<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PKPU Pilkada 2020 dan Pesan untuk Golkar</title><description>Alih-alih merespons dan menyosialisasikan pesan KPU ke semua DPD, elite DPP Golkar malah lebih memilih sibuk dengan kegiatan menutup diri.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/26/337/2096693/pkpu-pilkada-2020-dan-pesan-untuk-golkar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/26/337/2096693/pkpu-pilkada-2020-dan-pesan-untuk-golkar"/><item><title>PKPU Pilkada 2020 dan Pesan untuk Golkar</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/26/337/2096693/pkpu-pilkada-2020-dan-pesan-untuk-golkar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/26/337/2096693/pkpu-pilkada-2020-dan-pesan-untuk-golkar</guid><pubDate>Senin 26 Agustus 2019 14:18 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/26/337/2096693/pkpu-pilkada-2020-dan-pesan-untuk-golkar-DhkNyn2rcC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bambang Soesatyo. (Foto : Dok Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/26/337/2096693/pkpu-pilkada-2020-dan-pesan-untuk-golkar-DhkNyn2rcC.jpg</image><title>Bambang Soesatyo. (Foto : Dok Okezone.com)</title></images><description>KOMISI Pemilihan Umum (KPU) telah memberi pesan sangat jelas kepada semua pihak yang berkepentingan dengan pelaksanaan Pilkada 2020. Tentu saja pesan KPU itu juga dialamatkan kepada semua partai politik (parpol), termasuk Partai Golongan Karya (Golkar). Belum ada yang tahu bagaimana DPP Partai Golkar menanggapi pesan KPU itu.

Sebagai parpol yang dipastikan menjadi peserta pemilihan umum tingkat daerah, Golkar seharusnya memang segera merespons pesan KPU tentang persiapan dan tahap-tahap yang harus dilalui menuju penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Sayang, alih-alih merespons dan menyosialisasikan pesan itu kepada semua dewan pimpinan daerah (DPD), elite DPP Golkar malah lebih memilih sibuk dengan kegiatan menutup diri. Tak tanggung-tanggung, pengamanan lingkungan kantor DPP Golkar ditingkatkan statusnya menjadi ekstra ketat, plus penambahan sekumpulan oknum preman yang dimanfaatkan untuk menakut-nakuti siapa saja yang dicurigai atau tidak disukai orang-orang di DPP Golkar.



Sungguh, oleh segelintir orang di DPP Golkar, lingkungan kantor itu telah diperlakukan layaknya basis sindikat preman yang sedang tegang dan takut menunggu serangan lawan. Padahal, sama sekali tidak ada kegentingan yang memaksa sehingga kantor DPP Golkar harus mendapatkan pengamanan ekstra ketat seperti itu, apalagi sampai melibatkan sekumpulan oknum preman. DPP Golkar telah mengambil langkah-langkah yang berpotensi merusak citra Partai Golkar.

Kini, telah muncul kesan bahwa dorongan dari kader agar pimpinan Golkar melaksanakan sejumlah agenda partai yang mendesak, seperti rapat pleno, ditanggapi sikap panik atau rasa takut. Panik dan rasa takut itulah yang diduga mendorong beberapa orang di DPP membisiki ketua umum untuk mengambil langkah memperketat pengamanan lingkungan kantor Golkar. Faktanya, tidak ada ancaman apa pun terhadap DPP Golkar dan para elitenya. Pengamanan ketat itu justru menumbuhkan kesan Golkar dekat atau terbiasa dengan aksi kekerasan atau tindak anarkis. Memberlakukan pembatasan akses seperti itu juga mencerminkan kegagalan atau ketidakmampuan DPP Golkar berkomunikasi dengan semua elemen partai. Padahal, segala sesuatunya dipastikan berjalan dengan baik jika DPP Golkar terbuka dan komunikatif dengan semua elemen Partai Golkar.


Pemberitaan tentang pengamanan ekstra ketat di kantor DPP Partai,   yang kemudian disusul kasus pelemparan bom molotov oleh orang tidak  dikenal pada Rabu, 21 Agustus 2019 dini hari, membuat semua kader Golkar  sangat prihatin. Situasi yang tidak produktif ini tak boleh  berlarut-larut. Untuk itu, Ketua Umum DPP Partai Golkar diharapkan  bersikap bijaksana, dan memerintahkan orang-orang kepercayaannya segera  menormalisasi suasana di lingkungaan kantor DPP Golkar. Lingkungan  kantor DPP Golkar harus kondusif. Tidak ada ancaman dari mana pun,  sehingga pengamanan DPP yang ekstra ketat sama sekali tidak diperlukan.  DPP tetap harus menjadi ruang terbuka bagi kader yang ingin  berkomunikasi dengan pimpinan Golkar.

