<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kepolisian Hong Kong: Kami Tak Perlu Bantuan Beijing</title><description>Setelah beberapa bulan menggelar demonstrasi menyerukan reformasi demokratis, para pegiat mengubah taktik dengan menyasar banyak target.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/19/18/2093648/kepolisian-hong-kong-kami-tak-perlu-bantuan-beijing</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/19/18/2093648/kepolisian-hong-kong-kami-tak-perlu-bantuan-beijing"/><item><title>Kepolisian Hong Kong: Kami Tak Perlu Bantuan Beijing</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/19/18/2093648/kepolisian-hong-kong-kami-tak-perlu-bantuan-beijing</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/19/18/2093648/kepolisian-hong-kong-kami-tak-perlu-bantuan-beijing</guid><pubDate>Senin 19 Agustus 2019 07:37 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/19/18/2093648/kepolisian-hong-kong-kami-tak-perlu-bantuan-beijing-X72VoU194W.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Polisi Hong Kong menahan seorang demonstran di luar kantor polisi Tsim Sha Tsui, pada 11 Agustus lalu. (AFP/Getty Images)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/19/18/2093648/kepolisian-hong-kong-kami-tak-perlu-bantuan-beijing-X72VoU194W.jpg</image><title>Polisi Hong Kong menahan seorang demonstran di luar kantor polisi Tsim Sha Tsui, pada 11 Agustus lalu. (AFP/Getty Images)</title></images><description>KEPOLISIAN Hong Kong mengaku mereka kewalahan dan kesulitan.
Setelah beberapa bulan menggelar aksi demonstrasi menyerukan reformasi demokratis, para pegiat mengubah taktik dengan menyasar banyak target pada saat yang bersamaan. Kepolisian tidak bisa mengimbangi.
Namun, melansir BBC Indonesia, kini mereka sudah merombak strategi dan mengklaim dapat menangani situasi sehingga pasukan China daratan sepertinya tidak akan terlihat berhadapan dengan demonstran di jalan.
Informasi ini mengemuka dalam taklimat selama hampir tiga jam pada pekan ini, yang dikemukakan seorang perwira senior kepolisian Hong Kong kepada sejumlah wartawan internasional, termasuk BBC.
Dalam kesempatan itu mereka menyampaikan penilaian kemampuan mereka sendiri secara blak-blakan sekaligus kemungkinan intervensi Beijing. Mereka menegaskan itu takkan terjadi dan ini sebabnya.
Dapatkah China mengambil alih?
Jika, pada suatu titik, krisis di Hong Kong mencapai taraf yang tak lagi bisa dikendalikan aparat setempat, pasukan China daratan bakal menyeberang dari kota Shenzhen di perbatasan.
Beragam foto yang menampilkan iring-iringan polisi bersenjata lengkap dari China telah dirilis media pemerintah China, disertai ancaman intervensi.
Jika itu terjadi, &quot;kita akan berada di wilayah yang benar-benar baru&quot;, kata seorang perwira senior kepolisian Hong Kong. Selagi dia berujar, kolega-koleganya mengangguk tanda sepakat.
Menurutnya, selama ini tidak pernah ada kerja sama operasi antara kepolisian China daratan dan Hong Kong. Tidak ada protokol dan rencana sama sekali. Bahkan, kedua lembaga tidak pernah menggelar latihan gabungan.
Ini artinya, jika konvoi truk yang mengangkut pasukan China daratan tiba di Hong Kong, pemerintah China bakal mengambil alih kendali operasi.
Perwira senior kepolisian Hong Kong yang kami ajak bicara, berkeras &quot;itu takkan terjadi&quot;. Kepolisian Hong Kong, menurutnya, &quot;mampu menangani&quot; krisis saat ini.



Ditambahkannya, spekulasi di media sosial bahwa ada sejumlah polisi China yang ditugaskan di kepolisian Hong Kong, sama sekali tidak benar.
