<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pendekatan Sosio-Kultural, Upaya Meredam Bara di Tanah Papua</title><description>Bumi Cenderawasih tengah membara dua pekan terakhir ini.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/31/337/2099100/pendekatan-sosio-kultural-upaya-meredam-bara-di-tanah-papua</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/08/31/337/2099100/pendekatan-sosio-kultural-upaya-meredam-bara-di-tanah-papua"/><item><title>Pendekatan Sosio-Kultural, Upaya Meredam Bara di Tanah Papua</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/08/31/337/2099100/pendekatan-sosio-kultural-upaya-meredam-bara-di-tanah-papua</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/08/31/337/2099100/pendekatan-sosio-kultural-upaya-meredam-bara-di-tanah-papua</guid><pubDate>Sabtu 31 Agustus 2019 22:36 WIB</pubDate><dc:creator>Opini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/31/337/2099100/pendekatan-sosio-kultural-upaya-meredam-bara-di-tanah-papua-fn3eGAZLCg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/31/337/2099100/pendekatan-sosio-kultural-upaya-meredam-bara-di-tanah-papua-fn3eGAZLCg.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>BUMI Cenderawasih tengah membara dua pekan terakhir ini. Gelombang aksi massa melanda Manokwari, Sorong, Fakfak, Nduga, Timika, Deiyai, Paniai, hingga Jayapura. Unjuk rasa yang sebagian besar berakhir ricuh itu menentang persekusi dan ujaran rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya jelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus lalu.

Insiden yang terjadi di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, yang melibatkan segelintir orang ini harus dibayar mahal. Selain kerugian materi atas rusaknya sejumlah fasilitas umum di berbagai wilayah di Papua, insiden tersebut juga telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Sebagaimana dilansir Kantor Berita Antara, Rabu 28 Agustus, kericuhan di Kabupaten Deiyai telah merenggut tiga korban jiwa yang terdiri dari dua warga sipil dan seorang prajurit TNI AD.

Insiden asrama mahasiwa Papua di Surabaya hanyalah puncak dari gunung es. Tindakan diskriminasi yang menjurus rasisme ini sudah berlangsung sejak lama. Hal ini telah mencederai harkat dan martabat orang Papua yang secara resmi menjadi bagian dari bangsa kita sejak Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969 digelar.

Mahasiswa asal Papua, misalnya, di kota-kota besar di Pulau Jawa kerap ditolak ketika mencari tempat indekos hanya karena berasal dari Papua. Penolakan ini terjadi lantaran adanya stigma negatif dan generalisasi atau stereotype masyarakat terhadap perilaku orang Papua. Ini juga menjadi salah satu sebab mengapa mahasiswa Papua cenderung berkumpul dalam sebuah rumah atau asrama khusus.

Angka Kemiskinan



Papua adalah wilayah dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan kearifan lokal yang luar biasa. Akan tetapi, Papua sampai saat ini masih menjadi salah satu wilayah termiskin di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2019 mencatat Provinsi Papua menjadi wilayah dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia sebanyak 27,53% atau lebih dari seperempat penduduk. Angka ini jauh di atas angka nasional sebesar 9,47%. Bahkan, sebanyak tiga kabupaten, yakni Deiyai, Intan Jaya, dan Lanny Jaya tingkat kemiskinannya di atas 40% dari populasi.

Ekonomi di Provinsi Papua pada kuartal II 2019 tercatat minus 23,98%, jauh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,05%. Provinsi Papua Barat juga mencatat pertumbuhan negatif sebesar 0,5% pada kuartal II 2019, meski lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar -12,83%. Keduanya menjadi yang terendah di antara 34 provinsi di Indonesia.

Data BPS juga mengungkap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua merupakan yang terendah se-Indonesia. IPM adalah indikator bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan yang dihitung dari agregat tiga aspek, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak.

Angka-angka di atas menjadi ironi dan kontradiktif dengan anggaran pemerintah pusat yang mengalir ke Papua dalam bentuk dana Otonomi Khusus pada 2018 sebesar Rp 12,03 triliun atau naik 4,86% dibandingkan tahun sebelumnya. Jika gelontoran triliunan rupiah kepada 4,3 juta penduduk Papua tak pernah menyelesaikan masalah, evaluasi besar-besaran harus segera dilakukan.

Nila Setitik

Tindak persekusi dan rasisme semestinya memang tidak diberikan ruang  di negara kita. Secara gamblang UUD 1945 telah menjamin bahwa setiap  orang berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan,  serta berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan  derajat martabat manusia.

