<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Arti Kemerdekaan di Balik Lensa Kamera Alex Mendur</title><description>Alexius Impurung Mendur senang dengan pelajaran Ilmu Bumi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/23/337/2095472/arti-kemerdekaan-di-balik-lensa-kamera-alex-mendur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/23/337/2095472/arti-kemerdekaan-di-balik-lensa-kamera-alex-mendur"/><item><title>Arti Kemerdekaan di Balik Lensa Kamera Alex Mendur</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/23/337/2095472/arti-kemerdekaan-di-balik-lensa-kamera-alex-mendur</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/23/337/2095472/arti-kemerdekaan-di-balik-lensa-kamera-alex-mendur</guid><pubDate>Jum'at 23 Agustus 2019 07:13 WIB</pubDate><dc:creator>Subhan Sabu</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/22/337/2095472/arti-kemerdekaan-di-balik-lensa-kamera-alex-mendur-sqUIvcLJw4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Alexius Impurung Mendur (Foto: Subhan Sabu/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/22/337/2095472/arti-kemerdekaan-di-balik-lensa-kamera-alex-mendur-sqUIvcLJw4.jpg</image><title>Alexius Impurung Mendur (Foto: Subhan Sabu/Okezone)</title></images><description>SEJAK kecil, Alexius Impurung Mendur senang dengan pelajaran Ilmu Bumi. Alex tertarik mengenai peta-peta bumi dan kepulauan yang ada di Indonesia, terutama sekali tanah Jawa. Hasrat pemuda kelahiran 7 November 1907 di Desa Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara itu sangat besar untuk bisa merantau ke tanah Jawa.

Anak pertama dari 11 bersaudara ini sejak tamat pada Volkschool Gouvernement (sekarang namanya Sekolah Dasar sampai kelas 5) pada tahun 1918 tidak lagi melanjutkan karena ayah Alex tidak mampu untuk membiayai kehidupan keluarganya.

Sejak itu Alex Mendur berpikir jalan apa yang harus ditempuh untuk dapat meringankan beban orang tuanya. Karena sebagai anak laki-laki paling tua, ia mempunyai tanggung jawab pula terhadap kehidupan adik- adiknya.

Sampai tiba masa dewasa, Alex bersikeras mencari jalan lagi supaya tidak memberatkan beban keluarganya. Dalam keadaan bingung untuk mencari jalan keluar Alex mendengar kabar bahwa ada saudaranya dari tanah Jawa pulang ke Kawangkoan.

Mendengar berita itu Alex gembira sekali. Hasrat yang dipendamnya sejak kecil kembali menggelora. Alex ingin pergi ke tanah Jawa bersama saudaranya itu.



Saudara Alex bernama Anton Nayoan berasal dari Desa Tondegesan masih termasuk Kecamatan Kawangkoan bekerja sebagai karyawan pada perusahaan Belanda yang menjual alat-alat dan bahan-bahan keperluan dan perlengkapan fotografi. Melihat Alex mempunyai kemauan keras dan bakat yang tinggi yaitu ingin maju, Anton bersedia mengajak Alex ikut bersamanya mengembara ke tanah Jawa.

Sekira tahun 1922, dalam usia yang masih muda, 15 tahun, berangkatlah Alex bersama Anton. Di tanah Jawa, untuk pertama kalinya Alex mengenal dunia foto, karena Anton bekerja pada perusahaan Belanda yang membuka usaha dalam bidang fotografi. Alex diperkenalkan pada fotografi dan disuruh menekuni bidang teknologi yang masih baru pada waktu itu.

Pengetahuan yang Alex dapatkan dari Anton merupakan modal bagi kehidupan selanjutnya, memang benar dari fotografilah Alex hidup. Alex belajar fotografi mulai dari bawah, mulai dari mencuci film, mengeringkan, sampai siap jadi, dikerjakannya dengan sabar. Karena menurut Alex apabila seseorang mulai belajar dari bawah, maka ia dengan cepat akan menguasai kamera.

Belajar fotografi selama 6 tahun membuat Alex menguasai dan kian mahir. Karena sudah lama tinggal bersama Anton, Alex ingin sekali mempraktekkan hasil belajar fotografinya. Walaupun sambil belajar fotografi dan membantu Anton Nayoan bekerja, Alex juga mendapat penghasilan dari tempat Anton bekerja itu. Alex belajar fotografi sambil bekerja di perusahaan Belanda yang menjual alat-alat fotografi itu sampai tahun 1926.

Kemudian Alex bekerja pada perusahaan fotografi milik Inggris di  Bandung. Tidak lama di Bandung pindah lagi ke Jakarta. Di Jakarta Alex  mendapat tawaran bekerja di perusahaan Jerman, yaitu Kodak di Jakarta  juga menjual alat-alat fotografi. Saat kembali ke Jakarta inilah Alex  berkenalan dengan keluarga Wowor orang Manado juga yang sudah lama  tinggal di Jakarta.

Keluarga Wowor ini mempunyai seorang anak perempuan Emmy Agustina  Wowor yang kelak menjadi Istrinya. Mereka menikah pada tahun 1929. Dari  pernikahan mereka lahirlah dua orang anak, satu perempuan, Meity Mendur  dan satunya lagi Iaki-laki yang diberi nama Lexi Rudolf Mendur.

Pada waktu itu Alex juga bekerja pada majalah Actueel Wereld Nieuws  En Sport In Beeld sebagai fotografer, sekira 1931-1934. Majalah Sport in  Bed ini juga terbitan harian de Java Bode. Pada waktu itu surat kabar  tersebut dianggap terkenal karena terbit di Batavia dari abad ke-19  sampai dengan Perang Dunia ll. Pada usia 25 tahun tepatnya pada tahun  1932 Alex Mendur diterima bekerja pada harian De Java Bode sebagai  wartawan foto.

Pada waktu itu di Jakarta juru potret hanya sedikit, hanya tiga  orang, yaitu dua orang Belanda dan Alex Mendur sendiri. Bersamaan dengan  diterimanya Alex bekerja, istrinya melahirkan seorang bayi mungil  laki-laki pada tanggal 24 Maret 1932 dan diberi nama Lexi Rudolf Mendur.



Alex Mendur bekerja di De Java Bode tidak lama, hanya tiga tahun,  1932 -1935. Tapi selama bekerja di De Java Bode banyak pengalaman yang  tidak dapat dilupakan dan merupakan kenangan tersendiri baginya. Alex  ingat betul sewaktu mengabadikan meletusnya Gunung Merapi tahun 1933 di  dekat Wonosobo, Jawa Tengah. Alex dengan kameranya memasuki daerah  berbahaya agar dapat mengambil sasaran lebih dekat.