Spekulasi itu berkembang ketika sejumlah polisi tidak menunjukkan nomor identitas dan gosipnya mereka berbicara dalam bahasa Mandarin&amp;mdash;sedangkan polisi Hong Kong berbicara bahasa Kanton.
Duta Besar China untuk Inggris, Liu Xiaoming, mewanti-wanti bahwa Beijing bisa &quot;meredam semua kericuhan dengan cepat&quot; seraya menuding &quot;kekuatan asing&quot; memicu terjadinya unjuk rasa.
Tudingan itu kami tanyakan kepada kepolisian Hong Kong. Adakah bukti yang mendasari tudingan bahwa pemerintah asing mendanai atau mengorganisir unjuk rasa antipemerintah?
Mereka menjawab lugas: &quot;Tidak&quot;.
Polisi yang menyamar
Kepolisian Hong Kong mengakui bahwa, pada suatu titik, personel  mereka amat terbatas untuk menangani jumlah unjuk rasa yang dilakoni  para pegiat dengan menerapkan strategi &quot;pukul dan kabur&quot;.
Caranya, para demonstran melemparkan batu-bata ke kantor polisi atau  memblokade terowongan lintas kota. Kemudian, tatkala satuan  antihuru-hara tiba, para demonstran akan kabur.
Dalam demonstrasi pada 5 Agustus, terjadi kericuhan di puluhan lokasi yang tersebar di Hong Kong.



Kepolisian mengatakan kini mereka dapat mengirim personel lebih cepat  dan lebih luwes. Mereka memanfaatkan pergerakan demonstran yang memecah  ke kelompok-kelompok kecil dengan melakukan penangkapan secara cepat.
Aparat dapat mengutus sekitar 3.000 personel anti-huru-hara, yang  jika tidak ada kericuhan, punya tugas lain di dalam kepolisian Hong Kong  yang beranggotakan 30.000 personel.
Kepolisian merasa lebih percaya diri karena telah menangkap yang  mereka sebut figur-figur penting di antara para demonstran yang paling  radikal.
Walau gerakan ini digambarkan sebagai gerakan cair tanpa pemimpin,  yang mengandalkan konsensus di antara grup-grup percakapan di dunia  maya, kepolisian merasa figur-figur kunci sanggup menggalang dukungan  untuk aksi-aksi tertentu.
Mereka mengklaim telah menemukan dan menahan &quot;pemain-pemain utama&quot;  dengan bantuan laporan intelijen yang didapat dari polisi-polisi yang  menyamar di antara para demonstran. Mereka kadang menyebut taktik ini  &quot;operasi umpan&quot;.
'Jika mereka membunuh seseorang, mereka akan menghadapi tuntutan pembunuhan'
Penggunaan polisi yang menyamar sejauh ini telah menimbulkan kerisauan dan bahkan paranoia di antara kalangan demonstran.
Pada Selasa (13/08), para pegiat menyerang dua pria&amp;mdash;termasuk seorang  wartawan media pemerintah China&amp;mdash;di Bandara Hong Kong, atas tuduhan  keduanya adalah polisi China daratan.
Di semua pihak, kewaspadaan semakin meningkat dan tak lagi mudah  percaya dengan orang, termasuk kepada wartawan. Baik polisi maupun  demonstran kerap meminta kartu identitas wartawan sebelum wawancara.
Polisi juga mendapat kecaman karena beberapa kali melakukan  pendekatan kekerasan, termasuk melepaskan gas air mata ke kawasan  permukiman dan stasiun kereta bawah tanah.
Kemudian ada foto-foto yang menampilkan polisi antihuru-hara  menembakkan peluru karet dan gas air mata secara horizontal&amp;mdash;yang bisa  mengenai kepala para demonstran.
Kepolisian mengatakan insiden seperti itu seharusnya tidak terjadi.  Peluru karet, menurut mereka, seharusnya ditembakkan ke tanah sehingga  dapat memantul mengenai orang.
