<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Heboh Kabar &quot;Semua Berbau Jawa Hancur&quot; di Jayapura, Bagaimana Faktanya?</title><description>Akun Ida juga menyebut bahwa semua yang berbau Jawa di Jayapura hancur dan mau pergi ke bandara harus menempuh waktu 3 hari lamannya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/03/337/2100173/heboh-kabar-semua-berbau-jawa-hancur-di-jayapura-bagaimana-faktanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/09/03/337/2100173/heboh-kabar-semua-berbau-jawa-hancur-di-jayapura-bagaimana-faktanya"/><item><title>Heboh Kabar &quot;Semua Berbau Jawa Hancur&quot; di Jayapura, Bagaimana Faktanya?</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/03/337/2100173/heboh-kabar-semua-berbau-jawa-hancur-di-jayapura-bagaimana-faktanya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/09/03/337/2100173/heboh-kabar-semua-berbau-jawa-hancur-di-jayapura-bagaimana-faktanya</guid><pubDate>Selasa 03 September 2019 16:49 WIB</pubDate><dc:creator>Ade Putra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/03/337/2100173/heboh-kabar-semua-berbau-jawa-hancur-di-jayapura-bagaimana-faktanya-e8dE7zOdzC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Facebook Ida Stasser Nueu</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/03/337/2100173/heboh-kabar-semua-berbau-jawa-hancur-di-jayapura-bagaimana-faktanya-e8dE7zOdzC.jpg</image><title>Foto: Facebook Ida Stasser Nueu</title></images><description>SEBUAH akun Facebook bernama Ida Strasser Neue membagikan video dengan narasi yang menyebutkan keadaan terakhir Jayapura, Papua setelah kerusuhan yang terjadi disana pada 29 Agustus 2019 lalu.

Akun Ida juga menyebut bahwa semua yang berbau Jawa di Jayapura hancur dan mau pergi ke bandara harus menempuh waktu 3 hari lamannya.

&quot;Video KEADAAN TERAKHIR jayapura ...mau ke BANDARA saja sampai 3 hari dan dikawal MARINIR DIEVAKUASI ...semua yg berbau JAWA HANCUR !!!,&quot; tulis Ida menyertai postingan video itu.

Video yang diposting 1 September 2019 pukul 00.14 itu direkam dari dalam mobil yang sedang melaju. Ada pula suara seorang perempuan yang terekam dalam video itu.

Dalam video berdurasi 46 detik itu, tampak pula bangunan di bagian kanan dan kiri jalan yang terbakar dan hanya tersisa puing-puingnya. &amp;ldquo;Habis semua, astaga! Bea Cukai hancur. Oh, my God. Abis, abis semua,&amp;rdquo; kata perempuan seperti yang terdengar dari dalam video itu.

Kini, postingan Ida sudah dibagikan lebih dari 12 ribu kali per tangkapan layar ini dibuat, Selasa (3/9/2019).

&amp;lt;iframe src=&quot;https://www.facebook.com/plugins/video.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fida.strasser.52%2Fvideos%2F125551322082038%2F&amp;amp;show_text=0&amp;amp;width=560&quot; width=&quot;560&quot; height=&quot;308&quot; style=&quot;border:none;overflow:hidden&quot; scrolling=&quot;no&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowTransparency=&quot;true&quot; allowFullScreen=&quot;true&quot;&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;

Okezone mencoba melakukan penelusuran. Hal yang pertama adalah menyesuaikan visual yang ada dalam video itu apakah benar di Jayapura. Okezone mencoba pengecekan lokasi dengan menggunakan Google Maps, tapi ternyata tidak tersedia street view di Jayapura.

Cara lain dengan mencari foto dan artikel yang memuat pemberitaan tentang Bea Cukai Jayapura. Hasilnya, didapati pemberitaan di media mainstream yang memuat bahwa memang benar ada aksi unjuk rasa yang berujung rusuh di Jayapura membuat Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Jayapura terbakar pada Kamis (29/8/2019) malam.



Akibatnya, aktivitas perkantoran dan pelayanan masyarakat terkait kepabeanan dan cukai di Jayapura terhenti.

Penelusuran lainnya, ditemukan foto-foto kondisi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Jayapura yang rusak parah setelah dimakan api.

Foto itu menampakkan sisi gedung yang hangus terbakar, kain terpal berwarna biru dan dua mobil yang rusak parah. Kondisi ini cocok dengan isi rekaman video yang diposting akun Ida.

Dengan demikian, terkonfirmasi bahwa memang benar ada bangunan yang hancur di Jayapura, tepatnya di Jalan Koti, sesuai alamat Bea Cukai Jayapura.

