<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Setelah Negosiasi Setengah Abad, AS Beli Kepulauan Virgin dari Denmark</title><description></description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/29/18/2097865/setelah-negosiasi-setengah-abad-as-beli-kepulauan-virgin-dari-denmark</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/29/18/2097865/setelah-negosiasi-setengah-abad-as-beli-kepulauan-virgin-dari-denmark"/><item><title>Setelah Negosiasi Setengah Abad, AS Beli Kepulauan Virgin dari Denmark</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/29/18/2097865/setelah-negosiasi-setengah-abad-as-beli-kepulauan-virgin-dari-denmark</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/29/18/2097865/setelah-negosiasi-setengah-abad-as-beli-kepulauan-virgin-dari-denmark</guid><pubDate>Kamis 29 Agustus 2019 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/28/18/2097865/setelah-negosiasi-setengah-abad-as-beli-kepulauan-virgin-dari-denmark-cZA6TyZ7P3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pulau St. Croix, Kepulauan Virgin AS. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/28/18/2097865/setelah-negosiasi-setengah-abad-as-beli-kepulauan-virgin-dari-denmark-cZA6TyZ7P3.jpg</image><title>Pulau St. Croix, Kepulauan Virgin AS. (Foto: Reuters)</title></images><description>KETERTARIKAN Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membeli Greenland mendapat penolakan dari Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, yang menyebutnya sebagai ide konyol. Namun, Denmark ternyata pernah menjual teritorinya kepada AS di masa lalu, setelah melalui proses negosiasi yang memakan waktu lebih dari 50 tahun.
Setiap 31 Maret, Pulau Saint Thomas, Saint John dan Saint Croix di Kepulauan Virgin AS merayakan &quot;Transfer Day&quot; untuk memperingati penjualan pulau-pulau itu dari Denmark ke AS. Penjualan itu membuat Kepulauan Virgin AS menjadi satu-satunya wilayah, dari lima teritori yang dihuni secara permanen di AS, yang dibeli dari negara lain.
History mencatat bahwa AS dan Denmark melakukan negosiasi atas tiga pulau tersebut selama lebih dari 50 tahun sebelum akhirnya mentransfer kekuasaan pada 1917.
Menurut sejarawan Isaac Dokhan, kedua negara memiliki motivasinya masing-masing untuk melakukan pertukaran itu. Denmark memiliki kesulitan untuk mempertahankan koloninya, sementara AS ingin melakukan perluasan wilayah.
Pada akhirnya, AS akan berhasil menekan Denmark untuk menjual pulau-pulau itu dengan mengancam akan melakukan serangan militer terhadap negara netral selama Perang Dunia I.
Denmark telah menjajah tiga pulau, yang dikenal sebagai Hindia Barat Denmark, pada abad ke-17 dan ke-18. Denmark memaksa orang Afrika yang diperbudak untuk bekerja di perkebunan yang menghasilkan produk seperti gula.

Lukisan perkebunan gula St. Croix sebelum 1900.
Namun, beberapa perubahan besar terjadi pada 1840-an, dengan turunnya harga gula yang membuat pertanian di ketiga pulau itu tidak lagi menguntungkan. Pada 1848, ratusan budak di St. Croix memberontak dan berhasil mendapatkan kemerdekaan mereka, namun, mereka tidak dapat mendapat keuntungan dari lahan pertanian di pulau itu yang kecil dan ketinggalan zaman.
Pada akhir abad ke-19, Denmark merasa semakin mahal untuk mengelola pulau-pulau tersebut. Smeentara di sisi lain, sejak awal Perang Saudara, AS telah melihat kepulauan Virgin sebagai aset ekonomi dan keamanan nasional yang mungkin diakusisi.
Hal itu dikarenakan pejabat AS berpikir pulau-pulau itu dapat membantu mengamankan kepentingan ekonomi AS di Karibia. Tetapi mereka juga khawatir kekuatan asing yang bermusuhan mungkin mengambil kendali wilayah itu terlebih dahulu.
&quot;Selama 1880-an dan 1890-an, kecurigaan diarahkan terutama terhadap  Jerman, yang mengembangkan minat di Amerika Latin,&quot; tulis Dookhan.  &quot;Fakta bahwa perusahaan kapal uap Jerman, Hamburg-America Line,  menggunakan St. Thomas sebagai stasiun pengisian bahan bakar secara  reguler cenderung memperburuk kecurigaan itu.&quot;
Negosiasi pertama antara AS dan Denmark dimulai pada 1865, tahun  berakhirnya Perang Saudara. Menteri Luar Negeri AS, William Henry Seward  sebenarnya menegosiasikan perjanjian dengan Denmark untuk menyerahkan  pulau-pulau itu pada 1867, tetapi Senat menolaknya.