Ini yang mungkin terjadi pada diri saya, 5 Agustus lalu, ketika   sebuah proyektil mengarah langsung ke wajah saya sehingga meremukkan   kaca topeng antigas airmata. Kepolisian mengatakan itu kemungkinan   peluru karet.
Salah seorang perwira mengatakan tidak mungkin saya sengaja ditembak   di bagian kepala. &quot;Setidaknya saya berharap tidak demikian,&quot; ujarnya.
Ditambahkannya, peluru itu amat mungkin memantul dari bawah dan sayangnya mengarah ke bagian wajah saya. Siapa yang tahu?

Seorang perwira lainnya menilai bahwa terlalu gila jika polisi berupaya menembak kepala seseorang dengan peluru tersebut.
&quot;Jika mereka membunuh seseorang, mereka akan menghadapi tuntutan pembunuhan,&quot; katanya.
Kontingen Taktis Khusus&amp;mdash;tim antihuru-hara yang dikenal dengan julukan   'Raptors'&amp;mdash;direkam akhir pekan lalu ketika mereka mengejar demonstran  ke  stasiun kereta bawah tanah.
Di bagian atas eskalator, aparat tersebut menembakkan peluru tak   mematikan ke arah para demonstran dari jarak dekat kemudian memukuli   mereka dengan pentungan.
Kepolisian tidak menyampaikan permohonan maaf atas perlakuan kepada   para demonstran karena sejumlah polisi telah dilempari batu bata dan   batangan logam.
Lantas ada laporan bahwa gas air mata yang dipakai kepolisian telah   melampaui tenggat kadaluarsa. Kami bertanya, jika laporan itu benar,   apakah berbahaya?
Perwira-perwira ini mengatakan pihak pembuat gas air mata telah   menjamin produk tersebut benar-benar aman. Namun, untuk memastikannya,   kepolisian akan menarik semua gas air mata yang kadaluarsa.
Mengingat banyaknya gas air mata yang dilepaskan, apakah kepolisian akan kehabisan?
&quot;Tidak.&quot;



Takut aksi balas dendam
Pertanyaan selanjutnya adalah tentang masa depan. Berapa lama   kepolisian Hong Kong bisa memulai membangun ulang kepercayaan publik?
Para perwira yang kami temui menggeleng kepala dan mengangkat bahu.   &quot;Jujur, akan perlu waktu yang lama,&quot; kata salah seorang perwira.
Insiden humas terburuk bagi kepolisian Hong Kong mungkin yang terjadi   pada 21 Juli, manakala satupun personel polisi tidak terlihat sewaktu   sekumpulan pria berbaju putih yang terkait geng, menunggu para   demonstran di stasiun kereta Yuen Long dan menyerang mereka dengan   senjata rakitan.
Para pelintas yang tidak ikut demonstrasi pun turut menjadi sasaran.
Walau kepolisian telah menangkap puluhan orang &quot;berbaju putih&quot;,   publik dan khususnya kubu prodemokrasi menyerukan investigasi independen   terhadap kejadian-kejadian terkini, termasuk dugaan keterkaitan   sejumlah perwira dengan dunia kejahatan bawah tanah.
Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, menolak seruan penyelidikan.   Menurutnya, Dewan Pengawas Polisi Independen tengah meninjau kasus   tersebut.
Para perwira yang kami wawancarai juga menilai tidak perlu ada   penyelidikan independen yang khusus menginvestigasi insiden di Stasiun   Yuen Long.
Bahkan ketika ditanya apakah hal itu bisa menjadi cara meraih kembali   kepercayaan publik, mereka mengatakan tidak melihat penyelidikan   semacam itu ada maknanya.
Sementara itu, para polisi di lapangan tengah menghadapi tekanan publik yang luar biasa.
Setelah seharian penuh berjibaku dengan para demonstran, mereka rutin dikelilingi ratusan warga awam yang melontarkan cacian.
&quot;Suaranya begitu memekakkan,&quot; kata seorang polisi.
