<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bengkulu Masuk Zona Merah Bencana, Jalur Evakuasi untuk Ribuan Orang Dibuka </title><description>Provinsi berjuluk Bumi Rafflesia merupakan salah satu provinsi yang masuk dalam zona merah, rawan bencana gempa bumi dan tsunami</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/12/340/2091079/bengkulu-masuk-zona-merah-bencana-jalur-evakuasi-untuk-ribuan-orang-dibuka</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/12/340/2091079/bengkulu-masuk-zona-merah-bencana-jalur-evakuasi-untuk-ribuan-orang-dibuka"/><item><title>Bengkulu Masuk Zona Merah Bencana, Jalur Evakuasi untuk Ribuan Orang Dibuka </title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/12/340/2091079/bengkulu-masuk-zona-merah-bencana-jalur-evakuasi-untuk-ribuan-orang-dibuka</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/12/340/2091079/bengkulu-masuk-zona-merah-bencana-jalur-evakuasi-untuk-ribuan-orang-dibuka</guid><pubDate>Senin 12 Agustus 2019 23:33 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/12/340/2091079/bengkulu-masuk-zona-merah-bencana-jalur-evakuasi-untuk-ribuan-orang-dibuka-Y3G9zLbyul.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Titik Kumpul Bencana di Kampung Melayu Kota Bengkulu (Foto: Demon/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/12/340/2091079/bengkulu-masuk-zona-merah-bencana-jalur-evakuasi-untuk-ribuan-orang-dibuka-Y3G9zLbyul.jpeg</image><title>Titik Kumpul Bencana di Kampung Melayu Kota Bengkulu (Foto: Demon/Okezone)</title></images><description>BENGKULU - Provinsi berjuluk Bumi Rafflesia merupakan salah satu provinsi yang masuk dalam zona merah, rawan bencana gempa bumi berdampak gelombang tsunami. Tujuh dari 10 kabupaten/kota di provinsi ini berada di tepi pesisir barat sumatera.

Tujuh daerah itu juga berbatasan langsung dengan samudera hindia. Mulai dari kabupaten Kaur yang berbatasan langsung dengan provinsi Lampung hingga kabupaten Mukomuko yang berbatasan dengan Sumatera Barat.

Antisipasi dalam menghadapi bencana pun telah dilakukan pemerintah provinsi (pemprov), pemerintah kota (pemkot) dan pemerintah kabupaten (pemkab), TNI dan BMKG. Pembukaan jalur evakuasi bencana, misalnya.

Pembukaan jalur evakuasi bencana itu tentu dapat menyelamatkan ribuan jiwa masyarakat Kota Bengkulu. Sebab, jalur itu di bangun di RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu.

Jalur evakuasi dengan panjang tidak kurang dari 1,4 kilometer (KM) merupakan penghubung kelurahan Padang Serai ke kelurahan Sumber Jaya kecamatan Kampung Melayu serta kelurahan Bumi Ayu dan kelurahan Betungan kecamatan Selebar Kota Bengkulu.



Jalur evakuasi serta jalur pemasok logistik ketika terjadi bencana gempa berpotensi tsunami itu dikerjakan prajurit TNI-AD, melalui program tentara manunggal masuk desa (TMMD) ke 105, Kodim 0407/Bengkulu.

Pembuatan jalur evakuasi tersebut merupakan salah satu bentuk kesiap-siagaan masyarakat di Kota Bengkulu, khususnya masyarakat RT 1 hingga 21 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu.

Di mana ketika terjadi bencana mereka sudah ada jalur evakuasi untuk dijadikan titik kumpul yang terdapat di RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu.

''Tempat kami menjadi salah satu lokasi titik kumpul ketika terjadi gempa berpotensi tsunami. Khususnya warga di kecamatan Kampung Melayu,'' kata Ketua RT 16 Rw 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu kota Bengkulu provinsi Bengkulu, Suyanto (50), ketika ditemui okezone, Senin, (12/8/2019), pagi.

Titik Kumpul Menampung Pengungsi Ribuan Jiwa

Daerah RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu  kota Bengkulu menjadi kawasan titik kumpul ketika terjadi bencana gempa  berdampak tsunami. Tidak hanya, masyarakat se-kelurahan Padang Serai.

Namun, masyarakat dari desa Arau Bintang dan Riak Siabun Kabupaten  Seluma serta masyarakat kelurahan Teluk Sepang juga mengungsi ke RT 16.  Di mana daerah ini memiliki ketinggian 13 meter dari permukaan laut  (Mdpl).

Senin 8 Agustus 2019. Cuaca di Kota Bengkulu, cerah berawan. Termasuk  di kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. RT 16  RW 04, tepatnya. Masyarakat di daerah ini sibuk beraktivitas. Pergi ke  kebun, misalnya.

Daerah yang berada diujung kelurahan Padang Serai ini terdapat satu  lokasi titik kumpul. Lapangan sepak bola RT 16 Rw 04, lokasinya. Tak  jauh dari lokasi lapangan titik kumpul, berdiri sebuah bangunan rumah  permanen.

Rumah itu dihuni Ketua RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan  Kampung Melayu kota Bengkulu, Suyanto (50), beserta istri dan anaknya.  Berjarak sekira 20 meter dari rumah itu terdapat jalur evakuasi bencana.  Baru selesai dibangun prajurit TNI-AD.



Progam TMMD ke 105, Kodim 0407/Bengkulu. Jalan evakuasi dengan lebar  badan jalan 8 meter itu di bangun sejak 10 Juli 2019 hingga 8 Agustus  2019. Panjangnya mencapai 1,4 KM, nyaris 1,5 KM dalam bentuk batu koral  yang sudah dipadatkan.

Pagi itu, Suyanto sedang duduk diteras rumahnya, santai. Di atas  kursi yang terbuat dari kayu, memanjang. Didepannya terdapat satu buah  meja berukuran 1x2,5 meter. Dia mengenakan baju kaos berkerah dengan  perpaduan berbagai warna gelap.

Pria kelahiran 50 tahun silam itu masih ingat betul kejadian bencana  yang menerjang Bengkulu, gempa berpotensi tsunami. Pada tahun 2003, 2007  dan 2010.

Pria yang sudah dipercaya menjabat lima periode ketua RT ini  mengulas, saat terjadi bencana gempa di RT 16 menjadi kawasan titik  kumpul masyarakat dari berbagai kelurahan di kecamatan Kampung Melayu.

Pada Rabu 12 September 2007, gempa dengan kekuatan Mw=8,4 menerjang  Bengkulu. Waktu itu warga RT 1 hingga 21 kelurahan Padang Serai  kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu, mengungsi ke RT yang dia pimpin  ini.

