<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PBB: AS, Inggris, Prancis Mungkin Terlibat dalam Kejahatan Perang di Yaman</title><description>PBB meminta semua negara untuk tidak melakukan transfer senjata ke pihak-pihak yang bertikai di Yaman.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/04/18/2100440/pbb-as-inggris-prancis-mungkin-terlibat-dalam-kejahatan-perang-di-yaman</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/09/04/18/2100440/pbb-as-inggris-prancis-mungkin-terlibat-dalam-kejahatan-perang-di-yaman"/><item><title>PBB: AS, Inggris, Prancis Mungkin Terlibat dalam Kejahatan Perang di Yaman</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/04/18/2100440/pbb-as-inggris-prancis-mungkin-terlibat-dalam-kejahatan-perang-di-yaman</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/09/04/18/2100440/pbb-as-inggris-prancis-mungkin-terlibat-dalam-kejahatan-perang-di-yaman</guid><pubDate>Rabu 04 September 2019 10:31 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/04/18/2100440/pbb-as-inggris-prancis-mungkin-terlibat-dalam-kejahatan-perang-di-yaman-1ABjy9zAPe.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Deretan mayat korban tewas serangan koalisi pimpinan Arab Saudi ke penjara di Yaman, 1 September 2019. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/04/18/2100440/pbb-as-inggris-prancis-mungkin-terlibat-dalam-kejahatan-perang-di-yaman-1ABjy9zAPe.jpg</image><title>Deretan mayat korban tewas serangan koalisi pimpinan Arab Saudi ke penjara di Yaman, 1 September 2019. (Foto: Reuters)</title></images><description>JENEWA &amp;ndash; Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis mungkin terlibat dalam kejahatan perang yang terjadi di Yaman dengan mempersenjatai, memberikan intelijen dan dukungan logistik kepada koalisi pimpinan Arab Saudi yang membuat warga sipil kelaparan sebagai taktik perang. Hal itu disampaikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu.
Penyelidik PBB merekomendasikan bahwa semua negara memberlakukan larangan transfer senjata kepada pihak-pihak yang bertikai di Yaman agar tidak digunakan untuk melakukan pelanggaran serius.
BACA JUGA: Koalisi Saudi Serang Penjara Yaman, Tewaskan Lebih dari 100 Orang
&quot;Jelaslah bahwa pasokan senjata yang terus-menerus kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik sedang melanggengkan konflik dan memperpanjang penderitaan rakyat Yaman,&quot; kata Melissa Parke, seorang ahli di panel independen PBB dalam konferensi pers yang dilansir Reuters, Rabu (4/9/2019).
&quot;Itulah sebabnya kami mendesak negara-negara anggota untuk tidak lagi memasok senjata ke pihak-pihak yang terlibat konflik,&quot; katanya.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, pihak-pihak utama dalam koalisi yang berperang melawan kelompok Houthi yang mengendalikan ibu kota Yaman, adalah dua pembeli terbesar senjata-senjata AS, Inggris, dan Prancis.
Para ahli menyusun daftar rahasia para tersangka penjahat perang. Para penyelidik menemukan potensi kejahatan di kedua sisi, sambil menyoroti peran yang dimainkan negara-negara Barat sebagai pendukung negara-negara Arab dan Iran dalam mendukung Houthi.

Kota Taiz, Yaman dalam kepungan Houthi sejak 2015. (Foto: AFP)
Pimpinan panel, Kamel Jendoubi menolak untuk mengungkapkan rincian daftar tersangka. Dia menambahkan: &quot;Yang pasti adalah bahwa kami telah mengumpulkan cukup fakta dan kesaksian yang cukup yang memungkinkan untuk membawa orang-orang itu ke pengadilan di tahap selanjutnya.&quot;
&quot;Tidak ada tangan yang bersih dalam pertempuran ini, dalam kontes ini,&quot; kata panelis Charles Garraway.
Pimpinan Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) PBB,  Michelle Bachelet, mengatakan daftar itu mengidentifikasi &quot;individu yang mungkin bertanggung jawab atas kejahatan internasional&quot;.
Lampiran daftar itu memuat lebih dari 160 &amp;ldquo;aktor utama&amp;rdquo; di antara pejabat Saudi, UEA dan Yaman serta pejabat Houthi, meskipun disebutkan bahwa daftar itu terpisah dari daftar tersangka.