Tetapi pemerintah Belanda pada waktu itu sudah membuat peraturan  keras &quot;Barang siapa memasuki daerah berbahaya akan ditembak.&quot; Untunglah  tentara yang menjaga daerah berbahaya itu orang Manado. Setelah Alex  berbicara dengan tentara yang senapannya sudah siap itu, akhirnya Alex  lolos dari peraturan itu.

&quot;Besoknya foto-foto yang diabadikan Alex betul-betul menjadi pusat  pembicaraan karena hasilnya bagus, setelah dimuat dalam harian De Java  Bode,&quot; tulis Wiwik Kuswiah dalam Alexius Impurung Mendur (1986:17).

Pengalaman lain yang dialami Alex, yakni pada waktu diundang untuk   ikut dalam rombongan Gubernur Jenderal De Jonge ke Indonesia Timur. la   banyak mengabadikan peristiwa- peristiwa penting. Gubernur Jenderal   ingin segera melihat hasilnya, maka di kapal De Reggel dibuatlah kamar   gelap.

Dalam keadaan serba darurat hasil foto-foto tersebut cukuplah di   contact print saja, kamera film yang dipergunakan hanya berukuran 9 x 12   cm. Pada waktu itu Alex masih mempergunakan kamera yang sederhana  yaitu  kamera &quot;Contesa Nette&quot; tidak dilengkapi Range Finder (penemu  jarak).  Sehingga untuk menentukan jarak cukup dikira-kira saja.

Di De Java Bode, Alex juga sempat mendidik adiknya, Frans Soemarto   Mendur menjadi juru potret pula. Sehingga dikemudian hari frans Soemarto   Mendur lebih terkenal dalam mengabadikan detik-detik Proklamasi dan   peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari pada kakaknya.

Frans orangnya pandai bergaul, tanpa pergaulan susah untuk   mendapatkan hasil yang bagus. Oleh karena itu Frans memanfaatkan   pergaulannya itu untuk mencari koneksi dengan tokoh-tokoh pergerakan   pada waktu itu.

Karena Frans Soemarto Mendur pandai bergaul, maka Frans dimata para   pejabat penting dapat dipercaya, dan sebagai petugas pers Nasional ia   selalu menjunjung tinggi kode etik wartawan dengan sebaik-baiknya. Pada   zaman Belanda juru potret dihargai. Mereka diberi semacam tanda atau   press pending oleh polisi sehingga juru potret itu bisa bebas pergi   kemana saja.

Alex pernah mengabadikan suatu peristiwa yang lucu yaitu ketika   seorang tentara Belanda akan memberi hormat dengan pedangnya, begitu   pedangnya akan dicabut macet. Dia marah- marah kepada ajudannya,   ternyata pedangnya karatan. Kejadian tersebut sempat diabadikan Alex.   Dan Alex tahu betul hal mana adegan yang mengandung nilai berita.



Ada hal yang menarik lagi sewaktu kunjungan Gubernur Jawa Timur ke   Madura. Saat memberikan penghormatan, Gubernur mengangkat topinya tapi   pada waktu memakainya kembali topinya terbalik. Alex tahu betul itu   menarik. Tapi sayang Alex berdiri sejajar dengan Gubernur sehingga tidak   sempat mengabadikannya.

Tiga tahun bekerja di De Java Bode, setelah kelahiran anaknya yang   kedua Meity Mendur pada tanggal 2 Januari 1934 Alex Mendur pindah   bekerja di perusahaan pelayaran Belanda KPM (Koninklijke   Paketvaart-Maatschappij ). Masa inilah bagi Alex dirasakan yang paling   bahagia. Karena kepandaiannya sebagai fotografer, yang hanya tamatan   Sekolah Rakyat, Alex bisa diterima bekerja. Soalnya untuk bisa bekerja   di KPM minimal harus lulusan Mulo.

Hal ini bisa dilakukan karena Alex telah berkenalan sebelumnya dan   sudah menjadi teman dekat dengan Presiden Direktur KPM Meneer Evert. Di   KPM Alex ditempatkan pada bagian publikasi dan reklame. Gajinya sebulan   85 gulden, cukup besar.

&quot;Bayangkan harga beras pada waktu itu hanya 8 sen/liter, rokok selalu   kalengan karena harganya hanya 6.3 sen. Dan dari gajinya itu Alex   Mendur bisa mencicil mobil. Karena harga mobil pada waktu itu 300   gulden. Dengan gaji yang cukup besar itulah Alex bisa merasakan hidup   tenang untuk membiayai dua orang anak dan istrinya. Ya kehidupan   keluarga Alex pada waktu itu berkecukupan,&quot; kata Alex sebagaimana   dikutip dari tulisan Wiwik Kuswiah dalam Alexius Impurung Mendur   (1986:19).

Hingga tibalah masa awal penjajahan Jepang yang membuat kehidupan    Alex Mendur dan keluarganya mengalami masa suram. Jepang masuk ke    Indonesia untuk pertama kalinya melalui Tarakan, Kalimantan Timur pada    tanggal 11 Januari 1942.

Selanjutnya Jepang dapat menguasai Balikpapan pada tanggal 24 Januari    1942. Dengan direbutnya Balikpapan Jepang berhasil menguasai sumber    minyak yang paling penting bagi Jepang karena sangat diperlukan sekali    bahan bakar bagi keperluan misinya.

Dengan caranya seperti gurita, Jepang dapat menduduki Pontianak pada    tanggal 29 Januari 1942, menyusul pada tanggal 3 - 5 Februari 1942  kota   Samarinda dan lapangan terbang Samarinda dapat dikuasai. Tujuan  Jepang   terakhir di Kalimantan adalah merebut Banjarmasin yakni pada  tanggal  10  Februari 1942.

Dalam penyerbuannya ke Jawa, Pasukan Jepang berhasil melawan Belanda    dan pada tanggal 1 Maret 1942 tentara keenam belas Jepang mendarat di    tiga tempat, pertama di Teluk Banten, di Eretan Wetan (Jawa Barat) dan    di Jawa Tengah, Kragan. Pada tanggal 5 Maret 1942 mendarat di Batavia    (Jakarta).