Tidak hanya itu, masyarakat dari desa Arau Bintang dan Riak Siabun  Kabupaten Seluma serta masyarakat kelurahan Teluk Sepang kecamatan  Kampung Melayu juga mengungsi ke RT 16.

Saat terjadi bencana 2007, salah satu ibu rumah tangga (IRT)  kelurahan Padang Serai, sempat kehilangan anak dalam kandungannya. Di  mana saat itu IRT tersebut sedang dalam keadaan hamil tua.

Anak dalam kandungan ibu hamil itu meninggal dunia ketika ingin di  evakuasi ke titik kumpul. Di mana pada tahun itu jalan evakuasi sangat  buruk untuk dilewati sehingga mengorbankan anak dalam kandungan ibu  hamil.



''Saya ingat ada ibu-ibu hamil tua, anak dalam kandungannya meninggal  saat di evakuasi ke titik kumpul. Waktu itu jalan evakuasi masih buruk  dan tidak layak untuk di lintasi. Kejadiannya waktu gempa 2007 lalu,''  cerita pria berkulit gelap ini kepada okezone.

Suyanto juga ingat ketika di RT 16, dijadikan lokasi tempat  pengungsian ketika bencana gempa 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Pada  tahun itu juga terdapat korban jiwa. Salah satu IRT dari Arau Bintang  kabupaten Seluma, yang sedang hamil tua.

IRT itu kehilangan anak dalam kandungannya. Ketika di evakuasi di  jalur evakuasi dengan jalan yang masih dalam keadaan buruk. Saat itu IRT  tersebut terjatuh. Sehingga anak dalam kandungannya meninggal dunia.

Jalur evakuasi merupakan salah satu sarana yang sangat penting bagi  masyarakat ketika terjadi bencana alam, gempa bumi berpotensi tsunami.

Pria berambut pendek ini mengatakan, pembukaan jalur evakuasi di RT  16 merupakan salah satu upaya untuk memperlancar sarana masyarakat dari  berbagai kelurahan. Terutama ketika terjadi bencana, jalur evakuasi  sudah ada dan dalam keadaan siap.

Di RT 16, kata Suyanto, dihuni 62 kepala keluarga (KK). Sementara se  kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu didiami oleh sekira  4.000 jiwa, yang tersebar di RT 1 hingga RT 21 RW 04.

''Jalur evakuasi bencana melalui TMMD ke 105 ini, sangat mendukung  ketika terjadi bencana. Tentu, jalur ini dapat menyelamatkan jiwa  masyarakat yang ingin mengungsi ke titik kumpul di RT 16,'' terang  Suyanto.

Di RT ini juga telah disiapkan peralatan dan perlengkapan ketika  terjadi bencana alam, gempa. Mulai dari tenda posko, tenda pengungsian,  alat masak, slipingbad. Peralatan tersebut disiapkan di rumah ketua RT  16, dalam keadaan standby.

Selain memiliki lahan titik kumpul berupa lapangan sepak bola.  Suyanto mengatakan, di daerahnya juga dapat dijadikan lokasi pengungsian  warga yang mampu menampung 4.000 warga. Bahkan, lebih.

Di mana luas lahan untuk pengungsian itu tidak kurang dari 10 hektare  (Ha). Lahan itu dengan memanfaatkan areal perkarangan warga setempat.

''Kami juga sudah ada peralatan dan perlengkapan pengungsian. Tenda  posko, tenda pengungsian, alat masak, selimut, slipingbad. Peralatan itu  siap digunakan ketika terjadi bencana alam. Itu bantuan dari  kementerian sosial,'' kata dia, sembari menunjukkan peralatan dan  perlengkapan di samping rumahnya.

Bengkulu Dikepung Segmen Megathrust

Bengkulu suatu daerah dengan tatanan tektonik atau lempeng luas yang   memiliki mekanisme pergerakan rata-rata sesar naik. Sehingga provinsi   yang dihuni tidak kurang dari 1,9 juta ini sering di landa banyak gempa   besar dengan kedalam dangkal.

Merujuk peta sumber dan bahaya gempa Indonesia tahun 2017, khusus   Bengkulu setidaknya terdapat dua segmen subduksi. Megathrust   Mentawai-Pagai dan megathrust Enggano, namanya.

Dua segmen tersebut menjadi generator utama untuk gempa-gempa   megathrust di wilayah Bengkulu. Di mana setiap segmen memiliki potensi   kekuatan gempa maksimum yang berbeda. Pada segmen megathrust   Mentawai-Pagai, kekuatan maksimum gempa wilayah ini mencapai M=8.9.   Sementara pada segmen Enggano kekuatan maksimum-nya sedikit lebih kecil,   M=8.4.

''Bengkulu sering di landa gempa karena terdapat dua segmen subduksi   megathrust,'' kata PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu,   Sabar Ardiansyah.

Catatan Gempa Besar di Bengkulu



Bengkulu sempat di landa gempa berkekuatan dahsyat. Pada Minggu 4   Juni 2000, dengan kekuatan Mw=7,9. Kemudian, pada Rabu 12 September   2007, dengan kekuatan Mw=8,4. Dua gempa besar tersebut berlokasi relatif   berdekatan.

Namun, pada dasar gempa itu dibangkitkan segmen megathrust yang   berbeda. Di mana gempa pada Minggu 4 Juni 2000, disebabkan megathrust   Enggano. Sementara gempa pada Rabu 12 September 2007 dibangkitkan   megathrust Mentawai-Pagai.

Segmen Enggano, sampai Sabar, sejak tahun 2000 hingga 2019 belum ada   gempa besar M&amp;gt;7,0 yang terjadi pada segmen tersebut. Meskpun   demikian, aktivitas segmen Enggano tetap tinggi. Buktinya, adanya   rekaman gempa-gempa kecil yang tercatat di BMKG Kepahiang. Sehingga   segmen ini terus melepaskan energi sepanjang waktu dalam bentuk   gempa-gempa kecil.

Sementara pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, sambung Sabar,   selain gempa pada Rabu 12 September 2007, gempa besar terakhir terjadi   pada Senin 25 Oktober 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Gempa ini diikuti   gelombang tsunami dan menelan banyak korban jiwa.

''Secara langsung gempa 2010, memang tidak berdampak pada daerah   Bengkulu. Namun getaran gempa dirasakan cukup kuat di beberapa daerah   seperti Mukomuko, Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu,'' sampai Sabar.

Berdasarkan catatan sejarah gempa di masa lalu, zona megathrust   Mentawai-Pagai pernah mencatat sejarah kelam dengan terjadi gempa   dahsyat pada tahun 1883, dengan kekuatan M=9,0.

Dampaknya, tidak hanya sekitar wilayah Sumatera Barat, melainkan   wilayah lain ikut terdampak. Seperti, Bengkulu. Dampak gempa tersebut   menimbulkan gelombang tsunami di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''.

