<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sisingamangaraja XII, Raja yang Pertahankan Tanah Batak hingga Titik Darah Terakhir</title><description>Selama tiga dekade Raja Sisingamangaraja XII memimpin perjuangan melawan penjajah Belanda di wilayah Tapanuli, Sumatera Utara (Sumut).</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/20/337/2093896/sisingamangaraja-xii-raja-yang-pertahankan-tanah-batak-hingga-titik-darah-terakhir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/20/337/2093896/sisingamangaraja-xii-raja-yang-pertahankan-tanah-batak-hingga-titik-darah-terakhir"/><item><title>Sisingamangaraja XII, Raja yang Pertahankan Tanah Batak hingga Titik Darah Terakhir</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/20/337/2093896/sisingamangaraja-xii-raja-yang-pertahankan-tanah-batak-hingga-titik-darah-terakhir</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/20/337/2093896/sisingamangaraja-xii-raja-yang-pertahankan-tanah-batak-hingga-titik-darah-terakhir</guid><pubDate>Selasa 20 Agustus 2019 07:02 WIB</pubDate><dc:creator>Robert Fernando H Siregar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/19/337/2093896/sisingamangaraja-xii-raja-yang-pertahankan-tanah-batak-hingga-titik-darah-terakhir-bwzhy1mpx8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kompleks Makam Sisingamangaraja XII di Tapanuli (Foto: Robert/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/19/337/2093896/sisingamangaraja-xii-raja-yang-pertahankan-tanah-batak-hingga-titik-darah-terakhir-bwzhy1mpx8.jpg</image><title>Kompleks Makam Sisingamangaraja XII di Tapanuli (Foto: Robert/Okezone)</title></images><description>SUMATERA UTARA - Selama tiga dekade Raja Sisingamangaraja XII memimpin perjuangan melawan penjajah Belanda di wilayah Tapanuli, Sumatera Utara (Sumut).
Raja Sisingamangaraja XII yang memiliki nama asli Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela, salah satu bangsawan di negeri ini yang memimpin perjuangan untuk mempertahankan Tanah Airnya dan tidak pernah mau kompromi dan diplomasi dengan penjajah.
Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela, lahir tahun 1848 ditepian Danau Toba Bakkara (saat ini Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut). Sebagaimana leluhurnya, gelar Raja dan kepemimpinan selalu diturunkan secara turun-temurun. Ketika Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela masih muda berusia 22 tahun, beliau dinobatkan menjadi Raja Sisingamangaraja XII, persisnya tahun 1871.

Namun ajal menjemput, sang Raja Sisingamangaraja wafat 17 Juni 1907, saat penjajah Belanda menemukan keberadaan sang Raja dan langsung melakukan serangan secara membabibuta dengan mempergunakan senjata api. Dalam peristiwa itu, salah seorang putri sang Raja, yakni Putri Lopian beserta 2 orang putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi gugur bersama.
Melihat keadaan itu, sebagai seorang bapak, sang Raja Sisingamangaraja spontan menolong anaknya. Akan tetapi, sikap spontan dan kasih sayang yang ditunjukkan sang Raja itu, justru mendatangkan marabahaya bagi dirinya sendiri. Pasalnya, sang Raja sewaktu merangkul anak putrinya, Putri Lopian yang sudah berlumuran darah, beliau tidak menyadari lagi bahwa dada beliau berpantang terhadap darah manusia.

Sungguh malang, sang Raja yang selama hidupnya tahan terhadap peluru (tahan tembak), peluru kolonial Belanda dengan leluasa menembus tubuh sang Raja. Sang Raja-pun gugur (meninggal) bersama ke-3 orang anaknya. Setelah kolonial Belanda berhasil membunuh sang Raja, jasad sang Raja dimakamkan di Tangsi, Tarutung, Tapanuli Utara.Pada tahun 1939, anak dari Raja Sisingamangaraja XII, yakni Raja  Buttal Sinambela menamatkan sekolahnya dari Kota Solo. Ia pun menjadi  Hakim di Pengadilan Tinggi Tarutung dan kantor persidangannya terletak  di Tarutung dan Balige.