Sebab, DPP Partai Golkar pada akhirnya harus melihat dan memilih  kepentingan yang lebih besar dan strategis untuk partai dan juga negara.  Mau tak mau, Golkar kini sudah harus berancang-ancang untuk menghadapi  Pilkada 2020 yang pelaksanaannya dijadwalkan pada 23 September 2020.  Rencana kerja DPP dan DPD Golkar terkait Pilkada 2020 itu idealnya mulai  disusun sejak sekarang, karena aktivitas awal menuju Pilkada dimaksud  akan dimulai pada akhir September 2019 nanti.



Tanggapi Aspirasi DPD

Dengan begitu, ada alasan yang sangat strategis jika banyak kader  mendesak DPP Golkar segera menyelenggarakan rapat pleno. Jangan takut  bahwa rapat pleno akan dimanfaatkan forum untuk hanya membahas jadwal  musyawarah nasional (munas). Jauh lebih penting adalah memanfaatkan  rapat pleno itu untuk bersama semua DPD Golkar menatap Pilkada 2020,  menetapkan target dan merumuskan strategi untuk mewujudkan target  bersama itu.

Bagi semua parpol, kerja politik sejatinya sudah dimulai, setelah KPU  mengumumkan bahwa Peraturan Komisi Pemilihan Umum ( PKPU) Nomor 15  Tahun 2019 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Pilkada 2020, telah  selesai diundangkan pada 9 Agustus 2019. KPU mengumumkan perkembangan  ini pada Rabu, 21 Agustus 2019. Bagi peserta pemilu, termasuk Golkar,  PKPU ini menjadi acuan tahapan pencalonan, kampanye dan pemutakhiran  data pemilih. Bersamaan dengan diundangkannya PKPU yang sama, semua  daerah penyelenggara Pilkada pun didorong untuk mulai melakukan  persiapan awal.

KPU pun berpesan agar semua pihak terkait mempelajari dan menjalankan  PKPU tersebut dengan benar. &quot;Saya berharap, semua pihak bisa  mempelajari, mencermati, kemudian menjalankannya sesuai dengan tahapan  tepat waktu,&quot; kata Ketua KPU Arief Budiman. Pesan ini tentu saja juga  dialamatkan kepada Partai Golkar dan semua Parpol yang akan mengikuti  Pilkada 2020. Pilkada 2020 diselenggarakan di 270 wilayah, meliputi  sembilan provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota.


Kendati syarat minimal dukungan bagi calon perseorangan akan   ditetapkan pada 26 Oktober 2019, calon perseorangan mendapat waktu cukup   longgar. Setiap calon perseorangan bisa mengumpulkan bukti dukungan   berupa KTP mulai sekarang. Juga ditetapkan bahwa masa kampanye selama 81   hari, mulai 11 Juli hingga 19 September. Beberapa ketentuan ini   diumumkan terbuka untuk mendorong semua pihak yang berkepentingan untuk   segera melakukan kerja politik. Golkar pun idealnya segera menanggapi   PKPU No 15/2019 itu dengan serangkaian persiapan internal yang relevan.

Pesan KPU dengan semua rincian agenda Pilkada 2020 sudah sangat   jelas. Maka, Partai Golkar hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu yang   tersedia. Strategi buying time yang dipraktikkan DPP Golkar untuk   menunda-nunda rapat pleno justru akan menyebabkan kerugian besar bagi   partai. Perilaku seperti ini pun menjadi tampak sangat tidak etis jika   mengacu pada asumsi bahwa semua DPD sangat mengharapkan   keputusan-keputusan strategis DPP Golkar segera diterbitkan untuk   menyongsong Pilkada 2020.

Dari DPP, semua DPD tentu ingin tahu target, strategi, persoalan   logistik hingga sosok atau figur-figur yang akan dicalon sebagai bakal   calon (balon) gubernur, balon wali kota, dan balon bupati. Apakah DPP   Golkar punya balon? Atau DPD diberi kebebasan untuk menjaring balon? Tak   sekadar dibahas di forum pleno Golkar, pertanyaan atau masalah seperti   ini harus intensif dibahas oleh DPP dan DPD. Karena itu, harus ada   komunikasi antara DPP dengan semua DPD. Itulah pentingnya DPP Golkar   harus segera membuka diri dan jangan lagi menutup rapat-rapat gerbang   kantor DPP di Slipi itu.