Dengan masuknya Jepang di Jakarta maka Jakarta pada waktu itu sebagai    kota terbuka, karena pihak Belanda tidak akan mempertahankannya. Maka    kehidupan masyarakat pun berubah setelah Jepang masuk Jakarta. Semua    kantor-kantor, pelabuhan dan tempat- tempat yang penting lainnya  diambil   alih oleh Jepang.



Alex kemudian ditunjuk oleh pemerintah Jepang menjadi kepala bagian    fotografi kantor berita &quot;Domei.&quot; Disinilah persahabatan Alex dengan  Adam   Malik terjalin. Keduanya akrab dimana Adam Malik pada waktu itu  juga   bekerja sebagai kepala bagian berita Indonesia di kantor berita  &quot;Domei.&quot;

Pada waktu itu, keduanya sama-sama hidup serba kekurangan, sehingga    untuk mencari penghasilan tambahan Alex dan Adam Malik bekerja sama    dengan berdagang jam tangan dan kamera. Pekerjaan tambahan ini cukup    menyenangkan bagi keduanya, karena Jepang menyenangi dan ingin memiliki    kamera &quot;Leica&quot; maupun jam tangan &quot;Mido.&quot;

Kalau pasaran lagi sepi, Alex Mendur dan Adam Malik sering ke luar    malam naik becak keliling Jakarta tidak tentu arah dan tujuan. Selama    dalam perjalanan itu yang dibicarakan hanya tentang kamera dan jam    tangan saja. Dari Adam juga Alex banyak mengetahui tentang perkembangan    Jakarta.

''Bahkan apa yang pernah dibicarakan oleh Jepang itu tidak benar    hanya membohongi rakyat,&quot; kata Adam Malik kepada Alex sebagaimana    ditulis Wiwik Kuswiah dalam Alexius Impurung Mendur (1986:20).

Sebab pada waktu itu Jepang sering memberitakan kemenangan Jepang,    padahal sebaliknya Jepang dalam keadaan menderita kekalahan. Disatu    pihak Jepang sudah semakin terdesak oleh sekutu, dilain pihak Jepang    sebaliknya malahan melakukan penekanan terhadap rakyat Indonesia, dimana    dengan keluarnya peraturan gaji dalam tahun 1943 sangat rendah    dibandingkan pada jaman Belanda.

Serikat buruh dibubarkan oleh Jepang, rakyat merasakan sekali     kejamnya Kempetai/Polisi sehingga timbul perlawanan kaum buruh terhadap     Jepang dengan bermacam-macam cara seperti memboroskan bahan-bahan dan     alat-alat, malas bekerja, memperlambat jalannya kereta api. Hal ini     mereka lakukan bersama-sama masinis, juru tulis, penjaga gudang dan     lain-lain.

Baik rakyat miskin, para pelajar, kaum intelektual maupun para     mahasiswa semua nerusaha menghindarkan diri dari bermacam-macam     pendidikan yang diberikan oleh Jepang. Pelajar- pelajar tidak mau     dicukur gundul. Tetapi semuanya tidak bisa berbuat apa-apa selain     menurut. Karena apabila seseorang menolak Kempetailah yang bicara dengan     pukulan-pukulan. Dan mau tidak mau para pelajar harus masuk   pendidikan   militer.

Semua ini dilakukan Jepang untuk memperkuat tentaranya dalam melawan     sekutu, termasuk Alex Mendur, ia masuk Barisan Pelopor. Alex menjadi     Barisan Pelopor tidak lama karena kemudian ditunjuk menjadi  fotografer    dan menjadi Kepala bagian fotografer pada kantor berita  Domei.



Ketika bom atom dijatuhkan sekutu di kota Hirosima dan Nagasaki,     Jepang menerima kekalahannya. Berita menyerahnya Jepang kepada sekutu     cepat tersiar ke seluruh dunia. Tetapi bagi daerah pendudukan Jepang     sengaja diperlambat pemberitaannya. Karena Jepang takut akan adanya     perlawanan besar rakyat terhadap Jepang. Tetapi akhimya Jakarta pun tahu     pula tentang menyerahnya Jepang. Hal ini diketahui dari Kantor  Berita    Jepang Domei yang selalu menerima berita dari Tokyo.

Sudah menjadi pembicaraan umum bahwa Jepang telah menyerah kepada     sekutu. Suasana Jakarta tambah hangat, secara beranting dari mulut ke     mulut tersiar bahwa Indonesia akan merdeka dan terdengar pula berita     adanya Proklamasi, ini tidak akan lama lagi. Hal ini diketahui hanya     oleh bangsa Indonesia saja, dan dirahasiakan sekali terutama kepada     orang Jepang.

Sebab dengan kejadian tersebut Jepang merasa terpukul oleh Sekutu.     Setelah itu diadakan perundingan antara pemerintah Jepang dan pemimpin     bangsa Indonesia terutama Soekarno- Hatta. Kemudian dibentuk Panitia     Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Tugasnya melaksanakan Kemerdekaan     Indonesia dan mensahkan Rencana Undang-undang Dasar yang disusun oleh     BPUPKI.

Pagi itu Jum'at keadaannya sangat cerah. Dimana sekelompok pejuang     Indonesia dengan hati tegang dan berdebar sedang menantikan sesuatu  yang    sangat penting dan bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari itu   tepatnya   tanggal 17 Agustus 1945 kurang lebih pukul 10.00 di   Pegangsaan Timur  56  akan dibacakan teks Proklamasi Kemerdekaan   Indonesia oleh Soekarno -   Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Sebagai wartawan foto Alex mengetahui adanya rencana Proklamasi dari     Zahrudi, temannya yang bekerja di Domei. Alex tahu betul bahwa akan     terjadi peristiwa bersejarah yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.     Oleh karena itu keesokan harinya pagi-pagi sekali Alex Mendur  bergegas    ke Pegangsaan Timur 56. Pada waktu itu Alex rumahnya di  jalan Batu  Tulis   42. Dengan mengendap-endap bersama adiknya, dengan  sembunyi-  sembunyi   pula mereka menenteng kamera, agar tidak ketahuan  oleh  tentara Jepang.