Sabar menyampaikan, akhir-akhir ini segmen Mentawai-Pagai kembali   menunjukkan eksistensinya. Pada Sabtu 2 Februari 2019, terjadi gempa   dengan kekuatan M=6,1 pada bagian paling utara segmen ini.

Intensitas gempa maksimum mencapai IV-V MMI dirasakan di Mentawai.   Intensitas IV-V MMI ini berpotensi mengakibatkan kerusakan pada perabot   rumah tangga. Frekuansi gempa susulannya pun cukup tinggi, dalam tiga   hari gempa susulan mencapai 116 kali.

''Gempa itu dirasakan di beberapa tempat di Provinsi Bengkulu.   Seperti Mukomuko, Kota Bengkulu bahkan hingga ke Kabupaten Kepahiang,''   sampai Sabar.

Ratusan Daerah Masuk Zona Merah Rawan Tsunami

Sebanyak 205 desa/kelurahan dari 41 kecamatan di provinsi Bengkulu,    masuk zona merah rawan bencana gempa bumi yang memicu gelombang  tsunami.   Ratusan daerah itu terdapat di sepanjang pesisir pantai barat   sumatera.

Mulai dari perbatasan dengan provinsi Lampung hingga perbatasan    dengan provinsi Sumatera Barat. Di kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan,    Seluma, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, kabupaten Mukomuko dan Kota    Bengkulu.



Kepala Bidang (Kabid) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)    Provinsi Bengkulu, Syamsudin mengatakan, berdasarkan data Badan Nasional    Penanggulangan Bencana terdapat 205 desa/kelurahan tersebar di 41    kecamatan di Bengkulu, masuk dalam zona merah gempa yang berdampak    gelombang tsunami.

''Itu berdasarkan analisis peta wilayah. Kalau data kita berdasarkan    data laporan  dari kabupaten dan kota,'' kata Syamsudin, ketika    dihubungi okezone, Senin 12 Agustus 2019.

Untuk di Kabupaten Mukomuko terdapat 25 desa dari 7 kecamatan yang    rawan terkena dampak tsunami. Di Bengkulu Utara, terdapat di 7 kecamatan    dengan rawan terdampak tsunami 36 desa. Lalu, di Seluma, tersebar di 7    kecamatan tersebar di 23 desa.

Kemudian, di kabupaten Bengkulu Selatan, terdapat di 6 kecamatan    tersebar di 23 desa, di Bengkulu Tengah terdapat 1 kecamatan dengan    meliputi 4 desa.

Selanjutnya, di Kaur terdapat 7 kecamatan tersebar di 72 desa.    Selanjutnya, di Kota Bengkulu, terdapat di 6 kecamatan tersebar di 22    kelurahan.

Ditambahkan Kasubid Tanggap Darurat BPBD Provinsi Bengkulu, Cevy    Afandi, zona merah gempa berdampak gelombang tsunami terdapat di daerah    pesisir pantai dari kabupaten Kaur hingga kabupaten Mukomuko.

Di mana setiap desa dan kecamatan yang rawan bencana, sudah ada    pemasangan rambu-rambu evakuasi untuk titik kumpul. Selain itu, kategori    desa dan kelurahan rawan bencana tsunami merupakan desa/kelurahan  yang   berbatasan langsung dengan pantai, sehingga desa tersebut  dianggap  rawan  terkena dampak tsunami.

''Ada 7 kabupaten/kota di Bengkulu yang berada di pesisir pantai barat Sumatera,''  tambah Cevy.



Memperlancar Akses Jalur Evakuasi

Jalur evakuasi untuk memperlancar akses jalan menuju titik kumpul     masyarakat di RT 16 RT 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung     Melayu Kota Bengkulu. Ketika terjadi bencana alam, gempa berdampak     tsunami.

Selain itu, jalur tersebut juga memperlancar akses masyarakat     setempat menuju ke pusat kota lebih cepat. Di mana jalur tersebut     terhubung ke RT 19 kelurahan Sumber Jaya kecamatan Kampung Melayu serta     kelurahan Bumi Ayu kecamatan Selebar Kota Bengkulu.

Komandan Kodim (Dandim) 0407/Bengkulu, Letkol Arm Yose Rizal     mengatakan, sebelumnya jalur evakuasi tersebut sudah ada. Hanya saja,     akses tersebut masih dalam keadaan buruk dan belum di koral. Sehingga     sulit untuk di lintasi masyarakat setempat.

Jalur yang di bangun melalui TMMD ke 105 itu, terang Yose, merupakan     jalur logistik atau jalur untuk masuknya logistik dari kota Bengkulu     ketika terjadi bencana. sekaligus jalur evakuasi masyarakat menuju ke     titik kumpul yang ada di RT 16 RW 04.

Selain mengoral jalan sepanjang 1,3 Km, lanjut Yose, prajurit TNI-AD     juga membangun 3 jembatan di daerah tersebut. Bahkan, prajurit TNI-  AD    merehap tiga sarana ibadah di lokasi RT 16 RW 04 kelurahan Padang    Serai.

''Setidaknya akses menuju ke sana menjadi lancar. Itu juga menjadi     jalur masuknya logistik ke lokasi pengungsian ketika bencana terjadi,''     kata Yose, kepada okezone, Senin 12 Agustus 2019.

BMKG Bangun Lima Shelter InaTEWS dan CCTV

Potensi gempa diiringi gelombang tsunmai di daerah yang berbatasan     langsung dengan Samudera Hindia ini tentu menjadi perhatian segala  pihak    pemerintah. Dari BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu,   membangun   lima shelter penjaringan perapatan Indonesia Tsunami Early   Warning   System (InaTEWS).

Shelter InaTEWS di bangun diempat daerah di provinsi berjuluk ''Bumi     Rafflesia''. Dari perbatasan Bengkulu - Sumatera Barat hingga    perbatasan  Bengkulu - Lampung. Seperti, di kabupaten Mukomuko, Bengkulu    Utara,  Seluma dan kabupaten Kaur.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang Bengkulu, Litman mengatakan,     Shelter InaTEWS dilengkapi seismograf atau alat untuk mengukur gempa     atau getaran yang terjadi pada permukaan bumi.

Pemasangan seismograf tersebut, sampai Litman, di Mukomuko di bangun     satu unit bangunan shelter. Tepatnya, kawasan rumah karyawan PT. Agro     Muko di kecamatan Air Dikit.

Di Bengkulu Utara di bangun dua unit, di desa Padang Jaya dan desa     Marga Sakti Kecamatan Padang Jaya. Lalu, di kantor camat Ulu Talo     kabupaten Seluma, satu unit. Di desa Bukit Makmur kecamatan Muara Sahung     kabupaten Kaur, di bangun satu unit shelter.

