<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Formasi Kabinet Baru untuk 'Visi Indonesia'</title><description>Semua orang, termasuk semua kekuatan politik, harus menghormati hak prerogatif presiden membentuk formasi kabinet yang ideal.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/18/337/2093587/formasi-kabinet-baru-untuk-visi-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/18/337/2093587/formasi-kabinet-baru-untuk-visi-indonesia"/><item><title>Formasi Kabinet Baru untuk 'Visi Indonesia'</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/18/337/2093587/formasi-kabinet-baru-untuk-visi-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/18/337/2093587/formasi-kabinet-baru-untuk-visi-indonesia</guid><pubDate>Minggu 18 Agustus 2019 22:49 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/18/337/2093587/formasi-kabinet-baru-untuk-visi-indonesia-YY3C63cw6P.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. (Foto : Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/18/337/2093587/formasi-kabinet-baru-untuk-visi-indonesia-YY3C63cw6P.jpg</image><title>Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. (Foto : Dok Okezone)</title></images><description>MINTA atau menawarkan diri jadi menteri ini-itu memang bukan pekerjaan haram. Namun, semua orang, termasuk semua kekuatan politik, harus menghormati hak prerogatif presiden membentuk formasi kabinet yang ideal untuk merealisasikan program prioritas yang ditetapkan presiden. Begitu etikanya. Karena itu, semua sahabat presiden hendaknya patuh pada etika tersebut.
Akan sangat terhormat jika para sahabat menunggu pertanyaan dan permintaan presiden tentang ketersediaan figur dengan kualifikasi tertentu yang dibutuhkan presiden untuk pos jabatan tertentu pula. Nah, sambil menunggu panggilan telepon dari presiden, para sahabat bisa mempersiapkan sejumlah figur yang qualified, punya leadership, berintegritas, dan siap bekerja keras mengikuti ritme kerja presiden. Termasuk memiliki kemampuan eksekutor, tidak memiliki agenda pribadi kecuali hanya menjalankan misi dan visi presiden untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, tidak cengeng seperti anak mami dan berani tidak populer.
Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) telah mengumumkan sekaligus menawarkan kepada rakyat Indonesia sejumlah program prioritas yang akan direalisasikan sepanjang periode masa bakti 2019-2024. Jokowi mencatatkan semua program prioritas itu dalam apa yang oleh khalayak kemudian dikenal sebagai &amp;lsquo;Visi Indonesia&amp;rsquo;, yang dibacakan di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Minggu (14/7/2019). Bersama wakil presiden (terpilih) KH Ma'ruf Amin, &amp;lsquo;Visi Indonesia&amp;rsquo; itu menetapkan lima tahapan besar yang akan direalisasikan untuk menjadikan Indonesia lebih produktif dan kompetitif, dengan fleksibilitas yang tinggi agar mampu merespons perubahan.



Oleh karena itu, lima tahun ke depan, pemerintah masih akan melanjutkan percepatan pembangunan infrastruktur, reformasi birokrasi, meningkatkan efektivitas pengelolaan anggaran atau APBN, serta bekerja lebih sungguh-sungguh dalam menarik investasi. Jokowi juga menegaskan perhatian yang lebih besar akan diberikan pada pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Tak tanggung-tanggung, perbaikan layanan medis kepada ibu hamil, merawat kesehatan ibu dan bayi, layanan kesehatan balita hingga kesehatan anak usia sekolah dijadikan titik awal pembangunan dan pengembangan kualitas SDM itu.
Ini bukan sekadar pekerjaan besar, tetapi juga rumit. Namun, Jokowi sudah berjanji untuk mewujudkannya, sehingga siapa pun berhak untuk menagih janji itu. Komitmen Jokowi bagi pembangunan SDM ini merefleksikan cintanya terhadap generasi muda Indonesia karena tantangan masa depan yang akan dihadapi generasi milenial dan generasi Z Indonesia bakal jauh lebih berat. Masa depan bangsa ada di pundak mereka, sehingga menjadi kewajiban negara untuk menyiapkan mereka menjadi generasi unggul.