Alex Mendur sebagai Kepala Bagian Foto Domei bersama adiknya Frans     Soemarto Mendur yang bekerja sebagai wartawan foto pada Harian Asia  Raya    pergi ke Pegangsaan Timur. Di sana sudah banyak orang, sambil   menunggu   upacara dimulai kakak beradik itu mempersiapkan kamera. Pada   waktu itu   yang memotret hanya ada dua orang, Alex dan Frans saja.   Keduanya   mengabadikan peristiwa penting bagi Bangsa Indonesia dengan   kamera merk   &quot;Leica.&quot;

Setelah tugas di Pegangsaan selesai, Alex cepat-cepat pulang kembali     ke kantornya. Di sana langsung memproses filmnya. Betapa kecewanya   Alex   saat itu karena film yang sedang dikeringkan itu, hilang lenyap.    Temyata  Jepang telah merampas film tentang proklamasi itu. Tetapi    untunglah  adiknya Frans Soemarto Mendur lebih pinter dan cerdik, film    yang ia bawa  itu tidak segera diproses, tetapi disembunyikan dengan    cara menanam  atau mengubur film itu dalam tanah di halaman rumahnya dan    baru diproses  setelah keadaan aman.

Hasil liputannya sangat sederhana sekali, bersahaja dan nampaknya     seperti asli dan tidak dibuat-buat, namun kini justru terasa abadi     penampilannya. Tampak di sana Latief Hendraningrat bekas daidancho Peta     sedang menggerek bendera merah putih di hadapan Soekarno - Hatta, ada     Fatmawati berkerudung sebagai ciri khasnya. ltu semua terjadi pada     tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56.

Siapapun orangnya yang meng- abadikannya saat bersejarah itu jasanya      memang tak pantas dilupakan dalam memberikan sumbangan atas      keberhasilannya saat meliput sasaran bersejarah terasa begitu besar dan      mengandung nilai yang sangat tinggi. Mereka tidak menyangka bahwa    hasil   liputannya kelak akan dilihat oleh jutaan pasang mata dan    menghias   ratusan buku sejarah untuk mengingatkan kita sebagai generasi    penerus,   bahwa kejadian masa lalu itu memang ada dan patut dihargai    dan kita   boleh bangga akan hasilnya.

Tapi sayang karya yang dihasilkan dengan harga tak ternilai oleh      kakak beradik itu jarang dicatat orang. Barangkali tidak banyak orang      sempat bertanya siapa yang mengabadikan detik- detik bersejarah itu,      sebagai karya jumalistik terbesar bangsa Indonesia.

Pada waktu itu pekerjaan potret memotret adalah lapangan pekerjaan      yang langka, dan patut disayangkan seperti yang diungkapkan oleh Alex,      bahwa banyak sekali negatif-negatif film peristiwa sekitar  proklamasi     hilang. Tidak tahu siapa yang mengambilnya. Jadi hanya  beberapa saja     yang sempat aman di bagian Arsip Departemen Penerangan  dan Arsip     Nasional.

Sejak saat itulah kakak beradik itu memutuskan untuk tetap bekerja di      bidang foto dan mengabadikan peristiwa-peristiwa penting tentang      perjalanan hidup bangsa Indonesia, terutama meliput tentang perjuangan      republik, dan pengalaman itu ternyata titik awal yang baru bagi      kehidupan Alex dan adiknya Frans, meski sebelum itu mereka sudah tidak      asing dengan dunia potret memotret.

Alex banyak menghasilkan karya foto jurnalistik. Salah satu foto      monumental lain karya Alex adalah foto pidato Bung Tomo yang berapi-api      di Mojokerto tahun 1945. Foto monumental lain karya Frans Mendur    adalah   foto Soekarno yang menjemput Panglima Besar Jendral Soedirman    pulang   dari perang gerilya di Jogja, 10 Juli 1949.



Setelah setahun Indonesia merdeka, tepatnya 2 Oktober 1946, Alex dan      Frans, &amp;ldquo;Mendur besaudara&amp;rdquo; bersama Justus dan Frans &amp;lsquo;Nyong' Umbas,       &amp;ldquo;Umbas bersaudara&amp;rdquo;, juga Alex Mamusung, Oscar Ganda, dan Malvin  Jacob,     mereka kemudian mendirikan Indonesia Press Photo Service  (IPPHOS).     Mereka adalah pemuda-pemuda Minahasa yang tergabung di  KRIS (Kebaktian     Rakyat Indonesia Sulawesi). IPPHOS berkantor di  Jalan Hayam Wuruk  Nomor    30, Jakarta.

Piet Mendur, keponakan Alex dan Frans, generasi terakhir di IPPHOS,      bergabung bersama mereka di awal tahun 1950-an. Saat itu usianya baru    17   tahun. Piet dipanggil ke Jakarta untuk menjadi wartawan di  IPPHOS     tempat Alex dan Frans bekerja.

IPPHOS punya peran penting di masa revolusi. Para fotografer handal      asal Minahasa ini mengabadikan peristiwa-peristiwa penting di masa      transisi itu. Yudhi Soerjoatmodjo, seorang fotografer dan kurator      pemeran foto mengatakan, IPPHOS adalah revolusioner!

&quot;Yang revolusioner dari IPPHOS bukan cuma pilihan mereka untuk      berjuang membela republik, tapi cara mereka memperlihatkan hidup dengan      mata dan hati yang terbuka lebar,&quot; kata Yudhi pada Temu Wicara  IPPHOS     Remastered Ivaa, Yogyakarta, 7 Maret 2014.

Menurut Yudhi, sikap revolusioner IPPHOS adalah perjuangan demi kemanusiaan dan kebenaran serta toleransi.

&quot;Tapi yang paling revolusioner dari IPPHOS adalah bagaimana mereka      mengguratkan cita-cita tentang Indonesia dan manusia Indonesia yang      cerdas, moderen dan inklusif dalam karya-karyanya yang berjuang bukan      cuma atas nama kemerdekaan dan keadilan bagi dirinya sendiri namun  juga     demi kemanusiaan, kebenaran, dan toleransi terhadap semua  manusia,&quot;    kata  Yudhi.

Yudhi menunjukkan bagaimana sikap revolusioner &amp;ldquo;tole-tole&amp;rdquo; Minahasa      ini di IPPHOS. Alex, kata Yudhi, adalah seorang profesional &amp;ldquo;      mencampakkan segala kenyamanan yang bisa ia capai sebagai pegawai      Belanda demi membela sebuah republik kere.&amp;rdquo; Frans,  &amp;lsquo;si pelarian politik      membangun ketrampilan melawan penjajah justru dengan bekerja untuk      penjajah. Justus Umbas, seorang akuntan serius,  &amp;ldquo;yang diam-diam   seorang    aktivis yang ditakuti Belanda. Dan &amp;ldquo;Nyong&amp;rdquo; Umbas yang melawan   Belanda    dengan menjadikan Belanda kawannya.&quot;

Sampai akhir hayat, para &amp;lsquo;revolusioner&amp;rsquo; ini tetap konsisten pada      idealisme jurnalisme. Mereka tetap independen. Tidak memilih menjadi      pegawai negeri pada Kementerian Penerangan RI, meski peluang itu sangat      terbuka lebar. IPPHOS tetap independen, di kala kesempatan bagi   Mendur    Bersaudara terbuka luas untuk meraup lebih banyak uang dengan   bekerja    untuk media asing.