Ibarat nila setitik yang merusak susu sebelanga, insiden asrama Papua  di Surabaya telah menodai upaya Presiden Joko Widodo dalam membangun  dan menyejahterakan Papua. Pembangunan infrastruktur yang masif,  pemberlakuan BBM satu harga, hingga kunjungan rutin Presiden Jokowi ke  tanah Papua seakan tertutupi.

Melihat situasi yang pelik dengan sumber masalah yang telah mengakar  dalam, sudah saatnya pemerintah bersama segenap pihak terkait melakukan  terobosan pendekatan dalam menghadapi isu-isua Papua. Pendekatan  keamanan dalam konteks situasi dan wilayah tertentu masih diperlukan,  mengingat di Papua juga terdapat kelompok separatis bersenjata yang  sedari awal bertujuan memerdekakan diri dari Negara Kesatuan Republik  Indonesia.

Selain proses pengamanan di Papua guna meredakan dan mencegah  kericuhan agar semakin tidak meluas, satu hal yang tak kalah mendesak  adalah proses hukum terhadap para pelaku tindakan diskriminasi dan  rasial di Surabaya.
Dua dari enam orang yang dicekal pihak berwajib telah ditetapkan  menjadi tersangka. Menurut keterangan Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki  Hermawan 30 Agustus, jumlah tersangka masih bisa bertambah. Langkah  aparat kepolisian patut kita apresiasi dan harus terus berlanjut sampai  tuntas.

Pendekatan Sosio-Kultural

Konflik bernuansa SARA dan potensi separatisme di Papua tentu   memerlukan penyelesaian menyeluruh yang melibatkan banyak pemangku   kepentingan. Pendekatan terhadap isu-isu Papua yang selama ini luput   dijalankan secara optimal adalah melalui pendekatan sosio-kultural.

Kita bisa berkaca kepada Gus Dur yang dianggap cukup berhasil   menyentuh hati warga Papua. Padahal saat itu tidak terjadi pembangunan   ekonomi besar-besaran di Papua. Strategi Gus Dur lebih ditikberatkan   pada pendekatan sosio-kultural.

Koentjaraningrat, ilmuwan Indonesia pertama yang melakukan penelitian   budaya di Papua sejak awal menekankan pendekatan sosio-kultural,   mengingat Papua memiliki budaya minoritas dan sejarah kebangsaan yang   berbeda dengan daerah di Indonesia lainnya. Kita perlu menggali kembali   gagasan-gagasan yang dibawa Bapak Antropologi Indonesia itu untuk   memperbaiki hubungan Indonesia dan Papua.

Pendekatan sosio-kultural terbaik adalah melalui dialog antardua   belah pihak. Masyarakat Papua merupakan masyarakat yang menjunjung   tinggi proses percakapan dua arah, di mana peristiwa penting dalam   kehidupan ditentukan secara damai dalam dialog. Suku-suku di Papua   bahkan menentukan proses adat berperang melalui dialog antarsuku,   mengenai kapan perang akan dimulai dan kapan akan dihentikan.

Yang harus diingat, dialog harus mampu mempertahankan   identitas-identitas sosial dan kultural, yang membuka ruang gerak   kultural orang Papua yang lebih besar, sehingga suara-suara yang selama   ini termarjinalkan akan memiliki ruang yang lebih lapang dalam   mengekspresikan identitas kultural mereka yang beraneka warna.

Selain itu, dialog harus mengarah kepada tercapainya proses   rekonsiliasi dan permintaan maaf atas kesalahan di masa lalu oleh   pemerintah maupun masyarakat Papua. Dialog harus mampu merekonstruksi   paradigma mainstream negara untuk tidak melekatkan stigma Papua sebagai   bangsa separatis yang mengusik keutuhan negara.

Membaca dan memahami kultur masyarakat Papua hendaknya dilakukan   secara cermat dan mendalam, karena kebudayaannya yang sangat kaya.   Antropolog Universitas Cendrawasih, Agapitus Dumatubun menyatakan, bahwa   empat zona ekologi di Papua turut mempengaruhi terbentuknya budaya  yang  berbeda. Budaya itu terklasifikasi menjadi lima sebaran wilayah  budaya  dengan empat tipe kepemimpinan masyarakat yang berbeda.

Tidak ada satu formula ajaib yang dapat menyelesaikan gejolak di   Papua secara seketika. Jalan panjang dan berliku harus kita tempuh   bersama. Fokus dan energi pemerintah kini harus diarahkan pada   penyelesaian masalah di Papua.