Disebut pekerjaan besar karena menuntut kepedulian semua pihak,  terutama pemerintah daerah. Pada tingkat pemerintah daerah, kepedulian  pada program ini harus tercermin pada perilaku dan kebijakan. Kebijakan  yang peduli pada program ini sangat diperlukan agar ibu hamil dan bayi  di semua daerah, termasuk di pelosok-pelosok desa terpencil, harus dan  bisa tersentuh oleh program ini. Pekerjaan ini juga bisa dikatakan rumit  karena memerlukan respons atau tanggapan dari masyarakat, utamanya ibu  hamil atau keluarga muda. Akan tetapi, jika program ini disosialisasikan  dengan intensif, keluarga muda di seluruh wilayah Tanah Air pasti akan  memberi tanggapan.
Itulah salah satu fokus &amp;lsquo;Visi Indonesia&amp;rsquo; yang paling strategis.  Otomatis menjadi fokus kabinet baru masa bakti lima tahun ke depan, yang  formasinya sedang digodok oleh Jokowi dan KH Ma&amp;rsquo;ruf Amin. Karena itu,  para sahabat presiden, utamanya yang tergabung dalam koalisi partai  politik (parpol) pendukung pemerintah, diharapkan juga peduli dan  memahami beban pekerjaan kabinet baru. Para sahabat presiden harus  menghormati dan menghargai hak prerogatif presiden memilih para  pembantunya. Berikan kesempatan dan kebebasan seluas-luasnya kepada  Jokowi dan KH Ma&amp;rsquo;ruf Amin untuk menjaring dan memilih calon menteri dari  unsur nonparpol.

&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/06/30/57871/295238_medium.jpg&quot; alt=&quot;Penetapan Jokowi-Ma'ruf Amin sebagai Presiden &amp;amp; Wapres Terpilih&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Pendidikan dan Dunia Kerja
Benar bahwa Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf Amin harus akomodatif terhadap semua  kekuatan politik yang mendukung mereka. Namun, kewajiban moral  Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf Amin ini tidak boleh dimanfaatkan dengan semena-mena oleh  para sahabat presiden. Suka tak suka, semua pendukung presiden harus  menggarisbawahi kewajiban utama seorang presiden terpilih. Presiden dan  wapres terpilih harus mengutamakan apa yang telah mereka janjikan kepada  rakyat. Janji itu telah dirumuskan dalam &amp;lsquo;Visi Indonesia&amp;rsquo;.
Perkembangan terkini membuat banyak kalangan merasa plong karena  Jokowi mau bersikap tegas soal pemilihan figur calon menteri. Sikap  tegas Jokowi itu bisa diartikan bahwa dia bersedia mendengarkan  permintaan para sahabatnya. Tetapi, tidak berarti semua permintaan para  sahabat itu akan dipenuhi, sebab pemerintahan baru nanti ingin all out  mewujudkan janji kepada rakyat, utamanya pembangunan dan pengembangan  kualitas SDM itu.
Mengingat salah satu fokus prioritas itu merupakan pekerjaan yang   berat dan rumit, presiden tentu harus komprehensif dalam merumuskan   strategi. Artinya, tak hanya memilih orang atau figur calon menteri yang   qualified, presiden juga harus mengkaji lagi efektivitas kementerian   atau lembaga (K/L) untuk memastikan program pembangunan dan pengembangan   SDM itu bisa berjalan dengan konsisten dan mencapai sasarannya.   Pengorganisasiannya harus seefektif mungkin karena pekerjaan itu   berfokus pada merawat kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan   balita, hingga  kesehatan anak usia sekolah. Memang, sudah ada instrumen   pendukung seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di semua   daerah atau badan keluarga berencana tingkat daerah. Namun, dalam   konteks pekerjaan ini, banyak puskesmas yang efektivitasnya harus   ditingkatkan.
Tak berhenti sampai di situ. Presiden pun tampaknya harus melihat   lagi sistem dan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Tanpa bermaksud   menggurui, perubahan zaman secara tak langsung mendorong dunia   pendidikan beradaptasi. Adaptasi dunia pendidikan yang berfokus pada   sains dan teknologi informasi menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan.   Otomatisasi dan digitalisasi kini sudah menjadi bagian tak terpisah dari   kehidupan masyarakat. Konsekuensinya, profil lapangan kerja pun   mengalami perubahan. Perubahan profil lapangan kerja itu sudah dirasakan   oleh masyarakat perkotaan.  Karena itu, dunia atau sistem pendidikan   pada gilirannya dituntut untuk mampu menghasilkan anak didik yang   kompeten dan kompetitif sesuai kebutuhan pasar kerja pada era Industri   4.0 sekarang ini.