Ada pula perundungan di dunia maya. Informasi pribadi dari setidaknya   300 polisi diunggah ke dunia maya, foto anak-anak mereka   dipublikasikan, demikian juga dengan tempat kerja suami atau istri   mereka sehingga orang-orang tahu siapa mereka.
Kami mendapat informasi mengenai anak polisi yang dimaki seseorang   saat berolahraga. Dia berkata kepada anak tersebut: &quot;Apa yang dilakukan   ayahmu itu menjijikkan.&quot;
Perundungan tak berhenti di situ. Para pegiat memutus pasokan listrik    ke rumah-rumah polisi dan mengirim antaran makanan palsu pada dini    hari.
Kerisauan akan aksi balas dendam begitu tinggi sehingga, menurut    informasi yang kami dapatkan, ketika sejumlah polisi ke rumah sakit    untuk mendapat perawatan, mereka menyebut pekerjaan mereka sebagai    &quot;pegawai negeri&quot; alih-alih &quot;polisi&quot;.
Mereka khawatir catatan rumah sakit bisa bocor atau bahkan mereka dirundung di rumah sakit.



'Kami tidak bisa ikut campur politik'
Hanya solusi politik yang bisa meredam krisis Hong Kong.
Mereka yang bisa mendatangkan solusi itu tidak berada di garis depan. Garis depan adalah dunianya polisi dan pegiat.
Apakah para polisi menginginkan semacam tindakan dari pemimpin Hong    Kong, khususnya Carrie Lam, sehingga polisi tidak menjadi incaran    kemarahan?
Perwira-perwira polisi yang kami wawancarai tersenyum. Sepertinya    mereka sangat ingin berkata banyak. Namun, setelah hening sejenak, kami    mendapat jawaban: &quot;Kami tidak bisa ikut campur dalam politik&quot;.
Mereka mengaku ingin para demonstran berunjuk rasa secara damai&amp;mdash;&quot;caranya Hong Kong&quot;.
Di sisi lain, puluhan ribu pegiat meyakini demonstrasi damai telah    diabaikan mereka yang berkuasa dan eskalasi adalah satu-satunya cara    mendatangkan reformasi demokratis.
Polisi tahu konflik ini tidak akan rampung dalam waktu dekat.
Akibatnya, kami diberitahu bahwa semakin banyak polisi Hong Kong yang mengundurkan diri dari jabatannya.
Tapi, dampak terbesarnya, menurut mereka, para polisi bersatu padu dan mendukung satu sama lain.
Adakah kemungkinan demonstrasi di Hong Kong justru menciptakan perpecahan di tubuh kepolisian?
Tidak mungkin, kata mereka. Justru sebaliknya.
</description><content:encoded>KEPOLISIAN Hong Kong mengaku mereka kewalahan dan kesulitan.
Setelah beberapa bulan menggelar aksi demonstrasi menyerukan reformasi demokratis, para pegiat mengubah taktik dengan menyasar banyak target pada saat yang bersamaan. Kepolisian tidak bisa mengimbangi.
Namun, melansir BBC Indonesia, kini mereka sudah merombak strategi dan mengklaim dapat menangani situasi sehingga pasukan China daratan sepertinya tidak akan terlihat berhadapan dengan demonstran di jalan.
Informasi ini mengemuka dalam taklimat selama hampir tiga jam pada pekan ini, yang dikemukakan seorang perwira senior kepolisian Hong Kong kepada sejumlah wartawan internasional, termasuk BBC.
Dalam kesempatan itu mereka menyampaikan penilaian kemampuan mereka sendiri secara blak-blakan sekaligus kemungkinan intervensi Beijing. Mereka menegaskan itu takkan terjadi dan ini sebabnya.
Dapatkah China mengambil alih?
Jika, pada suatu titik, krisis di Hong Kong mencapai taraf yang tak lagi bisa dikendalikan aparat setempat, pasukan China daratan bakal menyeberang dari kota Shenzhen di perbatasan.
