<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jejak Pengasingan Bung Karno: Jadi Guru Agama hingga Tukang Meubel di Bengkulu</title><description>Presiden pertama Republik Indonesia (RI), Soekarno sempat menginjakkan kaki di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'', Bengkulu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/27/337/2096849/jejak-pengasingan-bung-karno-jadi-guru-agama-hingga-tukang-meubel-di-bengkulu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/27/337/2096849/jejak-pengasingan-bung-karno-jadi-guru-agama-hingga-tukang-meubel-di-bengkulu"/><item><title>Jejak Pengasingan Bung Karno: Jadi Guru Agama hingga Tukang Meubel di Bengkulu</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/27/337/2096849/jejak-pengasingan-bung-karno-jadi-guru-agama-hingga-tukang-meubel-di-bengkulu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/27/337/2096849/jejak-pengasingan-bung-karno-jadi-guru-agama-hingga-tukang-meubel-di-bengkulu</guid><pubDate>Selasa 27 Agustus 2019 07:07 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/26/337/2096849/jejak-pengasingan-bung-karno-jadi-guru-agama-hingga-tukang-meubel-di-bengkulu-6xTIqDPbtR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu (Foto: Okezone.com/Demon Fajri)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/26/337/2096849/jejak-pengasingan-bung-karno-jadi-guru-agama-hingga-tukang-meubel-di-bengkulu-6xTIqDPbtR.jpg</image><title>Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu (Foto: Okezone.com/Demon Fajri)</title></images><description>PRESIDEN pertama Republik Indonesia (RI), Soekarno sempat menginjakkan kaki di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'', Bengkulu. Tidak kurang selama 4 tahun, terhitung sejak 1938 hingga 1942.

Awal kedatangan Bung Karno ke Bengkulu tidak disukai warga setempat. Mereka curiga Bung Karno akan membuat pembaharuan yang tidak diinginkan. Namun, tidak sedikit yang bisa menerima perubahan yang ditawarkan.

Kiprah Bung Karno di Bengkulu ditandai dengan banyaknya perjumpaannya dengan banyak orang. Bekerja di perusahaan meubel milik Oey Tjeng Hien Abdul Karim.

Oey Tjeng Hien merupakan kerabat Bung Karno. Dia salah satu tokoh Tionghoa yang tinggal di Bintuhan Kabupaten Kaur provinsi Bengkulu.



Bung Karno juga aktif menulis di majalah, terlibat sebagai pengurus organisasi Islam Muhammadiyah, menganjurkan perempuan terlibat dan belajar banyak hal termasuk politik, serta mengajak para pemuda berolahraga dan berkesenian.

Bung Karno juga melakukan modernisasi. Mulai dari membuka tabir pemisah laki-laki dan perempuan di masjid dan mushola, mewajibkan para tokoh membawa istri dalam pertemuan di rumahnya.

''Untuk memenuhi kebutuhan hidup Bung Karno sempat membuat meja rias. Hingga saat ini meja rias tersebut masih tersimpan di rumah pengasingan Bung Karno,'' kata pria yang akrab disapa Yanto ini kepada okezone.

Soekarno Dipercaya Menjadi Guru Agama

Lahir dari keluarga pedagang, Oei Tjeng Hein adalah teman  seperjuangan Bung Karno dan Buya Hamka di masa pergerakan kemerdekaan.  Tjeng Hein menyuplai barang-barang kebutuhan Bung Karno dan keluarga  selama di Bengkulu.

Tjeng Hein yang mualaf mengubah namanya menjadi Abdul Karim. Dia  adalah pengurus di Muhammadiyah dibawah Hassan Din, saat itu. Di  kemudian hari dia menjadi anggota DPR, ketua Partai Masyumi Bengkulu dan  pengurus Pusat MUI.

Ketertaringan pengusaha asal Minang Kabau, Sumatera Barat ini dimulai  saat Bung Karno membangun masjid Jamik di tengah kota Bengkulu.



Ketua Muhammadiyah cabang Bengkulu ini makin tertarik, setelah makin  sering berdiskusi tentang agama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia  hingga larut malam.

Melihat Bung karno memiliki ilmu agama Islam yang baik, Hassan Din  memintanya untuk menjadi guru agama di sekolah rendah yang didirikan  Muhammadiyah.

Sejak itu, Hassan Din mendukung anggota Volksraad atau dewan rakyat, blasteran Inggris Betawi ini sejak kecil berbakat pemimpin.

Ayahnya, Tabri Thamrin adalah Wedana di bawah Gubernur Jenderal Johan  Cornelus Van Der Wijck. Dibesarkan di lingkungan betawi, dia tidak  canggung berbaur dengan anak-anak rakyat jelata.

Menjadi anggota Dewan Rakyat, Muhammad Husin Thamrin tetap anti  penjajahan. Tokoh yang keras terhadap berbagai keputusan dan  undang-undang yang dikeluarkan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat  inilah 1948, belanda membentuk negara Federal.

Muhammad Husin Thamrin adalah orang yang paling berjasa menyelamatkan  calon pemimpin bangsa ini dari ancaman kematian akibat malaria di Ende,  Flore, NTT. Hingga menjelang menutup mata, sikap anti kolonial MH  Thamrin semakin keras. Bahkan, Dia dituduh sebagai mata-mata Jepang oleh  Belanda.



Di Bengkulu, putus asa karena pemimpin negara di buang ke perapat,  sebagian besar pimpinan partai dan tokoh masyarakat setuju pembentukan  negara Federal Bengkulu.