Di Provinsi Papua dan Papua Barat, Presiden Jokowi telah diberikan   kepercayaan tinggi oleh masyarakat Papua untuk menjalankan periode   ke-dua pemerintahan. Mandat ini tentu menjadi modal paling berharga bagi   Presiden Jokowi untuk dapat diterima dengan baik oleh warga Papua.   Untuk itu, sudah saatnya pemerintah hadir, didasari itikad baik untuk   mengurai dan mencari jalan tengah atas berbagai aspirasi di Bumi   Cenderawasih yang selama ini terabaikan.

Dave Akbarshah Fikarno, M.E
 
Anggota Komisi I DPR RI, Fraksi Partai Golkar</description><content:encoded>BUMI Cenderawasih tengah membara dua pekan terakhir ini. Gelombang aksi massa melanda Manokwari, Sorong, Fakfak, Nduga, Timika, Deiyai, Paniai, hingga Jayapura. Unjuk rasa yang sebagian besar berakhir ricuh itu menentang persekusi dan ujaran rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya jelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus lalu.

Insiden yang terjadi di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, yang melibatkan segelintir orang ini harus dibayar mahal. Selain kerugian materi atas rusaknya sejumlah fasilitas umum di berbagai wilayah di Papua, insiden tersebut juga telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Sebagaimana dilansir Kantor Berita Antara, Rabu 28 Agustus, kericuhan di Kabupaten Deiyai telah merenggut tiga korban jiwa yang terdiri dari dua warga sipil dan seorang prajurit TNI AD.

Insiden asrama mahasiwa Papua di Surabaya hanyalah puncak dari gunung es. Tindakan diskriminasi yang menjurus rasisme ini sudah berlangsung sejak lama. Hal ini telah mencederai harkat dan martabat orang Papua yang secara resmi menjadi bagian dari bangsa kita sejak Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969 digelar.

Mahasiswa asal Papua, misalnya, di kota-kota besar di Pulau Jawa kerap ditolak ketika mencari tempat indekos hanya karena berasal dari Papua. Penolakan ini terjadi lantaran adanya stigma negatif dan generalisasi atau stereotype masyarakat terhadap perilaku orang Papua. Ini juga menjadi salah satu sebab mengapa mahasiswa Papua cenderung berkumpul dalam sebuah rumah atau asrama khusus.

Angka Kemiskinan



Papua adalah wilayah dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan kearifan lokal yang luar biasa. Akan tetapi, Papua sampai saat ini masih menjadi salah satu wilayah termiskin di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2019 mencatat Provinsi Papua menjadi wilayah dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia sebanyak 27,53% atau lebih dari seperempat penduduk. Angka ini jauh di atas angka nasional sebesar 9,47%. Bahkan, sebanyak tiga kabupaten, yakni Deiyai, Intan Jaya, dan Lanny Jaya tingkat kemiskinannya di atas 40% dari populasi.

Ekonomi di Provinsi Papua pada kuartal II 2019 tercatat minus 23,98%, jauh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,05%. Provinsi Papua Barat juga mencatat pertumbuhan negatif sebesar 0,5% pada kuartal II 2019, meski lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar -12,83%. Keduanya menjadi yang terendah di antara 34 provinsi di Indonesia.

Data BPS juga mengungkap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua merupakan yang terendah se-Indonesia. IPM adalah indikator bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan yang dihitung dari agregat tiga aspek, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak.

Angka-angka di atas menjadi ironi dan kontradiktif dengan anggaran pemerintah pusat yang mengalir ke Papua dalam bentuk dana Otonomi Khusus pada 2018 sebesar Rp 12,03 triliun atau naik 4,86% dibandingkan tahun sebelumnya. Jika gelontoran triliunan rupiah kepada 4,3 juta penduduk Papua tak pernah menyelesaikan masalah, evaluasi besar-besaran harus segera dilakukan.

Nila Setitik

Tindak persekusi dan rasisme semestinya memang tidak diberikan ruang  di negara kita. Secara gamblang UUD 1945 telah menjamin bahwa setiap  orang berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan,  serta berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan  derajat martabat manusia.

Ibarat nila setitik yang merusak susu sebelanga, insiden asrama Papua  di Surabaya telah menodai upaya Presiden Joko Widodo dalam membangun  dan menyejahterakan Papua. Pembangunan infrastruktur yang masif,  pemberlakuan BBM satu harga, hingga kunjungan rutin Presiden Jokowi ke  tanah Papua seakan tertutupi.

Melihat situasi yang pelik dengan sumber masalah yang telah mengakar  dalam, sudah saatnya pemerintah bersama segenap pihak terkait melakukan  terobosan pendekatan dalam menghadapi isu-isua Papua. Pendekatan  keamanan dalam konteks situasi dan wilayah tertentu masih diperlukan,  mengingat di Papua juga terdapat kelompok separatis bersenjata yang  sedari awal bertujuan memerdekakan diri dari Negara Kesatuan Republik  Indonesia.

