<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Heboh Pengemis Bawa Uang Puluhan Juta dalam Kantong Plastik</title><description>Awalnya petugas menemukan uang Rp27 juta, namun saat ditotal dengan tabungan di Bank total mencapai Rp37 jutaan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/04/512/2100483/heboh-pengemis-bawa-uang-puluhan-juta-dalam-kantong-plastik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/09/04/512/2100483/heboh-pengemis-bawa-uang-puluhan-juta-dalam-kantong-plastik"/><item><title>Heboh Pengemis Bawa Uang Puluhan Juta dalam Kantong Plastik</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/04/512/2100483/heboh-pengemis-bawa-uang-puluhan-juta-dalam-kantong-plastik</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/09/04/512/2100483/heboh-pengemis-bawa-uang-puluhan-juta-dalam-kantong-plastik</guid><pubDate>Rabu 04 September 2019 11:58 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/04/512/2100483/heboh-pengemis-bawa-uang-puluhan-juta-dalam-kantong-plastik-PXPN9mwd9r.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Pengemis (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/04/512/2100483/heboh-pengemis-bawa-uang-puluhan-juta-dalam-kantong-plastik-PXPN9mwd9r.jpg</image><title>Ilustrasi Pengemis (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Seorang pengemis tua bernama Cipto Wiyono Sukijo (74) itu terjaring razia petugas gabungan petugas gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Sosial (Dinsos) Sragen di simpang empat radio umum Cantel Kulon, Sragen Kota, belum lama ini.
Setelah diperiksa, petugas membongkar tas dan kantong plastik milik seorang pengemis asal Sambungmacan itu. Awalnya, petugas menemukan uang Rp27 juta yang disimpan dalam 16 kantong plastik dengan uang kertas pecahan Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000, dan Rp50.000.
&quot;Simbah ini memang tidak menerima uang koin,&quot; celetuk salah satu petugas Satpol PP Sragen saat mengetahui isi plastik itu.

Baca Juga: Viral Pria Didenda Rp30 Juta karena Ganggu Istri Orang
Untuk setiap kantong plastik isinya bervariasi mulai Rp1 juta sampai Rp5 juta. Uang tunai itu ditotal ada Rp12.419.000.
&amp;ldquo;Masih ada tabungan berisi Rp22.000 dan deposito senilai Rp25 juta di BNI. Jadi total uang yang ada dalam tas itu senilai Rp37.441.000. Kami tidak mengira tas kumal itu berisi uang yang cukup fantastis bagi seorang pengemis,&amp;rdquo; ujar Kasi Operasi Pengendalian Gangguan Ketentraman dan Ketertiban Satpol PP Sragen, Sriyono, saat ditemui wartawan seperti diberitakan Solopos.Cipto Wiyono Sukijo diketahui merupakan warga Dukuh Sundoasri RT 019,  Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen. Cipto mengalami gangguan  jiwa. Kakek-kakek itu mengemis dengan membawa tas hitam itu ke mana-mana  sambil berkalung radio.
Ia juga membawa tongkat besi. Cipto terjaring razia tim Satpol  PP Sragen yang beranggotakan sembilan orang pada Rabu (28/8/2019) lalu  di simpang empat radio umum Cantel Kulon, Sragen Kota.
Oleh Satpol  PP, Cipto diserahkan ke Dinas Sosial (Dinsos) untuk dirawat. Setelah  dibersihkan, Cipto diantar ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Solo pada Kamis  (29/8/2019). Rencananya Cipto dijemput pada Rabu (4/9/2019) besok supaya  tinggal di panti jompo.
&amp;ldquo;Mbah Cipto ini sudah tertangkap Satpol  PP kali kedua ini. Tertangkap kali pertama pada Februari 2019 lalu. Saat  itu ia juga membawa tas dan berisi uang tunai senilai Rp5 juta dan  deposito Rp25 juta. Setelah enam bulan, Mbah Cipto tertangkap lagi dan  ternyata uangnya sudah bertambah sampai Rp7 jutaan. Setelah Februari itu  dibina dan ternyata turun ke jalan lagi,&amp;rdquo; ujar Sriyono.
Sriyono  mendapat informasi saat mengemis dan tidak dikasih Cipto  suka memukul  pakai tongkat besinya. Kasi Rehabilitasi Sosial Tuna  Sosial Dinsos  Sragen, Ine Marliah, mengatakan kondisi kejiwaan Cipto  tidak stabil  sehingga dibawa ke RSJ. Setiap barang yang dibawa pengemis  ini, kata  dia, diperiksa dan disaksikan yang bersangkutan.
&amp;ldquo;Karena Pak Cipto  ini labil, barang berupa tas itu tidak bisa dicek  karena dia pasti  berontak dan tidak bisa dikendalikan. Akhirnya baru  hari ini bisa  mengecek barang Pak Cipto dan ternyata berisi uang  senilai Rp37,441  juta. Kami sengaja menghitung kemudian mengembalikan  kepada yang  bersangkutan. Nanti diserahkan lewat pemerintah desa  setempat,&amp;rdquo; ujarnya.