St. Croix. (Foto: Reuters)
Penolakan itu mungkin sebagian disebabkan oleh sentimen  anti-ekspansionis yang muncul setelah Perang Saudara, dan sebagian  karena fakta bahwa Senat marah pada Seward atas dukungannya kepada  Presiden Andrew Johnson selama persidangan pemakzulan.
Negosiasi dimulai lagi pada 1890-an tetapi gagal dengan pecahnya Perang Spanyol-Amerika pada 1898.
Setelah kemenangan dalam Perang Spanyol-Amerika, wilayah AS semakin  luas, begitu juga dengan kepentingan nasionalnya, membuat negara itu  makin tertarik untuk membeli St. Thomas, St. John dan St. Croix untuk  mengamankan rute untuk pembangunan Kanal Panama di masa depan.
Sekali lagi menteri luar negeri AS, kali ini dijabat oleh John Hay,  melakukan negosiasi dengan Denmark. Senat meratifikasi perjanjian itu  pada 1902, tetapi kali ini, parlemen Denmark menolaknya.
Pada 1915, di tengah berkobarnya Perang Dunia I di Eropa dan  kekhawatiran akan kemungkinan pengambilalihan oleh Jerman memotivasi AS  untuk melakukan upaya negosiasi baru bagi kepulauan tersebut. Namun,  para pemimpin Denmark menolak menyerahkan kepulauan berpenduduk  mayoritas kulit hitam itu kepada AS yang memiliki pemisahan rasial.
Marah atas jawaban Denmark, Menteri Luar Negeri AS Robert Lansing  mengancam bahwa jika Denmark tidak menjual pulau-pulau itu, AS mungkin  saja merebut mereka dengan invasi untuk mencegah Jerman menguasainya.Demi mencegah serangan militer AS, Denmark yang merupakan pihak   netral dalam Perang Dunia I, menegosiasikan perjanjian yang   ditandatangani Presiden Wilson pada 16 Januari 1917. Pada 31 Maret 1917,   Denmark secara resmi mengalihkan pemerintahan atas kepulauan tersebut   ke AS dengan harga USD25 juta dalam bentuk koin emas.
Pada 1920, penjabat sementara menteri luar negeri AS menyatakan bahwa   penduduk Kepulauan Virgin atau Virgin Islander memiliki &quot;kebangsaan   Amerika&quot; tetapi bukan &quot;status politik warga negara.&quot; Hal itu berubah   pada 1932 ketika Virgin Islander memenangkan kewarganegaraan AS, tetapi   tidak memiliki hak untuk memilih.
Kepulauan Virgin AS tidak memenangkan hak untuk memilih gubernur   mereka sendiri sampai 1970. Saat ini, warga negara AS di Kepulauan   Virgin AS, serta mereka yang berada di wilayah AS di Puerto Riko, Guam,   Samoa Amerika, dan Kepulauan Mariana Utara, masih tidak dapat memilih   anggotanya ke Kongres atau memilih presiden Amerika Serikat.</description><content:encoded>KETERTARIKAN Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membeli Greenland mendapat penolakan dari Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, yang menyebutnya sebagai ide konyol. Namun, Denmark ternyata pernah menjual teritorinya kepada AS di masa lalu, setelah melalui proses negosiasi yang memakan waktu lebih dari 50 tahun.
Setiap 31 Maret, Pulau Saint Thomas, Saint John dan Saint Croix di Kepulauan Virgin AS merayakan &quot;Transfer Day&quot; untuk memperingati penjualan pulau-pulau itu dari Denmark ke AS. Penjualan itu membuat Kepulauan Virgin AS menjadi satu-satunya wilayah, dari lima teritori yang dihuni secara permanen di AS, yang dibeli dari negara lain.
History mencatat bahwa AS dan Denmark melakukan negosiasi atas tiga pulau tersebut selama lebih dari 50 tahun sebelum akhirnya mentransfer kekuasaan pada 1917.
Menurut sejarawan Isaac Dokhan, kedua negara memiliki motivasinya masing-masing untuk melakukan pertukaran itu. Denmark memiliki kesulitan untuk mempertahankan koloninya, sementara AS ingin melakukan perluasan wilayah.
Pada akhirnya, AS akan berhasil menekan Denmark untuk menjual pulau-pulau itu dengan mengancam akan melakukan serangan militer terhadap negara netral selama Perang Dunia I.
Denmark telah menjajah tiga pulau, yang dikenal sebagai Hindia Barat Denmark, pada abad ke-17 dan ke-18. Denmark memaksa orang Afrika yang diperbudak untuk bekerja di perkebunan yang menghasilkan produk seperti gula.

Lukisan perkebunan gula St. Croix sebelum 1900.