Selain proses pengamanan di Papua guna meredakan dan mencegah  kericuhan agar semakin tidak meluas, satu hal yang tak kalah mendesak  adalah proses hukum terhadap para pelaku tindakan diskriminasi dan  rasial di Surabaya.
Dua dari enam orang yang dicekal pihak berwajib telah ditetapkan  menjadi tersangka. Menurut keterangan Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki  Hermawan 30 Agustus, jumlah tersangka masih bisa bertambah. Langkah  aparat kepolisian patut kita apresiasi dan harus terus berlanjut sampai  tuntas.

Pendekatan Sosio-Kultural

Konflik bernuansa SARA dan potensi separatisme di Papua tentu   memerlukan penyelesaian menyeluruh yang melibatkan banyak pemangku   kepentingan. Pendekatan terhadap isu-isu Papua yang selama ini luput   dijalankan secara optimal adalah melalui pendekatan sosio-kultural.

Kita bisa berkaca kepada Gus Dur yang dianggap cukup berhasil   menyentuh hati warga Papua. Padahal saat itu tidak terjadi pembangunan   ekonomi besar-besaran di Papua. Strategi Gus Dur lebih ditikberatkan   pada pendekatan sosio-kultural.

Koentjaraningrat, ilmuwan Indonesia pertama yang melakukan penelitian   budaya di Papua sejak awal menekankan pendekatan sosio-kultural,   mengingat Papua memiliki budaya minoritas dan sejarah kebangsaan yang   berbeda dengan daerah di Indonesia lainnya. Kita perlu menggali kembali   gagasan-gagasan yang dibawa Bapak Antropologi Indonesia itu untuk   memperbaiki hubungan Indonesia dan Papua.

Pendekatan sosio-kultural terbaik adalah melalui dialog antardua   belah pihak. Masyarakat Papua merupakan masyarakat yang menjunjung   tinggi proses percakapan dua arah, di mana peristiwa penting dalam   kehidupan ditentukan secara damai dalam dialog. Suku-suku di Papua   bahkan menentukan proses adat berperang melalui dialog antarsuku,   mengenai kapan perang akan dimulai dan kapan akan dihentikan.

Yang harus diingat, dialog harus mampu mempertahankan   identitas-identitas sosial dan kultural, yang membuka ruang gerak   kultural orang Papua yang lebih besar, sehingga suara-suara yang selama   ini termarjinalkan akan memiliki ruang yang lebih lapang dalam   mengekspresikan identitas kultural mereka yang beraneka warna.

Selain itu, dialog harus mengarah kepada tercapainya proses   rekonsiliasi dan permintaan maaf atas kesalahan di masa lalu oleh   pemerintah maupun masyarakat Papua. Dialog harus mampu merekonstruksi   paradigma mainstream negara untuk tidak melekatkan stigma Papua sebagai   bangsa separatis yang mengusik keutuhan negara.

Membaca dan memahami kultur masyarakat Papua hendaknya dilakukan   secara cermat dan mendalam, karena kebudayaannya yang sangat kaya.   Antropolog Universitas Cendrawasih, Agapitus Dumatubun menyatakan, bahwa   empat zona ekologi di Papua turut mempengaruhi terbentuknya budaya  yang  berbeda. Budaya itu terklasifikasi menjadi lima sebaran wilayah  budaya  dengan empat tipe kepemimpinan masyarakat yang berbeda.

Tidak ada satu formula ajaib yang dapat menyelesaikan gejolak di   Papua secara seketika. Jalan panjang dan berliku harus kita tempuh   bersama. Fokus dan energi pemerintah kini harus diarahkan pada   penyelesaian masalah di Papua.

Di Provinsi Papua dan Papua Barat, Presiden Jokowi telah diberikan   kepercayaan tinggi oleh masyarakat Papua untuk menjalankan periode   ke-dua pemerintahan. Mandat ini tentu menjadi modal paling berharga bagi   Presiden Jokowi untuk dapat diterima dengan baik oleh warga Papua.   Untuk itu, sudah saatnya pemerintah hadir, didasari itikad baik untuk   mengurai dan mencari jalan tengah atas berbagai aspirasi di Bumi   Cenderawasih yang selama ini terabaikan.

Dave Akbarshah Fikarno, M.E
 
Anggota Komisi I DPR RI, Fraksi Partai Golkar</content:encoded></item></channel></rss>