Laporan itu menuduh koalisi anti-Houthi yang dipimpin oleh Arab Saudi  dan UEA membunuh warga sipil dalam serangan udara dan sengaja memblokir  pasokan makanan mereka di negara yang menghadapi kelaparan. Kelompok  Houthi, juga disorot atas penembakan terhadap kota-kota, mengerahkan  tentara anak-anak dan menggunakan &quot;perang seperti pengepungan&quot;.
BACA JUGA: Kronologi Konflik Yaman hingga Kini 
Baik kantor komunikasi pemerintah Saudi maupun pejabat UEA tidak  segera memberikan tanggapan atas permintaan Reuters untuk memberikan  komentar.
Perang di Yaman bergolak sejak 2015 telah menelan puluhan ribu korban  jiwa dan menyebabkan krisis kelaparan yang parah di negara itu. PBB  menyebutnya sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, di mana 24  juta orang hidup dengan bergantung pada bantuan.</description><content:encoded>JENEWA &amp;ndash; Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis mungkin terlibat dalam kejahatan perang yang terjadi di Yaman dengan mempersenjatai, memberikan intelijen dan dukungan logistik kepada koalisi pimpinan Arab Saudi yang membuat warga sipil kelaparan sebagai taktik perang. Hal itu disampaikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu.
Penyelidik PBB merekomendasikan bahwa semua negara memberlakukan larangan transfer senjata kepada pihak-pihak yang bertikai di Yaman agar tidak digunakan untuk melakukan pelanggaran serius.
BACA JUGA: Koalisi Saudi Serang Penjara Yaman, Tewaskan Lebih dari 100 Orang
&quot;Jelaslah bahwa pasokan senjata yang terus-menerus kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik sedang melanggengkan konflik dan memperpanjang penderitaan rakyat Yaman,&quot; kata Melissa Parke, seorang ahli di panel independen PBB dalam konferensi pers yang dilansir Reuters, Rabu (4/9/2019).
&quot;Itulah sebabnya kami mendesak negara-negara anggota untuk tidak lagi memasok senjata ke pihak-pihak yang terlibat konflik,&quot; katanya.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, pihak-pihak utama dalam koalisi yang berperang melawan kelompok Houthi yang mengendalikan ibu kota Yaman, adalah dua pembeli terbesar senjata-senjata AS, Inggris, dan Prancis.
Para ahli menyusun daftar rahasia para tersangka penjahat perang. Para penyelidik menemukan potensi kejahatan di kedua sisi, sambil menyoroti peran yang dimainkan negara-negara Barat sebagai pendukung negara-negara Arab dan Iran dalam mendukung Houthi.

Kota Taiz, Yaman dalam kepungan Houthi sejak 2015. (Foto: AFP)
Pimpinan panel, Kamel Jendoubi menolak untuk mengungkapkan rincian daftar tersangka. Dia menambahkan: &quot;Yang pasti adalah bahwa kami telah mengumpulkan cukup fakta dan kesaksian yang cukup yang memungkinkan untuk membawa orang-orang itu ke pengadilan di tahap selanjutnya.&quot;
&quot;Tidak ada tangan yang bersih dalam pertempuran ini, dalam kontes ini,&quot; kata panelis Charles Garraway.
Pimpinan Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) PBB,  Michelle Bachelet, mengatakan daftar itu mengidentifikasi &quot;individu yang mungkin bertanggung jawab atas kejahatan internasional&quot;.
Lampiran daftar itu memuat lebih dari 160 &amp;ldquo;aktor utama&amp;rdquo; di antara pejabat Saudi, UEA dan Yaman serta pejabat Houthi, meskipun disebutkan bahwa daftar itu terpisah dari daftar tersangka.

Laporan itu menuduh koalisi anti-Houthi yang dipimpin oleh Arab Saudi  dan UEA membunuh warga sipil dalam serangan udara dan sengaja memblokir  pasokan makanan mereka di negara yang menghadapi kelaparan. Kelompok  Houthi, juga disorot atas penembakan terhadap kota-kota, mengerahkan  tentara anak-anak dan menggunakan &quot;perang seperti pengepungan&quot;.
BACA JUGA: Kronologi Konflik Yaman hingga Kini 
Baik kantor komunikasi pemerintah Saudi maupun pejabat UEA tidak  segera memberikan tanggapan atas permintaan Reuters untuk memberikan  komentar.
Perang di Yaman bergolak sejak 2015 telah menelan puluhan ribu korban  jiwa dan menyebabkan krisis kelaparan yang parah di negara itu. PBB  menyebutnya sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, di mana 24  juta orang hidup dengan bergantung pada bantuan.</content:encoded></item></channel></rss>