</description><content:encoded>SEJAK kecil, Alexius Impurung Mendur senang dengan pelajaran Ilmu Bumi. Alex tertarik mengenai peta-peta bumi dan kepulauan yang ada di Indonesia, terutama sekali tanah Jawa. Hasrat pemuda kelahiran 7 November 1907 di Desa Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara itu sangat besar untuk bisa merantau ke tanah Jawa.

Anak pertama dari 11 bersaudara ini sejak tamat pada Volkschool Gouvernement (sekarang namanya Sekolah Dasar sampai kelas 5) pada tahun 1918 tidak lagi melanjutkan karena ayah Alex tidak mampu untuk membiayai kehidupan keluarganya.

Sejak itu Alex Mendur berpikir jalan apa yang harus ditempuh untuk dapat meringankan beban orang tuanya. Karena sebagai anak laki-laki paling tua, ia mempunyai tanggung jawab pula terhadap kehidupan adik- adiknya.

Sampai tiba masa dewasa, Alex bersikeras mencari jalan lagi supaya tidak memberatkan beban keluarganya. Dalam keadaan bingung untuk mencari jalan keluar Alex mendengar kabar bahwa ada saudaranya dari tanah Jawa pulang ke Kawangkoan.

Mendengar berita itu Alex gembira sekali. Hasrat yang dipendamnya sejak kecil kembali menggelora. Alex ingin pergi ke tanah Jawa bersama saudaranya itu.



Saudara Alex bernama Anton Nayoan berasal dari Desa Tondegesan masih termasuk Kecamatan Kawangkoan bekerja sebagai karyawan pada perusahaan Belanda yang menjual alat-alat dan bahan-bahan keperluan dan perlengkapan fotografi. Melihat Alex mempunyai kemauan keras dan bakat yang tinggi yaitu ingin maju, Anton bersedia mengajak Alex ikut bersamanya mengembara ke tanah Jawa.

Sekira tahun 1922, dalam usia yang masih muda, 15 tahun, berangkatlah Alex bersama Anton. Di tanah Jawa, untuk pertama kalinya Alex mengenal dunia foto, karena Anton bekerja pada perusahaan Belanda yang membuka usaha dalam bidang fotografi. Alex diperkenalkan pada fotografi dan disuruh menekuni bidang teknologi yang masih baru pada waktu itu.

Pengetahuan yang Alex dapatkan dari Anton merupakan modal bagi kehidupan selanjutnya, memang benar dari fotografilah Alex hidup. Alex belajar fotografi mulai dari bawah, mulai dari mencuci film, mengeringkan, sampai siap jadi, dikerjakannya dengan sabar. Karena menurut Alex apabila seseorang mulai belajar dari bawah, maka ia dengan cepat akan menguasai kamera.

Belajar fotografi selama 6 tahun membuat Alex menguasai dan kian mahir. Karena sudah lama tinggal bersama Anton, Alex ingin sekali mempraktekkan hasil belajar fotografinya. Walaupun sambil belajar fotografi dan membantu Anton Nayoan bekerja, Alex juga mendapat penghasilan dari tempat Anton bekerja itu. Alex belajar fotografi sambil bekerja di perusahaan Belanda yang menjual alat-alat fotografi itu sampai tahun 1926.

Kemudian Alex bekerja pada perusahaan fotografi milik Inggris di  Bandung. Tidak lama di Bandung pindah lagi ke Jakarta. Di Jakarta Alex  mendapat tawaran bekerja di perusahaan Jerman, yaitu Kodak di Jakarta  juga menjual alat-alat fotografi. Saat kembali ke Jakarta inilah Alex  berkenalan dengan keluarga Wowor orang Manado juga yang sudah lama  tinggal di Jakarta.

Keluarga Wowor ini mempunyai seorang anak perempuan Emmy Agustina  Wowor yang kelak menjadi Istrinya. Mereka menikah pada tahun 1929. Dari  pernikahan mereka lahirlah dua orang anak, satu perempuan, Meity Mendur  dan satunya lagi Iaki-laki yang diberi nama Lexi Rudolf Mendur.

Pada waktu itu Alex juga bekerja pada majalah Actueel Wereld Nieuws  En Sport In Beeld sebagai fotografer, sekira 1931-1934. Majalah Sport in  Bed ini juga terbitan harian de Java Bode. Pada waktu itu surat kabar  tersebut dianggap terkenal karena terbit di Batavia dari abad ke-19  sampai dengan Perang Dunia ll. Pada usia 25 tahun tepatnya pada tahun  1932 Alex Mendur diterima bekerja pada harian De Java Bode sebagai  wartawan foto.

Pada waktu itu di Jakarta juru potret hanya sedikit, hanya tiga  orang, yaitu dua orang Belanda dan Alex Mendur sendiri. Bersamaan dengan  diterimanya Alex bekerja, istrinya melahirkan seorang bayi mungil  laki-laki pada tanggal 24 Maret 1932 dan diberi nama Lexi Rudolf Mendur.



Alex Mendur bekerja di De Java Bode tidak lama, hanya tiga tahun,  1932 -1935. Tapi selama bekerja di De Java Bode banyak pengalaman yang  tidak dapat dilupakan dan merupakan kenangan tersendiri baginya. Alex  ingat betul sewaktu mengabadikan meletusnya Gunung Merapi tahun 1933 di  dekat Wonosobo, Jawa Tengah. Alex dengan kameranya memasuki daerah  berbahaya agar dapat mengambil sasaran lebih dekat.

Tetapi pemerintah Belanda pada waktu itu sudah membuat peraturan  keras &quot;Barang siapa memasuki daerah berbahaya akan ditembak.&quot; Untunglah  tentara yang menjaga daerah berbahaya itu orang Manado. Setelah Alex  berbicara dengan tentara yang senapannya sudah siap itu, akhirnya Alex  lolos dari peraturan itu.