Mungkin karena Raja Buttal sudah dikenal sebagai Hakim di Balige,  masyarakat Balige menganjurkan agar Raja Buttal Sinambela membangun  rumah di Balige sekaligus kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Balige,  apabila Raja Buttal Sinambela seandainya mau untuk memindahkan jasad  sang Raja sisingamangaraja XII, untuk dimakamkan di Soposurung Balige.
Namun rencana pemindahan itu belum terlaksana, Raja Buttal Sinambela  sudah meninggal sekitar tahun 1941. Kemudian, rencana itu dilanjutkan  oleh adiknya Raja Barita. Dan pada tahun 1953, pemindahan makam Raja  Sisingamangaraja XII, ke Balige terlaksana dan acara itu dihadiri Ketua  DPR-RI mewakili Presiden Soekarno Hatta. Kemudian, Raja Sisingamangaraja  XII dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan  (SK) Pemerintah Republik Indonesia nomor 590 tertanggal 19 Novemper  1961.

Juru kunci makam Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, Binsar  Sinambela (71), ditemui Okezone, dirumahnya yang berjarak sekitar 100  meter dari areal makam, sangat ramah dan bersemangat. Binsar Sinambela  menerangkan sejarah singkat Raja Sisingamangaraja XII.
Sebagaimana dengan Raja Sisingamangaraja I sampai XI, juga merupakan  karakter pemimpin yang sangat menentang penindasan dan perbudakan yang  masih terjadi masa itu. Raja Sisingamangaraja XII adalah seorang pejuang  sejati yang anti-penjajah dan perbudakan. Raja Sisingamangaraja XII  yang tidak mau berkompromi dengan penjajah, kendati ditawarkan menjadi  Sultan Batak. Beliau memilih lebih baik mati daripada tunduk pada  penjajah.
Raja Sisingamangaraja XII adalah kesatria yang tidak mau menghianati  bangsa sendiri demi kekuasaan. Beliau berjuang sampai akhir hanyat  dengan cita-cita perjuangannya untuk memerdekakan bangsanya dari  penindasan penjajah Belanda. Dalam perjuangannya melawan Belanda, beliau  memiliki panglima-panglima, termasuk panglima yang berasal dari wilayah  Aceh.

Saat perang &amp;lsquo;Paderi&amp;rsquo; Belanda berhasil dan hal itu melapangkan jalan  bagi pemerintahan kolonial di Minakabau, Tapanuli Selatan menyusul  daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok,  pantai Barus dan kawasan Sibolga. Sebab itu, tahun 1837, tanah Batak  terpecah menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah dikuasai  Belanda menjadi daerah Gubernemen yang disebut &amp;lsquo;Residentie Tapanuli dan  Onderhodrigheden&amp;rsquo; dengan seorang residen berkedudukan di Sibolga. Dan  secara admistratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang.
Sedangkan bagian tanah Batak lainnya, yaitu daerah Silindung  (Tarutung), Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba dan Samosir belum  berhasil dikuasai oleh Belanda serta tetap diakui Belanda sebagai tanah  Batak yang merdeka (Deonafhankelijke Bataklandan) sampai tahun 1886.  Hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda, kecuali Aceh dan tanah  Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai dibawah  kepemimpinan Raja Sisingamangaraja XII.Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentara   Belanda mendarat di pantai-pantai Aceh. Dan 3 tahun kemudian (tahun   1876), Belanda mengumumkan &amp;lsquo;Regerings Besluit&amp;rsquo; yang menyatakan daerah   Silindung dan sekitarnya dimasukkan kepada kekuasaan Belanda dan harus   tunduk kepada Residen Belanda di Sibolga.
Raja Sisingamangaraja XII cepat mengerti siasat dan strategi Belanda,   kalau Belanda mulai menguasai Silindung, tentu Belanda akan menyusul   dengan menganeksasi Humbang, Toba, Samosir, Dairi dan wilayah lainnya.