Pimpinan redaksi satu media online di Papua, Syamsudin Levi, juga  membenarkan bahwa isi video itu memang merupakan suasana Jayapura  setelah kerusuhan pada 29 Agustus 2019. Video diambil di Jalan Koti,  depan Pelabuhan Jayapura.

&amp;ldquo;Mobil itu dari arah pusat Jayapura menuju tanjakan Weref ke arah  Argapura-Hamadi-Entrop dan Abepura,&amp;rdquo; kata Syamsudin Levi kepada salah  satu media tergabung dalam tim cek fakta, 2 September 2019.

Narasi &amp;ldquo;semua yang berbau Jawa hancur&amp;rdquo; juga salah. Syamsudin Levi  mengatakan, bangunan di Jayapura yang dibakar adalah rumah, tempat  usaha, serta perkantoran milik pemerintah dan perusahaan swasta.  Artinya, pembakaran itu tidak terkait dengan salah satu etnis tertentu.



Daeng Ipul, relawan Southeast Asia Freedom of Expression Network  (SAFEnet) yang sedang bertugas di Jayapura pun sempat diwawancarai salah  satu media mainstream yang tergabung dalam tim cek fakta.

Daeng mengatakan, pada saat akun Ida Strasser Neue mengunggah  videonya, dia juga menempuh perjalanan dari Abepura ke Bandara Sentani.  Saat itu, Daeng hendak terbang ke Makassar.

Menurut Daeng, perjalanan dari Abepura ke bandara cukup lancar dan  tanpa dikawal oleh marinir. &amp;ldquo;Jalanan sudah ramai dan warga mulai membuka  toko,&amp;rdquo; katanya.

Daeng menjelaskan jalur ke bandara memang sempat tertutup pada 29  Agustus 2019 saat kerusuhan pecah karena banyak peserta demonstrasi yang  berkumpul di daerah Waena dan Abepura. &amp;ldquo;Tapi itu cuma sebentar, saat  mereka longmarch saja,&amp;rdquo; kata Daeng.



Dikutip dari pemberitaan media mainstream lainnya, perkantoran yang  juga hangus adalah Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP), Kantor Komisi  Pemilihan Umum Papua, Gedung Plaza Telkom, Dinas Komunikasi dan  Informatika Papua, serta Kantor Balai Besar dan Meteorologi,  Klomatologi, dan Geofisika Jayapura. Ada pula kantor diler Suzuki  Entrop, kantor diler Daihatsu, Hotel Horison Kotaraja, Hotel Gran Abe,  dan lainnya.

Syarief Ramaputra, seorang relawan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia  (Mafindo) menegaskan, dari hasil penelusuran tersebut, didapati bahwa  video yang menjelaskan bahwa gedung Bea Cukai di Jayapura, Papua  tepatnya di Jalan Koti memang ludes terbakar.

&quot;Namun narasi yang menyebutkan bahwa perjalanan ke bandara sampai 3  hari dan semua yang berbau Jawa hancur adalah keliru dan masuk dalam  kategori yang menyesatkan,&quot; tegas Syarief dalam ulasan periksa faktanya  di grup FB Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax, Selasa (3/9/2019).
</description><content:encoded>SEBUAH akun Facebook bernama Ida Strasser Neue membagikan video dengan narasi yang menyebutkan keadaan terakhir Jayapura, Papua setelah kerusuhan yang terjadi disana pada 29 Agustus 2019 lalu.

Akun Ida juga menyebut bahwa semua yang berbau Jawa di Jayapura hancur dan mau pergi ke bandara harus menempuh waktu 3 hari lamannya.

&quot;Video KEADAAN TERAKHIR jayapura ...mau ke BANDARA saja sampai 3 hari dan dikawal MARINIR DIEVAKUASI ...semua yg berbau JAWA HANCUR !!!,&quot; tulis Ida menyertai postingan video itu.

Video yang diposting 1 September 2019 pukul 00.14 itu direkam dari dalam mobil yang sedang melaju. Ada pula suara seorang perempuan yang terekam dalam video itu.

Dalam video berdurasi 46 detik itu, tampak pula bangunan di bagian kanan dan kiri jalan yang terbakar dan hanya tersisa puing-puingnya. &amp;ldquo;Habis semua, astaga! Bea Cukai hancur. Oh, my God. Abis, abis semua,&amp;rdquo; kata perempuan seperti yang terdengar dari dalam video itu.

Kini, postingan Ida sudah dibagikan lebih dari 12 ribu kali per tangkapan layar ini dibuat, Selasa (3/9/2019).