Bangunan shelter, terang Litman, secara keseluruhan menggunakan lahan     dari pemerintah dan swasta. Bangunan setiap shelter tersebut   berukuran   4x4 meter. Selain Seismograf, nantinya di shelter juga   terdapat satu   unit antena parabola.

''Pembangunan shelter InaTEWS di Bengkulu akan di bangunan tahun ini     (2019). Saat ini sedang dalam proses. Ditargetkan pada November 2019,     bangunan serta perlengkapan dan peralatan sudah siap,'' kata Litman.

Tidak hanya shelter, lanjut Litman, BMKG juga akan memasang satu unit     kamera Closed-circuit television (CCTV) pemantau gelombang tsunami  di    kabupaten Mukomuko. Persisnya di areal pos TNI-AL Mukomuko.

Alat seismograf maupun CCTV yang terpasang tersebut nantinya     terkoneksi dengan BMKG Pusat. Hal tersebut untuk mengetahui secara     langsung ketika gempa yang berdampak tsunami melanda di wilayah     Bengkulu.

''Satu CCTV di pasang di daerah Mukomuko. CCTV itu itu untuk memantau     ketika gempa berpotensi tsunami terjadi di Mukomuko,'' terang  Litman.Intensity Meter Dipasang di 15 Titik di Bengkulu

Kerawanan gempa berpotensi memicu gelombang tsunami di Bengkulu, BMKG     Pusat, BMKG Kepahiang Bengkulu dibantu teknisi dari PT Bita Enarcon     Engineering memasang 15 unit Intensity Meter di 15 titik di Kota     Bengkulu.

Alat yang digunakan untuk mengetahui intensitas gempa bumi dan untuk     mengukur tingkat kerusakan, akibat gempa bumi dalam satuan Modified     Mercalli Intensity (MMI) tersebut merupakan bantuan hibah dari     pemerintah Jepang melalui JICA.

Kepala Bidang Seismologi Teknik BMKG Pusat, Dadang Permana     mengatakan, alat untuk mendeteksi tingkat guncangan gempa skala MMI.     Dari I MMI hingga XII MMI. Di mana saat gempa terjadi Intensity Meter     langsung terkoneksi secara langsung dan akan terlihat di alat digitizer     pada Intensity Meter yang sebelumnya telah terpadang di  daerah-daerah.

Di digitizer pada Intensity Meter akan muncul skala intensitas, I-II     MMI getaran tidak dirasakan atau dirasakan hanya oleh beberapa orang     tetapi terekam oleh alat. Di digitizer akan muncul warna putih.

Sementara jika pada digitizer pada Intensity Meter berwarna hijau     atau III-V MMI getaran gempa dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak     menimbulkan kerusakan. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan     jendela kaca bergetar.

Kemudian, jika warna kuning muncul di alat digitizer pada Intensity     Mete atau VI MMI, bagian non struktur bangunan mengalami kerusakan     ringan, seperti retak rambut pada dinding, genteng bergeser ke bawah dan     sebagian berjatuhan.

Lalu, VII - VIII MMI atau muncul berwarna jingga di alat digitizer     pada Intensity Meter, gempa yang terjadi menyebabkan banyak retakan     terjadi pada dinding bangunan sederhana, sebagian roboh, kaca pecah.     Sebagian plester dinding lepas. Hampir sebagian besar genteng bergeser     ke bawah atau jatuh. Struktur bangunan mengalami kerusakan ringan   sampai   sedang.

Selanjutnya, jika di alat digitizer pada Intensity Meter berwarna     merah atau IX-XII MMI, getaran gempa tersebut menyebabkan sebagian besar     dinding bangunan permanen roboh. Struktur bangunan mengalami   kerusakan   berat, rel kereta api melengkung.

''Getaran gempa yang terjadi akan terekam di alat digitizer pada Intensity Meter,'' kata Dadang.

Alat digitizer pada Intensity Meter di Kota Bengkulu, sampai Dadang,     langsung masuk ke server BMKG Pusat dalam hitungan menit. Selain itu,     laporan alat digitizer pada Intensity Meter yang terkoneksi akan     terlihat tingkat guncangan gempa yang terjadi di Bengkulu.

Sehingga peta tingkat guncangan shakemap secara otomatis akan masuk     selama 20 menit. Peta itu, jelas Dadang, akan melihat kerusakan dampak     gempa parah. Dari peta itu BMKG akan menyampaikan ke BNPB, BPBD     Provinsi, BPBD kabupaten dan kota tingkat kerusakan terparah di daerah     yang terdampak gempa.

''Tujuannya agar di respon cepat BNPB, BPBD provinsi, kabupaten dan     kota daerah yang terdampak gempa. Peta kerusakan itu kalau berat akan     berwarna merah, jika berwarna kuning rusak ringan, warna jingga rusak     sedang,'' jelas Dadang.

''Dengan adanya peta tersebut maka dari BPBD bisa mengambil keputusan cepat untuk men gambil tindakan,'' tambah Dadang.

Intensity Meter, sampai Dadang, tidak hanya mencatat getaran gempa     yang terjadi di daerah di Bengkulu. Namun, getaran gempa yang berlokasi     atau berpusat di Aceh, Padang Sumatera Barat hingga Lampung pun bisa     terdeteksi oleh alat intensity meter yang terpadang di 15 titik di  Kota    Bengkulu.

''Hanya saja tingkat guncangan gempa yang berlokasi di provinsi     lainnya skala MMI yang dirasakan di Bengkulu tidak begitu terasa atau     besar. Tapi, intensity meter tetap merekam dan mencatat,'' ujar Dadang.

Evakuasi Mandiri sebagai Budaya

Sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan zona seismik aktif,      masyarakat Bengkulu musti selalu dan dituntut membudayakan siaga      bencana. Secara alamiah baik segmen Mentawai maupun segmen Enggano  terus     melepas energi gempa baik dalam bentuk gempa kecil maupun  gempa   besar.

''Sampai saat ini kita belum mampu memprediksi secara akurat, kapan      dan berapa besar kekuatan gempa yang akan terjadi,'' tegas PMG Ahli    Muda   Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah.

Seluruh lapisan masyarakat selayaknya harus menyiapkan diri untuk      terus meningkatkan upaya mitigasi. Menguasai jalur evakuasi di sekitar      lingkungan. Selain itu, masyarakat harus mengerti cara penyelamatan    diri   saat terjadi gempa kuat yang berdampak pada gelombang tsunami.

Guncangan gempa kuat dan durasi yang cukup lama berkisar 20 detik      sebagai peringatan dini dari alam. Beberapa kasus, jelas Sabar, ada      gempa yang tidak dirasakan kuat, namun dengan durasi yang cukup lama      sekira &amp;gt;60 detik dapat menjadi tanda gempa besar yang dapat memicu      gelombang tsunami. Seperti, tsunami Mentawai 2010.