Menyikapi hal tersebut, rapat raksasa digelar di pasar Balige pada   Juni 1876. Dalam rapat penting dan bersejarah itu, diambil tiga   keputusan, yaitu 1. Menyatakan perang terhadap Belanda. 2. Zending agama   tidak diganggu. Serta 3. Menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk   sama-sama melawan kolonial Belanda. Dalam hal itu, Raja Sisingamangaraja   XII-lah yang dengan semangat tinggi mengumumkan perang terhadap  Belanda  yang ingin menjajah.

Tahun 1877, mulailah perang Batak yang berlangsung selama 30 tahun.   Perang dimulai di Bahal Batu, dan Humbang. Perang begitu ganas, Belanda   mengerahkan pasukan-pasukannya dari Singkil Aceh menyerang pasukan   rakyat semesta yang dipimpin Raja Sisingamangaraja XII.
Pasukan Belanda yang datang menyerang kearah Bakkara markas besar   Raja Sisingamangaraja XII, juga di Tangga Batu dan Balige, dapat dilawan   pasukan Raja Sisingamangaraja XII dan pasukan Belanda berhasil   dihambat.
Belanda merobah taktik pada penyerangan babak berikutnya dan menyerbu   ke kawasan Balige untuk merebut kantong logistik Raja Sisingamangaraja   XII di daerah Danau Toba. Dan selanjutnya mengadakan blokade terhadap   Bakkara tahun 1882. Hampir seluruh wilayah Balige telah dikuasai   Belanda. Sementara Laguboti masih tetap dipertahankan oleh panglima Ompu   Partahan Bosi Hutapea. Namun setahun kemudian, Laguboti jatuh ke  tangan  Belanda, setelah mengerahkan pasukan satu battalion tentara  bersama  barisan penembak-penembak meriam.
Pada tahun 1883 atau seperti yang sudah dikuatirkan jauh sebelumnya,   giliran Toba dianeksasi Belanda. Namun Belanda tetap merasa penguasaan   terhadap tanah Batak, berjalan lamban. Untuk mempercepat rencana   kolonialisasi itu, Belanda menambah pasukan besar yang didatangkan dari   Batavia (Jakarta sekarang) dan pasukan dari Padang Sidempuan. Raja   Sisingamangaraja XII membalas serangan Belanda dan terjadi pertempuran   besar.
Belanda benar-benar mengerahkan seluruh kekuatan dan Raja   Sisingamangaraja XII beserta para panglima-nya juga bertarung dengan   gigih. Tahun itu di hampir seluruh tanah Batak, pasukan belanda harus   bertahan dari serbuan pasukan-pasukan yang setia kepada perjuangan Raja   Sisingamangaraja XII.
Akan tetapi, 12 Agustus 1883, Bakkara tempat istana dan markas besar   Raja Sisingamangaraja XII, berhasil direbut pasukan Belanda. Raja   Sisingamangaraja XII bergegas ke Dairi bersama keluarga dan pasukan-nya   yang setia serta panglima-panglima-nya.
Regu pencari jejak dari Afrika, juga didatangkan untuk mencari   persembunyian Raja Sisingamangaraja XII. Barisan pelacak terdiri dari   orang-orang Senegal, oleh pasukan Raja Sisingamangaraja XII menyebut   barisan musuh tersebut dijuluki &amp;lsquo;Sigurbak Ula na Birong&amp;rsquo; (pemalas   berkulit hitam). Pasukan Raja Sisingamangaraja XII tidak takut dengan   pasukan Belanda itu dan mereka terus bertarung.Pada awal abad ke-20, Belanda mulai berhasil menguasai Aceh, sehingga    tahun 1890, pasukan khusus &amp;lsquo;Marsose&amp;rsquo; yang tadinya ditempatkan di  Aceh,   dikerahkan untuk menyerang Raja Sisingamangaraja XII di daerah    Parlilitan.
Mendapat penyerangan yang tiba-tiba dan menghadapi  persenjataan yang   lebih modern dari kolonial Belanda, membuat  perlawanan gigih pasukan   Raja Sisingamangaraja XII-pun terdesak. Dari  situlah, Raja   Sisingamangaraja XII menyingkir ke wilayah Dairi. Raja  Sisingamangaraja   XII melanjutkan peperangan secara berpindah-pindah.