Oei Tjeng Hein, tokoh Tionghoa paling berkuasa saat itu menolak dan  mengatakan bahwa pemerintahan Indonesia masih ada, meski para  pemimpinnya di buang. Atas penolakan Oei Tjeng Hien, pembentukan negara  Federal Bengkulu dibatalkan.

Pada tahun 1940-an, Hassan Din berkenalan dengan pengusaha Liem Sioe  Liong dan bersembunyi di rumahnya dari kejaran tentara Belanda.  Perkenalan ini membuat bisnis keduanya semakin lancar.

Saat Liem mendirikan Bank Central Asia tahun 1957, Hassan Din, termasuk salah satu direktur-nya.</description><content:encoded>PRESIDEN pertama Republik Indonesia (RI), Soekarno sempat menginjakkan kaki di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'', Bengkulu. Tidak kurang selama 4 tahun, terhitung sejak 1938 hingga 1942.

Awal kedatangan Bung Karno ke Bengkulu tidak disukai warga setempat. Mereka curiga Bung Karno akan membuat pembaharuan yang tidak diinginkan. Namun, tidak sedikit yang bisa menerima perubahan yang ditawarkan.

Kiprah Bung Karno di Bengkulu ditandai dengan banyaknya perjumpaannya dengan banyak orang. Bekerja di perusahaan meubel milik Oey Tjeng Hien Abdul Karim.

Oey Tjeng Hien merupakan kerabat Bung Karno. Dia salah satu tokoh Tionghoa yang tinggal di Bintuhan Kabupaten Kaur provinsi Bengkulu.



Bung Karno juga aktif menulis di majalah, terlibat sebagai pengurus organisasi Islam Muhammadiyah, menganjurkan perempuan terlibat dan belajar banyak hal termasuk politik, serta mengajak para pemuda berolahraga dan berkesenian.

Bung Karno juga melakukan modernisasi. Mulai dari membuka tabir pemisah laki-laki dan perempuan di masjid dan mushola, mewajibkan para tokoh membawa istri dalam pertemuan di rumahnya.

''Untuk memenuhi kebutuhan hidup Bung Karno sempat membuat meja rias. Hingga saat ini meja rias tersebut masih tersimpan di rumah pengasingan Bung Karno,'' kata pria yang akrab disapa Yanto ini kepada okezone.

Soekarno Dipercaya Menjadi Guru Agama

Lahir dari keluarga pedagang, Oei Tjeng Hein adalah teman  seperjuangan Bung Karno dan Buya Hamka di masa pergerakan kemerdekaan.  Tjeng Hein menyuplai barang-barang kebutuhan Bung Karno dan keluarga  selama di Bengkulu.

Tjeng Hein yang mualaf mengubah namanya menjadi Abdul Karim. Dia  adalah pengurus di Muhammadiyah dibawah Hassan Din, saat itu. Di  kemudian hari dia menjadi anggota DPR, ketua Partai Masyumi Bengkulu dan  pengurus Pusat MUI.

Ketertaringan pengusaha asal Minang Kabau, Sumatera Barat ini dimulai  saat Bung Karno membangun masjid Jamik di tengah kota Bengkulu.



Ketua Muhammadiyah cabang Bengkulu ini makin tertarik, setelah makin  sering berdiskusi tentang agama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia  hingga larut malam.

Melihat Bung karno memiliki ilmu agama Islam yang baik, Hassan Din  memintanya untuk menjadi guru agama di sekolah rendah yang didirikan  Muhammadiyah.

Sejak itu, Hassan Din mendukung anggota Volksraad atau dewan rakyat, blasteran Inggris Betawi ini sejak kecil berbakat pemimpin.

Ayahnya, Tabri Thamrin adalah Wedana di bawah Gubernur Jenderal Johan  Cornelus Van Der Wijck. Dibesarkan di lingkungan betawi, dia tidak  canggung berbaur dengan anak-anak rakyat jelata.

Menjadi anggota Dewan Rakyat, Muhammad Husin Thamrin tetap anti  penjajahan. Tokoh yang keras terhadap berbagai keputusan dan  undang-undang yang dikeluarkan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat  inilah 1948, belanda membentuk negara Federal.

Muhammad Husin Thamrin adalah orang yang paling berjasa menyelamatkan  calon pemimpin bangsa ini dari ancaman kematian akibat malaria di Ende,  Flore, NTT. Hingga menjelang menutup mata, sikap anti kolonial MH  Thamrin semakin keras. Bahkan, Dia dituduh sebagai mata-mata Jepang oleh  Belanda.



Di Bengkulu, putus asa karena pemimpin negara di buang ke perapat,  sebagian besar pimpinan partai dan tokoh masyarakat setuju pembentukan  negara Federal Bengkulu.

Oei Tjeng Hein, tokoh Tionghoa paling berkuasa saat itu menolak dan  mengatakan bahwa pemerintahan Indonesia masih ada, meski para  pemimpinnya di buang. Atas penolakan Oei Tjeng Hien, pembentukan negara  Federal Bengkulu dibatalkan.

Pada tahun 1940-an, Hassan Din berkenalan dengan pengusaha Liem Sioe  Liong dan bersembunyi di rumahnya dari kejaran tentara Belanda.  Perkenalan ini membuat bisnis keduanya semakin lancar.

Saat Liem mendirikan Bank Central Asia tahun 1957, Hassan Din, termasuk salah satu direktur-nya.</content:encoded></item></channel></rss>
