<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tumpukan Tinja dan Hama, Bagian Menjijikkan Sejarah Istana Kerajaan Eropa</title><description>Meski terlihat megah, istana-istana kerajaan Eropa pada abad pertengahan ternyata memiliki masalah kebersihan yangs serius.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/06/18/2101228/tumpukan-tinja-dan-hama-bagian-menjijikkan-sejarah-istana-kerajaan-eropa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/09/06/18/2101228/tumpukan-tinja-dan-hama-bagian-menjijikkan-sejarah-istana-kerajaan-eropa"/><item><title>Tumpukan Tinja dan Hama, Bagian Menjijikkan Sejarah Istana Kerajaan Eropa</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/06/18/2101228/tumpukan-tinja-dan-hama-bagian-menjijikkan-sejarah-istana-kerajaan-eropa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/09/06/18/2101228/tumpukan-tinja-dan-hama-bagian-menjijikkan-sejarah-istana-kerajaan-eropa</guid><pubDate>Jum'at 06 September 2019 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/05/18/2101228/tumpukan-tinja-dan-hama-bagian-menjijikkan-sejarah-istana-kerajaan-eropa-0YK8EqdObr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Istana Hampton Court. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/05/18/2101228/tumpukan-tinja-dan-hama-bagian-menjijikkan-sejarah-istana-kerajaan-eropa-0YK8EqdObr.jpg</image><title>Istana Hampton Court. (Foto: Reuters)</title></images><description>PADA Juli 1535, Raja Henry VIII dari Inggris bersama rombongan istana berjumlah 700 orang melakukan tur resmi kerajaan. Selama empat bulan berikutnya, rombongan besar itu mengunjungi sekitar 30 istana kerajaan yang berbeda, tempat tinggal bangsawan dan lembaga keagamaan.
Meski kunjungan-kunjungan tersebut merupakan acara  hubungan masyarakat yang penting bagi raja, yang dirancang untuk mendorong kesetiaan pada rakyatnya, bagi rumah tangga kerajaan, ada alasan lain dari perjalanan tur tersebut.
Mereka tidak hanya menggunakan kekayaan mereka yang luar biasa, tetapi mereka benar-benar perlu melarikan diri dari kekacauan yang dibuat oleh pesta-pesta besar kerajaan. Istana, seperti Hampton Court yang dihuni Raja Henry VIII, harus secara berkala dievakuasi agar mereka bisa dibersihkan dari tumpukan kotoran yang dibuat manusia.

Raja Henry VIII.
Tidak hanya itu, hewan ternak dan lahan pertanian juga perlu waktu untuk pulih, setelah memasok makanan untuk begitu banyak orang. Setelah tur selesai, Henry dan rombongan istana yang beranggotakan lebih dari 1.000 orang akan terus bergerak selama sisa tahun tersebut, sering bepergian di antara 60 tempat tinggal Raja sebagai upaya untuk tinggal di lingkungan yang higienis, namun, seringkali usaha itu sia-sia.
Hanya dalam waktu beberapa hari istana yang ditempati rombongan kerajaan akan mulai mengeluarkan bau yang muncul dari makanan yang dibuang sembarangan, kotoran hewan, hama dari atau orang-orang yang tidak mandi, bahkan kotoran manusia, yang terkumpul di ruang bawah tanah sampai dibuang. Lorong-lorong istana akan dipenuhi debu dan jelaga dari api yang terus-menerus menyala, dan karena banyaknya anggota istana, pembersihan yang menyeluruh menjadi sesuatu yang mustahil dilakukan dan sia-sia.
Meskipun standar kebersihan pada Abad Pertengahan, Rennaisance dan Regency berada di bawah standar, istana kerajaan biasanya lebih kotor daripada rata-rata pondokan atau rumah kecil.
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di istana-istana Kerajaan Inggris, tetapi juga kerajaan lainnya di Eropa, termasuk Prancis dan Rusia.
Di antara berbagai masalah, keprihatinan mengenai kesehatan yang paling mengkhawatirkan disebabkan oleh langkanya pilihan untuk pembuangan limbah di era sebelum ditemukannya sistem pipa yang bisa diandalkan.


Eleanor Herman yang menulis buku mengenai istana kerajaan mengatakan  bahwa saat itu istana dipenuhi dengan &quot;Tinja dan urin yang ada di  mana-mana&quot;.
&quot;Beberapa anggota istana tidak repot-repot mencari pispot, tetapi  hanya menurunkan celana mereka dan melakukan urusan mereka - semua  urusan mereka - di tangga, lorong, atau perapian,&quot; kata Herman  sebagaimana dilansir History, merujuk pada aktivitas buang air besar dan  kecil.
Sebuah laporan pada 1675 menunjukkan penilaian Istana Louvre di  Paris: &quot;Di tangga besar&quot; dan &quot;di belakang pintu dan hampir di mana-mana  orang melihat ada banyak tinja, bau tak tertahankan yang disebabkan oleh  panggilan alam yang dilakukan semua orang di sana setiap hari.&quot;