Ine  berharap bisa mengembalikan Cipto ke keluarganya. Untuk  memahamkan  Cipto agar tidak mengemis, Ine mengakui tidak mampu karena  yang  bersangkutan merasa tidak salah.
Ine sudah melihat kondisi rumah  Cipto di Banaran. Cipto tinggal  sendiri di rumah karena istrinya pergi  meninggalkannya dan saudaranya  ada di Jakarta.</description><content:encoded>JAKARTA - Seorang pengemis tua bernama Cipto Wiyono Sukijo (74) itu terjaring razia petugas gabungan petugas gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Sosial (Dinsos) Sragen di simpang empat radio umum Cantel Kulon, Sragen Kota, belum lama ini.
Setelah diperiksa, petugas membongkar tas dan kantong plastik milik seorang pengemis asal Sambungmacan itu. Awalnya, petugas menemukan uang Rp27 juta yang disimpan dalam 16 kantong plastik dengan uang kertas pecahan Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000, dan Rp50.000.
&quot;Simbah ini memang tidak menerima uang koin,&quot; celetuk salah satu petugas Satpol PP Sragen saat mengetahui isi plastik itu.

Baca Juga: Viral Pria Didenda Rp30 Juta karena Ganggu Istri Orang
Untuk setiap kantong plastik isinya bervariasi mulai Rp1 juta sampai Rp5 juta. Uang tunai itu ditotal ada Rp12.419.000.
&amp;ldquo;Masih ada tabungan berisi Rp22.000 dan deposito senilai Rp25 juta di BNI. Jadi total uang yang ada dalam tas itu senilai Rp37.441.000. Kami tidak mengira tas kumal itu berisi uang yang cukup fantastis bagi seorang pengemis,&amp;rdquo; ujar Kasi Operasi Pengendalian Gangguan Ketentraman dan Ketertiban Satpol PP Sragen, Sriyono, saat ditemui wartawan seperti diberitakan Solopos.Cipto Wiyono Sukijo diketahui merupakan warga Dukuh Sundoasri RT 019,  Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen. Cipto mengalami gangguan  jiwa. Kakek-kakek itu mengemis dengan membawa tas hitam itu ke mana-mana  sambil berkalung radio.
Ia juga membawa tongkat besi. Cipto terjaring razia tim Satpol  PP Sragen yang beranggotakan sembilan orang pada Rabu (28/8/2019) lalu  di simpang empat radio umum Cantel Kulon, Sragen Kota.
Oleh Satpol  PP, Cipto diserahkan ke Dinas Sosial (Dinsos) untuk dirawat. Setelah  dibersihkan, Cipto diantar ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Solo pada Kamis  (29/8/2019). Rencananya Cipto dijemput pada Rabu (4/9/2019) besok supaya  tinggal di panti jompo.
&amp;ldquo;Mbah Cipto ini sudah tertangkap Satpol  PP kali kedua ini. Tertangkap kali pertama pada Februari 2019 lalu. Saat  itu ia juga membawa tas dan berisi uang tunai senilai Rp5 juta dan  deposito Rp25 juta. Setelah enam bulan, Mbah Cipto tertangkap lagi dan  ternyata uangnya sudah bertambah sampai Rp7 jutaan. Setelah Februari itu  dibina dan ternyata turun ke jalan lagi,&amp;rdquo; ujar Sriyono.
Sriyono  mendapat informasi saat mengemis dan tidak dikasih Cipto  suka memukul  pakai tongkat besinya. Kasi Rehabilitasi Sosial Tuna  Sosial Dinsos  Sragen, Ine Marliah, mengatakan kondisi kejiwaan Cipto  tidak stabil  sehingga dibawa ke RSJ. Setiap barang yang dibawa pengemis  ini, kata  dia, diperiksa dan disaksikan yang bersangkutan.
&amp;ldquo;Karena Pak Cipto  ini labil, barang berupa tas itu tidak bisa dicek  karena dia pasti  berontak dan tidak bisa dikendalikan. Akhirnya baru  hari ini bisa  mengecek barang Pak Cipto dan ternyata berisi uang  senilai Rp37,441  juta. Kami sengaja menghitung kemudian mengembalikan  kepada yang  bersangkutan. Nanti diserahkan lewat pemerintah desa  setempat,&amp;rdquo; ujarnya.
Ine  berharap bisa mengembalikan Cipto ke keluarganya. Untuk  memahamkan  Cipto agar tidak mengemis, Ine mengakui tidak mampu karena  yang  bersangkutan merasa tidak salah.
Ine sudah melihat kondisi rumah  Cipto di Banaran. Cipto tinggal  sendiri di rumah karena istrinya pergi  meninggalkannya dan saudaranya  ada di Jakarta.</content:encoded></item></channel></rss>