Namun, beberapa perubahan besar terjadi pada 1840-an, dengan turunnya harga gula yang membuat pertanian di ketiga pulau itu tidak lagi menguntungkan. Pada 1848, ratusan budak di St. Croix memberontak dan berhasil mendapatkan kemerdekaan mereka, namun, mereka tidak dapat mendapat keuntungan dari lahan pertanian di pulau itu yang kecil dan ketinggalan zaman.
Pada akhir abad ke-19, Denmark merasa semakin mahal untuk mengelola pulau-pulau tersebut. Smeentara di sisi lain, sejak awal Perang Saudara, AS telah melihat kepulauan Virgin sebagai aset ekonomi dan keamanan nasional yang mungkin diakusisi.
Hal itu dikarenakan pejabat AS berpikir pulau-pulau itu dapat membantu mengamankan kepentingan ekonomi AS di Karibia. Tetapi mereka juga khawatir kekuatan asing yang bermusuhan mungkin mengambil kendali wilayah itu terlebih dahulu.
&quot;Selama 1880-an dan 1890-an, kecurigaan diarahkan terutama terhadap  Jerman, yang mengembangkan minat di Amerika Latin,&quot; tulis Dookhan.  &quot;Fakta bahwa perusahaan kapal uap Jerman, Hamburg-America Line,  menggunakan St. Thomas sebagai stasiun pengisian bahan bakar secara  reguler cenderung memperburuk kecurigaan itu.&quot;
Negosiasi pertama antara AS dan Denmark dimulai pada 1865, tahun  berakhirnya Perang Saudara. Menteri Luar Negeri AS, William Henry Seward  sebenarnya menegosiasikan perjanjian dengan Denmark untuk menyerahkan  pulau-pulau itu pada 1867, tetapi Senat menolaknya.

St. Croix. (Foto: Reuters)
Penolakan itu mungkin sebagian disebabkan oleh sentimen  anti-ekspansionis yang muncul setelah Perang Saudara, dan sebagian  karena fakta bahwa Senat marah pada Seward atas dukungannya kepada  Presiden Andrew Johnson selama persidangan pemakzulan.
Negosiasi dimulai lagi pada 1890-an tetapi gagal dengan pecahnya Perang Spanyol-Amerika pada 1898.
Setelah kemenangan dalam Perang Spanyol-Amerika, wilayah AS semakin  luas, begitu juga dengan kepentingan nasionalnya, membuat negara itu  makin tertarik untuk membeli St. Thomas, St. John dan St. Croix untuk  mengamankan rute untuk pembangunan Kanal Panama di masa depan.
Sekali lagi menteri luar negeri AS, kali ini dijabat oleh John Hay,  melakukan negosiasi dengan Denmark. Senat meratifikasi perjanjian itu  pada 1902, tetapi kali ini, parlemen Denmark menolaknya.
Pada 1915, di tengah berkobarnya Perang Dunia I di Eropa dan  kekhawatiran akan kemungkinan pengambilalihan oleh Jerman memotivasi AS  untuk melakukan upaya negosiasi baru bagi kepulauan tersebut. Namun,  para pemimpin Denmark menolak menyerahkan kepulauan berpenduduk  mayoritas kulit hitam itu kepada AS yang memiliki pemisahan rasial.
Marah atas jawaban Denmark, Menteri Luar Negeri AS Robert Lansing  mengancam bahwa jika Denmark tidak menjual pulau-pulau itu, AS mungkin  saja merebut mereka dengan invasi untuk mencegah Jerman menguasainya.Demi mencegah serangan militer AS, Denmark yang merupakan pihak   netral dalam Perang Dunia I, menegosiasikan perjanjian yang   ditandatangani Presiden Wilson pada 16 Januari 1917. Pada 31 Maret 1917,   Denmark secara resmi mengalihkan pemerintahan atas kepulauan tersebut   ke AS dengan harga USD25 juta dalam bentuk koin emas.
Pada 1920, penjabat sementara menteri luar negeri AS menyatakan bahwa   penduduk Kepulauan Virgin atau Virgin Islander memiliki &quot;kebangsaan   Amerika&quot; tetapi bukan &quot;status politik warga negara.&quot; Hal itu berubah   pada 1932 ketika Virgin Islander memenangkan kewarganegaraan AS, tetapi   tidak memiliki hak untuk memilih.
Kepulauan Virgin AS tidak memenangkan hak untuk memilih gubernur   mereka sendiri sampai 1970. Saat ini, warga negara AS di Kepulauan   Virgin AS, serta mereka yang berada di wilayah AS di Puerto Riko, Guam,   Samoa Amerika, dan Kepulauan Mariana Utara, masih tidak dapat memilih   anggotanya ke Kongres atau memilih presiden Amerika Serikat.</content:encoded></item></channel></rss>