Pihak penjajah Belanda melakukan upaya pendekatan (Diplomasi) dengan    menawarkan Raja Sisingamangaraja XII sebagai Sultan Batak dengan    berbagai hak istimewa. Namun Raja Sisingamangaraja XII menolak tawaran    tersebut. Sehingga usaha untuk menangkap Raja Sisingamangaraja XII,  mati   atau hidup, semakin diaktifkan setelah melalui pengepungan yang  ketat   selama 3 tahun.
Akhirnya, markas Raja Sisingamangaraja XII diketahui oleh serdadu    Belanda. Dalam pengejaran dan pengepungan yang sangat rapi, peristiwa    tragis-pun terjadi. Dalam satu pertempuran jarak dekat, komandan pasukan    Belanda kembali meminta Raja Sisingamangaraja XII untuk menyerah dan    akan dinobatkan menjadi Sultan Batak. Namun sang Raja Sisingamangaraja    XII yang merasa tidak mau tunduk pada penjajah Belanda, memilih lebih    baik mati daripada menyerah.
Tahun 1907, pasukan Belanda yang dinamakan kolonel macan atau brigade    setan, mengepung Raja Sisingamangaraja XII. Pertahanan Raja    Sisingamangaraja XII diserang dari 3 penjuru. Tetapi Raja    Sisingamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Kaum wanita dan anak-anak    diungsikan secara berkelompok-kelompok. Namun naas, mereka tertangkap    oleh pasukan Belanda.

&amp;ldquo;Tanggal 17 Juni 1907, dipinggir bukit Aek (sungai) Sibulbulon di    Desa Si-Onom Hudon (diperbatasan antara Kabupaten Tapanuli Utara dengan    Kabupaten Dairi yang sekarang), gugurlah Raja Sisingamangaraja XII  oleh   pasukan &amp;lsquo;Marsose&amp;rsquo; Belanda yang dipimpin kapten Christopel. Raja    Sisingamangaraja XII gugur bersama 2 putranya, yakni Patuan Nagari dan    Patuan Anggi beserta putri sang Raja, yaitu putri Lopian. sang Raja    Sisingamangaraja XII tewas ditembak peluru, saat merangkul anak    putrinya, Putri Lopian yang sudah berlumuran darah. Sang Raja    Sisingamangaraja XII saat peristiwa naas itu, tidak lagi menyadari bahwa    dada beliau berpantang terhadap darah manusia,&amp;rdquo; kisah Juru Kunci  Makam   Raja Sisingamangaraja XII, Binsar Sinambela.
Suami Adelina boru Siahaan (66), Binsar Panjaitan yang dikaruniai 5    anak laki-laki dan 1 anak perempuan itu mengisahkan, dalam peristiwa    itu, juga banyak pengikut dan panglima-nya Raja Sisingamangaraja XII.
Pengikut-pengikut Raja Sisingamangaraja XII yang selamat saat itu    berpencar dan berusaha terus melakukan perlawanan. Sedangkan keluarga    Raja Sisingamangaraja XII yang masih hidup, dihina dan dinista pasukan    Belanda dan kemudian ditawan di Internering Pearaja Tarutung. Jasad  Raja   Sisingamangaraja XII, anaknya dikebumikan di Tangsi Tarutung.Perang yang berlangsung selama 30 tahun itu, memang telah     mengakibatkan jatuh korban yang begitu banyak. Walaupun Raja     Sisingamangaraja XII wafat, tidak berarti secara langsung membuat perang     di tanah Batak berakhir. Sebab sesudah peristiwa itu, terbukti masih     banyak perlawanan dilakukan oleh rakyat Tapanuli, khususnya  perlawanan    yang dilakukan oleh pengikut-pengikut dari Raja  Sisingamangaraja XII.