Beragam foto yang menampilkan iring-iringan polisi bersenjata lengkap dari China telah dirilis media pemerintah China, disertai ancaman intervensi.
Jika itu terjadi, &quot;kita akan berada di wilayah yang benar-benar baru&quot;, kata seorang perwira senior kepolisian Hong Kong. Selagi dia berujar, kolega-koleganya mengangguk tanda sepakat.
Menurutnya, selama ini tidak pernah ada kerja sama operasi antara kepolisian China daratan dan Hong Kong. Tidak ada protokol dan rencana sama sekali. Bahkan, kedua lembaga tidak pernah menggelar latihan gabungan.
Ini artinya, jika konvoi truk yang mengangkut pasukan China daratan tiba di Hong Kong, pemerintah China bakal mengambil alih kendali operasi.
Perwira senior kepolisian Hong Kong yang kami ajak bicara, berkeras &quot;itu takkan terjadi&quot;. Kepolisian Hong Kong, menurutnya, &quot;mampu menangani&quot; krisis saat ini.



Ditambahkannya, spekulasi di media sosial bahwa ada sejumlah polisi China yang ditugaskan di kepolisian Hong Kong, sama sekali tidak benar.
Spekulasi itu berkembang ketika sejumlah polisi tidak menunjukkan nomor identitas dan gosipnya mereka berbicara dalam bahasa Mandarin&amp;mdash;sedangkan polisi Hong Kong berbicara bahasa Kanton.
Duta Besar China untuk Inggris, Liu Xiaoming, mewanti-wanti bahwa Beijing bisa &quot;meredam semua kericuhan dengan cepat&quot; seraya menuding &quot;kekuatan asing&quot; memicu terjadinya unjuk rasa.
Tudingan itu kami tanyakan kepada kepolisian Hong Kong. Adakah bukti yang mendasari tudingan bahwa pemerintah asing mendanai atau mengorganisir unjuk rasa antipemerintah?
Mereka menjawab lugas: &quot;Tidak&quot;.
Polisi yang menyamar
Kepolisian Hong Kong mengakui bahwa, pada suatu titik, personel  mereka amat terbatas untuk menangani jumlah unjuk rasa yang dilakoni  para pegiat dengan menerapkan strategi &quot;pukul dan kabur&quot;.
Caranya, para demonstran melemparkan batu-bata ke kantor polisi atau  memblokade terowongan lintas kota. Kemudian, tatkala satuan  antihuru-hara tiba, para demonstran akan kabur.
Dalam demonstrasi pada 5 Agustus, terjadi kericuhan di puluhan lokasi yang tersebar di Hong Kong.



Kepolisian mengatakan kini mereka dapat mengirim personel lebih cepat  dan lebih luwes. Mereka memanfaatkan pergerakan demonstran yang memecah  ke kelompok-kelompok kecil dengan melakukan penangkapan secara cepat.
Aparat dapat mengutus sekitar 3.000 personel anti-huru-hara, yang  jika tidak ada kericuhan, punya tugas lain di dalam kepolisian Hong Kong  yang beranggotakan 30.000 personel.
Kepolisian merasa lebih percaya diri karena telah menangkap yang  mereka sebut figur-figur penting di antara para demonstran yang paling  radikal.
Walau gerakan ini digambarkan sebagai gerakan cair tanpa pemimpin,  yang mengandalkan konsensus di antara grup-grup percakapan di dunia  maya, kepolisian merasa figur-figur kunci sanggup menggalang dukungan  untuk aksi-aksi tertentu.
Mereka mengklaim telah menemukan dan menahan &quot;pemain-pemain utama&quot;  dengan bantuan laporan intelijen yang didapat dari polisi-polisi yang  menyamar di antara para demonstran. Mereka kadang menyebut taktik ini  &quot;operasi umpan&quot;.
'Jika mereka membunuh seseorang, mereka akan menghadapi tuntutan pembunuhan'
Penggunaan polisi yang menyamar sejauh ini telah menimbulkan kerisauan dan bahkan paranoia di antara kalangan demonstran.