''Evakuasi mandiri harus menjadi budaya yang tertanam sejak dini,'' imbau Sabar.

Artinya, tambah Sabar, tanpa harus menunggu peringatan resmi dari      pemerintah, masyarakat harus segera menjauhi pantai. Saat terjadi gempa      kuat dan durasi lama. Sebab, gelombang tsunami datang dalam waktu   yang    sangat singkat sebelum datangnya peringatan resmi dari   pemerintah.

''Jika tsunami benar-benar datang masyarakat sudah aman berada di      tempat yang tinggi. Jika gelombang tsunami tidak datang, patut kita      syukuri karena dijauhi dari bencana yang lebih besar dan jadikan  sebagai     latihan evakuasi,'' terang Sabar.
</description><content:encoded>BENGKULU - Provinsi berjuluk Bumi Rafflesia merupakan salah satu provinsi yang masuk dalam zona merah, rawan bencana gempa bumi berdampak gelombang tsunami. Tujuh dari 10 kabupaten/kota di provinsi ini berada di tepi pesisir barat sumatera.

Tujuh daerah itu juga berbatasan langsung dengan samudera hindia. Mulai dari kabupaten Kaur yang berbatasan langsung dengan provinsi Lampung hingga kabupaten Mukomuko yang berbatasan dengan Sumatera Barat.

Antisipasi dalam menghadapi bencana pun telah dilakukan pemerintah provinsi (pemprov), pemerintah kota (pemkot) dan pemerintah kabupaten (pemkab), TNI dan BMKG. Pembukaan jalur evakuasi bencana, misalnya.

Pembukaan jalur evakuasi bencana itu tentu dapat menyelamatkan ribuan jiwa masyarakat Kota Bengkulu. Sebab, jalur itu di bangun di RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu.

Jalur evakuasi dengan panjang tidak kurang dari 1,4 kilometer (KM) merupakan penghubung kelurahan Padang Serai ke kelurahan Sumber Jaya kecamatan Kampung Melayu serta kelurahan Bumi Ayu dan kelurahan Betungan kecamatan Selebar Kota Bengkulu.



Jalur evakuasi serta jalur pemasok logistik ketika terjadi bencana gempa berpotensi tsunami itu dikerjakan prajurit TNI-AD, melalui program tentara manunggal masuk desa (TMMD) ke 105, Kodim 0407/Bengkulu.

Pembuatan jalur evakuasi tersebut merupakan salah satu bentuk kesiap-siagaan masyarakat di Kota Bengkulu, khususnya masyarakat RT 1 hingga 21 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu.

Di mana ketika terjadi bencana mereka sudah ada jalur evakuasi untuk dijadikan titik kumpul yang terdapat di RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu.

''Tempat kami menjadi salah satu lokasi titik kumpul ketika terjadi gempa berpotensi tsunami. Khususnya warga di kecamatan Kampung Melayu,'' kata Ketua RT 16 Rw 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu kota Bengkulu provinsi Bengkulu, Suyanto (50), ketika ditemui okezone, Senin, (12/8/2019), pagi.

Titik Kumpul Menampung Pengungsi Ribuan Jiwa

Daerah RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu  kota Bengkulu menjadi kawasan titik kumpul ketika terjadi bencana gempa  berdampak tsunami. Tidak hanya, masyarakat se-kelurahan Padang Serai.

Namun, masyarakat dari desa Arau Bintang dan Riak Siabun Kabupaten  Seluma serta masyarakat kelurahan Teluk Sepang juga mengungsi ke RT 16.  Di mana daerah ini memiliki ketinggian 13 meter dari permukaan laut  (Mdpl).

Senin 8 Agustus 2019. Cuaca di Kota Bengkulu, cerah berawan. Termasuk  di kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. RT 16  RW 04, tepatnya. Masyarakat di daerah ini sibuk beraktivitas. Pergi ke  kebun, misalnya.

Daerah yang berada diujung kelurahan Padang Serai ini terdapat satu  lokasi titik kumpul. Lapangan sepak bola RT 16 Rw 04, lokasinya. Tak  jauh dari lokasi lapangan titik kumpul, berdiri sebuah bangunan rumah  permanen.

Rumah itu dihuni Ketua RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan  Kampung Melayu kota Bengkulu, Suyanto (50), beserta istri dan anaknya.  Berjarak sekira 20 meter dari rumah itu terdapat jalur evakuasi bencana.  Baru selesai dibangun prajurit TNI-AD.



Progam TMMD ke 105, Kodim 0407/Bengkulu. Jalan evakuasi dengan lebar  badan jalan 8 meter itu di bangun sejak 10 Juli 2019 hingga 8 Agustus  2019. Panjangnya mencapai 1,4 KM, nyaris 1,5 KM dalam bentuk batu koral  yang sudah dipadatkan.

Pagi itu, Suyanto sedang duduk diteras rumahnya, santai. Di atas  kursi yang terbuat dari kayu, memanjang. Didepannya terdapat satu buah  meja berukuran 1x2,5 meter. Dia mengenakan baju kaos berkerah dengan  perpaduan berbagai warna gelap.

Pria kelahiran 50 tahun silam itu masih ingat betul kejadian bencana  yang menerjang Bengkulu, gempa berpotensi tsunami. Pada tahun 2003, 2007  dan 2010.

Pria yang sudah dipercaya menjabat lima periode ketua RT ini  mengulas, saat terjadi bencana gempa di RT 16 menjadi kawasan titik  kumpul masyarakat dari berbagai kelurahan di kecamatan Kampung Melayu.

Pada Rabu 12 September 2007, gempa dengan kekuatan Mw=8,4 menerjang  Bengkulu. Waktu itu warga RT 1 hingga 21 kelurahan Padang Serai  kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu, mengungsi ke RT yang dia pimpin  ini.

Tidak hanya itu, masyarakat dari desa Arau Bintang dan Riak Siabun  Kabupaten Seluma serta masyarakat kelurahan Teluk Sepang kecamatan  Kampung Melayu juga mengungsi ke RT 16.

Saat terjadi bencana 2007, salah satu ibu rumah tangga (IRT)  kelurahan Padang Serai, sempat kehilangan anak dalam kandungannya. Di  mana saat itu IRT tersebut sedang dalam keadaan hamil tua.

Anak dalam kandungan ibu hamil itu meninggal dunia ketika ingin di  evakuasi ke titik kumpul. Di mana pada tahun itu jalan evakuasi sangat  buruk untuk dilewati sehingga mengorbankan anak dalam kandungan ibu  hamil.



''Saya ingat ada ibu-ibu hamil tua, anak dalam kandungannya meninggal  saat di evakuasi ke titik kumpul. Waktu itu jalan evakuasi masih buruk  dan tidak layak untuk di lintasi. Kejadiannya waktu gempa 2007 lalu,''  cerita pria berkulit gelap ini kepada okezone.

