<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kementerian LHK Gelar Konferensi Internasional ke-5 Peneliti Kehutanan Indonesia</title><description>KLHK berharap dalam pengambilan kebijakan berdasarkan hasil penelitian, sehingga kebijakan nanti sesuai dengan kondisi yang ada.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/27/1/2097279/kementerian-lhk-gelar-konferensi-internasional-ke-5-peneliti-kehutanan-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/27/1/2097279/kementerian-lhk-gelar-konferensi-internasional-ke-5-peneliti-kehutanan-indonesia"/><item><title>Kementerian LHK Gelar Konferensi Internasional ke-5 Peneliti Kehutanan Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/27/1/2097279/kementerian-lhk-gelar-konferensi-internasional-ke-5-peneliti-kehutanan-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/27/1/2097279/kementerian-lhk-gelar-konferensi-internasional-ke-5-peneliti-kehutanan-indonesia</guid><pubDate>Selasa 27 Agustus 2019 16:12 WIB</pubDate><dc:creator>Putra Ramadhani Astyawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/27/1/2097279/kementerian-lhk-gelar-konferensi-internasional-ke-5-peneliti-kehutanan-indonesia-E3zjE2EAKo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/27/1/2097279/kementerian-lhk-gelar-konferensi-internasional-ke-5-peneliti-kehutanan-indonesia-E3zjE2EAKo.jpg</image><title>Foto: Okezone</title></images><description>BOGOR - Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar Konferensi Internasional ke-5 Peneliti Kehutanan Indonesia (INAFOR - Indonesia Foresty Researchers) di IICC Botani Square, Kota Bogor, Jawa Barat , Selasa (27/8/2019.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI KLHK), Agus Justianto mengatakan, konferensi ini diselenggarakan untuk membahas masalah-masalah dan tantangan dalam restorasi hutan dan pengelolaan limbah yang dihadiri sekitar 700 peneliti baik dari Indonesia maupun luar negeri.
&quot;Dalam kegiatan ini , kita memang mengundang banyak pihak termasuk pembicara dari luar dan dari stakeholder karena kita ingin hasil penelitian dari inovasi ini menjadi ownereship semua pihak,&quot; kata  Agus Justianto.
Dia menjelaskan, Ada lima tema yang dibahas dalam konferensi ini, yakni mengadopsi bioenergi terbarukan dan pemanfaatan limbah untuk mendukung ekonomi sirkular dan lingkungan, solusi inovatif untuk mengelola hutan tropis dan pelestarian keanekaragaman hayati, menerjemahkan ilmu pengetahuan ke dalam kebijakan dan tindakan iklim.
Selanjutnya, tema untuk mengelola sumber daya genetik hutan dalam mengubah lingkungan dan lansekap dan terakhir peran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung peningkatan kualitas lingkungan.
&quot;Kita berharap dalam pengambilan kebijakan berdasarkan hasil penelitian, sehingga kebijakan nanti sesuai dengan kondisi yang ada. Hasil dari konferensi ini juga akan segera kami rekomendasikan kepada pemerintah dan pihak terkait,&quot; jelas Agus.
Di sisi lain, Agus menyebut anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian memang tidak sedikit. Tahun 2020, pihaknya hanya mempunyai setengah dari kebutuhan anggaran sekitar Rp 700 miliar. &quot;Tahun depan dana yang tersedia Rp 393 miliar. Kalau kebutuhan itu sekitar Rp 700 milar,&quot; ucapnya.
Oleh karena itu dia berharap dana abadi yang direncanakan Presiden Joko Widodo untuk keperluan penelitian segera terealisasi agar penelitian dan teknilogi Indonesia tidak ketinggalam dengan negara lain. &quot;Tapi memang tidak seluruhnya kami mengandalkan APBN ya. Kita juga banyak melakukan kerjasama dengan pihak swasta untuk penelitian,&quot; tutupnya. (ADV)</description><content:encoded>BOGOR - Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar Konferensi Internasional ke-5 Peneliti Kehutanan Indonesia (INAFOR - Indonesia Foresty Researchers) di IICC Botani Square, Kota Bogor, Jawa Barat , Selasa (27/8/2019.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI KLHK), Agus Justianto mengatakan, konferensi ini diselenggarakan untuk membahas masalah-masalah dan tantangan dalam restorasi hutan dan pengelolaan limbah yang dihadiri sekitar 700 peneliti baik dari Indonesia maupun luar negeri.
&quot;Dalam kegiatan ini , kita memang mengundang banyak pihak termasuk pembicara dari luar dan dari stakeholder karena kita ingin hasil penelitian dari inovasi ini menjadi ownereship semua pihak,&quot; kata  Agus Justianto.
Dia menjelaskan, Ada lima tema yang dibahas dalam konferensi ini, yakni mengadopsi bioenergi terbarukan dan pemanfaatan limbah untuk mendukung ekonomi sirkular dan lingkungan, solusi inovatif untuk mengelola hutan tropis dan pelestarian keanekaragaman hayati, menerjemahkan ilmu pengetahuan ke dalam kebijakan dan tindakan iklim.
Selanjutnya, tema untuk mengelola sumber daya genetik hutan dalam mengubah lingkungan dan lansekap dan terakhir peran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung peningkatan kualitas lingkungan.
&quot;Kita berharap dalam pengambilan kebijakan berdasarkan hasil penelitian, sehingga kebijakan nanti sesuai dengan kondisi yang ada. Hasil dari konferensi ini juga akan segera kami rekomendasikan kepada pemerintah dan pihak terkait,&quot; jelas Agus.
Di sisi lain, Agus menyebut anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian memang tidak sedikit. Tahun 2020, pihaknya hanya mempunyai setengah dari kebutuhan anggaran sekitar Rp 700 miliar. &quot;Tahun depan dana yang tersedia Rp 393 miliar. Kalau kebutuhan itu sekitar Rp 700 milar,&quot; ucapnya.
Oleh karena itu dia berharap dana abadi yang direncanakan Presiden Joko Widodo untuk keperluan penelitian segera terealisasi agar penelitian dan teknilogi Indonesia tidak ketinggalam dengan negara lain. &quot;Tapi memang tidak seluruhnya kami mengandalkan APBN ya. Kita juga banyak melakukan kerjasama dengan pihak swasta untuk penelitian,&quot; tutupnya. (ADV)</content:encoded></item></channel></rss>