&amp;ldquo;Raja Sisingamangaraja XII patriot sejati, tidak pernah menyerah,     tidak mau berunding dengan penjajah, tidak pernah ditawan, gigih, ulet     dan militant. Berjuang tanpa pamrih dengan semangat dan kecintaannya     kepada tanah air dan kepada kemerdekaan dari penindasan penjajah. Raja     Sisingamangaraja XII tidak bersedia menjual tanah air-nya untuk     kesenangan pribadi. Semangat juang Raja Sisingamangaraja XII, perlu     diwarisi seluruh bangsa Indonesia, terutama bagi generasi muda. Sejarah     ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat persatuan dan kemerdekaan  di    hati masyarakat Indonesia,&amp;rdquo;pungkas Binsar Panjaitan yang telah     dikaruniai 13 cucu itu.
Makam Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di Soposurung     Balige, Sumatera Utara, dibangun oleh keluarga, masyarakat dan     Pemerintah.</description><content:encoded>SUMATERA UTARA - Selama tiga dekade Raja Sisingamangaraja XII memimpin perjuangan melawan penjajah Belanda di wilayah Tapanuli, Sumatera Utara (Sumut).
Raja Sisingamangaraja XII yang memiliki nama asli Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela, salah satu bangsawan di negeri ini yang memimpin perjuangan untuk mempertahankan Tanah Airnya dan tidak pernah mau kompromi dan diplomasi dengan penjajah.
Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela, lahir tahun 1848 ditepian Danau Toba Bakkara (saat ini Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut). Sebagaimana leluhurnya, gelar Raja dan kepemimpinan selalu diturunkan secara turun-temurun. Ketika Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela masih muda berusia 22 tahun, beliau dinobatkan menjadi Raja Sisingamangaraja XII, persisnya tahun 1871.

Namun ajal menjemput, sang Raja Sisingamangaraja wafat 17 Juni 1907, saat penjajah Belanda menemukan keberadaan sang Raja dan langsung melakukan serangan secara membabibuta dengan mempergunakan senjata api. Dalam peristiwa itu, salah seorang putri sang Raja, yakni Putri Lopian beserta 2 orang putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi gugur bersama.
Melihat keadaan itu, sebagai seorang bapak, sang Raja Sisingamangaraja spontan menolong anaknya. Akan tetapi, sikap spontan dan kasih sayang yang ditunjukkan sang Raja itu, justru mendatangkan marabahaya bagi dirinya sendiri. Pasalnya, sang Raja sewaktu merangkul anak putrinya, Putri Lopian yang sudah berlumuran darah, beliau tidak menyadari lagi bahwa dada beliau berpantang terhadap darah manusia.

Sungguh malang, sang Raja yang selama hidupnya tahan terhadap peluru (tahan tembak), peluru kolonial Belanda dengan leluasa menembus tubuh sang Raja. Sang Raja-pun gugur (meninggal) bersama ke-3 orang anaknya. Setelah kolonial Belanda berhasil membunuh sang Raja, jasad sang Raja dimakamkan di Tangsi, Tarutung, Tapanuli Utara.Pada tahun 1939, anak dari Raja Sisingamangaraja XII, yakni Raja  Buttal Sinambela menamatkan sekolahnya dari Kota Solo. Ia pun menjadi  Hakim di Pengadilan Tinggi Tarutung dan kantor persidangannya terletak  di Tarutung dan Balige.
Mungkin karena Raja Buttal sudah dikenal sebagai Hakim di Balige,  masyarakat Balige menganjurkan agar Raja Buttal Sinambela membangun  rumah di Balige sekaligus kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Balige,  apabila Raja Buttal Sinambela seandainya mau untuk memindahkan jasad  sang Raja sisingamangaraja XII, untuk dimakamkan di Soposurung Balige.
Namun rencana pemindahan itu belum terlaksana, Raja Buttal Sinambela  sudah meninggal sekitar tahun 1941. Kemudian, rencana itu dilanjutkan  oleh adiknya Raja Barita. Dan pada tahun 1953, pemindahan makam Raja  Sisingamangaraja XII, ke Balige terlaksana dan acara itu dihadiri Ketua  DPR-RI mewakili Presiden Soekarno Hatta. Kemudian, Raja Sisingamangaraja  XII dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan  (SK) Pemerintah Republik Indonesia nomor 590 tertanggal 19 Novemper  1961.