Suyanto juga ingat ketika di RT 16, dijadikan lokasi tempat  pengungsian ketika bencana gempa 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Pada  tahun itu juga terdapat korban jiwa. Salah satu IRT dari Arau Bintang  kabupaten Seluma, yang sedang hamil tua.

IRT itu kehilangan anak dalam kandungannya. Ketika di evakuasi di  jalur evakuasi dengan jalan yang masih dalam keadaan buruk. Saat itu IRT  tersebut terjatuh. Sehingga anak dalam kandungannya meninggal dunia.

Jalur evakuasi merupakan salah satu sarana yang sangat penting bagi  masyarakat ketika terjadi bencana alam, gempa bumi berpotensi tsunami.

Pria berambut pendek ini mengatakan, pembukaan jalur evakuasi di RT  16 merupakan salah satu upaya untuk memperlancar sarana masyarakat dari  berbagai kelurahan. Terutama ketika terjadi bencana, jalur evakuasi  sudah ada dan dalam keadaan siap.

Di RT 16, kata Suyanto, dihuni 62 kepala keluarga (KK). Sementara se  kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu didiami oleh sekira  4.000 jiwa, yang tersebar di RT 1 hingga RT 21 RW 04.

''Jalur evakuasi bencana melalui TMMD ke 105 ini, sangat mendukung  ketika terjadi bencana. Tentu, jalur ini dapat menyelamatkan jiwa  masyarakat yang ingin mengungsi ke titik kumpul di RT 16,'' terang  Suyanto.

Di RT ini juga telah disiapkan peralatan dan perlengkapan ketika  terjadi bencana alam, gempa. Mulai dari tenda posko, tenda pengungsian,  alat masak, slipingbad. Peralatan tersebut disiapkan di rumah ketua RT  16, dalam keadaan standby.

Selain memiliki lahan titik kumpul berupa lapangan sepak bola.  Suyanto mengatakan, di daerahnya juga dapat dijadikan lokasi pengungsian  warga yang mampu menampung 4.000 warga. Bahkan, lebih.

Di mana luas lahan untuk pengungsian itu tidak kurang dari 10 hektare  (Ha). Lahan itu dengan memanfaatkan areal perkarangan warga setempat.

''Kami juga sudah ada peralatan dan perlengkapan pengungsian. Tenda  posko, tenda pengungsian, alat masak, selimut, slipingbad. Peralatan itu  siap digunakan ketika terjadi bencana alam. Itu bantuan dari  kementerian sosial,'' kata dia, sembari menunjukkan peralatan dan  perlengkapan di samping rumahnya.

Bengkulu Dikepung Segmen Megathrust

Bengkulu suatu daerah dengan tatanan tektonik atau lempeng luas yang   memiliki mekanisme pergerakan rata-rata sesar naik. Sehingga provinsi   yang dihuni tidak kurang dari 1,9 juta ini sering di landa banyak gempa   besar dengan kedalam dangkal.

Merujuk peta sumber dan bahaya gempa Indonesia tahun 2017, khusus   Bengkulu setidaknya terdapat dua segmen subduksi. Megathrust   Mentawai-Pagai dan megathrust Enggano, namanya.

Dua segmen tersebut menjadi generator utama untuk gempa-gempa   megathrust di wilayah Bengkulu. Di mana setiap segmen memiliki potensi   kekuatan gempa maksimum yang berbeda. Pada segmen megathrust   Mentawai-Pagai, kekuatan maksimum gempa wilayah ini mencapai M=8.9.   Sementara pada segmen Enggano kekuatan maksimum-nya sedikit lebih kecil,   M=8.4.

''Bengkulu sering di landa gempa karena terdapat dua segmen subduksi   megathrust,'' kata PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu,   Sabar Ardiansyah.

Catatan Gempa Besar di Bengkulu



Bengkulu sempat di landa gempa berkekuatan dahsyat. Pada Minggu 4   Juni 2000, dengan kekuatan Mw=7,9. Kemudian, pada Rabu 12 September   2007, dengan kekuatan Mw=8,4. Dua gempa besar tersebut berlokasi relatif   berdekatan.

Namun, pada dasar gempa itu dibangkitkan segmen megathrust yang   berbeda. Di mana gempa pada Minggu 4 Juni 2000, disebabkan megathrust   Enggano. Sementara gempa pada Rabu 12 September 2007 dibangkitkan   megathrust Mentawai-Pagai.

Segmen Enggano, sampai Sabar, sejak tahun 2000 hingga 2019 belum ada   gempa besar M&amp;gt;7,0 yang terjadi pada segmen tersebut. Meskpun   demikian, aktivitas segmen Enggano tetap tinggi. Buktinya, adanya   rekaman gempa-gempa kecil yang tercatat di BMKG Kepahiang. Sehingga   segmen ini terus melepaskan energi sepanjang waktu dalam bentuk   gempa-gempa kecil.

Sementara pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, sambung Sabar,   selain gempa pada Rabu 12 September 2007, gempa besar terakhir terjadi   pada Senin 25 Oktober 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Gempa ini diikuti   gelombang tsunami dan menelan banyak korban jiwa.

''Secara langsung gempa 2010, memang tidak berdampak pada daerah   Bengkulu. Namun getaran gempa dirasakan cukup kuat di beberapa daerah   seperti Mukomuko, Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu,'' sampai Sabar.

Berdasarkan catatan sejarah gempa di masa lalu, zona megathrust   Mentawai-Pagai pernah mencatat sejarah kelam dengan terjadi gempa   dahsyat pada tahun 1883, dengan kekuatan M=9,0.

Dampaknya, tidak hanya sekitar wilayah Sumatera Barat, melainkan   wilayah lain ikut terdampak. Seperti, Bengkulu. Dampak gempa tersebut   menimbulkan gelombang tsunami di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''.

Sabar menyampaikan, akhir-akhir ini segmen Mentawai-Pagai kembali   menunjukkan eksistensinya. Pada Sabtu 2 Februari 2019, terjadi gempa   dengan kekuatan M=6,1 pada bagian paling utara segmen ini.

Intensitas gempa maksimum mencapai IV-V MMI dirasakan di Mentawai.   Intensitas IV-V MMI ini berpotensi mengakibatkan kerusakan pada perabot   rumah tangga. Frekuansi gempa susulannya pun cukup tinggi, dalam tiga   hari gempa susulan mencapai 116 kali.

''Gempa itu dirasakan di beberapa tempat di Provinsi Bengkulu.   Seperti Mukomuko, Kota Bengkulu bahkan hingga ke Kabupaten Kepahiang,''   sampai Sabar.

