgah di lorong pencak (Jalan Sam Ratulangi) belajar silat di situ,&quot; ujar Yohan Mongisidi, keponakan dari Robert Wolter Mongisidi kepada Okezone, Jumat (9/8/2019).

Dari Luwuk, Sulawesi Tengah, Wolter menapaki kakinya di Makassar mengikuti kakaknya yang seorang anggota Polisi. Di tempat ini dia bersekolah di SNIP Nasional kelas III di tahun 1945. Namun di Makassar, dia merasa heran dan semakin tak kuasa menyaksikan kekejaman kaum penjajah padahal Indonesia sudah merdeka.
Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II. Mereka kembali melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda).
&quot;Kita sudah merdeka, 17 Agustus 1945, kenapa Belanda membonceng NICA,&quot; tanya Bote kepada Gubernur Sulawesi DR.G.S.S.J. Ratulangi yang waktu itu merupakan Gubernur provinsi Sulawesi pertama yang berkedudukan di Makassar.
Jiwa patriotismenya makin membara. Untuk kepentingan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka pada tanggal 17 Juli 1946, diadakan konferensi di desa Rannaya. Dalam konferensi itu, dibentuk suatu induk organisasi kelaskaran yang disebut LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi), terpilih sebagai Ketua Ranggong daeng rongo, Sekjen Wolter Monginsidi.Keberanian kecerdasan dan pembawaan diri Wolter Mongisidi telah  membuatnya makin disegani dan dipercaya sampai memimpin aksi pertempuran  melawan tentara Belanda baik di dalam kota maupun di luar kota.
Dengan berbagai taktik dan strategi Wolter memimpin gerakan  perlawanan yang mencengangkan serta menegangkan pihak Belanda.  Keberhasilan dalam perjuangannya melawan penjajah, serta tekadnya untuk  membebaskan bangsa ini dari cengkeraman penjajah sungguh tak dapat  diraihnya dengan tuntas karena pada tanggal 28 Februari 1947 Wolter  ditangkap tentara Belanda di Sekolah SMP Nasional Makassar.
Walau rantai-rantai mengikatnya di belakang terali besi, namun niat  untuk meneruskan perjuangan bersama putra-putra bangsa terbaik tetap  bergelora agar terbebas dari kunkungan penjajah.
Pada tanggal 17 Oktober 1948 malam, bersama Abdullah Hadade, HM  Yoseph dan Lewang Daeng Matari melarikan diri dari penjara melalui  cerobong asap dapur, sebelum pelarian dilaksanakan, kawan-kawan Wolter  dari luar telah menyelundupkan 2 buah granat tangan yang dimasukan di  dalam roti.

Namun, walaupun tekadnya dapat terwujud tapi udara kebebasan hanya  dihirupnya selama 10 hari sehingga impiannya melanjutkan perjuangan  pupus. Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan  hukuman mati kepadanya. Wolter dieksekusi oleh tim penembak pada 5  September 1949.
Wolter bukannya tidak punya kesempatan untuk menghindar dari Belanda.  Waktu itu Wolter bersama dengan almarhum Letkol Frits Sumampouw sudah  berada di atas perahu untuk melarikan diri menuju Jawa Timur bergabung  dengan Kolonel Jacob Frederick Warouw atau Joop Warouw di Surabaya,  namun di tengah laut Wolter mendengar suara rentetan peluru yang  ditembakkan tentara Belanda yang mencarinya. Dia pun memilih untuk  melompat dan kembali kedaratan.
&quot;Wolter sudah di tengah laut, Wolter meloncat karena mendengar suara  tembakan, dia berpikir banyak rakyat yang mati karena mencari dia,&quot; kata  Sumampouw menyampaikan kepada ayah Mongisidi waktu itu
Bagi Wolter, melarikan diri masalah sepele baginya, tapi dia tidak  mau banyak rakyat yang mati hanya karena dia. &quot;Dengan hati dan mata  terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku, merdeka,  merdeka, merdeka!&quot;.
Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Robert Wolter Mongisidi sesaat  sebelum delapan butir peluru penjajah bersarang di tubuhnya. Wolter  gugur dalam usia 24 tahun. &amp;lsquo;Setia Hingga Terakhir Dalam Keyakinan&amp;rdquo;  itulah sebuah tulisan Wolter yang ditemukan pada Alkitab yang dibawanya  ketika eksekusi dilakukan.Di tanah kelahiranya, namanya diabadikan sebagai nama Rumah sakit TNI   AD Robert Wolter Mongisidi, ada juga patung dirinya berdiri tegak di   jalan Pierre Tendean menghadap ke Malalayang, tempatnya dilahirkan.   Selain itu juga terdapat patung dirinya di samping Museum Kodam   XIII/Merdeka dan satu lagi patung yang sedikit lebih kecil terdapat di   Malalayang, di samping rumah keponakannya Yohan Mongisidi, menghadap ke   lapangan bantik lokasi dimana Wolter dilahirkan.
Kedua patung yang disebutkan terakhir punya keterkaitan dan beraroma   mistis. Awalnya patung yang sedikit lebih kecil itu dibangun di samping   museum Kodam XIII/Merdeka, namun pembangunan yang diprakarsai oleh   Pangdam XIII/Merdeka Brigadir Jenderal TNI Willy Widjojo Soejono (23   Maret 1970) waktu itu tidak kunjung selesai karena campuran bahan untuk   membuat patung tidak bisa menyatu. Campuran semen tidak bisa menyatu   dengan rangka besi patung tersebut.
Setelah dikonsultasikan dengan pihak keluarga, akhirnya patung   tersebut dipindahkan ketempatnya yang sekarang ini sedangkan di samping   museum dibangun patung baru yang lebih tinggi. Pembangunan kedua patung   tersebut pun berjalan lancar.  Untuk berfoto dipatung Wolter yang  berada  di lingkungan VII, Kelurahan Malalayang Satu, Kota Manado, tidak  boleh  sembarangan dan harus meminta ijin terlebih dahulu dari juru  kunci.
Patung tersebut berada di lahan keramat suku bantik yang merupakan   asal  pahlawan nasional Robert Wolter Monginsidi. Patung itu berdekatan   dengan situs budaya suku bantik yakni Batu Niopo. Tak sembarangan orang   bisa berkunjung ke Batu Niopo ini. Harus menemui terlebih dahulu Yohan   Monginsidi, salah satu tua-tua adat suku Bantik. Untuk bisa datang dan   melihat, apalagi mengambil gambar Mongisidi dan batu Niopo,  harus   meminta izin dulu kepada para leluhur.
&quot;Kalau diizinkan, kita bisa pergi dan mengambil gambar,&quot; ujar Yohan.
Suku Bantik, tempat Wolter berasal merupakan salah satu suku yang   mendiami wilayah Sulawesi Utara, tersebar disedikitnya enam   kabupaten/kota. Ada 11 desa atau kelurahan yang didiami Suku Bantik.   Sekarang mereka sudah menganut berbagai agama. Namun, kepercayaan   leluhur ini masih tetap dijaga melalui berbagai ritual budaya.(kha)</content:encoded></item></channel></rss>