Akhirnya, para elite DPP Golkar di Jakarta harus menyadari bahwa   segera setelah terbitnya PKPU No 15/2019 itu, daerah kini sedang   menunggu pesan atau instruksi dari DPP. Cobalah untuk mendengarkan serta   menanggapi aspirasi DPD dengan tidak membiarkan DPD berlama-lama   menunggu. Sebagai parpol besar, DPP Golkar harus profesional dan   responsif. Jangan lagi berperilaku amatiran. Idealnya, DPP Golkar sudah   bisa mendorong dan menantang semua DPD segera membentuk the winning  team karena Golkar berambisi meraih kemenangan besar di Pilkada 2020  nanti.

oleh
Bambang Soesatyo, Wakil Koordinator Bidang Pratama DPP Partai Golkar   2017-2019, Wakil Ketua Umum MPN Pemuda Pancasila, serta Kepala Badan   Bela Negara FKPPI.</description><content:encoded>KOMISI Pemilihan Umum (KPU) telah memberi pesan sangat jelas kepada semua pihak yang berkepentingan dengan pelaksanaan Pilkada 2020. Tentu saja pesan KPU itu juga dialamatkan kepada semua partai politik (parpol), termasuk Partai Golongan Karya (Golkar). Belum ada yang tahu bagaimana DPP Partai Golkar menanggapi pesan KPU itu.

Sebagai parpol yang dipastikan menjadi peserta pemilihan umum tingkat daerah, Golkar seharusnya memang segera merespons pesan KPU tentang persiapan dan tahap-tahap yang harus dilalui menuju penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Sayang, alih-alih merespons dan menyosialisasikan pesan itu kepada semua dewan pimpinan daerah (DPD), elite DPP Golkar malah lebih memilih sibuk dengan kegiatan menutup diri. Tak tanggung-tanggung, pengamanan lingkungan kantor DPP Golkar ditingkatkan statusnya menjadi ekstra ketat, plus penambahan sekumpulan oknum preman yang dimanfaatkan untuk menakut-nakuti siapa saja yang dicurigai atau tidak disukai orang-orang di DPP Golkar.



Sungguh, oleh segelintir orang di DPP Golkar, lingkungan kantor itu telah diperlakukan layaknya basis sindikat preman yang sedang tegang dan takut menunggu serangan lawan. Padahal, sama sekali tidak ada kegentingan yang memaksa sehingga kantor DPP Golkar harus mendapatkan pengamanan ekstra ketat seperti itu, apalagi sampai melibatkan sekumpulan oknum preman. DPP Golkar telah mengambil langkah-langkah yang berpotensi merusak citra Partai Golkar.

Kini, telah muncul kesan bahwa dorongan dari kader agar pimpinan Golkar melaksanakan sejumlah agenda partai yang mendesak, seperti rapat pleno, ditanggapi sikap panik atau rasa takut. Panik dan rasa takut itulah yang diduga mendorong beberapa orang di DPP membisiki ketua umum untuk mengambil langkah memperketat pengamanan lingkungan kantor Golkar. Faktanya, tidak ada ancaman apa pun terhadap DPP Golkar dan para elitenya. Pengamanan ketat itu justru menumbuhkan kesan Golkar dekat atau terbiasa dengan aksi kekerasan atau tindak anarkis. Memberlakukan pembatasan akses seperti itu juga mencerminkan kegagalan atau ketidakmampuan DPP Golkar berkomunikasi dengan semua elemen partai. Padahal, segala sesuatunya dipastikan berjalan dengan baik jika DPP Golkar terbuka dan komunikatif dengan semua elemen Partai Golkar.


Pemberitaan tentang pengamanan ekstra ketat di kantor DPP Partai,   yang kemudian disusul kasus pelemparan bom molotov oleh orang tidak  dikenal pada Rabu, 21 Agustus 2019 dini hari, membuat semua kader Golkar  sangat prihatin. Situasi yang tidak produktif ini tak boleh  berlarut-larut. Untuk itu, Ketua Umum DPP Partai Golkar diharapkan  bersikap bijaksana, dan memerintahkan orang-orang kepercayaannya segera  menormalisasi suasana di lingkungaan kantor DPP Golkar. Lingkungan  kantor DPP Golkar harus kondusif. Tidak ada ancaman dari mana pun,  sehingga pengamanan DPP yang ekstra ketat sama sekali tidak diperlukan.  DPP tetap harus menjadi ruang terbuka bagi kader yang ingin  berkomunikasi dengan pimpinan Golkar.

Sebab, DPP Partai Golkar pada akhirnya harus melihat dan memilih  kepentingan yang lebih besar dan strategis untuk partai dan juga negara.  Mau tak mau, Golkar kini sudah harus berancang-ancang untuk menghadapi  Pilkada 2020 yang pelaksanaannya dijadwalkan pada 23 September 2020.  Rencana kerja DPP dan DPD Golkar terkait Pilkada 2020 itu idealnya mulai  disusun sejak sekarang, karena aktivitas awal menuju Pilkada dimaksud  akan dimulai pada akhir September 2019 nanti.