Juru kunci makam Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, Binsar  Sinambela (71), ditemui Okezone, dirumahnya yang berjarak sekitar 100  meter dari areal makam, sangat ramah dan bersemangat. Binsar Sinambela  menerangkan sejarah singkat Raja Sisingamangaraja XII.
Sebagaimana dengan Raja Sisingamangaraja I sampai XI, juga merupakan  karakter pemimpin yang sangat menentang penindasan dan perbudakan yang  masih terjadi masa itu. Raja Sisingamangaraja XII adalah seorang pejuang  sejati yang anti-penjajah dan perbudakan. Raja Sisingamangaraja XII  yang tidak mau berkompromi dengan penjajah, kendati ditawarkan menjadi  Sultan Batak. Beliau memilih lebih baik mati daripada tunduk pada  penjajah.
Raja Sisingamangaraja XII adalah kesatria yang tidak mau menghianati  bangsa sendiri demi kekuasaan. Beliau berjuang sampai akhir hanyat  dengan cita-cita perjuangannya untuk memerdekakan bangsanya dari  penindasan penjajah Belanda. Dalam perjuangannya melawan Belanda, beliau  memiliki panglima-panglima, termasuk panglima yang berasal dari wilayah  Aceh.

Saat perang &amp;lsquo;Paderi&amp;rsquo; Belanda berhasil dan hal itu melapangkan jalan  bagi pemerintahan kolonial di Minakabau, Tapanuli Selatan menyusul  daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok,  pantai Barus dan kawasan Sibolga. Sebab itu, tahun 1837, tanah Batak  terpecah menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah dikuasai  Belanda menjadi daerah Gubernemen yang disebut &amp;lsquo;Residentie Tapanuli dan  Onderhodrigheden&amp;rsquo; dengan seorang residen berkedudukan di Sibolga. Dan  secara admistratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang.
Sedangkan bagian tanah Batak lainnya, yaitu daerah Silindung  (Tarutung), Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba dan Samosir belum  berhasil dikuasai oleh Belanda serta tetap diakui Belanda sebagai tanah  Batak yang merdeka (Deonafhankelijke Bataklandan) sampai tahun 1886.  Hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda, kecuali Aceh dan tanah  Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai dibawah  kepemimpinan Raja Sisingamangaraja XII.Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentara   Belanda mendarat di pantai-pantai Aceh. Dan 3 tahun kemudian (tahun   1876), Belanda mengumumkan &amp;lsquo;Regerings Besluit&amp;rsquo; yang menyatakan daerah   Silindung dan sekitarnya dimasukkan kepada kekuasaan Belanda dan harus   tunduk kepada Residen Belanda di Sibolga.
Raja Sisingamangaraja XII cepat mengerti siasat dan strategi Belanda,   kalau Belanda mulai menguasai Silindung, tentu Belanda akan menyusul   dengan menganeksasi Humbang, Toba, Samosir, Dairi dan wilayah lainnya.
Menyikapi hal tersebut, rapat raksasa digelar di pasar Balige pada   Juni 1876. Dalam rapat penting dan bersejarah itu, diambil tiga   keputusan, yaitu 1. Menyatakan perang terhadap Belanda. 2. Zending agama   tidak diganggu. Serta 3. Menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk   sama-sama melawan kolonial Belanda. Dalam hal itu, Raja Sisingamangaraja   XII-lah yang dengan semangat tinggi mengumumkan perang terhadap  Belanda  yang ingin menjajah.

Tahun 1877, mulailah perang Batak yang berlangsung selama 30 tahun.   Perang dimulai di Bahal Batu, dan Humbang. Perang begitu ganas, Belanda   mengerahkan pasukan-pasukannya dari Singkil Aceh menyerang pasukan   rakyat semesta yang dipimpin Raja Sisingamangaraja XII.