Pada Selasa (13/08), para pegiat menyerang dua pria&amp;mdash;termasuk seorang  wartawan media pemerintah China&amp;mdash;di Bandara Hong Kong, atas tuduhan  keduanya adalah polisi China daratan.
Di semua pihak, kewaspadaan semakin meningkat dan tak lagi mudah  percaya dengan orang, termasuk kepada wartawan. Baik polisi maupun  demonstran kerap meminta kartu identitas wartawan sebelum wawancara.
Polisi juga mendapat kecaman karena beberapa kali melakukan  pendekatan kekerasan, termasuk melepaskan gas air mata ke kawasan  permukiman dan stasiun kereta bawah tanah.
Kemudian ada foto-foto yang menampilkan polisi antihuru-hara  menembakkan peluru karet dan gas air mata secara horizontal&amp;mdash;yang bisa  mengenai kepala para demonstran.
Kepolisian mengatakan insiden seperti itu seharusnya tidak terjadi.  Peluru karet, menurut mereka, seharusnya ditembakkan ke tanah sehingga  dapat memantul mengenai orang.
Ini yang mungkin terjadi pada diri saya, 5 Agustus lalu, ketika   sebuah proyektil mengarah langsung ke wajah saya sehingga meremukkan   kaca topeng antigas airmata. Kepolisian mengatakan itu kemungkinan   peluru karet.
Salah seorang perwira mengatakan tidak mungkin saya sengaja ditembak   di bagian kepala. &quot;Setidaknya saya berharap tidak demikian,&quot; ujarnya.
Ditambahkannya, peluru itu amat mungkin memantul dari bawah dan sayangnya mengarah ke bagian wajah saya. Siapa yang tahu?

Seorang perwira lainnya menilai bahwa terlalu gila jika polisi berupaya menembak kepala seseorang dengan peluru tersebut.
&quot;Jika mereka membunuh seseorang, mereka akan menghadapi tuntutan pembunuhan,&quot; katanya.
Kontingen Taktis Khusus&amp;mdash;tim antihuru-hara yang dikenal dengan julukan   'Raptors'&amp;mdash;direkam akhir pekan lalu ketika mereka mengejar demonstran  ke  stasiun kereta bawah tanah.
Di bagian atas eskalator, aparat tersebut menembakkan peluru tak   mematikan ke arah para demonstran dari jarak dekat kemudian memukuli   mereka dengan pentungan.
Kepolisian tidak menyampaikan permohonan maaf atas perlakuan kepada   para demonstran karena sejumlah polisi telah dilempari batu bata dan   batangan logam.
Lantas ada laporan bahwa gas air mata yang dipakai kepolisian telah   melampaui tenggat kadaluarsa. Kami bertanya, jika laporan itu benar,   apakah berbahaya?
Perwira-perwira ini mengatakan pihak pembuat gas air mata telah   menjamin produk tersebut benar-benar aman. Namun, untuk memastikannya,   kepolisian akan menarik semua gas air mata yang kadaluarsa.
Mengingat banyaknya gas air mata yang dilepaskan, apakah kepolisian akan kehabisan?
&quot;Tidak.&quot;



Takut aksi balas dendam
Pertanyaan selanjutnya adalah tentang masa depan. Berapa lama   kepolisian Hong Kong bisa memulai membangun ulang kepercayaan publik?
Para perwira yang kami temui menggeleng kepala dan mengangkat bahu.   &quot;Jujur, akan perlu waktu yang lama,&quot; kata salah seorang perwira.
Insiden humas terburuk bagi kepolisian Hong Kong mungkin yang terjadi   pada 21 Juli, manakala satupun personel polisi tidak terlihat sewaktu   sekumpulan pria berbaju putih yang terkait geng, menunggu para   demonstran di stasiun kereta Yuen Long dan menyerang mereka dengan   senjata rakitan.