Tanggapi Aspirasi DPD

Dengan begitu, ada alasan yang sangat strategis jika banyak kader  mendesak DPP Golkar segera menyelenggarakan rapat pleno. Jangan takut  bahwa rapat pleno akan dimanfaatkan forum untuk hanya membahas jadwal  musyawarah nasional (munas). Jauh lebih penting adalah memanfaatkan  rapat pleno itu untuk bersama semua DPD Golkar menatap Pilkada 2020,  menetapkan target dan merumuskan strategi untuk mewujudkan target  bersama itu.

Bagi semua parpol, kerja politik sejatinya sudah dimulai, setelah KPU  mengumumkan bahwa Peraturan Komisi Pemilihan Umum ( PKPU) Nomor 15  Tahun 2019 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Pilkada 2020, telah  selesai diundangkan pada 9 Agustus 2019. KPU mengumumkan perkembangan  ini pada Rabu, 21 Agustus 2019. Bagi peserta pemilu, termasuk Golkar,  PKPU ini menjadi acuan tahapan pencalonan, kampanye dan pemutakhiran  data pemilih. Bersamaan dengan diundangkannya PKPU yang sama, semua  daerah penyelenggara Pilkada pun didorong untuk mulai melakukan  persiapan awal.

KPU pun berpesan agar semua pihak terkait mempelajari dan menjalankan  PKPU tersebut dengan benar. &quot;Saya berharap, semua pihak bisa  mempelajari, mencermati, kemudian menjalankannya sesuai dengan tahapan  tepat waktu,&quot; kata Ketua KPU Arief Budiman. Pesan ini tentu saja juga  dialamatkan kepada Partai Golkar dan semua Parpol yang akan mengikuti  Pilkada 2020. Pilkada 2020 diselenggarakan di 270 wilayah, meliputi  sembilan provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota.


Kendati syarat minimal dukungan bagi calon perseorangan akan   ditetapkan pada 26 Oktober 2019, calon perseorangan mendapat waktu cukup   longgar. Setiap calon perseorangan bisa mengumpulkan bukti dukungan   berupa KTP mulai sekarang. Juga ditetapkan bahwa masa kampanye selama 81   hari, mulai 11 Juli hingga 19 September. Beberapa ketentuan ini   diumumkan terbuka untuk mendorong semua pihak yang berkepentingan untuk   segera melakukan kerja politik. Golkar pun idealnya segera menanggapi   PKPU No 15/2019 itu dengan serangkaian persiapan internal yang relevan.

Pesan KPU dengan semua rincian agenda Pilkada 2020 sudah sangat   jelas. Maka, Partai Golkar hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu yang   tersedia. Strategi buying time yang dipraktikkan DPP Golkar untuk   menunda-nunda rapat pleno justru akan menyebabkan kerugian besar bagi   partai. Perilaku seperti ini pun menjadi tampak sangat tidak etis jika   mengacu pada asumsi bahwa semua DPD sangat mengharapkan   keputusan-keputusan strategis DPP Golkar segera diterbitkan untuk   menyongsong Pilkada 2020.

Dari DPP, semua DPD tentu ingin tahu target, strategi, persoalan   logistik hingga sosok atau figur-figur yang akan dicalon sebagai bakal   calon (balon) gubernur, balon wali kota, dan balon bupati. Apakah DPP   Golkar punya balon? Atau DPD diberi kebebasan untuk menjaring balon? Tak   sekadar dibahas di forum pleno Golkar, pertanyaan atau masalah seperti   ini harus intensif dibahas oleh DPP dan DPD. Karena itu, harus ada   komunikasi antara DPP dengan semua DPD. Itulah pentingnya DPP Golkar   harus segera membuka diri dan jangan lagi menutup rapat-rapat gerbang   kantor DPP di Slipi itu.

Akhirnya, para elite DPP Golkar di Jakarta harus menyadari bahwa   segera setelah terbitnya PKPU No 15/2019 itu, daerah kini sedang   menunggu pesan atau instruksi dari DPP. Cobalah untuk mendengarkan serta   menanggapi aspirasi DPD dengan tidak membiarkan DPD berlama-lama   menunggu. Sebagai parpol besar, DPP Golkar harus profesional dan   responsif. Jangan lagi berperilaku amatiran. Idealnya, DPP Golkar sudah   bisa mendorong dan menantang semua DPD segera membentuk the winning  team karena Golkar berambisi meraih kemenangan besar di Pilkada 2020  nanti.

oleh
Bambang Soesatyo, Wakil Koordinator Bidang Pratama DPP Partai Golkar   2017-2019, Wakil Ketua Umum MPN Pemuda Pancasila, serta Kepala Badan   Bela Negara FKPPI.</content:encoded></item></channel></rss>