Ratusan Daerah Masuk Zona Merah Rawan Tsunami

Sebanyak 205 desa/kelurahan dari 41 kecamatan di provinsi Bengkulu,    masuk zona merah rawan bencana gempa bumi yang memicu gelombang  tsunami.   Ratusan daerah itu terdapat di sepanjang pesisir pantai barat   sumatera.

Mulai dari perbatasan dengan provinsi Lampung hingga perbatasan    dengan provinsi Sumatera Barat. Di kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan,    Seluma, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, kabupaten Mukomuko dan Kota    Bengkulu.



Kepala Bidang (Kabid) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)    Provinsi Bengkulu, Syamsudin mengatakan, berdasarkan data Badan Nasional    Penanggulangan Bencana terdapat 205 desa/kelurahan tersebar di 41    kecamatan di Bengkulu, masuk dalam zona merah gempa yang berdampak    gelombang tsunami.

''Itu berdasarkan analisis peta wilayah. Kalau data kita berdasarkan    data laporan  dari kabupaten dan kota,'' kata Syamsudin, ketika    dihubungi okezone, Senin 12 Agustus 2019.

Untuk di Kabupaten Mukomuko terdapat 25 desa dari 7 kecamatan yang    rawan terkena dampak tsunami. Di Bengkulu Utara, terdapat di 7 kecamatan    dengan rawan terdampak tsunami 36 desa. Lalu, di Seluma, tersebar di 7    kecamatan tersebar di 23 desa.

Kemudian, di kabupaten Bengkulu Selatan, terdapat di 6 kecamatan    tersebar di 23 desa, di Bengkulu Tengah terdapat 1 kecamatan dengan    meliputi 4 desa.

Selanjutnya, di Kaur terdapat 7 kecamatan tersebar di 72 desa.    Selanjutnya, di Kota Bengkulu, terdapat di 6 kecamatan tersebar di 22    kelurahan.

Ditambahkan Kasubid Tanggap Darurat BPBD Provinsi Bengkulu, Cevy    Afandi, zona merah gempa berdampak gelombang tsunami terdapat di daerah    pesisir pantai dari kabupaten Kaur hingga kabupaten Mukomuko.

Di mana setiap desa dan kecamatan yang rawan bencana, sudah ada    pemasangan rambu-rambu evakuasi untuk titik kumpul. Selain itu, kategori    desa dan kelurahan rawan bencana tsunami merupakan desa/kelurahan  yang   berbatasan langsung dengan pantai, sehingga desa tersebut  dianggap  rawan  terkena dampak tsunami.

''Ada 7 kabupaten/kota di Bengkulu yang berada di pesisir pantai barat Sumatera,''  tambah Cevy.



Memperlancar Akses Jalur Evakuasi

Jalur evakuasi untuk memperlancar akses jalan menuju titik kumpul     masyarakat di RT 16 RT 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung     Melayu Kota Bengkulu. Ketika terjadi bencana alam, gempa berdampak     tsunami.

Selain itu, jalur tersebut juga memperlancar akses masyarakat     setempat menuju ke pusat kota lebih cepat. Di mana jalur tersebut     terhubung ke RT 19 kelurahan Sumber Jaya kecamatan Kampung Melayu serta     kelurahan Bumi Ayu kecamatan Selebar Kota Bengkulu.

Komandan Kodim (Dandim) 0407/Bengkulu, Letkol Arm Yose Rizal     mengatakan, sebelumnya jalur evakuasi tersebut sudah ada. Hanya saja,     akses tersebut masih dalam keadaan buruk dan belum di koral. Sehingga     sulit untuk di lintasi masyarakat setempat.

Jalur yang di bangun melalui TMMD ke 105 itu, terang Yose, merupakan     jalur logistik atau jalur untuk masuknya logistik dari kota Bengkulu     ketika terjadi bencana. sekaligus jalur evakuasi masyarakat menuju ke     titik kumpul yang ada di RT 16 RW 04.

Selain mengoral jalan sepanjang 1,3 Km, lanjut Yose, prajurit TNI-AD     juga membangun 3 jembatan di daerah tersebut. Bahkan, prajurit TNI-  AD    merehap tiga sarana ibadah di lokasi RT 16 RW 04 kelurahan Padang    Serai.

''Setidaknya akses menuju ke sana menjadi lancar. Itu juga menjadi     jalur masuknya logistik ke lokasi pengungsian ketika bencana terjadi,''     kata Yose, kepada okezone, Senin 12 Agustus 2019.

BMKG Bangun Lima Shelter InaTEWS dan CCTV

Potensi gempa diiringi gelombang tsunmai di daerah yang berbatasan     langsung dengan Samudera Hindia ini tentu menjadi perhatian segala  pihak    pemerintah. Dari BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu,   membangun   lima shelter penjaringan perapatan Indonesia Tsunami Early   Warning   System (InaTEWS).

Shelter InaTEWS di bangun diempat daerah di provinsi berjuluk ''Bumi     Rafflesia''. Dari perbatasan Bengkulu - Sumatera Barat hingga    perbatasan  Bengkulu - Lampung. Seperti, di kabupaten Mukomuko, Bengkulu    Utara,  Seluma dan kabupaten Kaur.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang Bengkulu, Litman mengatakan,     Shelter InaTEWS dilengkapi seismograf atau alat untuk mengukur gempa     atau getaran yang terjadi pada permukaan bumi.

Pemasangan seismograf tersebut, sampai Litman, di Mukomuko di bangun     satu unit bangunan shelter. Tepatnya, kawasan rumah karyawan PT. Agro     Muko di kecamatan Air Dikit.

Di Bengkulu Utara di bangun dua unit, di desa Padang Jaya dan desa     Marga Sakti Kecamatan Padang Jaya. Lalu, di kantor camat Ulu Talo     kabupaten Seluma, satu unit. Di desa Bukit Makmur kecamatan Muara Sahung     kabupaten Kaur, di bangun satu unit shelter.

Bangunan shelter, terang Litman, secara keseluruhan menggunakan lahan     dari pemerintah dan swasta. Bangunan setiap shelter tersebut   berukuran   4x4 meter. Selain Seismograf, nantinya di shelter juga   terdapat satu   unit antena parabola.

''Pembangunan shelter InaTEWS di Bengkulu akan di bangunan tahun ini     (2019). Saat ini sedang dalam proses. Ditargetkan pada November 2019,     bangunan serta perlengkapan dan peralatan sudah siap,'' kata Litman.

Tidak hanya shelter, lanjut Litman, BMKG juga akan memasang satu unit     kamera Closed-circuit television (CCTV) pemantau gelombang tsunami  di    kabupaten Mukomuko. Persisnya di areal pos TNI-AL Mukomuko.

