<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>150 Hektare Lahan di Kolaka Timur Terbakar, Tim Pemadam Kesulitan Jangkau Titik Api</title><description>Tim pemadam karhutla di Kolaka Timur, Sultra terkendala terbatasnya pompa air dan selang panjang sehingga sulit jangkau titik api.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/01/337/2099197/150-hektare-lahan-di-kolaka-timur-terbakar-tim-pemadam-kesulitan-jangkau-titik-api</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/09/01/337/2099197/150-hektare-lahan-di-kolaka-timur-terbakar-tim-pemadam-kesulitan-jangkau-titik-api"/><item><title>150 Hektare Lahan di Kolaka Timur Terbakar, Tim Pemadam Kesulitan Jangkau Titik Api</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/01/337/2099197/150-hektare-lahan-di-kolaka-timur-terbakar-tim-pemadam-kesulitan-jangkau-titik-api</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/09/01/337/2099197/150-hektare-lahan-di-kolaka-timur-terbakar-tim-pemadam-kesulitan-jangkau-titik-api</guid><pubDate>Minggu 01 September 2019 10:45 WIB</pubDate><dc:creator>Fahreza Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/01/337/2099197/150-hektare-lahan-di-kolaka-timur-terbakar-tim-pemadam-kesulitan-jangkau-titik-api-uXUrKS73m7.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Tim gabungan berupaya memadamkan kebakaran lahan di Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara (Dok BNPB)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/01/337/2099197/150-hektare-lahan-di-kolaka-timur-terbakar-tim-pemadam-kesulitan-jangkau-titik-api-uXUrKS73m7.jpeg</image><title>Tim gabungan berupaya memadamkan kebakaran lahan di Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara (Dok BNPB)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Lahan seluas 150 hektare di Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara terbakar, Sabtu 31 Agustus kemarin. Tim pemadam terhambat menjangkau titik api karena terbatasnya pompa air dan selang yang tersedia kurang panjang.
Pemerintah setempat sudah menetapkan status siaga darurat hingga 11 September 2019 atas kebakaran di area berstatus hak pengelolaan lahan (HPL) itu.
Agus Wibowo, Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam keterangannya tertulis, Minggu (1/9/2019), menyebutkan 150 hektare lahan yang terbakar itu terbagi dalam tiga desa dan dua kecamatan di Kolaka Timur.
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerag (BPBD) Kolaka Timur, kebakaran lahan tersebut merupakan peristiwa yang berulang setiap tahunnya dan terjadi pada musim kemarau.
Sementara itu, berdasarkan koordinasi antara BPBD Kolaka Timur dan BPBD Sulawesi Tenggara, dukungan pemadaman udara menggunakan helikopter bom air (water boombing) belum begitu diperlukan, mengingat wilayah yang terbakar merupakan rawa basah dan diperkirakan cepat padam.
Kebakaran lahan di Kolaka Timur (Dok BNPB)
&amp;ldquo;Oleh sebab itu, masa siaga darurat juga diputuskan berada dalam waktu yang singkat hanya sekitar 11 hari,&amp;rdquo; kata Agus.
Upaya pemadaman sudah dilakukan melalui darat menuju titik api oleh tim gabungan seperti Tim BPBD Kolaka Timur, TNI, Polri, Manggala Agni, instansi terkait yang di bantu oleh masyarakat.
Selain itu, tim pemadaman karhutla juga mendapatkan bantuan berupa pompa air dari dua badan usaha yang bergerak di bidang perkebunan sawit yakni PT. Antam Pomalaa dan PT Sari.
&amp;ldquo;Beberapa hal yang masih menjadi hambatan tim di lapangan dalam proses pemadaman adalah terbatasnya jumlah pompa berikut selangnya yang kurang panjang sehingga tidak mampu menjangkau titik api lebih jauh lagi,&amp;rdquo; ujarnya.
Kendati demikian, BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara telah memobilisasi kekurangan alat pompa pada malam tadi. Selain kurangnya jumlah unit pompa air dan terbatasnya panjang selang, tim juga memerlukan dukungan dana operasional pada tiap posko.
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Lahan seluas 150 hektare di Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara terbakar, Sabtu 31 Agustus kemarin. Tim pemadam terhambat menjangkau titik api karena terbatasnya pompa air dan selang yang tersedia kurang panjang.
Pemerintah setempat sudah menetapkan status siaga darurat hingga 11 September 2019 atas kebakaran di area berstatus hak pengelolaan lahan (HPL) itu.
Agus Wibowo, Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam keterangannya tertulis, Minggu (1/9/2019), menyebutkan 150 hektare lahan yang terbakar itu terbagi dalam tiga desa dan dua kecamatan di Kolaka Timur.
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerag (BPBD) Kolaka Timur, kebakaran lahan tersebut merupakan peristiwa yang berulang setiap tahunnya dan terjadi pada musim kemarau.
Sementara itu, berdasarkan koordinasi antara BPBD Kolaka Timur dan BPBD Sulawesi Tenggara, dukungan pemadaman udara menggunakan helikopter bom air (water boombing) belum begitu diperlukan, mengingat wilayah yang terbakar merupakan rawa basah dan diperkirakan cepat padam.
Kebakaran lahan di Kolaka Timur (Dok BNPB)
&amp;ldquo;Oleh sebab itu, masa siaga darurat juga diputuskan berada dalam waktu yang singkat hanya sekitar 11 hari,&amp;rdquo; kata Agus.
Upaya pemadaman sudah dilakukan melalui darat menuju titik api oleh tim gabungan seperti Tim BPBD Kolaka Timur, TNI, Polri, Manggala Agni, instansi terkait yang di bantu oleh masyarakat.
Selain itu, tim pemadaman karhutla juga mendapatkan bantuan berupa pompa air dari dua badan usaha yang bergerak di bidang perkebunan sawit yakni PT. Antam Pomalaa dan PT Sari.
&amp;ldquo;Beberapa hal yang masih menjadi hambatan tim di lapangan dalam proses pemadaman adalah terbatasnya jumlah pompa berikut selangnya yang kurang panjang sehingga tidak mampu menjangkau titik api lebih jauh lagi,&amp;rdquo; ujarnya.
Kendati demikian, BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara telah memobilisasi kekurangan alat pompa pada malam tadi. Selain kurangnya jumlah unit pompa air dan terbatasnya panjang selang, tim juga memerlukan dukungan dana operasional pada tiap posko.
</content:encoded></item></channel></rss>