&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/08/16/58428/298791_medium.jpg&quot; alt=&quot;Jokowi Pakai Baju Adat Sasak, JK Pilih Baju Adat Betawi&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Dengan begitu, agar program pembangunan dan pengembangan kualitas SDM   itu tepat sasaran, kabinet baru setidaknya harus melakukan penyesuaian   atau rekonsiliasi antara arah perubahan sistem pendidikan dengan   perubahan profil lapangan atau dunia kerja. Akurasi dari penyesuaian itu   tentu saja sangat ditentukan koordinasi sejumlah K/L, seperti   kementerian pendidikan, Menristekditi, hingga kementerian tenaga kerja.    Maka, presiden tentu harus cermat dalam memilih calon menteri yang  area  kerjanya masuk dalam program pembangunan dan pengembangan kualitas  SDM  itu.
Kabinet baru yang akan fokus pada pembangunan dan pengembangan   kualitas SDM hendaknya dijadikan momentum oleh seluruh elemen   masyarakat, utamanya generasi milenial dan generasi Z, untuk serentak   beradaptasi dengan era industri 4.0. Momentum itu layak dilihat sebagai   lompatan besar untuk mempersiapkan orang muda Indonesia menyongsong dan   menanggapi perubahan di masa depan.  Jika segala sesuatunya berjalan   sesuai rencana dan target, bonus demografi Indonesia pada 2045 akan   menjadi kekuatan, bukan beban.  Maka, berilah kesempatan seluas-luasnya   kepada Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf Amin untuk memulai pembangunan dan pengembangan   kualitas SDM Indonesia sepanjang lima tahun ke depan.

oleh
 
Bambang Soesatyo, Ketua DPR RI serta Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.</description><content:encoded>MINTA atau menawarkan diri jadi menteri ini-itu memang bukan pekerjaan haram. Namun, semua orang, termasuk semua kekuatan politik, harus menghormati hak prerogatif presiden membentuk formasi kabinet yang ideal untuk merealisasikan program prioritas yang ditetapkan presiden. Begitu etikanya. Karena itu, semua sahabat presiden hendaknya patuh pada etika tersebut.
Akan sangat terhormat jika para sahabat menunggu pertanyaan dan permintaan presiden tentang ketersediaan figur dengan kualifikasi tertentu yang dibutuhkan presiden untuk pos jabatan tertentu pula. Nah, sambil menunggu panggilan telepon dari presiden, para sahabat bisa mempersiapkan sejumlah figur yang qualified, punya leadership, berintegritas, dan siap bekerja keras mengikuti ritme kerja presiden. Termasuk memiliki kemampuan eksekutor, tidak memiliki agenda pribadi kecuali hanya menjalankan misi dan visi presiden untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, tidak cengeng seperti anak mami dan berani tidak populer.
Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) telah mengumumkan sekaligus menawarkan kepada rakyat Indonesia sejumlah program prioritas yang akan direalisasikan sepanjang periode masa bakti 2019-2024. Jokowi mencatatkan semua program prioritas itu dalam apa yang oleh khalayak kemudian dikenal sebagai &amp;lsquo;Visi Indonesia&amp;rsquo;, yang dibacakan di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Minggu (14/7/2019). Bersama wakil presiden (terpilih) KH Ma'ruf Amin, &amp;lsquo;Visi Indonesia&amp;rsquo; itu menetapkan lima tahapan besar yang akan direalisasikan untuk menjadikan Indonesia lebih produktif dan kompetitif, dengan fleksibilitas yang tinggi agar mampu merespons perubahan.