Alat seismograf maupun CCTV yang terpasang tersebut nantinya     terkoneksi dengan BMKG Pusat. Hal tersebut untuk mengetahui secara     langsung ketika gempa yang berdampak tsunami melanda di wilayah     Bengkulu.

''Satu CCTV di pasang di daerah Mukomuko. CCTV itu itu untuk memantau     ketika gempa berpotensi tsunami terjadi di Mukomuko,'' terang  Litman.Intensity Meter Dipasang di 15 Titik di Bengkulu

Kerawanan gempa berpotensi memicu gelombang tsunami di Bengkulu, BMKG     Pusat, BMKG Kepahiang Bengkulu dibantu teknisi dari PT Bita Enarcon     Engineering memasang 15 unit Intensity Meter di 15 titik di Kota     Bengkulu.

Alat yang digunakan untuk mengetahui intensitas gempa bumi dan untuk     mengukur tingkat kerusakan, akibat gempa bumi dalam satuan Modified     Mercalli Intensity (MMI) tersebut merupakan bantuan hibah dari     pemerintah Jepang melalui JICA.

Kepala Bidang Seismologi Teknik BMKG Pusat, Dadang Permana     mengatakan, alat untuk mendeteksi tingkat guncangan gempa skala MMI.     Dari I MMI hingga XII MMI. Di mana saat gempa terjadi Intensity Meter     langsung terkoneksi secara langsung dan akan terlihat di alat digitizer     pada Intensity Meter yang sebelumnya telah terpadang di  daerah-daerah.

Di digitizer pada Intensity Meter akan muncul skala intensitas, I-II     MMI getaran tidak dirasakan atau dirasakan hanya oleh beberapa orang     tetapi terekam oleh alat. Di digitizer akan muncul warna putih.

Sementara jika pada digitizer pada Intensity Meter berwarna hijau     atau III-V MMI getaran gempa dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak     menimbulkan kerusakan. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan     jendela kaca bergetar.

Kemudian, jika warna kuning muncul di alat digitizer pada Intensity     Mete atau VI MMI, bagian non struktur bangunan mengalami kerusakan     ringan, seperti retak rambut pada dinding, genteng bergeser ke bawah dan     sebagian berjatuhan.

Lalu, VII - VIII MMI atau muncul berwarna jingga di alat digitizer     pada Intensity Meter, gempa yang terjadi menyebabkan banyak retakan     terjadi pada dinding bangunan sederhana, sebagian roboh, kaca pecah.     Sebagian plester dinding lepas. Hampir sebagian besar genteng bergeser     ke bawah atau jatuh. Struktur bangunan mengalami kerusakan ringan   sampai   sedang.

Selanjutnya, jika di alat digitizer pada Intensity Meter berwarna     merah atau IX-XII MMI, getaran gempa tersebut menyebabkan sebagian besar     dinding bangunan permanen roboh. Struktur bangunan mengalami   kerusakan   berat, rel kereta api melengkung.

''Getaran gempa yang terjadi akan terekam di alat digitizer pada Intensity Meter,'' kata Dadang.

Alat digitizer pada Intensity Meter di Kota Bengkulu, sampai Dadang,     langsung masuk ke server BMKG Pusat dalam hitungan menit. Selain itu,     laporan alat digitizer pada Intensity Meter yang terkoneksi akan     terlihat tingkat guncangan gempa yang terjadi di Bengkulu.

Sehingga peta tingkat guncangan shakemap secara otomatis akan masuk     selama 20 menit. Peta itu, jelas Dadang, akan melihat kerusakan dampak     gempa parah. Dari peta itu BMKG akan menyampaikan ke BNPB, BPBD     Provinsi, BPBD kabupaten dan kota tingkat kerusakan terparah di daerah     yang terdampak gempa.

''Tujuannya agar di respon cepat BNPB, BPBD provinsi, kabupaten dan     kota daerah yang terdampak gempa. Peta kerusakan itu kalau berat akan     berwarna merah, jika berwarna kuning rusak ringan, warna jingga rusak     sedang,'' jelas Dadang.

''Dengan adanya peta tersebut maka dari BPBD bisa mengambil keputusan cepat untuk men gambil tindakan,'' tambah Dadang.

Intensity Meter, sampai Dadang, tidak hanya mencatat getaran gempa     yang terjadi di daerah di Bengkulu. Namun, getaran gempa yang berlokasi     atau berpusat di Aceh, Padang Sumatera Barat hingga Lampung pun bisa     terdeteksi oleh alat intensity meter yang terpadang di 15 titik di  Kota    Bengkulu.

''Hanya saja tingkat guncangan gempa yang berlokasi di provinsi     lainnya skala MMI yang dirasakan di Bengkulu tidak begitu terasa atau     besar. Tapi, intensity meter tetap merekam dan mencatat,'' ujar Dadang.

Evakuasi Mandiri sebagai Budaya

Sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan zona seismik aktif,      masyarakat Bengkulu musti selalu dan dituntut membudayakan siaga      bencana. Secara alamiah baik segmen Mentawai maupun segmen Enggano  terus     melepas energi gempa baik dalam bentuk gempa kecil maupun  gempa   besar.

''Sampai saat ini kita belum mampu memprediksi secara akurat, kapan      dan berapa besar kekuatan gempa yang akan terjadi,'' tegas PMG Ahli    Muda   Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah.

Seluruh lapisan masyarakat selayaknya harus menyiapkan diri untuk      terus meningkatkan upaya mitigasi. Menguasai jalur evakuasi di sekitar      lingkungan. Selain itu, masyarakat harus mengerti cara penyelamatan    diri   saat terjadi gempa kuat yang berdampak pada gelombang tsunami.

Guncangan gempa kuat dan durasi yang cukup lama berkisar 20 detik      sebagai peringatan dini dari alam. Beberapa kasus, jelas Sabar, ada      gempa yang tidak dirasakan kuat, namun dengan durasi yang cukup lama      sekira &amp;gt;60 detik dapat menjadi tanda gempa besar yang dapat memicu      gelombang tsunami. Seperti, tsunami Mentawai 2010.

''Evakuasi mandiri harus menjadi budaya yang tertanam sejak dini,'' imbau Sabar.

Artinya, tambah Sabar, tanpa harus menunggu peringatan resmi dari      pemerintah, masyarakat harus segera menjauhi pantai. Saat terjadi gempa      kuat dan durasi lama. Sebab, gelombang tsunami datang dalam waktu   yang    sangat singkat sebelum datangnya peringatan resmi dari   pemerintah.

''Jika tsunami benar-benar datang masyarakat sudah aman berada di      tempat yang tinggi. Jika gelombang tsunami tidak datang, patut kita      syukuri karena dijauhi dari bencana yang lebih besar dan jadikan  sebagai     latihan evakuasi,'' terang Sabar.
</content:encoded></item></channel></rss>