&quot;Besoknya foto-foto yang diabadikan Alex betul-betul menjadi pusat  pembicaraan karena hasilnya bagus, setelah dimuat dalam harian De Java  Bode,&quot; tulis Wiwik Kuswiah dalam Alexius Impurung Mendur (1986:17).

Pengalaman lain yang dialami Alex, yakni pada waktu diundang untuk   ikut dalam rombongan Gubernur Jenderal De Jonge ke Indonesia Timur. la   banyak mengabadikan peristiwa- peristiwa penting. Gubernur Jenderal   ingin segera melihat hasilnya, maka di kapal De Reggel dibuatlah kamar   gelap.

Dalam keadaan serba darurat hasil foto-foto tersebut cukuplah di   contact print saja, kamera film yang dipergunakan hanya berukuran 9 x 12   cm. Pada waktu itu Alex masih mempergunakan kamera yang sederhana  yaitu  kamera &quot;Contesa Nette&quot; tidak dilengkapi Range Finder (penemu  jarak).  Sehingga untuk menentukan jarak cukup dikira-kira saja.

Di De Java Bode, Alex juga sempat mendidik adiknya, Frans Soemarto   Mendur menjadi juru potret pula. Sehingga dikemudian hari frans Soemarto   Mendur lebih terkenal dalam mengabadikan detik-detik Proklamasi dan   peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari pada kakaknya.

Frans orangnya pandai bergaul, tanpa pergaulan susah untuk   mendapatkan hasil yang bagus. Oleh karena itu Frans memanfaatkan   pergaulannya itu untuk mencari koneksi dengan tokoh-tokoh pergerakan   pada waktu itu.

Karena Frans Soemarto Mendur pandai bergaul, maka Frans dimata para   pejabat penting dapat dipercaya, dan sebagai petugas pers Nasional ia   selalu menjunjung tinggi kode etik wartawan dengan sebaik-baiknya. Pada   zaman Belanda juru potret dihargai. Mereka diberi semacam tanda atau   press pending oleh polisi sehingga juru potret itu bisa bebas pergi   kemana saja.

Alex pernah mengabadikan suatu peristiwa yang lucu yaitu ketika   seorang tentara Belanda akan memberi hormat dengan pedangnya, begitu   pedangnya akan dicabut macet. Dia marah- marah kepada ajudannya,   ternyata pedangnya karatan. Kejadian tersebut sempat diabadikan Alex.   Dan Alex tahu betul hal mana adegan yang mengandung nilai berita.



Ada hal yang menarik lagi sewaktu kunjungan Gubernur Jawa Timur ke   Madura. Saat memberikan penghormatan, Gubernur mengangkat topinya tapi   pada waktu memakainya kembali topinya terbalik. Alex tahu betul itu   menarik. Tapi sayang Alex berdiri sejajar dengan Gubernur sehingga tidak   sempat mengabadikannya.

Tiga tahun bekerja di De Java Bode, setelah kelahiran anaknya yang   kedua Meity Mendur pada tanggal 2 Januari 1934 Alex Mendur pindah   bekerja di perusahaan pelayaran Belanda KPM (Koninklijke   Paketvaart-Maatschappij ). Masa inilah bagi Alex dirasakan yang paling   bahagia. Karena kepandaiannya sebagai fotografer, yang hanya tamatan   Sekolah Rakyat, Alex bisa diterima bekerja. Soalnya untuk bisa bekerja   di KPM minimal harus lulusan Mulo.

Hal ini bisa dilakukan karena Alex telah berkenalan sebelumnya dan   sudah menjadi teman dekat dengan Presiden Direktur KPM Meneer Evert. Di   KPM Alex ditempatkan pada bagian publikasi dan reklame. Gajinya sebulan   85 gulden, cukup besar.

&quot;Bayangkan harga beras pada waktu itu hanya 8 sen/liter, rokok selalu   kalengan karena harganya hanya 6.3 sen. Dan dari gajinya itu Alex   Mendur bisa mencicil mobil. Karena harga mobil pada waktu itu 300   gulden. Dengan gaji yang cukup besar itulah Alex bisa merasakan hidup   tenang untuk membiayai dua orang anak dan istrinya. Ya kehidupan   keluarga Alex pada waktu itu berkecukupan,&quot; kata Alex sebagaimana   dikutip dari tulisan Wiwik Kuswiah dalam Alexius Impurung Mendur   (1986:19).

Hingga tibalah masa awal penjajahan Jepang yang membuat kehidupan    Alex Mendur dan keluarganya mengalami masa suram. Jepang masuk ke    Indonesia untuk pertama kalinya melalui Tarakan, Kalimantan Timur pada    tanggal 11 Januari 1942.

Selanjutnya Jepang dapat menguasai Balikpapan pada tanggal 24 Januari    1942. Dengan direbutnya Balikpapan Jepang berhasil menguasai sumber    minyak yang paling penting bagi Jepang karena sangat diperlukan sekali    bahan bakar bagi keperluan misinya.

Dengan caranya seperti gurita, Jepang dapat menduduki Pontianak pada    tanggal 29 Januari 1942, menyusul pada tanggal 3 - 5 Februari 1942  kota   Samarinda dan lapangan terbang Samarinda dapat dikuasai. Tujuan  Jepang   terakhir di Kalimantan adalah merebut Banjarmasin yakni pada  tanggal  10  Februari 1942.

Dalam penyerbuannya ke Jawa, Pasukan Jepang berhasil melawan Belanda    dan pada tanggal 1 Maret 1942 tentara keenam belas Jepang mendarat di    tiga tempat, pertama di Teluk Banten, di Eretan Wetan (Jawa Barat) dan    di Jawa Tengah, Kragan. Pada tanggal 5 Maret 1942 mendarat di Batavia    (Jakarta).

Dengan masuknya Jepang di Jakarta maka Jakarta pada waktu itu sebagai    kota terbuka, karena pihak Belanda tidak akan mempertahankannya. Maka    kehidupan masyarakat pun berubah setelah Jepang masuk Jakarta. Semua    kantor-kantor, pelabuhan dan tempat- tempat yang penting lainnya  diambil   alih oleh Jepang.