&amp;lt;iframe src=&quot;https://www.facebook.com/plugins/video.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fida.strasser.52%2Fvideos%2F125551322082038%2F&amp;amp;show_text=0&amp;amp;width=560&quot; width=&quot;560&quot; height=&quot;308&quot; style=&quot;border:none;overflow:hidden&quot; scrolling=&quot;no&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowTransparency=&quot;true&quot; allowFullScreen=&quot;true&quot;&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;

Okezone mencoba melakukan penelusuran. Hal yang pertama adalah menyesuaikan visual yang ada dalam video itu apakah benar di Jayapura. Okezone mencoba pengecekan lokasi dengan menggunakan Google Maps, tapi ternyata tidak tersedia street view di Jayapura.

Cara lain dengan mencari foto dan artikel yang memuat pemberitaan tentang Bea Cukai Jayapura. Hasilnya, didapati pemberitaan di media mainstream yang memuat bahwa memang benar ada aksi unjuk rasa yang berujung rusuh di Jayapura membuat Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Jayapura terbakar pada Kamis (29/8/2019) malam.



Akibatnya, aktivitas perkantoran dan pelayanan masyarakat terkait kepabeanan dan cukai di Jayapura terhenti.

Penelusuran lainnya, ditemukan foto-foto kondisi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Jayapura yang rusak parah setelah dimakan api.

Foto itu menampakkan sisi gedung yang hangus terbakar, kain terpal berwarna biru dan dua mobil yang rusak parah. Kondisi ini cocok dengan isi rekaman video yang diposting akun Ida.

Dengan demikian, terkonfirmasi bahwa memang benar ada bangunan yang hancur di Jayapura, tepatnya di Jalan Koti, sesuai alamat Bea Cukai Jayapura.

Pimpinan redaksi satu media online di Papua, Syamsudin Levi, juga  membenarkan bahwa isi video itu memang merupakan suasana Jayapura  setelah kerusuhan pada 29 Agustus 2019. Video diambil di Jalan Koti,  depan Pelabuhan Jayapura.

&amp;ldquo;Mobil itu dari arah pusat Jayapura menuju tanjakan Weref ke arah  Argapura-Hamadi-Entrop dan Abepura,&amp;rdquo; kata Syamsudin Levi kepada salah  satu media tergabung dalam tim cek fakta, 2 September 2019.

Narasi &amp;ldquo;semua yang berbau Jawa hancur&amp;rdquo; juga salah. Syamsudin Levi  mengatakan, bangunan di Jayapura yang dibakar adalah rumah, tempat  usaha, serta perkantoran milik pemerintah dan perusahaan swasta.  Artinya, pembakaran itu tidak terkait dengan salah satu etnis tertentu.



Daeng Ipul, relawan Southeast Asia Freedom of Expression Network  (SAFEnet) yang sedang bertugas di Jayapura pun sempat diwawancarai salah  satu media mainstream yang tergabung dalam tim cek fakta.

Daeng mengatakan, pada saat akun Ida Strasser Neue mengunggah  videonya, dia juga menempuh perjalanan dari Abepura ke Bandara Sentani.  Saat itu, Daeng hendak terbang ke Makassar.

Menurut Daeng, perjalanan dari Abepura ke bandara cukup lancar dan  tanpa dikawal oleh marinir. &amp;ldquo;Jalanan sudah ramai dan warga mulai membuka  toko,&amp;rdquo; katanya.

Daeng menjelaskan jalur ke bandara memang sempat tertutup pada 29  Agustus 2019 saat kerusuhan pecah karena banyak peserta demonstrasi yang  berkumpul di daerah Waena dan Abepura. &amp;ldquo;Tapi itu cuma sebentar, saat  mereka longmarch saja,&amp;rdquo; kata Daeng.



Dikutip dari pemberitaan media mainstream lainnya, perkantoran yang  juga hangus adalah Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP), Kantor Komisi  Pemilihan Umum Papua, Gedung Plaza Telkom, Dinas Komunikasi dan  Informatika Papua, serta Kantor Balai Besar dan Meteorologi,  Klomatologi, dan Geofisika Jayapura. Ada pula kantor diler Suzuki  Entrop, kantor diler Daihatsu, Hotel Horison Kotaraja, Hotel Gran Abe,  dan lainnya.

Syarief Ramaputra, seorang relawan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia  (Mafindo) menegaskan, dari hasil penelusuran tersebut, didapati bahwa  video yang menjelaskan bahwa gedung Bea Cukai di Jayapura, Papua  tepatnya di Jalan Koti memang ludes terbakar.

&quot;Namun narasi yang menyebutkan bahwa perjalanan ke bandara sampai 3  hari dan semua yang berbau Jawa hancur adalah keliru dan masuk dalam  kategori yang menyesatkan,&quot; tegas Syarief dalam ulasan periksa faktanya  di grup FB Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax, Selasa (3/9/2019).
</content:encoded></item></channel></rss>