Pasukan Belanda yang datang menyerang kearah Bakkara markas besar   Raja Sisingamangaraja XII, juga di Tangga Batu dan Balige, dapat dilawan   pasukan Raja Sisingamangaraja XII dan pasukan Belanda berhasil   dihambat.
Belanda merobah taktik pada penyerangan babak berikutnya dan menyerbu   ke kawasan Balige untuk merebut kantong logistik Raja Sisingamangaraja   XII di daerah Danau Toba. Dan selanjutnya mengadakan blokade terhadap   Bakkara tahun 1882. Hampir seluruh wilayah Balige telah dikuasai   Belanda. Sementara Laguboti masih tetap dipertahankan oleh panglima Ompu   Partahan Bosi Hutapea. Namun setahun kemudian, Laguboti jatuh ke  tangan  Belanda, setelah mengerahkan pasukan satu battalion tentara  bersama  barisan penembak-penembak meriam.
Pada tahun 1883 atau seperti yang sudah dikuatirkan jauh sebelumnya,   giliran Toba dianeksasi Belanda. Namun Belanda tetap merasa penguasaan   terhadap tanah Batak, berjalan lamban. Untuk mempercepat rencana   kolonialisasi itu, Belanda menambah pasukan besar yang didatangkan dari   Batavia (Jakarta sekarang) dan pasukan dari Padang Sidempuan. Raja   Sisingamangaraja XII membalas serangan Belanda dan terjadi pertempuran   besar.
Belanda benar-benar mengerahkan seluruh kekuatan dan Raja   Sisingamangaraja XII beserta para panglima-nya juga bertarung dengan   gigih. Tahun itu di hampir seluruh tanah Batak, pasukan belanda harus   bertahan dari serbuan pasukan-pasukan yang setia kepada perjuangan Raja   Sisingamangaraja XII.
Akan tetapi, 12 Agustus 1883, Bakkara tempat istana dan markas besar   Raja Sisingamangaraja XII, berhasil direbut pasukan Belanda. Raja   Sisingamangaraja XII bergegas ke Dairi bersama keluarga dan pasukan-nya   yang setia serta panglima-panglima-nya.
Regu pencari jejak dari Afrika, juga didatangkan untuk mencari   persembunyian Raja Sisingamangaraja XII. Barisan pelacak terdiri dari   orang-orang Senegal, oleh pasukan Raja Sisingamangaraja XII menyebut   barisan musuh tersebut dijuluki &amp;lsquo;Sigurbak Ula na Birong&amp;rsquo; (pemalas   berkulit hitam). Pasukan Raja Sisingamangaraja XII tidak takut dengan   pasukan Belanda itu dan mereka terus bertarung.Pada awal abad ke-20, Belanda mulai berhasil menguasai Aceh, sehingga    tahun 1890, pasukan khusus &amp;lsquo;Marsose&amp;rsquo; yang tadinya ditempatkan di  Aceh,   dikerahkan untuk menyerang Raja Sisingamangaraja XII di daerah    Parlilitan.
Mendapat penyerangan yang tiba-tiba dan menghadapi  persenjataan yang   lebih modern dari kolonial Belanda, membuat  perlawanan gigih pasukan   Raja Sisingamangaraja XII-pun terdesak. Dari  situlah, Raja   Sisingamangaraja XII menyingkir ke wilayah Dairi. Raja  Sisingamangaraja   XII melanjutkan peperangan secara berpindah-pindah.
Pihak penjajah Belanda melakukan upaya pendekatan (Diplomasi) dengan    menawarkan Raja Sisingamangaraja XII sebagai Sultan Batak dengan    berbagai hak istimewa. Namun Raja Sisingamangaraja XII menolak tawaran    tersebut. Sehingga usaha untuk menangkap Raja Sisingamangaraja XII,  mati   atau hidup, semakin diaktifkan setelah melalui pengepungan yang  ketat   selama 3 tahun.