Para pelintas yang tidak ikut demonstrasi pun turut menjadi sasaran.
Walau kepolisian telah menangkap puluhan orang &quot;berbaju putih&quot;,   publik dan khususnya kubu prodemokrasi menyerukan investigasi independen   terhadap kejadian-kejadian terkini, termasuk dugaan keterkaitan   sejumlah perwira dengan dunia kejahatan bawah tanah.
Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, menolak seruan penyelidikan.   Menurutnya, Dewan Pengawas Polisi Independen tengah meninjau kasus   tersebut.
Para perwira yang kami wawancarai juga menilai tidak perlu ada   penyelidikan independen yang khusus menginvestigasi insiden di Stasiun   Yuen Long.
Bahkan ketika ditanya apakah hal itu bisa menjadi cara meraih kembali   kepercayaan publik, mereka mengatakan tidak melihat penyelidikan   semacam itu ada maknanya.
Sementara itu, para polisi di lapangan tengah menghadapi tekanan publik yang luar biasa.
Setelah seharian penuh berjibaku dengan para demonstran, mereka rutin dikelilingi ratusan warga awam yang melontarkan cacian.
&quot;Suaranya begitu memekakkan,&quot; kata seorang polisi.
Ada pula perundungan di dunia maya. Informasi pribadi dari setidaknya   300 polisi diunggah ke dunia maya, foto anak-anak mereka   dipublikasikan, demikian juga dengan tempat kerja suami atau istri   mereka sehingga orang-orang tahu siapa mereka.
Kami mendapat informasi mengenai anak polisi yang dimaki seseorang   saat berolahraga. Dia berkata kepada anak tersebut: &quot;Apa yang dilakukan   ayahmu itu menjijikkan.&quot;
Perundungan tak berhenti di situ. Para pegiat memutus pasokan listrik    ke rumah-rumah polisi dan mengirim antaran makanan palsu pada dini    hari.
Kerisauan akan aksi balas dendam begitu tinggi sehingga, menurut    informasi yang kami dapatkan, ketika sejumlah polisi ke rumah sakit    untuk mendapat perawatan, mereka menyebut pekerjaan mereka sebagai    &quot;pegawai negeri&quot; alih-alih &quot;polisi&quot;.
Mereka khawatir catatan rumah sakit bisa bocor atau bahkan mereka dirundung di rumah sakit.



'Kami tidak bisa ikut campur politik'
Hanya solusi politik yang bisa meredam krisis Hong Kong.
Mereka yang bisa mendatangkan solusi itu tidak berada di garis depan. Garis depan adalah dunianya polisi dan pegiat.
Apakah para polisi menginginkan semacam tindakan dari pemimpin Hong    Kong, khususnya Carrie Lam, sehingga polisi tidak menjadi incaran    kemarahan?
Perwira-perwira polisi yang kami wawancarai tersenyum. Sepertinya    mereka sangat ingin berkata banyak. Namun, setelah hening sejenak, kami    mendapat jawaban: &quot;Kami tidak bisa ikut campur dalam politik&quot;.
Mereka mengaku ingin para demonstran berunjuk rasa secara damai&amp;mdash;&quot;caranya Hong Kong&quot;.
Di sisi lain, puluhan ribu pegiat meyakini demonstrasi damai telah    diabaikan mereka yang berkuasa dan eskalasi adalah satu-satunya cara    mendatangkan reformasi demokratis.
Polisi tahu konflik ini tidak akan rampung dalam waktu dekat.
Akibatnya, kami diberitahu bahwa semakin banyak polisi Hong Kong yang mengundurkan diri dari jabatannya.
Tapi, dampak terbesarnya, menurut mereka, para polisi bersatu padu dan mendukung satu sama lain.
Adakah kemungkinan demonstrasi di Hong Kong justru menciptakan perpecahan di tubuh kepolisian?
Tidak mungkin, kata mereka. Justru sebaliknya.
</content:encoded></item></channel></rss>