Oleh karena itu, lima tahun ke depan, pemerintah masih akan melanjutkan percepatan pembangunan infrastruktur, reformasi birokrasi, meningkatkan efektivitas pengelolaan anggaran atau APBN, serta bekerja lebih sungguh-sungguh dalam menarik investasi. Jokowi juga menegaskan perhatian yang lebih besar akan diberikan pada pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Tak tanggung-tanggung, perbaikan layanan medis kepada ibu hamil, merawat kesehatan ibu dan bayi, layanan kesehatan balita hingga kesehatan anak usia sekolah dijadikan titik awal pembangunan dan pengembangan kualitas SDM itu.
Ini bukan sekadar pekerjaan besar, tetapi juga rumit. Namun, Jokowi sudah berjanji untuk mewujudkannya, sehingga siapa pun berhak untuk menagih janji itu. Komitmen Jokowi bagi pembangunan SDM ini merefleksikan cintanya terhadap generasi muda Indonesia karena tantangan masa depan yang akan dihadapi generasi milenial dan generasi Z Indonesia bakal jauh lebih berat. Masa depan bangsa ada di pundak mereka, sehingga menjadi kewajiban negara untuk menyiapkan mereka menjadi generasi unggul.

Disebut pekerjaan besar karena menuntut kepedulian semua pihak,  terutama pemerintah daerah. Pada tingkat pemerintah daerah, kepedulian  pada program ini harus tercermin pada perilaku dan kebijakan. Kebijakan  yang peduli pada program ini sangat diperlukan agar ibu hamil dan bayi  di semua daerah, termasuk di pelosok-pelosok desa terpencil, harus dan  bisa tersentuh oleh program ini. Pekerjaan ini juga bisa dikatakan rumit  karena memerlukan respons atau tanggapan dari masyarakat, utamanya ibu  hamil atau keluarga muda. Akan tetapi, jika program ini disosialisasikan  dengan intensif, keluarga muda di seluruh wilayah Tanah Air pasti akan  memberi tanggapan.
Itulah salah satu fokus &amp;lsquo;Visi Indonesia&amp;rsquo; yang paling strategis.  Otomatis menjadi fokus kabinet baru masa bakti lima tahun ke depan, yang  formasinya sedang digodok oleh Jokowi dan KH Ma&amp;rsquo;ruf Amin. Karena itu,  para sahabat presiden, utamanya yang tergabung dalam koalisi partai  politik (parpol) pendukung pemerintah, diharapkan juga peduli dan  memahami beban pekerjaan kabinet baru. Para sahabat presiden harus  menghormati dan menghargai hak prerogatif presiden memilih para  pembantunya. Berikan kesempatan dan kebebasan seluas-luasnya kepada  Jokowi dan KH Ma&amp;rsquo;ruf Amin untuk menjaring dan memilih calon menteri dari  unsur nonparpol.