Akhirnya, markas Raja Sisingamangaraja XII diketahui oleh serdadu    Belanda. Dalam pengejaran dan pengepungan yang sangat rapi, peristiwa    tragis-pun terjadi. Dalam satu pertempuran jarak dekat, komandan pasukan    Belanda kembali meminta Raja Sisingamangaraja XII untuk menyerah dan    akan dinobatkan menjadi Sultan Batak. Namun sang Raja Sisingamangaraja    XII yang merasa tidak mau tunduk pada penjajah Belanda, memilih lebih    baik mati daripada menyerah.
Tahun 1907, pasukan Belanda yang dinamakan kolonel macan atau brigade    setan, mengepung Raja Sisingamangaraja XII. Pertahanan Raja    Sisingamangaraja XII diserang dari 3 penjuru. Tetapi Raja    Sisingamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Kaum wanita dan anak-anak    diungsikan secara berkelompok-kelompok. Namun naas, mereka tertangkap    oleh pasukan Belanda.

&amp;ldquo;Tanggal 17 Juni 1907, dipinggir bukit Aek (sungai) Sibulbulon di    Desa Si-Onom Hudon (diperbatasan antara Kabupaten Tapanuli Utara dengan    Kabupaten Dairi yang sekarang), gugurlah Raja Sisingamangaraja XII  oleh   pasukan &amp;lsquo;Marsose&amp;rsquo; Belanda yang dipimpin kapten Christopel. Raja    Sisingamangaraja XII gugur bersama 2 putranya, yakni Patuan Nagari dan    Patuan Anggi beserta putri sang Raja, yaitu putri Lopian. sang Raja    Sisingamangaraja XII tewas ditembak peluru, saat merangkul anak    putrinya, Putri Lopian yang sudah berlumuran darah. Sang Raja    Sisingamangaraja XII saat peristiwa naas itu, tidak lagi menyadari bahwa    dada beliau berpantang terhadap darah manusia,&amp;rdquo; kisah Juru Kunci  Makam   Raja Sisingamangaraja XII, Binsar Sinambela.
Suami Adelina boru Siahaan (66), Binsar Panjaitan yang dikaruniai 5    anak laki-laki dan 1 anak perempuan itu mengisahkan, dalam peristiwa    itu, juga banyak pengikut dan panglima-nya Raja Sisingamangaraja XII.
Pengikut-pengikut Raja Sisingamangaraja XII yang selamat saat itu    berpencar dan berusaha terus melakukan perlawanan. Sedangkan keluarga    Raja Sisingamangaraja XII yang masih hidup, dihina dan dinista pasukan    Belanda dan kemudian ditawan di Internering Pearaja Tarutung. Jasad  Raja   Sisingamangaraja XII, anaknya dikebumikan di Tangsi Tarutung.Perang yang berlangsung selama 30 tahun itu, memang telah     mengakibatkan jatuh korban yang begitu banyak. Walaupun Raja     Sisingamangaraja XII wafat, tidak berarti secara langsung membuat perang     di tanah Batak berakhir. Sebab sesudah peristiwa itu, terbukti masih     banyak perlawanan dilakukan oleh rakyat Tapanuli, khususnya  perlawanan    yang dilakukan oleh pengikut-pengikut dari Raja  Sisingamangaraja XII.
&amp;ldquo;Raja Sisingamangaraja XII patriot sejati, tidak pernah menyerah,     tidak mau berunding dengan penjajah, tidak pernah ditawan, gigih, ulet     dan militant. Berjuang tanpa pamrih dengan semangat dan kecintaannya     kepada tanah air dan kepada kemerdekaan dari penindasan penjajah. Raja     Sisingamangaraja XII tidak bersedia menjual tanah air-nya untuk     kesenangan pribadi. Semangat juang Raja Sisingamangaraja XII, perlu     diwarisi seluruh bangsa Indonesia, terutama bagi generasi muda. Sejarah     ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat persatuan dan kemerdekaan  di    hati masyarakat Indonesia,&amp;rdquo;pungkas Binsar Panjaitan yang telah     dikaruniai 13 cucu itu.
Makam Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di Soposurung     Balige, Sumatera Utara, dibangun oleh keluarga, masyarakat dan     Pemerintah.</content:encoded></item></channel></rss>