Bagian dari dapur Istana Hampton Court dalam kondisi seperti pada abad ke-16. (Getty)
Menurut sejarawan Alison Weir, Raja Henry VIII terus berperang  melawan kotoran, debu, dan bau yang tak terhindarkan ketika begitu  banyak orang hidup dalam satu bangunan, yang merupakan sesuatu yang  tidak biasa pada masa itu. Sang Raja tidur di tempat tidur dikelilingi  oleh bulu untuk mengusir makhluk kecil dan kutu.
Gilanya lagi, Henry bahkan dipaksa untuk menetapkan aturan bahwa koki  di dapur kerajaan dilarang untuk bekerja &quot;dalam keadaan telanjang, atau  dalam pakaian yang menjijikkan seperti yang mereka lakukan, atau  berbaring siang malam di dapur atau tanah di dekat perapian&quot;. Untuk  mengatasi masalah tersebut, panitera di perintahkan untuk membeli  &quot;pakaian yang baik dan sehat&quot; untuk staf istana.
Cara hidup yang tidak bersih ini tidak diragukan lagi menyebabkan  kematian yang tak terhitung di rumah tangga kerajaan-kerajaan Eropa.  Barulah pada abad ke-19 standar kebersihan dan perkembangan teknologi  meningkatkan kehidupan bagi banyak orang, termasuk anggota kerajaan.</description><content:encoded>PADA Juli 1535, Raja Henry VIII dari Inggris bersama rombongan istana berjumlah 700 orang melakukan tur resmi kerajaan. Selama empat bulan berikutnya, rombongan besar itu mengunjungi sekitar 30 istana kerajaan yang berbeda, tempat tinggal bangsawan dan lembaga keagamaan.
Meski kunjungan-kunjungan tersebut merupakan acara  hubungan masyarakat yang penting bagi raja, yang dirancang untuk mendorong kesetiaan pada rakyatnya, bagi rumah tangga kerajaan, ada alasan lain dari perjalanan tur tersebut.
Mereka tidak hanya menggunakan kekayaan mereka yang luar biasa, tetapi mereka benar-benar perlu melarikan diri dari kekacauan yang dibuat oleh pesta-pesta besar kerajaan. Istana, seperti Hampton Court yang dihuni Raja Henry VIII, harus secara berkala dievakuasi agar mereka bisa dibersihkan dari tumpukan kotoran yang dibuat manusia.

Raja Henry VIII.
Tidak hanya itu, hewan ternak dan lahan pertanian juga perlu waktu untuk pulih, setelah memasok makanan untuk begitu banyak orang. Setelah tur selesai, Henry dan rombongan istana yang beranggotakan lebih dari 1.000 orang akan terus bergerak selama sisa tahun tersebut, sering bepergian di antara 60 tempat tinggal Raja sebagai upaya untuk tinggal di lingkungan yang higienis, namun, seringkali usaha itu sia-sia.
Hanya dalam waktu beberapa hari istana yang ditempati rombongan kerajaan akan mulai mengeluarkan bau yang muncul dari makanan yang dibuang sembarangan, kotoran hewan, hama dari atau orang-orang yang tidak mandi, bahkan kotoran manusia, yang terkumpul di ruang bawah tanah sampai dibuang. Lorong-lorong istana akan dipenuhi debu dan jelaga dari api yang terus-menerus menyala, dan karena banyaknya anggota istana, pembersihan yang menyeluruh menjadi sesuatu yang mustahil dilakukan dan sia-sia.
Meskipun standar kebersihan pada Abad Pertengahan, Rennaisance dan Regency berada di bawah standar, istana kerajaan biasanya lebih kotor daripada rata-rata pondokan atau rumah kecil.
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di istana-istana Kerajaan Inggris, tetapi juga kerajaan lainnya di Eropa, termasuk Prancis dan Rusia.
Di antara berbagai masalah, keprihatinan mengenai kesehatan yang paling mengkhawatirkan disebabkan oleh langkanya pilihan untuk pembuangan limbah di era sebelum ditemukannya sistem pipa yang bisa diandalkan.


Eleanor Herman yang menulis buku mengenai istana kerajaan mengatakan  bahwa saat itu istana dipenuhi dengan &quot;Tinja dan urin yang ada di  mana-mana&quot;.
&quot;Beberapa anggota istana tidak repot-repot mencari pispot, tetapi  hanya menurunkan celana mereka dan melakukan urusan mereka - semua  urusan mereka - di tangga, lorong, atau perapian,&quot; kata Herman  sebagaimana dilansir History, merujuk pada aktivitas buang air besar dan  kecil.
Sebuah laporan pada 1675 menunjukkan penilaian Istana Louvre di  Paris: &quot;Di tangga besar&quot; dan &quot;di belakang pintu dan hampir di mana-mana  orang melihat ada banyak tinja, bau tak tertahankan yang disebabkan oleh  panggilan alam yang dilakukan semua orang di sana setiap hari.&quot;

Bagian dari dapur Istana Hampton Court dalam kondisi seperti pada abad ke-16. (Getty)
Menurut sejarawan Alison Weir, Raja Henry VIII terus berperang  melawan kotoran, debu, dan bau yang tak terhindarkan ketika begitu  banyak orang hidup dalam satu bangunan, yang merupakan sesuatu yang  tidak biasa pada masa itu. Sang Raja tidur di tempat tidur dikelilingi  oleh bulu untuk mengusir makhluk kecil dan kutu.
Gilanya lagi, Henry bahkan dipaksa untuk menetapkan aturan bahwa koki  di dapur kerajaan dilarang untuk bekerja &quot;dalam keadaan telanjang, atau  dalam pakaian yang menjijikkan seperti yang mereka lakukan, atau  berbaring siang malam di dapur atau tanah di dekat perapian&quot;. Untuk  mengatasi masalah tersebut, panitera di perintahkan untuk membeli  &quot;pakaian yang baik dan sehat&quot; untuk staf istana.
Cara hidup yang tidak bersih ini tidak diragukan lagi menyebabkan  kematian yang tak terhitung di rumah tangga kerajaan-kerajaan Eropa.  Barulah pada abad ke-19 standar kebersihan dan perkembangan teknologi  meningkatkan kehidupan bagi banyak orang, termasuk anggota kerajaan.</content:encoded></item></channel></rss>