&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/06/30/57871/295238_medium.jpg&quot; alt=&quot;Penetapan Jokowi-Ma'ruf Amin sebagai Presiden &amp;amp; Wapres Terpilih&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Pendidikan dan Dunia Kerja
Benar bahwa Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf Amin harus akomodatif terhadap semua  kekuatan politik yang mendukung mereka. Namun, kewajiban moral  Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf Amin ini tidak boleh dimanfaatkan dengan semena-mena oleh  para sahabat presiden. Suka tak suka, semua pendukung presiden harus  menggarisbawahi kewajiban utama seorang presiden terpilih. Presiden dan  wapres terpilih harus mengutamakan apa yang telah mereka janjikan kepada  rakyat. Janji itu telah dirumuskan dalam &amp;lsquo;Visi Indonesia&amp;rsquo;.
Perkembangan terkini membuat banyak kalangan merasa plong karena  Jokowi mau bersikap tegas soal pemilihan figur calon menteri. Sikap  tegas Jokowi itu bisa diartikan bahwa dia bersedia mendengarkan  permintaan para sahabatnya. Tetapi, tidak berarti semua permintaan para  sahabat itu akan dipenuhi, sebab pemerintahan baru nanti ingin all out  mewujudkan janji kepada rakyat, utamanya pembangunan dan pengembangan  kualitas SDM itu.
Mengingat salah satu fokus prioritas itu merupakan pekerjaan yang   berat dan rumit, presiden tentu harus komprehensif dalam merumuskan   strategi. Artinya, tak hanya memilih orang atau figur calon menteri yang   qualified, presiden juga harus mengkaji lagi efektivitas kementerian   atau lembaga (K/L) untuk memastikan program pembangunan dan pengembangan   SDM itu bisa berjalan dengan konsisten dan mencapai sasarannya.   Pengorganisasiannya harus seefektif mungkin karena pekerjaan itu   berfokus pada merawat kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan   balita, hingga  kesehatan anak usia sekolah. Memang, sudah ada instrumen   pendukung seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di semua   daerah atau badan keluarga berencana tingkat daerah. Namun, dalam   konteks pekerjaan ini, banyak puskesmas yang efektivitasnya harus   ditingkatkan.
Tak berhenti sampai di situ. Presiden pun tampaknya harus melihat   lagi sistem dan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Tanpa bermaksud   menggurui, perubahan zaman secara tak langsung mendorong dunia   pendidikan beradaptasi. Adaptasi dunia pendidikan yang berfokus pada   sains dan teknologi informasi menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan.   Otomatisasi dan digitalisasi kini sudah menjadi bagian tak terpisah dari   kehidupan masyarakat. Konsekuensinya, profil lapangan kerja pun   mengalami perubahan. Perubahan profil lapangan kerja itu sudah dirasakan   oleh masyarakat perkotaan.  Karena itu, dunia atau sistem pendidikan   pada gilirannya dituntut untuk mampu menghasilkan anak didik yang   kompeten dan kompetitif sesuai kebutuhan pasar kerja pada era Industri   4.0 sekarang ini.

&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/08/16/58428/298791_medium.jpg&quot; alt=&quot;Jokowi Pakai Baju Adat Sasak, JK Pilih Baju Adat Betawi&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Dengan begitu, agar program pembangunan dan pengembangan kualitas SDM   itu tepat sasaran, kabinet baru setidaknya harus melakukan penyesuaian   atau rekonsiliasi antara arah perubahan sistem pendidikan dengan   perubahan profil lapangan atau dunia kerja. Akurasi dari penyesuaian itu   tentu saja sangat ditentukan koordinasi sejumlah K/L, seperti   kementerian pendidikan, Menristekditi, hingga kementerian tenaga kerja.    Maka, presiden tentu harus cermat dalam memilih calon menteri yang  area  kerjanya masuk dalam program pembangunan dan pengembangan kualitas  SDM  itu.
Kabinet baru yang akan fokus pada pembangunan dan pengembangan   kualitas SDM hendaknya dijadikan momentum oleh seluruh elemen   masyarakat, utamanya generasi milenial dan generasi Z, untuk serentak   beradaptasi dengan era industri 4.0. Momentum itu layak dilihat sebagai   lompatan besar untuk mempersiapkan orang muda Indonesia menyongsong dan   menanggapi perubahan di masa depan.  Jika segala sesuatunya berjalan   sesuai rencana dan target, bonus demografi Indonesia pada 2045 akan   menjadi kekuatan, bukan beban.  Maka, berilah kesempatan seluas-luasnya   kepada Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf Amin untuk memulai pembangunan dan pengembangan   kualitas SDM Indonesia sepanjang lima tahun ke depan.

oleh
 
Bambang Soesatyo, Ketua DPR RI serta Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.</content:encoded></item></channel></rss>