Alex kemudian ditunjuk oleh pemerintah Jepang menjadi kepala bagian    fotografi kantor berita &quot;Domei.&quot; Disinilah persahabatan Alex dengan  Adam   Malik terjalin. Keduanya akrab dimana Adam Malik pada waktu itu  juga   bekerja sebagai kepala bagian berita Indonesia di kantor berita  &quot;Domei.&quot;

Pada waktu itu, keduanya sama-sama hidup serba kekurangan, sehingga    untuk mencari penghasilan tambahan Alex dan Adam Malik bekerja sama    dengan berdagang jam tangan dan kamera. Pekerjaan tambahan ini cukup    menyenangkan bagi keduanya, karena Jepang menyenangi dan ingin memiliki    kamera &quot;Leica&quot; maupun jam tangan &quot;Mido.&quot;

Kalau pasaran lagi sepi, Alex Mendur dan Adam Malik sering ke luar    malam naik becak keliling Jakarta tidak tentu arah dan tujuan. Selama    dalam perjalanan itu yang dibicarakan hanya tentang kamera dan jam    tangan saja. Dari Adam juga Alex banyak mengetahui tentang perkembangan    Jakarta.

''Bahkan apa yang pernah dibicarakan oleh Jepang itu tidak benar    hanya membohongi rakyat,&quot; kata Adam Malik kepada Alex sebagaimana    ditulis Wiwik Kuswiah dalam Alexius Impurung Mendur (1986:20).

Sebab pada waktu itu Jepang sering memberitakan kemenangan Jepang,    padahal sebaliknya Jepang dalam keadaan menderita kekalahan. Disatu    pihak Jepang sudah semakin terdesak oleh sekutu, dilain pihak Jepang    sebaliknya malahan melakukan penekanan terhadap rakyat Indonesia, dimana    dengan keluarnya peraturan gaji dalam tahun 1943 sangat rendah    dibandingkan pada jaman Belanda.

Serikat buruh dibubarkan oleh Jepang, rakyat merasakan sekali     kejamnya Kempetai/Polisi sehingga timbul perlawanan kaum buruh terhadap     Jepang dengan bermacam-macam cara seperti memboroskan bahan-bahan dan     alat-alat, malas bekerja, memperlambat jalannya kereta api. Hal ini     mereka lakukan bersama-sama masinis, juru tulis, penjaga gudang dan     lain-lain.

Baik rakyat miskin, para pelajar, kaum intelektual maupun para     mahasiswa semua nerusaha menghindarkan diri dari bermacam-macam     pendidikan yang diberikan oleh Jepang. Pelajar- pelajar tidak mau     dicukur gundul. Tetapi semuanya tidak bisa berbuat apa-apa selain     menurut. Karena apabila seseorang menolak Kempetailah yang bicara dengan     pukulan-pukulan. Dan mau tidak mau para pelajar harus masuk   pendidikan   militer.

Semua ini dilakukan Jepang untuk memperkuat tentaranya dalam melawan     sekutu, termasuk Alex Mendur, ia masuk Barisan Pelopor. Alex menjadi     Barisan Pelopor tidak lama karena kemudian ditunjuk menjadi  fotografer    dan menjadi Kepala bagian fotografer pada kantor berita  Domei.



Ketika bom atom dijatuhkan sekutu di kota Hirosima dan Nagasaki,     Jepang menerima kekalahannya. Berita menyerahnya Jepang kepada sekutu     cepat tersiar ke seluruh dunia. Tetapi bagi daerah pendudukan Jepang     sengaja diperlambat pemberitaannya. Karena Jepang takut akan adanya     perlawanan besar rakyat terhadap Jepang. Tetapi akhimya Jakarta pun tahu     pula tentang menyerahnya Jepang. Hal ini diketahui dari Kantor  Berita    Jepang Domei yang selalu menerima berita dari Tokyo.

Sudah menjadi pembicaraan umum bahwa Jepang telah menyerah kepada     sekutu. Suasana Jakarta tambah hangat, secara beranting dari mulut ke     mulut tersiar bahwa Indonesia akan merdeka dan terdengar pula berita     adanya Proklamasi, ini tidak akan lama lagi. Hal ini diketahui hanya     oleh bangsa Indonesia saja, dan dirahasiakan sekali terutama kepada     orang Jepang.

Sebab dengan kejadian tersebut Jepang merasa terpukul oleh Sekutu.     Setelah itu diadakan perundingan antara pemerintah Jepang dan pemimpin     bangsa Indonesia terutama Soekarno- Hatta. Kemudian dibentuk Panitia     Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Tugasnya melaksanakan Kemerdekaan     Indonesia dan mensahkan Rencana Undang-undang Dasar yang disusun oleh     BPUPKI.

Pagi itu Jum'at keadaannya sangat cerah. Dimana sekelompok pejuang     Indonesia dengan hati tegang dan berdebar sedang menantikan sesuatu  yang    sangat penting dan bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari itu   tepatnya   tanggal 17 Agustus 1945 kurang lebih pukul 10.00 di   Pegangsaan Timur  56  akan dibacakan teks Proklamasi Kemerdekaan   Indonesia oleh Soekarno -   Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Sebagai wartawan foto Alex mengetahui adanya rencana Proklamasi dari     Zahrudi, temannya yang bekerja di Domei. Alex tahu betul bahwa akan     terjadi peristiwa bersejarah yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.     Oleh karena itu keesokan harinya pagi-pagi sekali Alex Mendur  bergegas    ke Pegangsaan Timur 56. Pada waktu itu Alex rumahnya di  jalan Batu  Tulis   42. Dengan mengendap-endap bersama adiknya, dengan  sembunyi-  sembunyi   pula mereka menenteng kamera, agar tidak ketahuan  oleh  tentara Jepang.

Alex Mendur sebagai Kepala Bagian Foto Domei bersama adiknya Frans     Soemarto Mendur yang bekerja sebagai wartawan foto pada Harian Asia  Raya    pergi ke Pegangsaan Timur. Di sana sudah banyak orang, sambil   menunggu   upacara dimulai kakak beradik itu mempersiapkan kamera. Pada   waktu itu   yang memotret hanya ada dua orang, Alex dan Frans saja.   Keduanya   mengabadikan peristiwa penting bagi Bangsa Indonesia dengan   kamera merk   &quot;Leica.&quot;

Setelah tugas di Pegangsaan selesai, Alex cepat-cepat pulang kembali     ke kantornya. Di sana langsung memproses filmnya. Betapa kecewanya   Alex   saat itu karena film yang sedang dikeringkan itu, hilang lenyap.    Temyata  Jepang telah merampas film tentang proklamasi itu. Tetapi    untunglah  adiknya Frans Soemarto Mendur lebih pinter dan cerdik, film    yang ia bawa  itu tidak segera diproses, tetapi disembunyikan dengan    cara menanam  atau mengubur film itu dalam tanah di halaman rumahnya dan    baru diproses  setelah keadaan aman.

Hasil liputannya sangat sederhana sekali, bersahaja dan nampaknya     seperti asli dan tidak dibuat-buat, namun kini justru terasa abadi     penampilannya. Tampak di sana Latief Hendraningrat bekas daidancho Peta     sedang menggerek bendera merah putih di hadapan Soekarno - Hatta, ada     Fatmawati berkerudung sebagai ciri khasnya. ltu semua terjadi pada     tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56.

Siapapun orangnya yang meng- abadikannya saat bersejarah itu jasanya      memang tak pantas dilupakan dalam memberikan sumbangan atas      keberhasilannya saat meliput sasaran bersejarah terasa begitu besar dan      mengandung nilai yang sangat tinggi. Mereka tidak menyangka bahwa    hasil   liputannya kelak akan dilihat oleh jutaan pasang mata dan    menghias   ratusan buku sejarah untuk mengingatkan kita sebagai generasi    penerus,   bahwa kejadian masa lalu itu memang ada dan patut dihargai    dan kita   boleh bangga akan hasilnya.

Tapi sayang karya yang dihasilkan dengan harga tak ternilai oleh      kakak beradik itu jarang dicatat orang. Barangkali tidak banyak orang      sempat bertanya siapa yang mengabadikan detik- detik bersejarah itu,      sebagai karya jumalistik terbesar bangsa Indonesia.

Pada waktu itu pekerjaan potret memotret adalah lapangan pekerjaan      yang langka, dan patut disayangkan seperti yang diungkapkan oleh Alex,      bahwa banyak sekali negatif-negatif film peristiwa sekitar  proklamasi     hilang. Tidak tahu siapa yang mengambilnya. Jadi hanya  beberapa saja     yang sempat aman di bagian Arsip Departemen Penerangan  dan Arsip     Nasional.

Sejak saat itulah kakak beradik itu memutuskan untuk tetap bekerja di      bidang foto dan mengabadikan peristiwa-peristiwa penting tentang      perjalanan hidup bangsa Indonesia, terutama meliput tentang perjuangan      republik, dan pengalaman itu ternyata titik awal yang baru bagi      kehidupan Alex dan adiknya Frans, meski sebelum itu mereka sudah tidak      asing dengan dunia potret memotret.

Alex banyak menghasilkan karya foto jurnalistik. Salah satu foto      monumental lain karya Alex adalah foto pidato Bung Tomo yang berapi-api      di Mojokerto tahun 1945. Foto monumental lain karya Frans Mendur    adalah   foto Soekarno yang menjemput Panglima Besar Jendral Soedirman    pulang   dari perang gerilya di Jogja, 10 Juli 1949.



Setelah setahun Indonesia merdeka, tepatnya 2 Oktober 1946, Alex dan      Frans, &amp;ldquo;Mendur besaudara&amp;rdquo; bersama Justus dan Frans &amp;lsquo;Nyong' Umbas,       &amp;ldquo;Umbas bersaudara&amp;rdquo;, juga Alex Mamusung, Oscar Ganda, dan Malvin  Jacob,     mereka kemudian mendirikan Indonesia Press Photo Service  (IPPHOS).     Mereka adalah pemuda-pemuda Minahasa yang tergabung di  KRIS (Kebaktian     Rakyat Indonesia Sulawesi). IPPHOS berkantor di  Jalan Hayam Wuruk  Nomor    30, Jakarta.

Piet Mendur, keponakan Alex dan Frans, generasi terakhir di IPPHOS,      bergabung bersama mereka di awal tahun 1950-an. Saat itu usianya baru    17   tahun. Piet dipanggil ke Jakarta untuk menjadi wartawan di  IPPHOS     tempat Alex dan Frans bekerja.

IPPHOS punya peran penting di masa revolusi. Para fotografer handal      asal Minahasa ini mengabadikan peristiwa-peristiwa penting di masa      transisi itu. Yudhi Soerjoatmodjo, seorang fotografer dan kurator      pemeran foto mengatakan, IPPHOS adalah revolusioner!

&quot;Yang revolusioner dari IPPHOS bukan cuma pilihan mereka untuk      berjuang membela republik, tapi cara mereka memperlihatkan hidup dengan      mata dan hati yang terbuka lebar,&quot; kata Yudhi pada Temu Wicara  IPPHOS     Remastered Ivaa, Yogyakarta, 7 Maret 2014.

Menurut Yudhi, sikap revolusioner IPPHOS adalah perjuangan demi kemanusiaan dan kebenaran serta toleransi.

&quot;Tapi yang paling revolusioner dari IPPHOS adalah bagaimana mereka      mengguratkan cita-cita tentang Indonesia dan manusia Indonesia yang      cerdas, moderen dan inklusif dalam karya-karyanya yang berjuang bukan      cuma atas nama kemerdekaan dan keadilan bagi dirinya sendiri namun  juga     demi kemanusiaan, kebenaran, dan toleransi terhadap semua  manusia,&quot;    kata  Yudhi.

Yudhi menunjukkan bagaimana sikap revolusioner &amp;ldquo;tole-tole&amp;rdquo; Minahasa      ini di IPPHOS. Alex, kata Yudhi, adalah seorang profesional &amp;ldquo;      mencampakkan segala kenyamanan yang bisa ia capai sebagai pegawai      Belanda demi membela sebuah republik kere.&amp;rdquo; Frans,  &amp;lsquo;si pelarian politik      membangun ketrampilan melawan penjajah justru dengan bekerja untuk      penjajah. Justus Umbas, seorang akuntan serius,  &amp;ldquo;yang diam-diam   seorang    aktivis yang ditakuti Belanda. Dan &amp;ldquo;Nyong&amp;rdquo; Umbas yang melawan   Belanda    dengan menjadikan Belanda kawannya.&quot;

Sampai akhir hayat, para &amp;lsquo;revolusioner&amp;rsquo; ini tetap konsisten pada      idealisme jurnalisme. Mereka tetap independen. Tidak memilih menjadi      pegawai negeri pada Kementerian Penerangan RI, meski peluang itu sangat      terbuka lebar. IPPHOS tetap independen, di kala kesempatan bagi   Mendur    Bersaudara terbuka luas untuk meraup lebih banyak uang dengan   bekerja    untuk media asing.


</content:encoded></item></channel></rss>
